← Kembali ke beranda

Hope

Seorang gadis 8 tahun menahan payung menuju sekolah saat hujan, seorang pria paruh baya asing menghampirinya dan berkata biar kita berbagi payung ini, dan sisa hidupnya berubah selamanya sejak saat itu: alur cerita lengkap film Hope (2013) yang diangkat dari kasus nyata Cho Doo-soon di Korea Selatan, dari pagi hujan saat gadis kecil itu diseret masuk ke toilet umum, sampai adegan penutup sang ayah mengenakan kostum kartun merah 'Cocomong' dan diam-diam mengikutinya berjalan ke sekolah

Judul

Hope

소원

Tahun / Durasi

2013 · 122 menit

Genre

Drama / Keluarga

Sutradara

Lee Joon-ik

Penulis

Ji-hye Kim / Joong-Hoon Jo / Kim Sung-wook

Rating

Pemeran

Sul Kyung-gu, Uhm Ji-won, Lee Re, Kim Hae-sook, Kim Sang-ho

Karya asli

Diangkat dari kasus nyata Cho Doo-soon yang terjadi di Korea Selatan pada 2008 — kejahatan keji di mana seorang gadis 8 tahun diculik dan diperkosa oleh seorang pria paruh baya di sebuah toilet umum di Ansan, Provinsi Gyeonggi

Penghargaan

Blue Dragon Film Awards ke-34: Film Terbaik, Aktris Pendukung Terbaik; Grand Bell Awards ke-50: Film Terbaik, Skenario Terbaik; Asia Pacific Film Festival ke-7: Film Terbaik

Hope
Adegan Hope Adegan Hope Adegan Hope Adegan Hope Adegan Hope
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Hope (judul asli Korea: 소원, berarti “harapan”) adalah film Korea Selatan tahun 2013 yang disutradarai oleh Lee Joon-ik, diangkat dari kasus nyata Cho Doo-soon. Kasus Cho Doo-soon adalah kejahatan keji yang terjadi pada Desember 2008 di Ansan, Provinsi Gyeonggi: seorang gadis 8 tahun (nama samaran “Na-young”) diseret paksa ke dalam toilet umum dan diperkosa oleh Cho Doo-soon yang saat itu berusia 56 tahun, dalam perjalanannya ke sekolah, hingga bagian bawah tubuhnya mengalami kerusakan yang hampir tidak bisa dipulihkan. Karena pengadilan Korea akhirnya hanya menjatuhkan hukuman 12 tahun kepada Cho Doo-soon (dengan alasan dia dalam keadaan mabuk dan tidak bisa mengendalikan diri saat melakukan kejahatan), kasus ini memicu kemarahan publik Korea selama lebih dari 10 tahun. Saat Cho Doo-soon dibebaskan pada Desember 2020, puluhan juta warga Korea turun ke jalan untuk berunjuk rasa.

Sutradara Lee Joon-ik tidak menjadikan film ini sebagai dokudrama yang “menyoroti masalah sosial”. Dia membuat keputusan yang jauh lebih berani: mengalihkan kamera sepenuhnya dari terdakwa, dan hanya berfokus pada gadis 8 tahun itu serta rumah kedua orang tuanya. Sepanjang 122 menit, tidak ada satu pun adegan yang menampilkan wajah pelaku — ini adalah film yang dari awal sampai akhir hanya peduli pada bagaimana anak itu bertahan hidup.

So-won yang Berusia 8 Tahun

Cerita dibuka pada sebuah pagi musim gugur yang biasa di tahun 2008, di sebuah kota kecil di Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. So-won (diperankan oleh Lee Re) adalah gadis kecil berusia 8 tahun dengan rambut dikuncir dua, menggendong tas sekolah kecil berwarna merah muda, mengenakan gaun bermotif bunga, berjalan sendirian dari rumah ke sekolah.

Di rumahnya, sang ayah, Im Dong-hoon (diperankan oleh Sul Kyung-gu), adalah seorang pekerja pabrik yang jujur, pendiam, dan sangat menyayangi putrinya. Sang ibu, Mi-hee (diperankan oleh Uhm Ji-won), sedang mengandung anak kedua dan membuka toko kelontong kecil di dekat kompleks rumah mereka. Meski hidup keluarga ini tidak berkecukupan, setiap pagi yang biasa mereka lalui dengan tenang.

Jalan menuju sekolah dasar So-won setiap hari melewati sebuah gang sepi di dekat sebidang lahan kosong. Pagi itu turun hujan rintik, So-won tidak membawa payung, dan dia berjalan hati-hati sambil memeluk tas kecil berwarna merah untuk menghindari hujan.

Adegan Hope

Payung Itu

Di tengah jalan, seorang pria paruh baya asing yang mengenakan jas hujan dan bau alkohol menghadang jalan So-won, mengatakan bahwa dia kehujanan dan menawarkan payungnya, mengajaknya berjalan bersama.

