Castle in the Sky
Sebuah kalung biru yang bercahaya membuat seorang gadis melayang perlahan turun dari langit: rangkuman lengkap alur cerita Castle in the Sky, animasi fantasi karya Hayao Miyazaki, dari anak tambang Pazu yang menyelamatkan Sheeta yang jatuh dari langit, hingga kedua anak itu bersama-sama meneriakkan mantra penghancur "Balse"
Judul
Castle in the Sky
天空の城ラピュタ
Tahun / Durasi
1986 · 124 menit
Genre
Animasi / Fantasi / Petualangan / Keluarga
Sutradara
Hayao Miyazaki
Penulis
Hayao Miyazaki
Rating
Pemeran
Keiko Yokozawa, Mayumi Tanaka, Kotoe Hatsui, Minori Terada, Fujio Tokita
Karya asli
Terinspirasi dari novel Gulliver's Travels karya Jonathan Swift, bab ketiga tentang "Negeri Pulau Terbang"
Penghargaan
Film pertama yang resmi dirilis setelah Studio Ghibli berdiri
Castle in the Sky adalah karya Hayao Miyazaki tahun 1986, sekaligus film pertama yang resmi dirilis setelah Studio Ghibli berdiri. Dunia dalam film ini — sebuah dunia steampunk akhir abad ke-19 yang penuh kapal udara, tambang batu bara, pipa tembaga, dan mesin-mesin bergaya lama — menjadi fondasi visual untuk seluruh semesta Ghibli setelahnya. Inti ceritanya adalah sebuah “kota di langit” yang sudah dilupakan manusia selama ratusan tahun, dan sebutir batu terbang biru kecil yang berpindah tangan antara dua anak.
Gadis yang Jatuh dari Langit
Film dibuka dengan sebuah kapal udara milik pemerintah yang terbang di atas lautan awan. Di sebuah kabin kecil jauh di dalam kapal, seorang gadis kecil berkuncir dua yang memakai baju kerja, Sheeta, dikurung di dekat jendela. Di lehernya tergantung kalung biru peninggalan neneknya — sekilas hanya terlihat seperti batu liontin biasa, tapi Sheeta sendiri maupun orang-orang di sekitarnya belum tahu bahwa nama sebenarnya batu itu adalah “batu terbang”.
Malam harinya, bajak udara tua Dola bersama beberapa anak laki-lakinya yang bertubuh besar menyerbu kapal udara itu dengan pesawat kecil mereka. Sheeta mencoba kabur di tengah kekacauan, tapi tanpa sengaja terjatuh dari tali di luar jendela kapal, jatuh ke lautan awan.
Keajaiban terjadi tepat saat dia terjatuh — batu terbang di dadanya tiba-tiba menyala, dan tubuhnya berhenti melayang di udara, lalu perlahan turun seperti bulu. Sheeta pun melayang menembus lapisan awan dan kabut malam, hingga akhirnya mendarat dengan lembut di sebuah kota tambang kecil di permukaan bumi.
Yang menangkapnya adalah seorang anak laki-laki.
Pazu, Anak Tambang
Pazu adalah anak magang di kota tambang ini. Ayahnya dulu seorang pilot yang ditertawakan seluruh dunia karena mengaku pernah “melihat langsung sebuah kota terbang bernama Laputa di antara awan”, dan akhirnya meninggal sendirian dalam kesepian. Ayahnya mewariskan sebuah foto Laputa yang buram, diambil dari pesawat bertahun-tahun lalu, dan Pazu menyimpannya diam-diam di bengkel kerjanya. Tujuan hidupnya hanya satu: membuktikan sendiri bahwa ayahnya bukan pembohong.
Pagi itu, Pazu menangkap Sheeta yang jatuh dari langit di luar tambang. Dua remaja yang belum saling kenal ini langsung merasa bisa saling percaya begitu saja. Pazu membawa Sheeta ke bengkelnya dan menunjukkan foto Laputa peninggalan ayahnya — kalung di dada Sheeta bergetar begitu melihatnya.
Ketenangan pagi di kota tambang itu tidak bertahan lama. Kawanan bajak udara Dola datang mengejar untuk merebut batu terbang di leher Sheeta, sementara agen pemerintah Muska mendekat dari arah lain bersama pasukan militer sungguhan. Kedua anak itu berhasil lolos dari bajak udara, lalu dari tentara, tapi akhirnya tertangkap dan dibawa naik ke kapal udara oleh anak buah Muska.

