The Birds
Tanpa alasan, tanpa tanda, mereka pun datang: mahakarya paling meresahkan dari Hitchcock, sebuah kota kecil di tepi pantai diserang tanpa pandang bulu dari langit
Judul
The Birds
Tahun / Durasi
1963 · 119 menit
Genre
Horor / Misteri / Drama
Sutradara
Alfred Hitchcock
Penulis
Evan Hunter
Rating
Pemeran
Tippi Hedren, Rod Taylor, Jessica Tandy, Suzanne Pleshette
Karya asli
Cerpen “The Birds” karya Daphne du Maurier dengan judul yang sama
Penghargaan
Academy Awards ke-36: Nominasi Efek Visual Terbaik
Toko Burung di San Francisco
Melanie Daniels adalah putri seorang taipan media di San Francisco — cantik, keras kepala, dan bosan dengan hidupnya. Suatu hari dia masuk ke sebuah toko burung dan bertemu dengan pengacara Mitch Brenner. Mitch mengenalinya — Melanie pernah masuk koran gara-gara sebuah lelucon usil — lalu sengaja berpura-pura menganggapnya sebagai pegawai toko, memintanya mencarikan sepasang lovebird. Melanie sadar dia sedang dikerjai, tapi dia tidak marah. Sebaliknya, dia diam-diam mencatat nomor plat mobil Mitch.
Keesokan harinya, Melanie membeli sepasang lovebird dan memutuskan untuk mengantarnya sendiri ke rumah Mitch — setengah karena penasaran, setengah karena tidak mau kalah. Dari tetangga Mitch, dia mencari tahu alamat rumah akhir pekannya: Bodega Bay, sebuah kota kecil di tepi pantai yang berjarak beberapa jam berkendara dari San Francisco.

Bodega Bay
Melanie berkendara sampai ke Bodega Bay. Tempat ini sepi, nyaris membosankan — beberapa deret rumah, satu restoran, satu pom bensin, satu dermaga. Burung camar berputar-putar di langit, seolah menjadi satu-satunya makhluk hidup di kota kecil ini.
Dia menyewa perahu kecil dan diam-diam meletakkan sepasang lovebird itu di teras rumah Mitch. Saat mendayung kembali, tiba-tiba seekor burung camar menukik dari langit dan mematuk dahinya hingga terluka.
Mitch melihat Melanie yang terluka dan membawanya pulang untuk mengobati lukanya. Dia menganggap serangan itu sebagai kecelakaan biasa. Melanie pun tidak terlalu memikirkannya.
Tapi ini baru permulaan.
Serangan Pertama
Melanie tinggal di Bodega Bay, menumpang di rumah Annie Hayworth, seorang guru setempat. Annie adalah mantan kekasih Mitch — hubungan mereka kandas karena ibu Mitch, Lydia, yang terlalu posesif. Lydia bersikap bermusuhan terhadap setiap perempuan yang mendekati putranya, termasuk Melanie.
Cathy, adik Mitch, mengadakan pesta ulang tahun di luar rumah. Saat anak-anak sedang asyik bermain, sekawanan burung camar tiba-tiba menukik dan menyerang orang-orang di pesta itu dengan ganas. Anak-anak berlarian sambil menjerit, orang dewasa panik berusaha melindungi mereka. Serangan itu datang tanpa tanda-tanda dan berakhir secepat kedatangannya — seolah burung-burung itu menerima semacam perintah, lalu bubar begitu saja.

Tidak ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi. Warga kota ramai membicarakannya, tapi kebanyakan orang menganggapnya sebagai kejadian yang kebetulan.
Teror Meningkat
Keesokan paginya, Lydia pergi mengantarkan pesanan ke peternakan tetangganya, Dan Fawcett, dan menemukan pemandangan yang mengerikan: Fawcett tewas di kamar tidurnya, tubuhnya penuh luka, dan kedua matanya sudah dipatuk hilang. Pecahan kaca dan bulu-bulu berserakan di seluruh ruangan. Lydia hampir kehilangan akal karena ketakutan dan sempoyongan lari keluar dari peternakan itu.
Sejak saat itu, suasana Bodega Bay berubah total. Orang-orang mulai ketakutan, mulai berdebat — ada yang bilang ini kiamat, ada yang bilang semacam wabah, ada yang mencoba mencari penjelasan ilmiah, tapi tidak satu pun penjelasan itu masuk akal.

