← Kembali ke beranda

Ringu

Pada 1998, seorang siswi SMA di Tokyo menonton kaset video tanpa label di rumah temannya, dan 7 hari kemudian ditemukan tewas di kasurnya sendiri dengan wajah yang tampak mati ketakutan: mengulas lengkap alur cerita Ringu, film horor Jepang 1998 karya Hideo Nakata yang diadaptasi dari novel karya Kôji Suzuki, mulai dari kaset video yang dibawa dari rak video pondok pegunungan terpencil ke Tokyo, sampai detik Sadako merangkak keluar dari televisi di akhir cerita

Judul

Ringu

リング

Tahun / Durasi

1998 · 96 menit

Genre

Horor / Misteri

Sutradara

Hideo Nakata

Penulis

Hiroshi Takahashi

Rating

Pemeran

Nanako Matsushima, Hiroyuki Sanada, Yûko Takeuchi, Miki Nakatani, Hitomi Satô

Karya asli

Diadaptasi dari novel リング karya Kôji Suzuki tahun 1991 dengan judul yang sama

Ringu
Ringu still Ringu still Ringu still Ringu still Ringu still
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Ringu (リング) adalah film horor Jepang tahun 1998 garapan sutradara Hideo Nakata, sekaligus karya pembuka gelombang film horor Asia di akhir 1990-an. Sumber aslinya adalah novel karya penulis Jepang Kôji Suzuki yang terbit tahun 1991 dengan judul yang sama, リング, sebuah karya misteri yang pernah masuk nominasi Honya Taisho di Jepang. Nakata mengadaptasi novel yang berpijak pada logika “menjelaskan hal supranatural lewat sains” ini menjadi film berdurasi 96 menit yang nyaris tanpa adegan berdarah, tapi berhasil membuat penonton di seluruh Asia takut menonton TV sendirian setelah 1998.

Film ini langsung memecahkan rekor box office film horor Jepang setelah tayang Januari 1998, dan 4 tahun kemudian dibuat ulang oleh Hollywood menjadi The Ring versi bahasa Inggris tahun 2002 (disutradarai Gore Verbinski, dibintangi Naomi Watts). Sejak itu, nama “Sadako” menjadi salah satu simbol ikonik dalam sejarah film horor dunia.

Kaset Video

Cerita dibuka di Tokyo tahun 1998. Dua siswi SMA, Tomoko dan Masami, malam itu bersantai di kamar tidur kecil milik Masami. Mereka baru saja menonton pertandingan bisbol, dan sebelum tidur memutar sebuah kaset video di televisi.

Masami bertanya pada Tomoko, pernah dengar legenda itu? Ada sebuah kaset video tanpa label yang bisa dipinjam di sebuah pondok bernomor B-4 di pelosok Semenanjung Izu. Siapa pun yang menonton kaset itu akan mati tepat 7 hari kemudian.

Tomoko setengah percaya setengah tidak, tapi dia sudah menontonnya. Seminggu sebelumnya, Masami bersama beberapa teman cowok dan cewek mengambil sembarang kaset tanpa label dari rak video di pondok B-4. Keempat orang itu duduk di ruang tamu pondok dan menonton kaset itu sampai selesai. Setelah itu, ponsel mereka semua berdering satu kali dari telepon tak dikenal. Begitu telepon ditutup, keempatnya malah tertawa, bertanya, cuma segitu doang?

Tomoko memasukkan kaset itu ke pemutar video di rumah Masami. Layar mulai menampilkan gambar-gambar aneh: seorang perempuan berbaju putih menyisir rambut di depan cermin, mata seekor hewan dengan aksara Kanji “サダ” (“Sada”) tertulis di atasnya, sebuah sumur tua, beberapa angka, dan hamparan laut hitam.

Kaset selesai diputar, dan di layar televisi muncul tulisan: kutukan dari kaset ini hanya bisa diputus dengan menyebarkannya ke orang lain, tidak ada cara lain.

