← Kembali ke beranda

Hi, Mom

Sebuah kecelakaan membawa seorang anak kembali ke masa muda ibunya: Mengulas lengkap perjalanan Jia Xiao Ling dalam Hi, Mom, dari menebus penyesalan dan mengubah kehidupan sang ibu hingga menemukan kebenaran tentang perjalanan waktu mereka berdua

Judul

Hi, Mom

Judul lain: Ni Hao, Li Huan Ying

Tahun / Durasi

2021 · 128 menit

Genre

Drama / Komedi / Fantasi

Sutradara

Ling Jia

Penulis

Ling Jia / Jibin Sun / Yu Wang / Honglu Liu / Yu Bu / Yupeng Guo

Rating

Pemeran

Ling Jia (sebagai Jia Xiao Ling), Xiaofei Zhang (sebagai Li Huan Ying muda), Jia Liu (sebagai Li Huan Ying paruh baya), Teng Shen (sebagai Shen Guang Lin), He Chen (sebagai Leng Te), Shan Qiao (sebagai Jia Wentian muda)

Karya asli

Diadaptasi dari sketsa tahun 2016 berjudul sama karya Ling Jia

Hi, Mom
Seorang perempuan berbaju garis-garis merah putih membonceng perempuan berbaju putih dengan sepeda Bus merah putih melintas di dekat seorang laki-laki dan perempuan di samping halte Dua perempuan di bangku saling berjabat tangan dan tersenyum Sekelompok laki-laki dan perempuan tertawa sambil bertepuk tangan di aula Dua tim berbaju olahraga merah dan biru mengangkat papan nama tim di lapangan bola voli Dua perempuan berbaju olahraga merah tertawa lepas di lapangan bola voli
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Hi, Mom adalah film drama komedi Tiongkok yang disutradarai sekaligus dibintangi oleh Ling Jia. Naskahnya ditulis bersama oleh Ling Jia, Jibin Sun, Yu Wang, Honglu Liu, Yu Bu, dan Yupeng Guo, serta diadaptasi dari sketsa tahun 2016 berjudul sama karya Ling Jia. Ling Jia memerankan Jia Xiao Ling, Xiaofei Zhang dan Jia Liu masing-masing memerankan Li Huan Ying muda dan paruh baya, sedangkan Teng Shen, He Chen, dan Shan Qiao masing-masing memerankan Shen Guang Lin, Leng Te, dan Jia Wentian muda. Film berdurasi 128 menit ini tayang di Tiongkok pada 12 Februari 2021.

Per 28 September 2026, Hi, Mom mendapat skor 6,9 di IMDb berdasarkan 3.788 penilaian. Rotten Tomatoes memuat empat ulasan kritikus yang seluruhnya positif, tetapi jumlah tersebut belum cukup untuk menampilkan persentase Tomatometer; skor Popcornmeter-nya mencapai 93%, dengan keterangan bahwa jumlah sampelnya kurang dari 50. Jumlah sampel IMDb jauh lebih besar daripada Rotten Tomatoes, sehingga angka dari situs terakhir hanya tepat dipandang sebagai gambaran dari sampel kecil.

Surat Penerimaan Palsu dan Kecelakaan Mendadak

Sejak kecil, nilai Jia Xiao Ling biasa-biasa saja dan ia juga kerap membuat ibunya, Li Huan Ying, kerepotan. Setelah ujian masuk perguruan tinggi, ia tidak diterima di universitas ternama seperti yang diyakini ibunya. Namun, demi membuat ibunya merasa bangga di hadapan orang lain, ia meminta seseorang membuat surat penerimaan palsu dari akademi drama. Li Huan Ying memercayainya dan mengadakan jamuan untuk merayakan putrinya yang akan kuliah.

Seorang perempuan berbaju garis-garis merah putih membonceng perempuan berbaju putih dengan sepeda

Dalam jamuan itu, Wang Qin, mantan rekan kerja Li Huan Ying, membicarakan putrinya yang berprestasi, sementara surat penerimaan palsu Jia Xiao Ling terbongkar di depan semua orang. Ketika ibu dan anak itu meninggalkan jamuan untuk pulang, mereka mengalami kecelakaan lalu lintas. Li Huan Ying terluka parah dan mengalami koma. Di rumah sakit pada 2001, Jia Xiao Ling menunggui ibunya di sisi ranjang dan menyesal karena selama ini ia tidak pernah benar-benar bisa membuat sang ibu bangga. Dalam keadaan linglung, ia meninggalkan masa ketika ia berada di rumah sakit dan kembali ke dua puluh tahun sebelumnya.

