← Kembali ke beranda

Spirited Away

Seorang gadis berusia sepuluh tahun salah masuk ke sebuah terowongan dan terjebak di dunia tempat para dewa berendam: penjelasan lengkap alur cerita film animasi fantasi Hayao Miyazaki, Spirited Away, mulai dari orang tuanya yang berubah menjadi dua ekor babi, sampai jawaban tepat yang dia ucapkan di depan kandang babi

Judul

Spirited Away

千と千尋の神隠し

Tahun / Durasi

2001 · 124 menit

Genre

Animasi / Fantasi / Petualangan / Keluarga

Sutradara

Hayao Miyazaki

Penulis

Hayao Miyazaki

Rating

Pemeran

Rumi Hiiragi, Miyu Irino, Mari Natsuki, Bunta Sugawara, Akio Nakamura

Penghargaan

Academy Awards ke-75: Film Animasi Terbaik; Festival Film Internasional Berlin ke-52: Beruang Emas (Golden Bear)

Spirited Away
Adegan Spirited Away Adegan Spirited Away Adegan Spirited Away Adegan Spirited Away Adegan Spirited Away
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Spirited Away adalah film karya Hayao Miyazaki tahun 2001, dan sampai sekarang menjadi satu-satunya film animasi yang pernah meraih Oscar untuk Film Animasi Terbaik sekaligus penghargaan tertinggi dari salah satu dari tiga festival film besar Eropa (Beruang Emas di Berlin). Film ini bercerita tentang seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun yang tersesat di luar sebuah terowongan tua pada senja di penghujung musim panas, lalu terseret masuk ke sebuah dunia yang dijalankan oleh para “dewa” — dunia yang seharusnya tidak boleh dilihat manusia — dan menghabiskan beberapa hari beberapa malam di sana untuk menyelamatkan dirinya sendiri, sekaligus menyelamatkan beberapa orang lain yang sudah tersesat lebih lama darinya.

Terowongan yang Salah

Cerita dibuka pada siang hari yang biasa saat sedang pindah rumah. Chihiro Ogino, gadis berusia sepuluh tahun, duduk cemberut di kursi belakang mobil orang tuanya — dia harus meninggalkan kota yang sudah dia kenal untuk bersekolah dasar di pinggiran kota yang baru, sementara ibunya di kursi depan sambil bicara juga mengomel karena dia “lambat”. Ayahnya mengambil jalan pintas di jalan pedesaan dan salah belok, lalu muncul di depan mereka sebuah bangunan kecil berwarna merah yang aneh — seperti pintu masuk terowongan yang terbengkalai.

Karena penasaran, ayahnya turun dari mobil dan berjalan masuk ke terowongan. Ibunya mengikuti, dan Chihiro terpaksa ikut masuk sambil menarik-narik lengan baju ibunya. Di seberang terowongan ada padang rumput hijau, dasar sungai yang kering, dan sebuah kota kecil yang tampak seperti taman hiburan yang terbengkalai. Orang tuanya bersemangat, dan di sebuah kios kosong di kota itu mereka menemukan banyak paha ayam dan makanan campuran yang sudah tertata rapi — tanpa berpikir panjang mereka langsung duduk dan makan, sambil melarang Chihiro protes: “Aku punya uang, setelah makan kita langsung pergi.”

Chihiro tidak ikut makan. Dia berkeliling kota, menyeberangi jembatan, dan bertemu seorang pemuda berbaju putih yang usianya sepertinya sebaya dengannya. Pemuda itu terlihat panik dan berkata kepadanya: “Kamu harus pergi dari sini sebelum matahari terbenam — cepat kembali ke orang tuamu!”

Saat dia berlari kembali ke kios itu, orang tuanya sudah berubah menjadi dua ekor babi dengan wajah membiru dan tatapan kosong karena kekenyangan.

Adegan Spirited Away

Langit dengan cepat menjadi gelap. Satu per satu lampion di seluruh kota menyala sendiri, dan di jalanan tak terhitung banyaknya dewa dan tamu setengah manusia setengah hewan muncul begitu saja dari udara — semuanya menuju satu tujuan di kota ini: rumah pemandian.

