Source Code
Dia terus terbangun selama delapan menit di kereta komuter menuju Chicago, mati berulang kali oleh bom yang sama, sampai dia hafal wajah pria sialan itu: ulasan lengkap alur cerita Source Code, thriller fiksi ilmiah karya Duncan Jones, dari kalimat pertama sang tokoh utama ke perempuan di depannya, "kamu siapa", sampai pesan singkat yang tak pernah terkirim di alam semesta paralel pada bagian akhir
Judul
Source Code
Tahun / Durasi
2011 · 93 menit
Genre
Fiksi ilmiah / Misteri / Thriller
Sutradara
Duncan Jones
Penulis
Ben Ripley
Rating
Pemeran
Jake Gyllenhaal, Vera Farmiga, Michelle Monaghan, Jeffrey Wright, Russell Peters
Source Code adalah film panjang kedua Duncan Jones (putra David Bowie) di tahun 2011, setelah debutnya lewat Moon (2009). Dengan anggaran 90 juta dolar, dia membuat perpaduan fiksi ilmiah keras, aksi antiteror, dan time loop bergaya Twilight Zone. Filmnya sendiri cuma berdurasi 93 menit, tapi angka 8 menit akan terus terngiang di kepala kamu lama setelah filmnya selesai. Tokoh utama, Colter Stevens, terjebak dalam sepotong realitas yang sudah terjadi, panjangnya cuma 8 menit, dan setiap kali dia mati, dia kembali lagi ke awal 8 menit itu. Dia harus memakai pagi yang sama, yang dia jalani berulang-ulang, untuk menemukan pengebom yang bersembunyi di antara penumpang dan menghentikan serangannya yang lebih besar berikutnya.
Pertama Kali: Dia Bukan Dirinya
Film dibuka di suatu pagi, kereta komuter yang melaju kencang dari pinggiran Chicago menuju pusat kota. Kapten Stevens (diperankan Jake Gyllenhaal) tiba-tiba “terbangun” dari kursinya.
Di depannya duduk seorang wanita berwajah ramah yang tersenyum sambil mengajaknya bicara, Christina Warren (diperankan Michelle Monaghan). Wanita itu sepertinya mengenalnya, dan bertanya kenapa dia terlihat begitu mengantuk pagi ini.
Stevens benar-benar bingung. Dia tidak tahu siapa dirinya, tidak tahu siapa wanita itu, dan tidak tahu kereta ini menuju ke mana. Dia refleks meraba wajahnya sendiri, dan ternyata bentuk wajah, tulang, sampai warna kulitnya semua berbeda. Dia berlari ke toilet kereta dan melihat cermin, wajah yang terpantul bukan wajahnya sendiri, melainkan wajah pria berusia tiga puluhan yang sama sekali asing baginya. Dia membuka dompetnya, dan KTP di dalamnya bertuliskan “Sean Fentress, guru sekolah dasar di Chicago”.
Sebelum Stevens sempat memahami situasinya, saat kereta memasuki terowongan di bawah jembatan, sebuah ledakan mengubah seluruh gerbong menjadi bola api. Dia menyaksikan semua orang di gerbong itu, termasuk Christina yang tadi tersenyum di depannya, ditelan api dalam sekejap.

Detik berikutnya, Stevens terbangun, duduk di dalam kapsul logam asing seukuran kokpit pesawat. Di dindingnya berkelap-kelip sirkuit elektronik. Sebuah layar menyala, menampilkan seorang perwira wanita berseragam militer, Kapten Goodwin (diperankan Vera Farmiga). Dia menyuruh Stevens tenang, dan memberitahunya bahwa dia baru saja menjalankan misi “Source Code”, misinya belum selesai, dan dia harus mengulanginya lagi.
Apa Itu “Source Code”
Kapten Goodwin menjelaskan kepada Stevens apa yang sedang dia lakukan. Bagian ini adalah info dump pertama di sepanjang film, sekaligus adegan kunci di mana penonton ikut memahami aturan mainnya bersama Stevens.