Kembali ke Pabrik Kimia Shengli pada 1981

Jia Xiao Ling tiba di Pabrik Kimia Shengli pada 1981 dan bertemu dengan Li Huan Ying muda yang belum menikah. Karena tidak bisa menjelaskan hubungan mereka yang sebenarnya, ia tinggal bersama Li Huan Ying dengan mengaku sebagai sepupu jauh. Li Huan Ying dan rekan-rekannya menerima gadis yang muncul tiba-tiba itu, dan keduanya segera mulai melakukan berbagai hal bersama.

Bus merah putih melintas di dekat seorang laki-laki dan perempuan di samping halte

Jia Xiao Ling ingat bahwa kelak ibunya terus bekerja keras mengurus keluarga. Ia juga ingat bahwa dirinya tidak pernah menjadi putri yang bisa dibanggakan sang ibu. Karena itu, ia menganggap perjalanan waktu ini sebagai kesempatan untuk menebus penyesalan. Ia memutuskan membantu Li Huan Ying muda mendapatkan hal-hal yang dahulu terlewatkan dan berusaha memberinya kehidupan yang lebih berkecukupan.

Dua perempuan di bangku saling berjabat tangan dan tersenyum

Televisi dan Pertandingan Bola Voli

Ketika pabrik kimia mendapat jatah sebuah televisi, Li Huan Ying dan Wang Qin yang selalu ingin menjadi nomor satu sama-sama ingin membelinya. Jia Xiao Ling mendadak berpura-pura buta untuk ikut berebut dan akhirnya membantu Li Huan Ying membeli televisi pertama di pabrik itu. Setelah televisi dibawa ke kompleks pabrik, para pekerja berkumpul untuk menonton pertandingan tim nasional bola voli putri Tiongkok. Untuk pertama kalinya, Li Huan Ying mengungguli Wang Qin dalam hal ini.

Sekelompok laki-laki dan perempuan tertawa sambil bertepuk tangan di aula

Jia Xiao Ling juga ingat bahwa Wang Qin pernah mengikuti pertandingan bola voli putri antarpekerja pabrik yang dilewatkan Li Huan Ying, lalu mendapat kesempatan yang mengubah hidupnya. Ia yakin keikutsertaan dalam pertandingan itu dapat membawa kehidupan ibunya ke arah lain. Karena itu, ia mendorong Li Huan Ying membentuk tim dan turut mencari para pemain yang absen karena berbagai alasan.

Dua tim berbaju olahraga merah dan biru mengangkat papan nama tim di lapangan bola voli

Tim “Perempuan Pandai Besi” yang dipimpin Li Huan Ying akhirnya turun ke lapangan dan berhadapan langsung dengan tim “Perempuan Besi” yang diperkuat Wang Qin. Pertandingan itu tidak serta-merta menghadirkan kehidupan berkecukupan seperti yang dibayangkan Jia Xiao Ling. Namun, Li Huan Ying dan rekan-rekannya berhasil menjalani pengalaman yang semula mereka lewatkan, sekaligus menarik perhatian keluarga kepala pabrik kepada Li Huan Ying.

Dua perempuan berbaju olahraga merah tertawa lepas di lapangan bola voli

Leng Te dan Shen Guang Lin

Jia Xiao Ling berkenalan dengan Leng Te di kompleks pabrik. Pemuda yang sering membuat masalah itu juga merasa bahwa dirinya selalu membuat ibunya khawatir. Pengalaman serupa tersebut membuat keduanya saling memahami. Leng Te perlahan menyukai Jia Xiao Ling, tetapi Jia Xiao Ling tetap mencurahkan sebagian besar tenaganya untuk mengubah masa depan Li Huan Ying.

Seorang laki-laki dan perempuan berdiri berdampingan di depan rumah bata dan pohon besar

Shen Guang Lin, putra kepala pabrik, juga mulai mendekati Li Huan Ying. Jia Xiao Ling tahu bahwa Wang Qin kelak hidup berkecukupan dan putrinya berkuliah di universitas ternama, lalu menganggap semua itu sebagai hasil pernikahan Wang Qin dengan Shen Guang Lin. Menurutnya, jika ia bisa membuat ibunya menikah dengan Shen Guang Lin, Li Huan Ying akan memiliki suami yang lebih baik dan putri yang lebih berprestasi. Ia bersedia menerima hal itu meskipun berarti dirinya tidak akan pernah lahir.