Tomoko dan Masami saling berpandangan. Tiba-tiba telepon di dapur rumah Masami berdering.

Ringu still

Masami yang mengangkat telepon. Begitu gagang telepon diangkat, suara di seberang bukan suara manusia, hanya jeritan tajam seperti berasal dari dasar air yang sangat jauh. Masami menutup telepon. Malam itu kedua gadis tidak bicara lagi, masing-masing langsung tidur.

7 hari kemudian, Tomoko ditemukan tewas di ruang tamu rumahnya. Wajahnya berubah bentuk menjadi ekspresi ketakutan yang tidak bisa digambarkan siapa pun, tapi tubuhnya sama sekali tidak terluka dan semua organnya normal. Tim forensik tidak bisa menyimpulkan penyebab kematiannya.

Reiko Asakawa

Bibi Tomoko, Reiko Asakawa (diperankan Nanako Matsushima), adalah wartawan berita di sebuah stasiun televisi Tokyo. Dia bergegas ke rumah Tomoko setelah menerima telepon dari kakaknya, dan menyaksikan sendiri jasad dengan wajah yang tak lagi berbentuk manusia itu.

Naluri wartawan membuat Reiko mulai menyelidiki. Dia menemukan bahwa sekitar waktu kematian Tomoko, total ada 4 siswa SMA yang tewas di Tokyo dan Prefektur Kanagawa. Keempatnya meninggal pada malam yang sama, sekitar pukul 22:04, dengan ekspresi wajah yang sama-sama menyeramkan, dan tanpa luka apa pun di tubuh mereka.

Reiko menelusuri jejak keempat anak itu hingga seminggu sebelumnya, ke pondok B-4 di pesisir barat Semenanjung Izu.

Dia memesan pondok B-4 dan berangkat sendirian ke sana dengan mobil. Di ruang tamu pondok, dia menemukan sebuah kaset video tanpa label di dalam rak video.

Tanpa ragu, dia memasukkannya ke pemutar video di pondok itu dan menekan tombol putar.

Setelah Menonton

Isi kaset itu sama persis dengan yang ditonton Tomoko sebelumnya: perempuan berbaju putih menyisir rambut, aksara “Sada”, sumur, angka-angka, laut. Kaset berakhir setelah 1 menit 48 detik. Telepon di pondok B-4 langsung berdering.

Reiko mengangkat telepon. Di seberang, suara perempuan yang terdengar sedih memberitahunya bahwa dia punya waktu 7 hari.

Telepon terputus.

Dengan tangan gemetar, Reiko merekam kaset itu dan membawanya kembali ke Tokyo.

Ringu still

Ryûji Takayama

Keesokan paginya, Reiko yang sudah kembali ke Tokyo dan berada di apartemennya menelepon mantan suaminya, Ryûji Takayama (diperankan Hiroyuki Sanada).

Ryûji adalah dosen matematika di Universitas Tokyo, tampak seperti akademisi paruh baya biasa. Tapi alasan sebenarnya Reiko bercerai darinya adalah karena Ryûji punya kemampuan “membaca pikiran” yang tidak bisa dijelaskan sains, dia bisa merasakan frekuensi yang tidak bisa dirasakan orang lain.

Reiko menceritakan soal kaset itu kepada Ryûji. Awalnya Ryûji tidak percaya, sampai dia sendiri memasukkan kaset itu ke pemutar video di rumahnya. Setelah menonton sampai selesai, teleponnya pun berdering, dan dia juga menerima peringatan “7 hari lagi”.

Dengan tenang, Ryûji mengurai masalah ini seperti soal matematika: kaset ini bukan sekadar rekaman terkutuk, melainkan rekaman ingatan seseorang berkekuatan supranatural besar yang, setelah meninggal, merekam “perintah kematian” bagi siapa pun yang bersentuhan dengan ingatannya ke dalam pita ini. Yang harus mereka cari adalah asal-usul dan cara kematian orang berkekuatan supranatural itu; hanya dengan memahaminya, memahami alasan dia meninggalkan kutukan ini, kutukan itu mungkin bisa dipecahkan.