Berikutnya giliran sekolah. Saat Melanie menunggu Cathy di luar gedung sekolah, sekawanan gagak diam-diam berkumpul di panjatan besi di belakang sekolah. Awalnya hanya satu ekor, lalu dua, lalu puluhan, lalu ratusan. Ketika Melanie menoleh, seluruh lapangan sudah tertutup gagak yang hitam pekat.
Anak-anak berlari sekuat tenaga dipimpin gurunya, sementara gagak-gagak mengejar dari belakang, mematuk apa saja yang bisa mereka jangkau. Kacamata Cathy pecah dipatuk, ada anak yang jatuh dan langsung dikerubuti burung-burung itu. Adegan ini menjadi salah satu yang paling mencekam di sepanjang film.
Kota Kecil Itu Runtuh
Pom bensin diserang. Seorang pria yang panik akibat serangan burung menumpahkan bensin, memicu ledakan hebat. Seluruh pom bensin berubah menjadi lautan api dengan asap tebal membubung, sementara kawanan burung berputar-putar di atas kobaran api itu, seolah sedang menikmati hasil karya mereka sendiri.

Demi melindungi Cathy, Annie berlari keluar untuk melawan burung-burung yang menyerang, dan dipatuk sampai mati tepat di depan pintu rumahnya sendiri. Saat Melanie menemukan jasadnya, tangan Annie masih memeluk erat Cathy yang ketakutan di belakangnya.
Di restoran kota, seorang ibu yang histeris menunjuk ke arah Melanie dan berteriak, “Sebelum kamu datang, semuanya baik-baik saja di sini! Ini semua gara-gara kamu!” Orang-orang mulai saling menyalahkan dalam ketakutan, akal sehat pun runtuh.
Malam Terakhir
Mitch membawa Melanie, Lydia, dan Cathy pulang, lalu memaku papan kayu di semua pintu dan jendela. Keempatnya meringkuk di ruang tamu, menunggu gelombang serangan berikutnya.
Malam pun tiba. Kawanan burung datang seperti yang diperkirakan. Mereka menabrak-nabrak pintu dan jendela, menerobos masuk lewat setiap celah, sementara papan kayu berderit-derit akibat hantaman mereka. Mitch sekuat tenaga memperkuat pertahanan, Melanie menenangkan Cathy yang gemetar ketakutan, dan Lydia — perempuan yang selama ini bersikap dingin terhadap Melanie — untuk pertama kalinya meluruhkan sikap waspadanya di hadapan rasa takut, bersandar pada Melanie layaknya seorang ibu yang rapuh.
Setelah serangan mereda sejenak, Melanie mendengar suara dari lantai atas. Dia naik sendirian untuk memeriksanya — begitu pintu terbuka, sekawanan burung langsung menyerbu dari kegelapan. Mereka mematuk wajahnya, tangannya, rambutnya. Melanie menjerit dan jatuh ke lantai, tertutup oleh burung-burung itu. Mitch berlari ke atas dan menariknya keluar, tapi Melanie sudah terluka parah dan setengah sadar.
Kepergian

Hari pun terang. Kawanan burung menjadi tenang, hinggap rapat-rapat di setiap permukaan di sekitar rumah — atap, kabel listrik, pagar, mobil, tanah. Ribuan burung, diam tak bergerak, seolah sedang menunggu sesuatu.
Mitch membuka pintu dengan hati-hati, memapah Melanie yang terluka menuju mobil. Lydia menggandeng Cathy mengikuti dari belakang. Keempatnya berjalan perlahan melewati kawanan burung — burung-burung itu tidak menyerang, hanya mengawasi mereka.
Melanie bersandar di bahu Lydia — perempuan yang dulu memusuhinya kini merangkulnya layaknya seorang ibu. Mitch menyalakan mobil dan perlahan meninggalkan Bodega Bay.
Di belakang mereka, kawanan burung tetap diam tak bergerak.
Film berakhir di sini. Tanpa penjelasan, tanpa jawaban, tanpa akhir bahagia berupa “manusia akhirnya mengalahkan kawanan burung”. Kenapa burung-burung itu menyerang manusia? Kapan mereka akan berhenti? Akankah mereka datang lagi? Hitchcock membiarkan semua pertanyaan itu tertinggal dalam gambar yang dipenuhi kawanan burung tersebut.
Mungkin inilah alasan film ini masih terasa meresahkan setelah enam puluh tahun — ketakutan sejati bukan berasal dari monster itu sendiri, melainkan dari kenyataan bahwa kamu tidak pernah tahu mengapa dia datang, dan tidak pernah tahu kapan dia akan datang lagi.