So-won sempat ragu dan secara naluriah ingin mundur, tetapi pria itu langsung mencengkeram pergelangan tangannya dan menyeretnya ke toilet umum yang sudah bertahun-tahun terbengkalai di pinggir jalan.

Apa yang terjadi di dalam toilet itu selanjutnya tidak ditampilkan sedetik pun secara langsung oleh film ini. Kamera hanya berhenti pada pintu di luar, suara hujan di luar, dan sesekali mobil yang lewat di kejauhan. Beberapa menit kemudian, So-won merangkak keluar dari pintu itu dengan tubuh berlumuran darah. Dengan bagian bawah tubuhnya yang nyaris tidak bisa digunakan untuk berjalan, dia merangkak sejauh puluhan meter menuju sebuah toko kelontong di kota kecil itu, mengangkat gagang telepon toko dengan tangan kanannya yang masih bisa bergerak, dan menelepon 119 (nomor darurat gabungan di Korea Selatan) sambil menangis meminta tolong.

Ambulans

Perawat yang menerima telepon bertanya di mana dia berada, So-won tidak bisa menjawab, tetapi di ujung telepon dia menyebutkan nama kompleks rumahnya sambil menangis. Ambulans 120 tiba dalam waktu 8 menit dan membawanya ke unit gawat darurat rumah sakit besar terdekat dari rumahnya.

Setelah dokter membuka kotak alat bedah untuk So-won, seluruh dokter di ruang operasi terdiam. Bagian bawah tubuh anak itu — usus besar, kandung kemih, rektum, dan area perineum — semuanya harus direkonstruksi. Seumur hidupnya nanti dia harus buang air besar melalui kantong stoma permanen di perutnya, dan seumur hidupnya dia akan terus hidup dalam bayang-bayang momen ini. Usia 8 tahun adalah usia yang paling sulit untuk pulih, baik secara medis maupun psikologis.

Sang Ayah Buru-Buru Pulang

Pagi itu, Dong-hoon sedang dinas ke luar kota. Saat dia menerima telepon dari istrinya, suara Mi-hee di telepon sudah serak tak berbentuk, memberitahunya bahwa So-won mengalami kecelakaan dan memintanya segera pulang.

Dong-hoon duduk di jok belakang taksi selama 4 jam dalam perjalanan pulang. Saat dia tiba di rumah sakit, So-won sudah didorong masuk ke ruang ICU. Mi-hee duduk di lorong sejak siang hingga malam, tidak mampu mengucapkan satu kalimat pun secara utuh.

Dokter memanggil Dong-hoon ke luar ruang kerja dan menyerahkan surat persetujuan operasi. Dengan tangan gemetar, Dong-hoon menandatanganinya sambil bertanya apakah anaknya masih bisa selamat. Dokter menjawab, tubuhnya akan mereka usahakan sebisa mungkin, tetapi hatinya tidak bisa mereka sembuhkan.

Adegan Hope

Media

Keesokan harinya, seluruh Korea sudah mengetahui kejadian ini.

Media massa memasang berita “kasus pemerkosaan gadis 8 tahun di toilet umum Ansan” di semua headline. Puluhan stasiun TV, surat kabar, dan media daring mengerumuni pintu rumah sakit, terus-menerus memotret, mengetuk pintu, dan berusaha menerobos masuk ke kamar rawat untuk mewawancarai anak berusia 8 tahun itu.

Polisi juga ingin segera mengumpulkan bukti, mereka menginginkan So-won bisa langsung bersaksi di pengadilan, tetapi So-won sama sekali tidak mau bicara dan tidak membiarkan siapa pun mendekatinya.

Yang paling membuat Dong-hoon hancur adalah, So-won bahkan tidak mengizinkan dirinya, ayah kandungnya sendiri, masuk ke kamar rawat. So-won mengalami ketakutan luar biasa terhadap semua laki-laki.

Setiap hari saat Dong-hoon datang ke rumah sakit, dia hanya bisa berdiri di luar kamar, memandangi putrinya lewat kaca. Berkali-kali dia ingin mendorong pintu masuk, tetapi So-won langsung menangis begitu melihatnya mendekat.

Larut malam, Dong-hoon duduk sendirian di lantai lorong rumah sakit, bersandar ke dinding, menutupi wajahnya dengan tangan tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Sang Pelaku

Berdasarkan rekaman panggilan 119 dan rekaman CCTV di lokasi kejadian, polisi berhasil menangkap pelaku pada pagi hari berikutnya — seorang pria paruh baya berusia 56 tahun dengan banyak catatan kriminal (film ini tidak menyebutkan namanya secara spesifik, tetapi semua penonton Korea memahami bahwa ini adalah representasi dari Cho Doo-soon).