Rumah Pemandian dan “Orang-Orang yang Kehilangan Nama”

Rumah pemandian ini adalah pemandian air panas raksasa setinggi 8 lantai, dihiasi dinding merah dan cat emas khas Jepang. Di sinilah delapan juta dewa dunia ini datang untuk “berendam menyembuhkan diri” setelah lelah bekerja.

Pemilik rumah pemandian ini adalah seorang nenek tua bernama Yubaba, yang hidungnya besar sampai memenuhi sepertiga wajahnya dan rambutnya disanggul tinggi. Dia menjalankan pemandian ini sepenuhnya dengan kontrak — semua pekerja harus menyerahkan nama mereka kepadanya, dan sejak saat itu dia bisa memanggil mereka dengan nama apa pun sesukanya.

Pemuda yang tadi memperingatkan Chihiro untuk “cepat pergi” itu bernama Haku. Dia diam-diam menyembunyikan Chihiro di halaman belakang rumah pemandian, menjauhkannya dari suasana di dalam yang “akan menggigit siapa pun yang berbau manusia”. Dia memberi Chihiro sebutir bulatan kecil untuk ditelan — “Makan ini, supaya kamu tidak menghilang di sini” — bulatan itu mengandung sifat makanan dunia ini. Begitu Chihiro menelannya, dia melihat tangannya tidak lagi tembus pandang, dan saat itulah dia sadar dia benar-benar sudah bertahan di sini.

Haku memberi tahu Chihiro: satu-satunya cara untuk bertahan hidup di dunia ini adalah meyakinkan Yubaba untuk mempekerjakannya. Dia harus menandatangani kontrak itu.

Sambil gemetar, Chihiro menyeberangi sungai gelap, memanjat jembatan besi, dan naik lift yang bergerak naik turun sendiri, sampai ke kamar Yubaba di lantai paling atas rumah pemandian. Yubaba menatapnya tajam: “Anak manusia, kamu ke sini mau apa?” Chihiro spontan berkata: “Tolong biarkan aku bekerja di sini!” Dia mengulangi kalimat itu berkali-kali — Yubaba memandanginya dengan jijik, dan akhirnya, dengan semacam sihir kontrak yang berbunyi “begitu kamu sudah menandatangani, tidak ada yang bisa menyelamatkanmu”, dia mengganti nama Chihiro.

Yubaba merenggut tiga aksara “Ogino Chi” dari namanya, dan hanya menyisakan satu aksara: “Sen” — sejak saat itu, di dunia ini Chihiro dipanggil “Sen”.

Dia tidak boleh lagi mengingat dirinya sebagai “Chihiro” — begitu namanya benar-benar terlupakan, dia tidak akan bisa kembali lagi ke dunia manusia.

Adegan Spirited Away

Dewa Sungai dan Koin Tembaga

Sen mulai bekerja sebagai petugas kebersihan kolam pemandian dengan posisi paling rendah. Di hari pertama dia langsung mendapat tamu yang tidak mau diterima siapa pun di rumah pemandian ini: “dewa busuk” — gumpalan hitam berbau busuk yang penuh dengan sepeda, kaleng, dan sampah yang menempel di tubuhnya, dengan air kotor kental yang menetes ke mana-mana saat dia memaksakan diri masuk ke bak pemandian.

Yubaba melemparkan tugas sial ini kepada Sen. Sambil menahan bau busuk dan menginjak air kotor, Sen membuka keran air panas untuk tamu ini dan menuangkan botol demi botol cairan rendaman obat ke dalamnya. Kekuatan cairan itu perlahan melarutkan gumpalan lumpur hitam itu di dalam air — sesuatu seperti tongkat yang menancap di dalam tubuh tamu itu ikut terdorong keluar. Sen menariknya sekuat tenaga, lalu tiba-tiba seluruh kamar mandi tersapu air jernih dalam jumlah besar, dan lumpur hitam itu langsung tersapu bersih —

Tamu yang muncul ternyata bertubuh raksasa dengan senyum kuno di wajahnya — seorang “dewa sungai berwarna putih”. Rupanya dia bukan dewa busuk — dia adalah dewa sebuah sungai yang hampir tercekik karena puluhan tahun dibuang sampah oleh manusia. Sebelum pergi, dia meninggalkan sebutir “bulatan pahit” berwarna gelap sebagai hadiah untuk Sen.