Pagi ini, pukul 07.48 waktu Amerika, kereta komuter dari pinggiran Chicago menuju pusat kota diledakkan oleh bom yang disembunyikan di dalam gerbong, dekat Stasiun Glenbrook. Lebih dari 100 penumpang di kereta itu tewas semua. Dan ini baru permulaan: pengebom yang sama mengumumkan lewat rekaman telepon bahwa sebelum pukul 2 siang ini, dia akan meledakkan bom kotor yang lebih besar di pusat kota Chicago, sebuah bom radioaktif yang bisa mencemari seluruh pusat kota.
Dalam situasi darurat ini, militer mengerahkan sebuah teknologi rahasia tingkat tinggi yang masih dalam tahap uji coba, Source Code.
Prinsip kerja Source Code begini: otak manusia menyimpan “memori listrik” dari 8 menit terakhir sebelum kematian, dan memori ini bisa direkonstruksi dengan sinyal listrik menjadi “realitas simulasi” yang utuh. Secara teori, sinyal otak 8 menit terakhir milik seorang korban (dalam kasus ini, Sean Fentress, guru SD yang ada di kereta itu) diambil, lalu kesadaran orang lain yang masih hidup tapi tubuhnya tidak bisa bergerak (Kapten Stevens) disuntikkan ke dalam sinyal otak tersebut. Dengan begitu, Stevens “merasuki” 8 menit terakhir Sean Fentress dan mengalami sepenuhnya periode waktu itu. Stevens bisa membuat pilihan yang berbeda dari yang dilakukan Sean saat itu, karena hukum fisika dalam realitas simulasi ini sama nyatanya dengan dunia nyata. Tugasnya adalah menemukan pengebom dalam 8 menit ini, dan begitu 8 menit berlalu, simulasinya akan reset dan dia bisa mengulang lagi.
Goodwin menegaskan, ini bukan perjalanan waktu, cuma simulasi masa lalu yang dijalankan komputer. Dia tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, 100 penumpang itu sudah mati. Yang diinginkan militer adalah menggali lokasi bom kotor sore ini dari dalam simulasi tersebut.
Identitas asli Stevens akhirnya terungkap di sini untuk pertama kalinya: dia sebenarnya seorang pilot helikopter Angkatan Darat Amerika, tewas tertembak dalam misi terakhirnya di Afghanistan beberapa bulan lalu, dan dia sendiri mengira dirinya sudah mati. Tapi kenyataannya, jaringan otaknya diselamatkan secara darurat oleh militer, sementara tubuhnya sudah lama tidak ada. “Wadah”-nya sekarang hanyalah kapsul riset yang penuh kabel jauh di bawah tanah, yang menyambungkan otaknya dengan sangat rapuh.
Sejak saat itu, dia hanya menjadi sebuah “alat” yang tidak mati dan tidak hidup, yang terus-menerus didorong kembali ke masa lalu.
8 Menit, Berulang-ulang
Selanjutnya, film ini memakai penyuntingan yang sangat cerdik, menyusun proses Stevens masuk berulang kali ke dalam 8 menit ini, mencoba strategi berbeda setiap kali, menjadi beberapa putaran yang makin lama makin presisi.
Putaran pertama, Stevens kembali duduk di kereta, dengan Christina di depannya. Dia mencoba berdiri, tapi baru melangkah beberapa langkah, kereta meledak.
Putaran kedua, dia mencatat semua detail di dalam gerbong 30 detik sebelum ledakan: seorang pria bertopi, seorang pria yang memeluk tas laptop, dan seorang ibu yang menggendong anaknya. Dia mencoba berjalan mengamati sekeliling gerbong, tapi tetap tewas terbakar setelah 8 menit.

Putaran ketiga, Stevens menemukan sebuah tas laptop di gerbong yang tidak jelas siapa pemiliknya. Dia membukanya, dan ternyata isinya adalah alat peledak rakitan dari bahan peledak. Tapi sebelum sempat melucutinya, ledakan terjadi.
Putaran keempat, dia mengingat pemilik tas itu, seorang pria bertopi baseball hitam yang meninggalkan gerbong menuju toilet. Stevens mengejarnya, tapi pintu toiletnya terkunci dari dalam. Ledakan.