Dalam interogasi, pelaku mengucapkan kalimat yang selama 10 tahun berikutnya tidak bisa diterima oleh masyarakat Korea: pagi itu dia sedang mabuk dan tidak ingat apa pun.

Pasal 10 Ayat 2 KUHP Korea Selatan — “orang yang kehilangan kewarasan atau kemampuan kognisi terkait dapat diberi keringanan atau dibebaskan dari hukuman” — yang biasa disebut “klausul keringanan akibat mabuk”, akan segera menjadi musuh terbesar keluarga So-won di persidangan dalam film ini.

Mi-hee Melahirkan

Alur cerita lain dalam film ini adalah tentang Mi-hee yang sedang mengandung anak kedua.

Perkiraan tanggal lahir Mi-hee adalah 2 bulan setelah kejadian. Selama dua bulan So-won dirawat di rumah sakit, dia kelelahan lahir batin, tekanan darah dan gerakan janinnya tidak normal. Pada suatu malam, air ketubannya tiba-tiba pecah. Sambil tetap menjaga So-won di rumah sakit yang sama, Dong-hoon bergegas ke ruang bersalin, dan Mi-hee berhasil melahirkan seorang anak laki-laki.

Bayinya sehat, tetapi pasangan itu tidak merasakan kebahagiaan sedetik pun. Kalimat pertama yang mereka ucapkan kepada putra yang baru lahir itu adalah, maaf, soal kakakmu.

Psikiater

Rumah sakit menugaskan seorang psikiater anak, Dr. Jung-sook (diperankan oleh Kim Hae-sook), untuk menangani So-won.

Pada pertemuan pertama dengan Dr. Jung-sook, So-won membenamkan wajahnya ke bantal tanpa bersuara. Begitu juga pada pertemuan kedua dan ketiga. Pada pertemuan kesepuluh, So-won akhirnya membuka mulut: apakah ayahnya tidak mau masuk karena dia melakukan sesuatu yang salah.

Keesokan harinya Dr. Jung-sook menyampaikan kalimat itu kepada Dong-hoon, dan Dong-hoon langsung menangis histeris di tempat.

Dr. Jung-sook mengatakan kepada Dong-hoon bahwa So-won memang takut pada semua orang dewasa, tetapi orang yang paling dia sayangi tetaplah ayahnya. So-won butuh sebuah jembatan agar bisa kembali menerima ayahnya, dan menyarankan Dong-hoon menyamar sebagai karakter kartun favorit putrinya saat mengunjunginya.

”Cocomong”

Kartun favorit So-won adalah acara anak-anak berjudul “Cocomong” (코코몽) yang saat itu sedang tayang di KBS Korea. Di dalamnya ada karakter kartun berwarna merah menyeluruh, memakai topi kecil merah, tersenyum memperlihatkan gigi putih besar, mirip monyet sekaligus makhluk kecil aneh, yang oleh anak-anak dipanggil “Cocomong”.

Dong-hoon menghabiskan beberapa hari untuk menyewa satu set kostum maskot “Cocomong” dari pasar — kostum besar berwarna merah yang dikenakan menutupi seluruh kepala sehingga wajah pemakainya tidak terlihat.

Keesokan paginya, Dong-hoon berdiri di depan pintu kamar So-won dengan mengenakan kostum maskot itu. Saat melihat “Cocomong” merah yang besar, berbulu, dan tanpa wajah manusia itu, untuk pertama kalinya So-won tidak menghindar. Dia mengeluarkan kepalanya dari balik selimut, dan matanya memancarkan secercah cahaya.

Cocomong tidak berbicara, dia hanya berjalan perlahan, selangkah demi selangkah, mendekati ranjang So-won, berjongkok, lalu menepuk pelan tangan kecil So-won dengan tangannya yang besar dan berbulu.

So-won awalnya menolak, tetapi beberapa detik kemudian dia menangis dan langsung memeluk “Cocomong” itu. Dia tahu itu adalah ayahnya — dia hanya butuh ritual ini.

Adegan Hope

Sejak hari itu, So-won tidak membiarkan “Cocomong” pergi dari pukul 8 pagi sampai 9 malam. Setiap hari Dong-hoon mengenakan kostum itu dan menemani So-won di rumah sakit — dialah yang menyuapinya makan, mendorong kursi rodanya, dan menunggunya di luar pintu kamar mandi. Para perawat dan petugas kebersihan rumah sakit, semua orang sudah terbiasa dengan satu-satunya Cocomong di seluruh rumah sakit itu.

Persidangan

Setelah So-won keluar dari rumah sakit, persidangan kasus ini resmi dimulai.

