← Kembali ke beranda

Hachi: A Dog's Tale

Ia menunggu sepuluh tahun: seekor anjing Akita muncul tepat pukul lima sore setiap hari di stasiun kereta, menunggu seseorang yang tidak akan pernah kembali

Judul

Hachi: A Dog's Tale

Judul lain: Hachiko: A Dog's Story

Tahun / Durasi

2009 · 93 menit

Genre

Drama / Keluarga

Sutradara

Lasse Hallström

Penulis

Stephen P. Lindsey / Kaneto Shindō

Rating

Pemeran

Richard Gere, Joan Allen, Sarah Roemer

Karya asli

Diadaptasi dari kisah nyata Jepang “Hachikō” dan film Jepang tahun 1987 “Hachikō Monogatari”

Hachi: A Dog's Tale
Parker dan Hachi saat masih anak anjing Hachi menunggu di stasiun Parker bersama Hachi Keseharian Parker dan Hachi Hachi menunggu sendirian di stasiun
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Anjing Kecil di Stasiun Kereta

Pada suatu malam musim dingin biasa, Parker Wilson, profesor musik di sebuah universitas, pulang kerja dan menemukan seekor anak anjing Akita yang tersesat di stasiun kereta kota kecil Bedridge. Anak anjing itu duduk sendirian di peron, gemetar ketakutan, dengan label di kandangnya bertuliskan huruf Jepang. Parker mencoba mencari pemiliknya ke mana-mana, tapi tidak ada yang datang menjemputnya.

Ia membawa anak anjing itu pulang. Istrinya, Cate, awalnya menolak keras — mereka sudah punya seekor anjing, dan tidak perlu menambah lagi. Tapi begitu Parker menggendongnya, anak anjing itu hanya diam bergelung nyaman di pelukannya, menatapnya dengan mata bulatnya. Cate pun tahu, anjing ini sudah tidak mungkin disingkirkan lagi.

Teman Parker yang orang Jepang membantunya membaca tulisan di kandang itu — “Hachi”. Parker pun menamainya Hachi. Dalam budaya Jepang, delapan adalah angka yang membawa keberuntungan.

Parker dan Hachi saat masih anak anjing

Parker dan Hachi

Hachi tumbuh semakin besar, dari gumpalan bulu kecil menjadi seekor anjing Akita yang gagah. Ia dan Parker membangun kedekatan yang hampir seperti telepati.

Setiap pagi, saat Parker berangkat kerja, Hachi mengikutinya sampai ke stasiun kereta. Begitu Parker naik kereta, Hachi duduk di peron memandangi kereta itu menjauh. Setiap sore pukul 17.05, kereta yang ditumpangi Parker tiba tepat waktu. Dan Hachi selalu datang lebih dulu, duduk rapi di dekat pot bunga depan stasiun, menunggu sosok yang dikenalnya muncul dari kerumunan.

Begitu Parker keluar dari stasiun, Hachi berlari menyongsongnya sambil mengibaskan ekor. Parker berjongkok, mengusap kepala Hachi. Mereka berdua berjalan pulang bersama. Hari demi hari, tahun demi tahun.

Hachi menunggu di stasiun

Petugas stasiun, penjual hot dog, para pekerja yang bolak-balik naik kereta setiap hari — semua orang mengenal Hachi. Ia menjadi bintang kota Bedridge. Orang-orang menyapanya saat lewat di sore hari, memberinya camilan. Hachi ramah pada siapa saja, tapi hanya ada satu orang yang benar-benar ditunggunya.

Mengambil Bola

Anjing Akita punya satu sifat yang terkenal: mereka tidak mau mengambilkan bola. Bukan karena tidak bisa, tapi karena mereka merasa hal itu di bawah martabat mereka. Anjing Akita hanya mau menuruti perintah kalau menurut mereka ada alasan yang cukup kuat, dan “ambilkan bolanya” jelas tidak masuk dalam daftar alasan itu.

Parker selalu ingin mengajari Hachi mengambil bola, tapi Hachi tidak pernah mau. Parker melempar bola, Hachi hanya menatap bola itu melayang pergi, lalu kembali menatap Parker, seolah berkata: ambil saja sendiri.