Sadako Yamamura

Suatu pagi, Yôichi, anak Reiko yang berusia 8 tahun, tanpa sengaja memasukkan kaset itu ke pemutar video saat sendirian di apartemen.

Reiko pulang dan mendapati anaknya berdiri di depan pemutar video, tepat ketika perempuan berbaju putih itu muncul di layar televisi. Reiko langsung shock. Ketiga anggota keluarganya, Reiko, Ryûji, dan Yôichi, kini semuanya sudah terkutuk. Waktu yang tersisa tinggal 5 hari.

Reiko dan Ryûji mulai menyelidiki gambar-gambar dalam kaset itu secara mendalam, menganalisisnya bingkai demi bingkai. Perempuan berbaju putih itu adalah Shizuko Yamamura, gadis berkemampuan supranatural yang terkenal pada tahun 1950-an. Mata dengan tulisan “Sada” adalah gambar terakhir yang tertinggal dari kegagalan Shizuko dalam sebuah eksperimen ilmiah publik di Tokyo tahun 1956. Sumur itu adalah sumur tua yang sudah tidak terpakai di Semenanjung Izu. Putri Shizuko Yamamura bernama Sadako Yamamura, yang mewarisi kemampuan supranatural ibunya, tapi lebih kuat dan lebih mengerikan: kemampuannya bisa membunuh siapa pun yang menatapnya, hanya dalam sekejap mata.

Ringu still

Kebenaran

Reiko dan Ryûji terus menyelidiki hingga menemukan seorang dokter tua, Dr. Ikuma, yang dulu memimpin eksperimen ilmiah Shizuko.

Dr. Ikuma bercerita: dalam eksperimen tahun 1956 itu, Shizuko menunjukkan kemampuannya di aula Universitas Tokyo di hadapan lebih dari 200 ilmuwan se-Jepang. Seorang wartawan secara terang-terangan mengejeknya, menyebutnya penipu. Sadako yang saat itu berusia 11 tahun berdiri di bawah panggung dan menatap tajam wartawan itu, dan wartawan itu langsung tewas di tempat. Seisi ruangan menjerit, dan malam itu juga Shizuko Yamamura melompat bunuh diri ke kawah aktif Gunung Fuji. Sadako yang berusia 11 tahun kemudian dibawa oleh “ayah tirinya” (Dr. Ikuma sendiri) ke gunung di belakang pondok B-4 di Semenanjung Izu.

Dengan gemetar, Dr. Ikuma mengungkapkan sesuatu yang lebih dari 30 tahun tidak pernah dia ceritakan pada siapa pun: dia tahu kekuatan Sadako, dia takut padanya, lalu dia mendorongnya ke dalam sumur di belakang pondok B-4. Sadako saat itu masih hidup, meronta-ronta dan perlahan mati kehausan di dasar sumur itu selama 30 tahun penuh.

Sumur Itu

Reiko dan Ryûji kembali ke pondok B-4 di Izu, 36 jam sebelum waktu kutukan Reiko habis.

Mereka menemukan sumur itu di halaman belakang pondok, mulutnya ditutup lempengan batu berat. Berdua mereka mendorong lempengan itu dan melihat ke dalam sumur: dasarnya gelap, ada air mati, papan kayu lapuk, dan lumpur.

Ryûji dan Reiko bergantian turun ke dasar sumur, menimba air keluar seember demi seember. Semalaman penuh mereka tidak tidur. Menjelang subuh, Reiko menggali kerangka anak perempuan dari lumpur di titik terdalam sumur itu.

Itu adalah jasad Sadako.

Ringu still

Reiko memeluk tumpukan tulang belulang itu dan berlutut menangis di dasar sumur, mengatakan padanya bahwa dia sudah menderita, dan mereka akan membawanya keluar.