Bulatan pahit itu, dalam alur cerita selanjutnya, menyelamatkan setidaknya dua nyawa.

Luka Haku dan Sungai Kohaku

Tidak lama setelah Sen menjadi terkenal di rumah pemandian, suatu hari Haku kembali dalam keadaan terluka parah — dia sedang mengerjakan sesuatu yang rahasia untuk Yubaba, lalu dikejar oleh “burung kertas” yang dikirim Zeniba, kakak Yubaba, hingga perutnya tertusuk dan berdarah.

Sen membelah separuh bulatan pahit pemberian dewa sungai itu dan memaksakannya masuk ke mulut Haku yang terluka parah dan setengah sadar — Haku memuntahkan sebuah segel kecil bersalut sihir emas. Itu adalah segel sihir milik Zeniba, yang dicuri Haku karena ingin menyenangkan hati Yubaba.

Sen mengambil sebuah keputusan: dia akan pergi sendiri ke rumah Zeniba untuk mengembalikan segel itu — hanya dengan mengembalikannya, Zeniba akan mengampuni Haku, dan Haku bisa bertahan hidup.

Adegan Spirited Away

No-Face

Karakter tak terlupakan lain dalam alur cerita ini adalah “No-Face” yang ikut masuk ke rumah pemandian dari luar — seorang dewa kesepian yang hanya bisa meniru, dengan topeng putih tanpa ekspresi. Saat pertama kali bertemu Sen, Sen mengangguk kepadanya di atas jembatan dan berkata “kamu boleh masuk juga”, dan No-Face menganggap kebaikan sederhana itu sebagai tanda “dia menginginkanku”.

No-Face menyadari bahwa semua pekerja rumah pemandian tergila-gila pada “emas”, jadi dia menggunakan sihir untuk menciptakan banyak emas yang tampak nyata, memikat semua pekerja rumah pemandian untuk datang mengelilinginya — para pekerja mengerumuninya sambil menjilat habis-habisan, dan tubuhnya semakin membesar. Dia menyodorkan segenggam emas untuk diberikan kepada Sen, tetapi Sen dengan tenang menjawab: “Aku tidak butuh apa-apa.”

No-Face yang ditolak mulai “memakan orang” — dia menelan tiga pekerja begitu saja di dalam rumah pemandian. Seluruh rumah pemandian kacau dikejar oleh tubuhnya yang membesar.

Saat semua orang terlalu ketakutan untuk bicara, Sen memasukkan separuh sisa bulatan pahit pemberian dewa sungai ke mulut No-Face. Sambil memuntahkan semua pekerja yang sudah dia telan, No-Face perlahan mengecil kembali menjadi sosok kesepian dan transparan seperti semula — dia tidak lagi menakutkan, hanya kesepian.

Sen membawa No-Face untuk menemui Zeniba.

Adegan Spirited Away

Rumah Zeniba

Sen, No-Face, dan seekor bayi tikus bernama “Boh” (anak Yubaba yang tadinya sangat dimanja, diubah menjadi tikus kecil) bersama-sama naik kereta listrik di atas air yang hanya berangkat tanpa kembali, menuju rumah kecil Zeniba di ujung rawa.

Adegan kereta listrik ini hampir tanpa dialog — hanya cahaya matahari terbenam yang memantul dari permukaan air, penumpang-penumpang asing yang duduk transparan dan diam di dalam kereta, serta dunia yang seluruhnya terendam air laut di luar jendela. Ini adalah salah satu adegan dalam seluruh film Miyazaki yang paling sering ditonton ulang oleh para penggemar.

Zeniba dan Yubaba adalah saudara kembar — wajahnya hampir sama persis, tetapi wataknya jauh lebih lembut. Dia memaafkan Haku dan memberi tahu Sen: “Kutukan pada segel itu sudah hilang karena kamu memecah bulatan pahit itu.” Kemudian dia mengajak Sen, No-Face, dan Boh menganyam seutas tali rambut bersama-sama di rumahnya — Zeniba memberikan tali rambut yang sudah selesai dianyam itu kepada Sen: “Ini kamu sendiri yang menganyamnya, ini akan melindungimu.”