Parker bersama Hachi

Hal ini jadi lelucon kecil di antara mereka berdua. Teman-teman Parker sering menggodanya — anjingmu sendiri saja tidak bisa kamu suruh. Parker tidak keberatan, ia menyayangi Hachi apa adanya.

Hari Itu

Lalu datanglah hari itu.

Parker berangkat kerja seperti biasa. Hachi mengikutinya ke stasiun seperti biasa. Tapi tepat saat Parker hendak masuk ke stasiun, Hachi melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya — ia berlari membawa bola tenis ke hadapan Parker, lalu meletakkannya di dekat kakinya.

Parker tertegun. Ia berjongkok, melempar bola itu. Dan Hachi benar-benar berlari mengambilnya kembali. Sekali, dua kali, tiga kali. Parker senang sekali seperti anak kecil, bermain bersama Hachi di peron cukup lama.

Lalu ia naik kereta, melambaikan tangan pada Hachi.

Keseharian Parker dan Hachi

Sore itu, Parker terkena serangan jantung di depan kelas dan jatuh di podium. Ia tidak pernah kembali lagi.

Sepuluh Tahun

Pukul 17.05 sore, kereta tiba. Para penumpang turun satu per satu. Hachi duduk di dekat pot bunga, menunggu Parker keluar dari kerumunan.

Parker tidak muncul.

Hachi menunggu sampai stasiun tutup, lalu diam-diam pulang ke rumah. Sore berikutnya, ia muncul lagi di depan stasiun. Hari ketiga pun sama.

Andy, putri Parker, membawa Hachi tinggal di rumahnya, tapi Hachi selalu mencari cara untuk kabur, melintasi kota, kembali ke stasiun kereta. Andy akhirnya mengerti: Hachi tidak butuh rumah baru, yang ia butuhkan adalah menunggu Parker di stasiun.

Hachi menunggu sendirian di stasiun

Maka Andy pun melepaskannya. Hachi menjadi penghuni tetap stasiun kereta. Penjual hot dog menyisakan makan malam untuknya setiap hari, dan petugas stasiun mengizinkannya bermalam di ruang tunggu. Musim berganti, bulu Hachi yang keemasan berubah menjadi abu-abu, langkahnya yang dulu tegap menjadi terseok-seok. Tapi setiap sore pukul lima, ia pasti muncul di dekat pot bunga itu, duduk rapi, memandangi pintu keluar stasiun.

Musim semi, musim panas, musim gugur, musim dingin. Satu tahun, dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun.

Orang-orang di kota itu silih berganti, tapi Hachi tetap ada. Seseorang menulis kisah Hachi di surat kabar, dan ia pun menjadi berita nasional. Orang-orang datang dari mana-mana untuk melihat anjing setia ini, tapi Hachi tidak peduli semua itu. Ia hanya menunggu.

Musim Dingin Terakhir

Pada suatu malam musim dingin, sepuluh tahun kemudian, Hachi yang sudah tua kembali terseok-seok datang ke stasiun. Salju turun di bulunya yang memutih, napasnya semakin lemah.

Ia menutup matanya. Dalam bayangan terakhirnya, pintu stasiun terbuka, dan Parker keluar dari kerumunan, tersenyum berjalan ke arahnya seperti setiap sore sepuluh tahun yang lalu. Hachi mengibaskan ekornya.

Lalu semuanya menjadi tenang.

Hachi pun pergi meninggalkan dunia ini. Sepuluh tahun penantiannya membuktikan satu hal — ada cinta yang tidak butuh alasan, tidak butuh balasan, bahkan tidak butuh orang yang dicintainya masih ada di dunia ini. Ia hanya mencintai, dan terus mencintai.

Kisah ini diadaptasi dari kejadian nyata. Antara tahun 1925 hingga 1935, di depan Stasiun Shibuya, Tokyo, Jepang, seekor anjing Akita bernama Hachi setiap hari datang tepat waktu ke stasiun menunggu kepulangan tuannya, Profesor Hidesaburō Ueno, yang telah meninggal dunia, tanpa henti meski hujan atau panas, selama sembilan tahun penuh. Kini, patung Hachi masih berdiri di depan Stasiun Shibuya, dan ia telah menjadi simbol kesetiaan paling terkenal di Jepang.