Mona Lisa Smile
Wellesley College tahun 1953, seorang dosen sejarah seni menyuruh mahasiswinya berpikir sendiri: alur cerita lengkap film Mona Lisa Smile, pilihan pernikahan dan karier empat mahasiswinya, serta perpisahan sang dosen Katherine.
Judul
Mona Lisa Smile
Tahun / Durasi
2003 · 117 menit
Genre
Drama / Romantis
Sutradara
Mike Newell
Penulis
Lawrence Konner / Mark Rosenthal
Rating
Pemeran
Julia Roberts, Kirsten Dunst, Julia Stiles, Maggie Gyllenhaal, Ginnifer Goodwin
Penghargaan
Golden Globe Awards ke-61: nominasi Lagu Asli Terbaik
Ivy League Tanpa Pria
Tahun 1953, Katherine Watson (diperankan oleh Julia Roberts) yang berusia 30 tahun tiba di Wellesley College, kampus khusus perempuan di Massachusetts — kampus elite yang dijuluki “Ivy League tanpa pria”. Dia baru lulus dari University of California, Los Angeles, penuh idealisme, dan ingin memakai pekerjaan sebagai dosen sejarah seni ini untuk membuka jendela bagi para mahasiswinya, supaya mereka tahu seperti apa dunia di luar sana.

Di kelas pertamanya dia langsung kena batunya. Para mahasiswi sudah menghafal buku teks dari halaman pertama sampai terakhir sebelum kelas dimulai — begitu dosennya baru mau bertanya, mereka sudah bisa langsung menjawabnya. Suasana pendidikan di seluruh kampus jelas dan seragam: tujuan akhir perempuan belajar adalah menikah dengan baik, mengurus rumah tangga, dan pantas menjadi pendamping suami mereka kelak.
Empat Mahasiswi, Empat Pilihan Hidup
Di kelas Katherine, beberapa mahasiswi perlahan menonjol, masing-masing mewakili dilema berbeda yang dihadapi perempuan Amerika pada dekade 1950-an.
Betty Warren (diperankan oleh Kirsten Dunst) adalah yang paling konservatif dan paling tajam lidahnya di antara mereka. Dia menulis kolom opini untuk koran kampus dan bersikeras bahwa seni punya “baik” dan “buruk” yang mutlak; dia berasal dari keluarga terpandang, ibunya adalah anggota senior perkumpulan alumni kampus, dan dia tak segan menyerang siapa pun yang menyimpang dari aturan. Di tengah semester dia langsung menikah dengan tunangannya, Spencer, lalu di kelas dia meminta kelonggaran dari dosennya dengan alasan statusnya sebagai “perempuan yang sudah menikah”.

Joan Brandwyn (diperankan oleh Julia Stiles) cerdas dan teliti, mahasiswi terbaik di kelas itu. Diam-diam dia mulai memperhatikan syarat masuk Yale Law School, menyimpan keinginan untuk membangun karier seperti laki-laki.
Giselle Levy (diperankan oleh Maggie Gyllenhaal) periang dan pemberontak, punya sikapnya sendiri soal cinta maupun tubuhnya, pernah menjalin hubungan dengan beberapa pria, termasuk dosen bahasa Italia di kampus, Bill Dunbar. Dialah yang paling dulu menerima gagasan Katherine bahwa “perempuan juga berhak hidup untuk dirinya sendiri”.
Connie Baker (diperankan oleh Ginnifer Goodwin) sensitif dan minder. Dia jatuh cinta pada Charlie, sepupu dari keluarga Betty.
Kelas “Sesat” Katherine
Katherine memutuskan mengalihkan fokus pengajarannya dari “jawaban baku” menjadi “apa pendapatmu sendiri”. Dia mulai menunjukkan karya seni modern yang tidak ada di buku teks — lukisan abstrak Jackson Pollock, bunga matahari karya Van Gogh, serta karya-karya perupa perempuan yang selama ini terkubur di gudang kampus. Dia tidak memberi jawaban, hanya terus bertanya: “Apakah ini seni? Kenapa? Menurutmu bagusnya di mana?”

Cara mengajar seperti ini memicu gejolak di kampus yang selama ini memosisikan dirinya sebagai “sekolah calon istri yang baik”. Untuk pertama kalinya para mahasiswi diminta benar-benar berpikir, bukan sekadar menghafal. Di kelas, Katherine melontarkan satu pertanyaan kepada mereka: setelah lulus nanti, kalian sebenarnya ingin jadi orang seperti apa?
Di saat bersamaan, kehidupan pribadi Katherine juga bergejolak. Pacarnya di California, Paul, tiba-tiba datang untuk melamarnya, dan dia menolak — dia sadar dirinya datang ke Pantai Timur bukan untuk “menuntaskan sebuah pernikahan”. Dia lalu berkencan dengan Profesor Dunbar, yang setiap kali makan malam selalu menceritakan kisah heroiknya bertugas di Italia. Namun dalam sebuah kejadian tak terduga, Katherine mengetahui bahwa Dunbar sama sekali belum pernah pergi ke Italia — sepanjang Perang Dunia II dia hanya bertugas di sekolah bahasa militer di Long Island. Katherine langsung mengakhiri hubungan itu.
Pernikahan Betty Runtuh
Betty mengira pernikahannya adalah hadiah tertinggi dari semua disiplin yang diajarkan kampus, tapi tak lama setelah menikah, Spencer mulai diam-diam bertemu perempuan lain. Betty memberanikan diri meminta bantuan ibunya, berharap sang ibu membela perasaannya. Namun ibunya justru berkata dingin: seorang istri yang baik harus tahu “apa yang boleh dilihat dan apa yang tidak boleh dilihat”; pernikahan adalah kehormatan seorang perempuan seumur hidup, dan bercerai sama saja dengan mempermalukan diri sendiri.