Di luar gedung pengadilan, ribuan warga yang marah membawa spanduk menuntut hukuman berat bagi pelaku. Di dalam ruang sidang, pengacara pembela mengutip Pasal 10 Ayat 2 KUHP, dengan alasan bahwa berdasarkan tes alkohol pada hari kejadian, kadar alkohol dalam darah terdakwa melebihi 0,241%, sehingga dianggap berada dalam kondisi mabuk yang benar-benar kehilangan kendali diri, dan meminta pengadilan menjatuhkan vonis dengan keringanan hukuman.

So-won tidak hadir di persidangan, dia memberikan kesaksian lewat rekaman video. Dalam rekaman itu, gadis 8 tahun tersebut berbicara dengan sangat jelas: pria itu mencengkeram tangannya, dia tidak mau, pria itu tidak membiarkannya lari, pria itu orang dewasa, dan dia tidak bisa lari secepat itu.

Vonis akhir hakim adalah 12 tahun penjara, seluruh ruang sidang gempar.

Dong-hoon kehilangan kendali diri di luar gedung pengadilan. Dia berlari mengejar mobil tahanan yang membawa pelaku pergi, berlari sejauh puluhan meter, berkali-kali dihalangi, didorong jatuh, dan ditarik menjauh oleh polisi. Dia berlutut di tanah menghadap mobil yang semakin menjauh itu, berteriak sekuat tenaga: 12 tahun itu apa artinya, 12 tahun lagi putrinya baru berusia 20 tahun dan luka seumur hidupnya masih akan ada; sedangkan pelaku baru berusia 60-an saat keluar penjara — dia menukar hukuman itu dengan seumur hidup putrinya.

Adegan Hope

Kita Terus Melangkah

Dalam perjalanan pulang setelah sidang hari itu, Dong-hoon tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Setelah sampai rumah, Mi-hee menunggu di ruang tamu sambil menggendong putra mereka yang baru lahir. So-won duduk di meja belajar kecilnya, menarik tangan ayahnya, dan untuk pertama kalinya berbicara: dia bilang, ayo kita pergi ke sekolah.

Dong-hoon terdiam sejenak, menatap mata putrinya dan bertanya apakah dia benar-benar mau kembali sekolah. So-won menjawab dia mau, dia suka sekolah, dan bertanya apakah ayahnya bisa tetap membiarkan “Cocomong” menemaninya seperti sebelumnya, cukup untuk perjalanan dari rumah ke sekolah saja.

Keesokan paginya, So-won kembali keluar rumah dengan menggendong tas sekolah merah muda kesayangannya. Di belakangnya, agak jauh, mengikuti sesosok “Cocomong” merah besar yang berjalan agak canggung. Sang ayah, Dong-hoon, mengenakan kostum itu dan terus mengikuti So-won dari jarak 50 meter di belakang — tidak pernah mendekat, tetapi juga tidak pernah pergi.

Seluruh warga kompleks menyaksikan pasangan ayah-anak ini. Tidak ada seorang pun yang berkata apa-apa, mereka hanya memandang dari kejauhan sosok Cocomong itu mengikuti gadis kecil itu menyusuri sepanjang jalan.

Adegan Hope

Ending

Film ini berakhir di sini. Tidak ada persidangan ulang, tidak ada pembalikan kasus, tidak ada kejutan kepahlawanan — hanya seorang ayah yang mengenakan kostum maskot, menemani putrinya melangkah selangkah demi selangkah menyusuri jalan menuju sekolah.

Adegan berpindah ke beberapa tahun kemudian, So-won sudah tumbuh sedikit lebih besar, sekitar 12 tahun. Dia duduk di meja belajar mengerjakan tugas sekolah, di bawah kaca mejanya terselip sebuah foto dirinya bersama ayahnya dan Cocomong dari masa-masa di rumah sakit dulu. Setiap hari sepulang sekolah saat melewati toko kelontong dekat kompleks rumah, ayahnya masih menunggunya di sana, masih mengenakan kostum kartun yang sudah agak lusuh karena sering dicuci — hanya saja sekarang dia sudah tidak perlu lagi mengenakannya.

Teks penutup menampilkan: dalam “Kasus Cho Doo-soon” yang terjadi di Korea Selatan pada 2008, korban dengan nama samaran “Na-young” kini sudah dewasa dan sedang menempuh jurusan pekerjaan sosial di sebuah universitas. Cho Doo-soon dibebaskan setelah menjalani masa hukumannya pada 12 Desember 2020, dan jutaan warga Korea turun ke jalan berunjuk rasa pada hari pembebasannya. Perdebatan mengenai revisi Pasal 10 Ayat 2 KUHP Korea Selatan tentang “klausul keringanan hukuman akibat mabuk” masih terus berlangsung di parlemen hingga hari ini.

Ada jenis cinta yang tidak bisa diucapkan, tidak bisa disampaikan dengan kata-kata, tidak bisa diteriakkan — ia hanya bisa diam-diam berjalan 50 meter di belakangmu, mengenakan kostum bulu berwarna merah.