Into the Wild
Kebahagiaan hanya nyata jika dibagikan: ulasan lengkap alur cerita film Into the Wild, tentang seorang lulusan berprestasi dari universitas ternama yang melepaskan segalanya demi pergi ke alam liar, serta tulisan terakhir yang ia tinggalkan di dalam bus tua yang ditinggalkan di Alaska
Judul
Into the Wild
Tahun / Durasi
2007 · 148 menit
Genre
Petualangan / Biografi / Drama
Sutradara
Sean Penn
Penulis
Sean Penn
Rating
Pemeran
Emile Hirsch, Hal Holbrook, Catherine Keener, Vince Vaughn, Kristen Stewart
Karya asli
Diadaptasi dari buku nonfiksi berjudul sama karya Jon Krakauer (1996), berdasarkan kisah nyata Christopher McCandless
Penghargaan
Golden Globe Awards ke-65: Lagu Orisinal Terbaik; Gotham Independent Film Awards ke-17: Film Terbaik; nominasi Academy Awards ke-80 untuk Aktor Pendukung Terbaik dan Penyuntingan Terbaik
Ini adalah kisah nyata.
Pada Mei 1990, Christopher McCandless (Emile Hirsch) lulus dengan nilai terbaik dari Emory University dan meraih dua gelar sekaligus. Kedua orang tuanya, Walt (William Hurt) dan Billie (Marcia Gay Harden), duduk bangga di antara penonton, siap merayakan keberhasilan putra mereka. Mereka berencana memberinya mobil baru dan membiayai kuliahnya di Harvard Law School.
Tapi Chris punya rencana lain.

Kepergian
Musim panas setelah kelulusannya, Chris menyumbangkan seluruh tabungannya sebesar dua puluh empat ribu dolar ke lembaga amal. Ia menggunting hancur kartu kreditnya, membakar uang tunai di dompetnya, dan meninggalkan mobilnya — sebuah Datsun kuning. Ia bahkan tidak memberi tahu keluarganya ke mana ia akan pergi. Ia memberi dirinya nama baru: “Alexander Supertramp”.
Chris muak dengan dunia ini. Keluarganya tampak terhormat dari luar, tapi sebenarnya penuh kebohongan — ayahnya pernah menjalani pernikahan dan memiliki keluarga rahasia lain, sementara ibunya memendam semuanya dalam diam yang menyakitkan. Sejak kecil Chris menyaksikan pertengkaran dan kemunafikan orang tuanya, dan ia yakin masyarakat yang materialistis telah merusak jiwa manusia. Ia percaya pada dunia yang digambarkan Henry David Thoreau, Leo Tolstoy, dan Jack London, dan yakin kebebasan sejati hanya ada di alam liar.
Ia pun memulai perjalanan mengembara melintasi Amerika Serikat.

Orang-Orang di Sepanjang Jalan
Sepanjang perjalanan, Chris menumpang mobil orang, menumpang kereta barang, dan mendayung kayak. Ia bertemu dengan berbagai macam orang, dan setiap pertemuan singkat namun terasa hangat.
Di sebuah gudang gandum di Dakota Selatan, ia bertemu Wayne Westerberg (Vince Vaughn), seorang pemilik lahan pertanian yang periang. Wayne memberinya pekerjaan, dan keduanya pun berteman. Chris tinggal di sana untuk sementara waktu, tapi panggilan dari dalam dirinya membuatnya tak bisa berlama-lama.
Di gurun California, ia bertemu pasangan hippie Jan dan Rainey (Catherine Keener berperan sebagai Jan), yang tinggal berpindah-pindah di dalam rumah mobil mereka. Jan adalah seorang ibu yang kehilangan putranya, dan ia melihat bayangan anaknya sendiri dalam diri Chris — ia menyayangi Chris, tapi tahu tidak bisa menahannya.

Di Sungai Colorado, ia diam-diam mendayung kayaknya masuk ke Meksiko, melewati jeram yang deras. Di Slab City, sebuah komunitas pengembara di tengah gurun, ia bertemu Tracy muda (Kristen Stewart), yang tertarik pada jiwa bebas Chris, tapi Chris menolak perasaannya — ia belum siap terikat oleh hubungan apa pun.
Pertemuan yang paling menyentuh terjadi di gurun California selatan. Ron Franz (Hal Holbrook), seorang pensiunan berusia delapan puluhan — veteran kesepian yang kehilangan istri dan putranya — menjalin persahabatan lintas generasi dengan Chris. Ron mengajari Chris membuat kerajinan kulit, dan Chris mengajari Ron mendaki gunung. Ron akhirnya menawarkan diri untuk mengadopsi Chris sebagai cucunya. Chris tidak mengiyakan, tapi ia berkata, “Nanti kita bicarakan lagi setelah aku pulang dari Alaska.”
Chris tidak pernah kembali.
Alaska
Pada April 1992, Chris menumpang mobil hingga tiba di Fairbanks, Alaska, lalu berjalan sendirian membawa ranselnya masuk ke alam liar. Di sebuah jalan setapak dekat Taman Nasional Denali, ia menemukan sebuah bus umum yang ditinggalkan — “Bus Ajaib Nomor 142”. Bus berkarat itu pun menjadi rumahnya.
Hari-hari pertama adalah kehidupan yang selama ini ia impikan. Ia berburu, mengumpulkan buah-buahan dan sayuran liar, mandi di aliran sungai yang dingin, dan mencatat setiap harinya di buku harian. Musim panas Alaska begitu indah, dan ia mengambil foto dirinya sendiri sedang tersenyum di depan bus itu — itu adalah foto bahagia terakhirnya.
Tapi alam liar tidak pernah baik hati.

Hewan buruan besar sulit diawetkan — seekor rusa besar (moose) yang berhasil ia buru dengan susah payah akhirnya membusuk karena tidak bisa diolah menjadi dendeng. Ia tidak sepenuhnya bisa membedakan jenis-jenis tumbuhan liar — ia salah memakan biji kacang liar beracun, dan racunnya perlahan merusak tubuhnya hingga ia tidak bisa mencerna makanan apa pun. Ia pun menjadi semakin lemah.
Ketika ia akhirnya memutuskan untuk pergi dan kembali ke dunia beradab, ia mendapati bahwa sungai kecil yang dulu bisa ia seberangi dengan berjalan kaki kini telah berubah menjadi sungai besar yang deras akibat lelehan salju musim panas. Ia pun terjebak.
Kata-Kata Terakhir
Chris perlahan-lahan mati kelaparan di dalam bus itu. Pada hari-hari terakhirnya, ia membuka sebuah buku yang selalu ia bawa — novel karya Boris Pasternak. Dengan tulisan tangan yang gemetar, ia menuliskan pemahaman terakhirnya di halaman kosong buku itu:
“Kebahagiaan hanya nyata jika dibagikan.”
Ia akhirnya mengerti. Setelah dua tahun mengembara mencari kebebasan dan kebenaran, di saat-saat terakhir hidupnya ia baru menyadari bahwa hubungan antar manusia adalah hal paling berharga dalam hidup. Orang-orang yang ia temui sepanjang perjalanannya — Wayne, Jan, Ron, Tracy — kehangatan yang mereka berikan itulah yang sebenarnya ia cari.

Pada 6 September 1992, sekelompok pemburu menemukan jasad Chris di dalam Bus Nomor 142. Usianya dua puluh empat tahun.
Gambar terakhir dalam film ini menampilkan Chris berbaring di dalam kantong tidurnya, mengumpulkan sisa tenaga terakhirnya untuk menatap langit biru dari jendela atap bus. Wajahnya tersenyum, dan matanya memantulkan cahaya.