Putaran kelima, dia mengubah strategi. Alih-alih mengejar pria bertopi itu, dia menarik rem darurat kereta satu menit sebelum ledakan, pukul 07.47. Seluruh kereta berhenti di peron dekat terowongan, dan dia turun bersama Christina. Ini pertama kalinya Stevens berhasil hidup melewati 8 menit itu, tapi Goodwin di layar memaksa menariknya kembali, dan bilang cara itu tidak ada gunanya, dia harus menemukan pengebomnya sendiri.
Setiap kali Stevens mati dan kembali ke kapsulnya, dia memberi tahu Goodwin satu detail baru yang dia pelajari. Selama 93 menit film ini, hubungan aneh terjalin di antara mereka berdua, Goodwin adalah satu-satunya orang yang mau bilang “maaf” kepada Stevens. Atasannya, Dr. Rutledge (diperankan Jeffrey Wright), ilmuwan di balik proyek Source Code, hanya menganggap Stevens sebagai alat, yang jaringan otaknya masih bisa dipakai beberapa kali lagi sampai habis.
Peron Stasiun Kereta
Setelah beberapa putaran lagi, Stevens akhirnya menemukan sebuah ponsel di toilet gerbong pada salah satu putaran. Di dalam ponsel itu ada foto seorang pria kulit putih dan sekumpulan koordinat GPS, lokasi parkir mobil sang pengebom, di dekat Stasiun Glenbrook.
Pada putaran berikutnya, sebelum kereta memasuki peron Glenbrook, dia langsung menarik rem darurat, melompat dari gerbong, dan berlari ke area parkir.

Di area parkir, dia menemukan mobil itu, sebuah pikap Ford F-150 berpelat nomor Indiana, dengan sekotak penuh bahan bom kotor radioaktif di bagasinya. Dia mendobrak pintu mobil dan menangkap Derek Frost (diperankan Michael Arden), pengebom yang hendak kabur masuk ke mobilnya, seorang ekstremis dalam negeri, paranoid politik, yang yakin dirinya sendirian bisa “me-restart Amerika”.
Stevens mengeluarkan revolver yang direbutnya dan mengarahkannya ke dahi Frost, memaksanya menyebutkan nomor pelat mobilnya.

Frost meronta-ronta dan memohon ampun. Akhirnya, di tengah kekacauan stasiun, Stevens merebut ponsel dan menelepon 911, melaporkan nama Frost, nomor pelat, model mobil, dan seluruh ciri-ciri area parkir itu kepada polisi.
Kini dia sudah mengirimkan semua informasi tentang pengebom itu keluar dari batas Source Code. Goodwin di layar dengan penuh semangat memberitahunya bahwa misi selesai, FBI sudah mengirim tim ke area parkir itu, dan dalam beberapa menit Frost bisa ditangkap sekaligus bom kotornya disita.
Masuk untuk Terakhir Kalinya
Menurut aturan, tugas Stevens sudah selesai, dia boleh “offline”. Tapi dia mengajukan satu permintaan terakhir kepada Goodwin: biarkan dia kembali sekali lagi.
Stevens sudah tidak peduli lagi soal petunjuk Frost itu. Yang ingin dia lakukan adalah kembali ke 8 menit itu sambil membawa semua pemahaman tentang dirinya sendiri, perasaan sukanya pada Christina, dan semua kata-kata untuk ayahnya yang belum pernah dia ucapkan, dari semua putaran ini, untuk menjalani sisa waktu itu sebagai “Sean Fentress yang utuh”.
Ada satu hal lagi yang ingin dia lakukan, menelepon ayahnya sendiri dari dalam kereta. Sebelum berangkat bertugas, Stevens pernah bertengkar hebat dengan ayahnya, dan sejak itu mereka tidak pernah bicara lagi. Sekarang, dengan ponsel Sean Fentress, dia berpura-pura menjadi “teman lama” sang tentara dan menelepon ayahnya, memberitahunya bahwa anaknya sangat menyayanginya.