Betty hancur. Untuk pertama kalinya dia sadar bahwa standar “perempuan sempurna” yang ditanamkan padanya sejak kecil sebenarnya adalah tembok yang tak akan pernah bisa dia lompati. Akhirnya dia membuka hati kepada Giselle, orang yang selama ini paling tidak dia sukai — dua gadis yang hubungannya paling tegang ini justru menjadi sandaran terakhir satu sama lain. Betty juga sadar, selama ini semua yang dia lakukan di koran kampus — menyerang Katherine, menyerang dokter kampus Amanda (yang dipecat setelah Betty melaporkannya karena memberikan pil KB kepada mahasiswi) — sebenarnya cuma luapan gertakan dari dalam dirinya yang rapuh. Dia menyesal.
Sementara itu, Joan menerima surat penerimaan dari Yale Law School. Semua orang mengira dia akan terbang ke New Haven untuk memulai hidup baru — termasuk Katherine sendiri. Tapi di detik-detik terakhir, Joan memilih menikah dengan pacarnya, Tom, dan pindah ke Philadelphia untuk mendampinginya, melepaskan kursi yang sudah diterimanya. Katherine awalnya kecewa, bahkan sempat berusaha mencegahnya, tapi Joan dengan tenang berkata bahwa ini pilihannya sendiri, bukan paksaan siapa pun, dan dia melakukannya dengan rela. Katherine akhirnya merestuinya. Connie di sisi lain juga melewati sebuah kesalahpahaman sebelum akhirnya berbaikan dan bersatu dengan Charlie.
Kepergian dan Penghormatan
Di akhir semester, dewan kampus Wellesley mengajukan “syarat perpanjangan kontrak” kepada Katherine: dia harus menyerahkan rencana pelajaran setiap kelas terlebih dulu, tidak boleh lagi memasukkan materi di luar kurikulum, dan tidak boleh membahas topik “sensitif secara politik” di kelas — dengan kata lain, membuatnya kembali dari “mengajar cara berpikir” menjadi “mengajar apa yang harus dihafal”.

Katherine menolak. Dia mengundurkan diri dari jabatan dosennya dan memutuskan melanjutkan studi ke Eropa, untuk melihat langsung museum-museum yang selama ini dia bicarakan di kelas.
Sebelum kepergiannya, koran kampus menerbitkan kolom terakhir Betty. Mahasiswi yang dulu selalu menyerang Katherine ini, dalam tulisan itu, dengan sungguh-sungguh berterima kasih kepada dosennya — Katherine adalah satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya saat pernikahannya runtuh. Betty mengumumkan dia akan bercerai dari Spencer dan pindah ke Greenwich Village untuk tinggal bersama Giselle.
Katherine naik taksi menuju bandara, meninggalkan kampus. Pada saat itu, sekelompok mahasiswi yang pernah diajarnya mengejar dari belakang gedung kuliah dengan bersepeda. Mereka mengelilingi taksi yang melaju pelan itu sepanjang jalan, mengucapkan selamat tinggal kepada Katherine di bawah sinar matahari musim gugur yang cerah. Katherine memandangi mereka lewat jendela mobil, lalu tersenyum.
Tidak ada yang tahu apakah senyum Mona Lisa benar-benar bahagia; tapi setidaknya, Katherine dan para mahasiswinya tidak lagi dipaksa untuk selalu tersenyum.
Ulasan Film
Film tahun 2003 ini sering dibandingkan dengan Dead Poets Society, sampai-sampai disebut “versi perempuan dari Dead Poets Society”. Tapi yang benar-benar menyentuh dari Mona Lisa Smile bukanlah kata-kata bijak di dalam kelas, melainkan gambaran detailnya tentang situasi perempuan pada dekade 1950-an — masa ketika “perempuan seharusnya mengurus suami dan anak” adalah konsensus sosial utama, bahkan di sekolah khusus perempuan paling elite sekalipun, skenario itu tetap dijalankan diam-diam. Katherine yang diperankan Julia Roberts bukanlah seorang revolusioner; dia hanya seorang dosen biasa yang ingin membiarkan mahasiswinya berpikir dan memilih sendiri.
Film ini tidak memberikan akhir di mana “semua pemberontak menang”: Joan tetap memilih menikah, Katherine pun pergi, dan kampus tetap berjalan seperti sebelumnya. Tapi ada satu benih kebebasan yang sudah tertanam di hati para mahasiswi itu, dan itu sudah cukup.