← Kembali ke beranda

Perfect Number

Yang ditanggung guru matematika ini demi ibu dan anak perempuan yang tinggal di sebelah rumahnya bukan sekadar pembunuhan, melainkan soal cinta yang sampai menangis pun tak bisa dia pecahkan: penjelasan lengkap alur cerita Perfect Number, adaptasi novel karya Keigo Higashino yang difilmkan Korea Selatan tahun 2012, mulai dari teriakan yang dia dengar di tangga apartemen pagi itu, sampai isak yang terdengar bukan seperti suara manusia di luar ruang kunjungan pada akhir cerita

Judul

Perfect Number

용의자X

Tahun / Durasi

2012 · 119 menit

Genre

Drama / Misteri / Kriminal / Romantis

Sutradara

Pang Eun-jin

Penulis

Gong-ju Lee / Lee Jung-hwa / Kim Tae-yoon

Rating

Pemeran

Ryu Seung-beom, Lee Yo-won, Cho Jin-woong, Kim Yoon-seong

Karya asli

Diadaptasi dari novel Keigo Higashino tahun 2005, 容疑者Xの献身 (dikenal dalam bahasa Inggris sebagai The Devotion of Suspect X)

Perfect Number
Adegan dari Perfect Number Adegan dari Perfect Number Adegan dari Perfect Number Adegan dari Perfect Number Adegan dari Perfect Number
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Perfect Number adalah adaptasi layar lebar pertama sutradara Korea Selatan Bang Eun-jin dari novel karya Keigo Higashino dengan judul yang sama, dirilis tahun 2012 (lebih dulu dari versi Tiongkok tahun 2017, dan sebelumnya sudah ada versi Jepang tahun 2008 yang dibintangi Masaharu Fukuyama). Novel aslinya, yang terbit tahun 2005, meraih Penghargaan Naoki, penghargaan novel misteri paling bergengsi di Jepang, dan disebut sebagai “puncak karier” Keigo Higashino. Versi Korea Selatan ini mengikuti alur novel hampir bab demi bab, tapi membuat satu penyederhanaan penting: dua karakter dalam versi Jepang, yaitu “Yukawa Manabu” (fisikawan, teman sekelas Ishigami) dan “Kusanagi” (detektif rekan kerja), digabung menjadi satu orang di versi Korea Selatan — teman sekolah lama sang guru matematika, sekaligus detektif yang menangani kasus ini, Jo Min-beom. Perubahan ini membuat duel kecerdasan sepanjang film menjadi lebih langsung: yang ingin dikelabui Ishigami bukan polisi, melainkan satu-satunya temannya sendiri.

Pagi Sang Guru Matematika

Cerita dibuka pada pagi hari di sebuah apartemen tua di pinggiran Seoul. Kim Seok-go (diperankan oleh Ryu Seung-beom) adalah guru matematika SMA dengan bakat yang mengejutkan, seorang jenius yang semasa kuliah dulu sempat dibicarakan sebagai “calon peraih Penghargaan Fields berikutnya”. Namun karena orang tuanya sakit parah dan keluarganya mengalami banyak masalah, dia melepaskan jalur menuju gelar doktor dan malah mengajar di SMA dengan tingkat kelulusan terburuk, menghadapi murid-murid yang tiap hari main HP di kelas.

Dia tinggal sendirian, tanpa teman, tanpa hobi. Setiap pagi dia berjalan ke sekolah lewat gang sepi yang sama, dan selalu melewati seorang tunawisma yang mendorong sepeda sambil mengumpulkan kertas bekas, dengan semangkuk mi instan di sampingnya. Keberadaan tunawisma itu seperti titik tetap dalam hidupnya: begitu melihatnya setiap pagi, dia tahu waktunya tidak meleset.

Di apartemen sebelah tinggal Baek Hwa-seon (diperankan oleh Lee Yo-won) bersama putrinya, Baek Yoon-ah. Hwa-seon bekerja sebagai pelayan di sebuah kedai kopi kecil di sekitar situ, dan suaminya sudah lama berpisah dengannya. Wajahnya tenang dan lembut, tidak pernah bicara keras. Sejak pertama kali berpapasan dengannya di lorong apartemen, Seok-go langsung jatuh hati.