Kemudian dia kembali ke gerbong, duduk di depan Christina, dan melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah dia sangka dirinya berani lakukan. Di hadapan sekelompok penumpang yang akan mati, dia berkata kepada Christina bahwa dia ingin memberitahunya sesuatu, dan bertanya apakah dia percaya ada kemungkinan lain, sebuah dunia paralel, lalu memintanya, kalau dia bersedia, untuk membuat Stevens melihatnya tersenyum sekali saja dalam 8 menit ini.
Christina tersenyum.
Stevens menciumnya.
Waktu habis, tapi kali ini tidak ada ledakan.

Alam Semesta Paralel
Bagian terakhir film ini adalah plot twist sesungguhnya, dan inilah alasan Duncan Jones membuat semua penonton ingin menonton ulang filmnya lagi setelah 90 menit selesai.
Yang dikatakan Dr. Rutledge, bahwa “Source Code bukan perjalanan waktu, hanya simulasi”, sebenarnya salah.
Teknologi Source Code ini, kenyataannya, setiap kali dimasuki bukan kembali ke masa lalu, melainkan menciptakan sebuah alam semesta paralel yang benar-benar baru. Di dunia tempat Stevens baru saja mencegah ledakan itu, keretanya tidak meledak, Christina hidup, dan Sean Fentress hidup. Sejak detik itu, semua hal di alam semesta itu terus berlangsung.
Kembali di kapsulnya dan hendak “offline”, Stevens mengajukan satu permintaan terakhir kepada Goodwin: matikan alat bantu pernapasannya setelah misi ini selesai, biarkan dia benar-benar mati. Dia mengakui bahwa penilaian Goodwin benar, dia sudah mati di Afghanistan, dan semua ini cuma penundaan.
Pada detik-detik terakhir, Goodwin melawan perintah Dr. Rutledge dan mematikan sistem penopang hidup Stevens.
Seharusnya dia mati seketika. Tapi karena kesadarannya justru masuk ke simulasi Source Code yang sama sekali baru pada 8 detik terakhir itu, kesadarannya tidak mati, melainkan terjebak di alam semesta baru yang baru saja terpisah dari simulasi itu, merasuki tubuh Sean Fentress untuk selamanya.
Gambar terakhir film ini: Sean (yang sebenarnya adalah Stevens) dan Christina bergandengan tangan, turun dari kereta yang tidak pernah meledak itu, berjalan di jalanan Chicago di pagi hari.
Kamera mengikuti mereka melewati Cloud Gate, Christina menengadah menatap Sean yang terasa sedikit berbeda dari kemarin. Stevens mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan singkat kepada “Goodwin di alam semesta lain”, memberitahunya bahwa mereka berhasil, dan hari ini dia akan menerima sebuah telepon, seorang asing akan bilang kepadanya bahwa dia datang dari dunia tempat ledakan itu belum pernah terjadi, memintanya untuk memercayainya, dan memberitahunya bahwa ini adalah menit kedelapannya, pengorbanannya menyelamatkan lebih banyak hal daripada yang bisa dibayangkan siapa pun.
Ending
Di permukaan, Source Code adalah film thriller fiksi ilmiah keras yang menambahkan pahlawan yang mati berulang-ulang, jendela waktu yang selalu cuma 8 menit, dan jaringan otak yang dianggap alat oleh ilmuwan, ke dalam tema “time loop”. Tapi yang sebenarnya dibicarakan film ini adalah: kalau kamu cuma punya 8 menit untuk hidup, apakah kamu akan memakai 8 menit itu untuk memberitahu orang di depanmu bahwa kamu menyukainya? Apakah kamu akan memakai 8 menit itu untuk mengatakan kepada ayahmu satu kalimat yang tidak pernah berani kamu ucapkan selama sepuluh tahun?
Setiap kali Colter Stevens mati, dia semakin yakin dengan apa yang ingin dia lakukan, sampai akhirnya di putaran terakhir, dia memakai 8 menit itu untuk mengatakan semua hal yang tidak pernah berani dia ucapkan selama 30 tahun.