Seorang laki-laki berjaket cokelat bersandar di sisi perahu hijau muda

Jia Xiao Ling terus mengatur pertemuan untuk Shen Guang Lin dan Li Huan Ying. Mulai dari perjodohan, berperahu, hingga pertunjukan seni, ia melakukan segala cara agar keduanya semakin dekat. Namun, rencananya berulang kali mengalami kejadian tak terduga, dan Li Huan Ying tidak mengambil keputusan sesuai arah yang dibayangkan putrinya.

Jia Xiao Ling Bertemu Ayahnya Saat Muda

Jia Xiao Ling baru kemudian mengetahui bahwa Li Huan Ying sudah tiga tahun menjalin hubungan dengan Jia Wentian, seorang pekerja ruang ketel. Jia Wentian tidak memiliki latar belakang keluarga seperti Shen Guang Lin, tetapi dialah pasangan pilihan Li Huan Ying sendiri. Setelah keduanya mengurus pernikahan, Jia Xiao Ling bertemu dengan ayahnya saat masih muda dan memastikan bahwa ibunya tetap memilih kehidupan yang semula dijalaninya.

Seorang laki-laki berkemeja putih dan perempuan berbaju putih duduk di bagian depan sepeda

Sementara itu, Wang Qin memanfaatkan kesempatan untuk bekerja di Shenzhen dan kemudian menikah dengan Shen Guang Lin yang juga berada di kota itu. Perubahan dalam kehidupannya bukan sesuatu yang dapat begitu saja dipindahkan Jia Xiao Ling ke kehidupan ibunya. Jia Xiao Ling masih berusaha membujuk Li Huan Ying untuk menerima masa depan yang berbeda dengan menggambarkan keluarga yang lebih kaya dan putri yang lebih berprestasi. Namun, Li Huan Ying menyatakan bahwa ia tidak menyesali kehidupan yang sudah dimilikinya, dan ia hanya berharap putrinya hidup aman dan bahagia.

Dua perempuan berbicara sambil saling berhadapan di sisi meja kayu

Sang Ibu Juga Kembali ke 1981

Saat bersiap berpisah dengan ibunya, Jia Xiao Ling melihat sebuah tambalan berbentuk hewan pada jin robek yang dikenakannya. Ia tiba-tiba teringat bahwa Li Huan Ying pada 1981 belum bisa menjahit pola seperti itu. Sang ibu baru perlahan menguasai keterampilan untuk merawat anak tersebut setelah putrinya lahir.

Seorang perempuan berbaju bermotif menunduk sambil menangis di bawah cahaya hangat

Tambalan itu menghubungkan semua petunjuk sebelumnya: bukan hanya Jia Xiao Ling yang datang ke 1981, tetapi Li Huan Ying yang terbaring di rumah sakit juga kembali ke masa mudanya. Sejak mereka bertemu, Li Huan Ying sudah mengenali putrinya dan memahami mengapa Jia Xiao Ling berusaha keras membantunya membeli televisi, mengikuti pertandingan bola voli, dan menjodohkannya dengan Shen Guang Lin. Ia mengikuti semua rencana itu agar putrinya, yang terus menyalahkan diri sendiri, percaya bahwa ibunya pernah merasa bahagia. Namun, ia tetap memilih Jia Wentian demi mempertahankan kehidupan yang membuat dirinya dan Jia Xiao Ling menjadi ibu dan anak.

Ending

Setelah memahami kebenaran, Jia Xiao Ling berbalik untuk mencari Li Huan Ying. Saat berlari, ia kembali melihat cuplikan kehidupannya sejak kecil hingga dewasa. Untuk pertama kalinya, ia juga melihat dari sudut pandang ibunya berbagai kesalahan yang selama ini dimaklumi dan hari-hari yang mereka lalui bersama. Kebersamaan ibu dan anak di 1981 pun menjadi salam perpisahan yang ditinggalkan Li Huan Ying untuk putrinya.

Seorang perempuan berbaju putih mendongak dengan mata terpejam di bawah sinar matahari

Jia Xiao Ling kemudian kembali ke rumah sakit pada 2001 dan sekali lagi menghadapi kenyataan bahwa ibunya meninggal akibat kecelakaan tersebut. Waktu terus berjalan, dan kelak ia berhasil mewujudkan kehidupan materi yang pernah ingin diberikannya kepada sang ibu. Dalam sebuah adegan, ia mengendarai mobil atap terbuka dan Li Huan Ying yang mengenakan mantel hijau seolah duduk di sampingnya. Setelah gambar berganti, ternyata hanya Jia Xiao Ling yang berada di dalam mobil; ibunya tidak ikut kembali bersamanya ke dunia nyata.