Batu Terbang dan Legenda Laputa
Dalam pelarian, mereka bertemu seorang penambang tua berkacamata pelindung dan berwajah keriput bernama Paman Pom di kedalaman tambang. Paman Pom adalah salah satu dari sedikit orang di tambang ini yang masih mengingat legenda kuno. Ia mengetuk sebongkah bijih dari dinding — kristal-kristal di dalam dinding tambang mulai menyala satu per satu dalam kegelapan — itulah asal-usul batu terbang.
Paman Pom menceritakan pada kedua anak itu: dahulu kala, manusia pernah membangun peradaban di langit — kota-kota terbang, istana yang melayang, mesin-mesin yang jauh lebih maju dibanding negara mana pun di daratan. Namun peradaban itu runtuh karena terlalu terlepas dari bumi dan terlalu sombong. Semua “batu terbang” yang ada sekarang adalah pecahan dari keruntuhan itu. “Manusia tidak bisa hidup tanpa bumi” — kalimat ini akan terus muncul berulang kali sepanjang film.
Kalung di leher Sheeta adalah batu induk dari “batu terbang” itu — utuh dan mampu menopang seluruh kota terbang dengan stabil — artinya, leluhur Sheeta sendiri kemungkinan besar berasal dari Laputa.
Wajah Asli Muska
Setelah ditangkap naik ke kapal udara, Sheeta ditahan oleh Muska di benteng militer bernama Tedis. Muska menunjukkan rahasia keluarganya yang selama ini disembunyikan:
“Aku juga salah satu keturunan terakhir keluarga kerajaan Laputa.”
Sama seperti Sheeta, ia memiliki darah keluarga kerajaan kuno itu, tapi yang dia inginkan bukan “menemukan kembali tanah leluhurnya” — dia ingin memakai senjata-senjata kuno di Laputa untuk menjadi raja dunia ini.
Sheeta menolak bekerja sama. Saat Muska mengancam akan mencelakai Pazu, dalam keputusasaannya ia refleks mengucapkan “mantra kuno” yang diajarkan neneknya — mantra ini sebenarnya adalah kunci untuk membangunkan batu terbang dari tidurnya.
Begitu mantra diucapkan, batu terbang langsung bersinar terang — robot Laputa berbentuk raksasa batu, yang sudah dikurung ratusan tahun di benteng militer itu, terbangun di bawah menara. Robot yang tertidur ratusan tahun tanpa tujuan ini, begitu bangun, hanya memiliki satu naluri: melindungi pemilik batu terbang. Dengan satu tangannya ia menembakkan sinar laser, menghancurkan seluruh benteng, lalu menggendong Sheeta ke puncak menara. Namun karena tubuhnya sudah terlalu tua, robot itu akhirnya hancur berkeping-keping setelah berhasil melindungi kepergian Sheeta.

Bajak Udara yang Berubah Jadi Sekutu
Di tengah kekacauan, Sheeta diselamatkan oleh Pazu, yang kabur dari bengkelnya dan memanjat menara untuk menjemputnya. Begitu keluar, mereka berdua langsung ditangkap oleh kawanan Dola. Tapi kali ini Dola tidak memperlakukan mereka sebagai tawanan, melainkan menganggap mereka seperti cucunya sendiri. Alasannya sederhana: “Dulu aku mengejar kalian demi batu di leher kalian, tapi sekarang ada yang lebih penting dari batu itu — Tuan Muska itu benar-benar tidak boleh sampai mendapatkan Laputa.”
Kapal udara Dola, Tiger Moth, menjadi rumah sementara bagi kedua anak itu. Sheeta belajar membantu awak kapal memasak dan mencuci, lalu makan malam bersama anak-anak lelaki Dola yang suaranya sama kerasnya dengan ibu mereka. Untuk pertama kalinya, kedua anak ini merasakan seperti “diterima oleh sebuah keluarga”.
Dola membalikkan arah kapalnya, mengikuti pasukan Muska menuju Laputa.

Sarang Naga dan Laputa
Laputa bersembunyi di dalam gumpalan awan badai raksasa yang tidak pernah hilang sepanjang tahun, disebut “Sarang Naga”. Untuk masuk ke sana, mereka harus menanggung risiko disambar petir dan diterjang badai. Tiger Moth tercerai-berai di tengah badai, lalu Pazu dan Sheeta terhempas ke pusat awan sambil berpegangan pada pecahan papan kapal.
Di balik awan itulah Laputa berada.
Ternyata Laputa bukan reruntuhan — melainkan sebuah taman yang perlahan diambil alih oleh waktu. Seluruh penduduk aslinya sudah lenyap ratusan tahun lalu, tapi beberapa robot tukang kebun masih bekerja sesuai program mereka: menyerbuki bunga, membersihkan daun gugur di atas makam, memberi makan tupai di tepi danau. Salah satu robot dengan lembut meletakkan buah sebesar telur ke dalam cakar seekor tupai yang sedang menengadah. Seluruh permukaan kota ini dibalut akar-akar “Pohon Kehidupan” yang menjulang tinggi — akarnya menembus dinding dan atap, mengikat seluruh reruntuhan kota itu seperti sulur, sehingga kota ini tetap melayang di atas awan.
Baru saja Sheeta dan Pazu bisa bernapas lega, mereka melihat Muska juga baru saja mendarat bersama pasukannya.