Tapi dia tidak pernah bicara apa-apa. Setiap pagi dia lewat di depan kedai kopi tempat Hwa-seon bekerja, membeli segelas susu kedelai, lalu langsung pergi — itulah satu-satunya kebiasaan kecil yang dia sisakan untuk dirinya sendiri, satu-satunya cara dia terhubung dengan dunia luar.

Adegan dari Perfect Number

Teriakan yang Menembus Dinding

Cerita ini benar-benar dimulai pada suatu sore ketika mantan suami Hwa-seon, Myeong-seop (diperankan oleh Kim Yoon-seong), datang ke apartemen mereka.

Myeong-seop adalah penjudi pengangguran yang selama bertahun-tahun terakhir melakukan KDRT dan mabuk-mabukan, sampai Hwa-seon pergi dari rumah bersama anaknya. Kali ini dia datang langsung minta uang, tabungan gaji yang sudah dikumpulkan Hwa-seon selama bertahun-tahun. Keduanya saling dorong, Myeong-seop menampar wajah Hwa-seon, lalu berbalik menyerang Yoon-ah. Ibu dan anak itu terdesak ke sudut ruangan, dan dalam pergulatan itu Hwa-seon meraih kabel selimut listrik lalu bersama putrinya mencekik Myeong-seop hingga jatuh ke lantai. Ketika mereka melepaskan tangan sambil gemetar, Myeong-seop sudah tewas.

Semua yang terjadi terdengar jelas oleh Seok-go yang sedang makan malam di apartemen sebelah, hanya terpisah dinding tipis.

Seok-go mengetuk pintu rumah Hwa-seon. Pintu terbuka sedikit, dan dia melihat mayat tergeletak di lantai, bekas merah di wajah Hwa-seon, dan mata Yoon-ah yang bengkak karena menangis.

Dia tidak berkata apa-apa lagi, hanya bilang kepada Hwa-seon bahwa apa pun yang terjadi setelah ini, jangan dilihat, jangan ditanya, cukup lakukan persis seperti yang dia katakan.

Persamaan yang Tak Terpecahkan

Malam itu, dengan truk bekas pinjaman, Seok-go membawa mayat Myeong-seop ke tepi sungai di luar kota. Keesokan paginya, dia melakukan sesuatu yang di luar bayangan Hwa-seon: dia kembali ke gang yang setiap pagi dia lewati, lalu mencekik tunawisma yang sedang tidur nyenyak sampai mati. Setelah itu dia menukar pakaian tunawisma itu dengan pakaian Myeong-seop, menyelipkan KTP Myeong-seop ke saku si tunawisma, dan menghantam wajahnya dengan batu beberapa kali sampai tidak bisa dikenali.

Setelah gelap, dia membuang mayat tunawisma itu di tepi sungai. Ketika polisi menerima laporan, “mayat Myeong-seop” yang mereka temukan sebenarnya adalah mayat si tunawisma, sementara mayat Myeong-seop yang asli sudah dibuang Seok-go ke dalam truk pengangkut besi tua yang akan dikirim ke selatan.

Seok-go menyelipkan secarik kertas yang penuh tulisan ke tangan Hwa-seon: semua yang harus dia dan putrinya lakukan setiap hari selama tiga hari ke depan tertulis di situ — setiap menit, setiap gerakan, setiap tagihan telepon, setiap struk belanja — dan semuanya harus dijalankan persis tanpa satu kata pun berbeda.

Hwa-seon tidak mengerti alasannya. Dia hanya menjalankan apa yang ditulis Seok-go: hari itu dia menonton film dan menyimpan tiketnya; hari itu dia mengajak putrinya makan ramen dan menyimpan bukti pembayarannya; malam itu dia lembur bersama rekan kerja di kedai kopi sampai pukul 11. Semua ini membentuk alibi yang benar-benar tak terbantahkan bahwa dia mustahil berada di lokasi pada “waktu pembunuhan terjadi”.