Sejak saat itu No-Face tinggal di rumah Zeniba, menjadi asistennya.

Nama dan Sungai Kohaku

Dalam perjalanan pulang, Haku berubah menjadi naga putih panjang dan menjemput Sen di langit. Dalam penerbangan menuju rumah pemandian, Sen teringat sebuah kejadian kecil dari masa kecilnya —

“Haku, aku sudah tahu nama aslimu.”

“Waktu kamu masih kecil — bertahun-tahun lalu, aku jatuh ke sebuah sungai, dan kamu menyelamatkanku.”

“Sungai itu bernama “Sungai Kohaku” (Kohaku River). Kamu bukan Haku — kamu adalah dewa Sungai Kohaku.”

Begitu nama aslinya disebutkan, sisik-sisik emas di tubuh Haku beterbangan satu per satu — dia akhirnya mengingat masa lalunya sebagai sebuah sungai, sebelum ditimbun oleh manusia. Dia tersenyum lembut kepada Sen: “Terima kasih sudah menyebut namaku.”

Ujian di Depan Kandang Babi

Setelah kembali ke rumah pemandian, Yubaba sudah menunggu di depan pintu. Dia melihat anaknya, Boh, sudah kembali dari wujud tikus menjadi bayi gemuk seperti semula, dan tahu Zeniba diam-diam sudah membantu Sen — dia sadar gadis kecil ini sudah berada di luar jangkauan kontrak yang bisa mengikatnya.

Tapi dia masih ingin mempertahankan harga dirinya yang terakhir: dia meminta Sen menjalani satu ujian terakhir — dia membawa Sen ke depan sebuah kandang berisi belasan ekor babi gemuk dan berkata: “Orang tuamu ada di sini. Kalau kamu bisa mengenali mereka, aku akan membiarkanmu pergi.”

Semua pekerja rumah pemandian berdiri di luar kandang sambil menahan napas menyaksikan Sen. Sen berjalan ke depan pagar, memandangi babi-babi itu sekilas, lalu dengan tenang berkata kepada Yubaba:

“Orang tuaku tidak ada di sini.”

Jawaban yang benar — orang tuanya memang tidak ada di antara belasan ekor babi itu. Kali ini Yubaba mengangguk dengan jujur: kontrak pun berakhir.

Adegan Spirited Away

Pulang ke Rumah

Haku membawa Sen terbang kembali ke tepi sungai kering tempat semuanya bermula. Dia berkata kepadanya: “Aku tidak bisa lagi menemanimu melewati terowongan. Aku harus kembali dulu untuk mendapatkan kembali tugasku sebagai dewa sungai. Tapi —”

“Jangan menoleh ke belakang.”

Chihiro berjalan melewati kota yang sudah kosong — semua makanan dan semua lampion sudah disingkirkan. Orang tuanya berdiri di ujung terowongan yang lain, terlihat normal, hanya saja mereka tidak ingat apa pun yang terjadi — mereka mengira hanya singgah sebentar dalam perjalanan.

Saat Chihiro turun dari kursi belakang mobil ayahnya, di pergelangan tangannya masih terpasang tali rambut yang diajarkan Zeniba untuk dianyam sendiri. Terowongan itu tidak pernah ditemukan lagi.

Adegan terakhir berhenti pada tali rambut itu — dan setitik air mata di sudut mata Chihiro yang nyaris tidak akan disadari oleh orang tuanya.

Di permukaan Spirited Away tampak seperti film fantasi tentang “gadis kecil yang bekerja di dunia lain”, tapi sebenarnya ini adalah surat yang ditulis Hayao Miyazaki untuk semua orang yang “hampir kehilangan namanya sendiri dalam proses tumbuh dewasa”: kamu bisa untuk sementara kehilangan namamu, untuk sementara dipanggil dengan nama lain, bahkan untuk sementara melihat orang tuamu berubah menjadi dua ekor babi — tapi selama kamu ingat siapa dirimu yang sebenarnya, kamu akan selalu menemukan jalan keluar.