Anak Panah Petir dan Mantra “Balse”
Muska lebih dulu menemukan inti Laputa — sebuah kristal inti yang berada di bawah akar pohon dan menopang seluruh kota agar tetap melayang, beserta “Anak Panah Petir” yang terhubung dengannya — senjata pamungkas peninggalan Laputa kuno yang bisa menyambarkan petir dari langit ke kota mana pun di daratan.
Muska menembakkan Anak Panah Petir pertama sebagai demonstrasi, dan seluruh armada angkatan laut di daratan langsung hangus dalam sekejap. Ia lalu memerintahkan pembantaian seluruh pasukan yang membawanya ke sana — karena mereka sudah tidak dibutuhkan lagi.
Ia menangkap Sheeta dan memaksanya menyerahkan batu terbang. Sheeta melepas batu terbang dari lehernya dan meletakkannya di tanah, lalu mengucapkan kalimat terakhir yang diajarkan neneknya kepada Muska:
“Manusia tidak bisa hidup setelah meninggalkan bumi, meninggalkan tanah. Itulah sebabnya Laputa runtuh.”
Sheeta menolak menyerahkan batu terbang, lalu berbalik lari ke kedalaman akar pohon mencari Pazu. Kedua anak itu bertemu di inti pohon. Sheeta menyelipkan batu terbang ke tangan Pazu dan mengajarinya mantra lain dari neneknya — sebuah mantra penghancur, pengucapannya sederhana, hanya satu kata: Balse.

Sheeta menarik napas: “Kalau kita ucapkan bersama-sama, seluruh Laputa akan hancur selamanya.”
Ia menatap Pazu sekali lagi: “Meskipun ini berarti kita akan mati bersama,” katanya, “itu tetap lebih baik daripada membiarkan Muska tetap hidup.”
Pazu menggenggam erat tangannya. Kedua anak berusia dua belas-tiga belas tahun itu berdiri di tengah akar-akar pohon raksasa, menghadap ke arah Muska yang baru saja melangkah masuk ke inti pohon — lalu berteriak bersama-sama:
“Balse!”
Seluruh Laputa mulai hancur. Seluruh kota bagian bawah — semua logam, semua Anak Panah Petir, semua robot penjaga, bersama Muska yang masih ada di inti kota — lepas satu per satu dari badan utamanya dan berjatuhan seperti hujan ke lautan awan.
Namun, pohon raksasa di lapisan paling atas beserta “kristal inti” yang dipeluknya tidak ikut jatuh. Akar-akar Pohon Kehidupan menahan kristal inti itu di tengah gelombang mantra penghancur, dan seluruh akar bersama kristalnya — bagian terakhir Laputa yang masih hidup — perlahan naik, melewati lapisan awan, terbang menuju stratosfer.
Ending: Bertemu Lagi
Sheeta dan Pazu melompat dari kota yang runtuh dengan sebuah glider kecil yang ditinggalkan Dola untuk mereka, melayang lama di atas awan, dan akhirnya bertemu kembali dengan keluarga Dola yang masih hidup di kapal Tiger Moth di tengah kabut pagi.
Kamera menjauh, dan Laputa — yang kini hanya menyisakan pohon raksasa itu, kristal induknya, dan beberapa pondok yang dibalut akar — terus naik perlahan ke kedalaman langit. Sejak saat itu, Laputa tidak akan pernah jatuh lagi, dan tidak akan pernah ditemukan manusia mana pun.
Gambar terakhir menunjukkan robot tukang kebun kecil di puncak pohon raksasa, menatap langit berbintang yang tak berujung, sementara di darat Sheeta kembali mengikat rambut kepangnya dan menggenggam tangan Pazu — kedua adegan ini berhenti bersamaan.
Castle in the Sky, secara keseluruhan, adalah surat Miyazaki untuk “peradaban industri”: manusia boleh mendongak ke langit, tapi yang benar-benar bisa membuat manusia bertahan hidup selamanya adalah tanah di bawah kaki, keluarga, dan orang di sampingmu yang bersedia meneriakkan mantra penghancur bersamamu.