Trik sebenarnya dari Seok-go tersembunyi lebih dalam lagi: waktu pembunuhan yang dikira polisi adalah pagi ketika si tunawisma dicekik, yaitu 18 jam setelah waktu kematian Myeong-seop yang sebenarnya. Pada waktu yang sudah digeser itu, Hwa-seon berada di tempat lain, melakukan hal lain. Ini adalah jebakan yang menukar sekaligus “korban” dan “waktu kematian”, sehingga arah penyelidikan polisi sejak awal tidak pernah mengarah ke Hwa-seon.

Adegan dari Perfect Number

Teman Sekolah Lama

Yang menangani kasus ini adalah detektif Kepolisian Metropolitan Seoul, Jo Min-beom (diperankan oleh Cho Jin-woong), seorang polisi paruh baya dengan insting yang sangat tajam, yang mengandalkan pengalaman dan “penciuman”-nya dalam bekerja. Begitu melihat TKP untuk pertama kalinya, dia langsung bilang ke rekannya bahwa waktu kematian mayat ini sudah diutak-atik seseorang.

Min-beom mendatangi Hwa-seon sesuai prosedur penyelidikan. Semuanya tampak beres: alibinya sempurna tanpa celah; dia sudah bercerai dari Myeong-seop selama bertahun-tahun tanpa sengketa uang; rumahnya bersih tanpa jejak pergumulan sedikit pun (hal pertama yang diminta Seok-go adalah membersihkan tuntas semua kemungkinan jejak di rumah). Tapi insting Min-beom terus berbunyi — ada sesuatu yang tersembunyi di balik perempuan yang lembut sampai nyaris transparan ini.

Min-beom mulai berkeliaran di sekitar apartemen Hwa-seon. Suatu hari dia mengenali tetangga sebelah Hwa-seon sebagai Kim Seok-go, teman sekelasnya semasa SMA. Dua puluh tahun lalu Seok-go adalah juara satu di seluruh sekolah, dan Min-beom duduk di belakangnya sambil menyontek PR matematika. Setelah lulus mereka kehilangan kontak, dan Min-beom sama sekali tidak menyangka bahwa “tetangga sebelah tersangka” yang dia hadapi sekarang adalah jenius yang dulu diyakini seluruh sekolah pasti akan kuliah S3 di luar negeri.

Pertemuan kembali keduanya di sebuah warung minum, mengobrol soal masa lalu, menjadi salah satu dari sedikit adegan bernuansa santai di sepanjang film ini. Tapi setelah minum-minum dan kembali ke kantor polisi, Min-beom duduk di depan komputer dan mulai menelusuri hampir 20 tahun kehidupan Seok-go — dan semakin dia gali, semakin dingin perasaannya.

Mata Sang Ahli Matematika

Min-beom membawa berkas kasus dan menemui Seok-go, berpura-pura hanya “bernostalgia sebagai teman lama”, lalu bertanya apakah dia tahu bahwa Baek Hwa-seon di gedung ini pernah mengalami suatu kejadian. Seok-go duduk di rumahnya sendiri, dengan segelas susu kedelai di depannya, dan bilang bahwa dia hanya berangkat dan pulang kerja setiap hari, bahkan wajah tetangganya pun tidak dia kenali semua.

Tapi Min-beom memperhatikan, saat mendengar nama “Hwa-seon”, pupil mata Seok-go membesar sesaat.

Adegan dari Perfect Number

Min-beom kembali ke kantor polisi dengan rasa curiganya. Dia berkata pada dirinya sendiri: kalau Seok-go benar-benar tidak mengenal Hwa-seon, dia tidak akan bereaksi seperti itu; tapi kalau dia memang mengenalnya, kenapa dia berpura-pura tidak kenal?

Min-beom mulai memikirkan soal ini dengan cara matematika yang dulu pernah diajarkan Seok-go kepadanya: kalau soal ini dibalik — tetangga ini yang dengan caranya sendiri sedang melindungi Hwa-seon — maka semua kejanggalan langsung terpecahkan. Si tunawisma adalah orang yang setiap hari dilihat banyak orang di sekitar situ, dan dialah titik tetap di gang yang dilewati Seok-go setiap berangkat kerja. Dengan kata lain, satu-satunya orang di dunia ini yang tiba-tiba berhenti melihat tunawisma itu setiap hari sejak pembunuhan terjadi, hanya Kim Seok-go.