Ryûji dan Reiko membungkus kerangka Sadako dengan selimut dan mengangkatnya ke permukaan, lalu memberinya pemakaman yang layak, lengkap dengan dupa, bunga, dan doa, seperti memakamkan keluarga sendiri.

Setelah Kutukan Terpecahkan

Malam itu Reiko kembali ke Tokyo, memeluk anaknya Yôichi, dan merasakan semua kegelapan telah sirna. Dia menelepon Ryûji, memberitahunya bahwa kutukan sudah terpecahkan, mereka berhasil. Ryûji tertawa kecil, menyuruhnya tidur nyenyak.

Malam itu, Ryûji tinggal sendirian di apartemen kecilnya. Pukul 11 malam, dia baru saja mematikan semua lampu dan bersiap tidur. Televisi di ruang tamu tiba-tiba menyala sendiri.

Layar televisi penuh bintik-bintik statis. Perlahan muncul gambar sumur dan lempengan batu penutupnya. Lempengan itu didorong perlahan oleh sebuah tangan pucat. Seorang gadis berjubah putih dengan rambut hitam panjang menutupi wajahnya merangkak keluar dari sumur.

Gadis itu berjalan perlahan ke arah kamera di dalam layar, melewati hamparan rumput, hingga tiba paling dekat dengan layar, lalu satu tangannya terulur keluar dari layar, dan seluruh tubuh bagian atasnya merangkak keluar dari televisi.

Ringu still

Ryûji, dosen matematika Universitas Tokyo berusia 35 tahun itu, pada momen itu matanya melebar ketakutan, sudut bibirnya berkedut, wajahnya persis sama seperti keempat siswa SMA saat mereka tewas, dan dia pun tewas seketika.

Pilihan Terakhir Reiko

Keesokan paginya, Reiko menerima telepon dari asisten Ryûji yang mengabarkan kematiannya.

Dia duduk di sofa apartemennya selama 5 menit penuh tanpa bergerak, lalu tiba-tiba sadar: memakamkan jasad Sadako ternyata tidak memecahkan kutukan itu. Dia sendiri selamat karena sudah memperlihatkan kasetnya kepada Ryûji, “menyebarkannya ke orang lain” adalah cara sebenarnya untuk memutus kutukan. Karena itulah Ryûji meninggal, sebab dia tidak menyebarkan kaset itu ke siapa pun.

Sementara itu, Yôichi, anak Reiko, masih hidup, karena 7 harinya belum habis.

Reiko berlutut di lantai ruang tamu, mengambil pemutar video dan sebuah kaset kosong dari laci, lalu mulai menyalin kaset kutukan aslinya, sambil menangis berbisik ke arah anaknya, maaf, Ibu juga tidak tahu ada cara lain.

Gambar terakhir film ini adalah Reiko yang mengendarai mobil van menuju rumah ayahnya (kakek Yôichi), dengan sebuah kaset video baru tanpa label diletakkan di kursi penumpang.

Ending

Yang paling bikin merinding dari Ringu sebenarnya bukan detik Sadako merangkak keluar dari televisi, melainkan mobil van di adegan penutup itu.

Novel asli karya Kôji Suzuki juga meninggalkan kesan dingin yang sama di akhir cerita: yang benar-benar mengerikan bukanlah anak yang ada di dasar sumur, melainkan seorang ayah yang tega mendorong anaknya sendiri ke dalam sumur, lalu mengajar seolah tidak terjadi apa-apa selama 30 tahun; seorang ibu yang rela menyebarkan kutukan itu kepada ayahnya sendiri demi menukar 7 hari milik anaknya. Hantu hanyalah sosok tidak wajar pertama yang disebut dalam novel ini, manusialah yang sebenarnya menjadi alasan Sadako akhirnya rela merangkak keluar dari dasar sumur.