Min-beom lalu menyelidiki ulang Seok-go: dia menemukan bahwa selama tiga hari terakhir, Seok-go menjalani hidupnya dengan pola yang “aneh, terlalu teratur”, seolah dia sedang menjalankan skrip yang presisi sampai ke menit.

Dia tidak hanya melindungi Hwa-seon — dia sendiri juga sedang membangun alibi yang sempurna.

Sang Pengganti

Tapi satu-satunya hal yang tidak bisa dibuktikan Min-beom adalah di mana mayat Myeong-seop yang sesungguhnya berada.

Saat itulah Seok-go melakukan sesuatu yang benar-benar membuat Min-beom putus asa: dia mulai sengaja “mengganggu” Hwa-seon di sekitar apartemennya — sengaja terlihat oleh seorang nenek tetangga, sengaja mondar-mandir di depan kedai kopi tempat Hwa-seon pulang kerja, sengaja menulis surat cinta yang terkesan “menyimpang” dan menyelipkannya di celah pintu Hwa-seon.

Yang ingin dia lakukan adalah mengalihkan arah kecurigaan seluruh kasus ini dari Hwa-seon ke dirinya sendiri, membuat Min-beom percaya bahwa mantan suami Hwa-seon dibunuh oleh guru matematika tetangga sebelah yang menyimpang ini, yang diam-diam mencintainya bertahun-tahun. Kalau cerita ini berhasil, Hwa-seon akan sepenuhnya tak bersalah — dia hanya perempuan malang yang dicintai secara sepihak oleh orang aneh. Seok-go akan masuk penjara seumur hidup dengan tuduhan sebagai “saingan cinta yang menyimpang”, dan Hwa-seon tidak akan perlu lagi mengkhawatirkan hal ini seumur hidupnya.

Adegan dari Perfect Number

Pertemuan Terakhir Min-beom dengan Seok-go

Setelah benar-benar memahami semuanya, Min-beom tidak langsung menangkap siapa pun. Hal pertama yang dia lakukan adalah menemui Hwa-seon.

Dia mencegat Hwa-seon yang baru pulang kerja di depan kedai kopi, dan langsung menceritakan seluruh duduk perkaranya: kematian tunawisma itu bukan kebetulan, melainkan dibunuh Seok-go demi dirinya; Seok-go bahkan sedang bersiap menanggung hukuman atas kematian mantan suaminya, dengan menukar hidupnya sendiri demi kebersihan nama Hwa-seon dan putrinya seumur hidup; semua “gangguan” yang dia akui itu hanya untuk mengalihkan perhatian polisi darimu — semuanya hanya sandiwara yang dimainkan sendirian olehnya.

Hwa-seon jatuh berjongkok dan menangis di depan kedai kopi. Dia tidak pernah tahu bahwa satu kata “selamat pagi” yang dia ucapkan setiap hari kepada “pelanggan susu kedelai” itu, sudah menumbuhkan sesuatu yang begitu besar di dalam hatinya.

Keesokan paginya, Hwa-seon dan putrinya berjalan ke kantor polisi untuk menyerahkan diri. Dia memberi tahu Min-beom bahwa malam itu dialah, bersama putrinya, yang mencekik pria itu sampai mati, dan dia menceritakan semuanya sekali lagi kepadanya.

Seok-go mendengar kabar bahwa Hwa-seon menyerahkan diri saat dia sedang dibawa polisi untuk diperiksa. Dia berlari ke pintu kantor polisi dan menghambur ke arah Hwa-seon, lalu berlutut di tengah lobi. Wajahnya membeku sesaat, kemudian mulai gemetar, dan akhirnya meledak dalam tangisan yang sama sekali tidak terdengar seperti suara manusia — tangisan yang membuat semua orang di lorong itu terpaku di tempat.

Soal matematika tersulit yang pernah dikerjakan Seok-go seumur hidupnya adalah bagaimana caranya membuat Hwa-seon tidak perlu masuk penjara karena kejadian ini. Dia menghitungnya sampai menangis — tapi Hwa-seon menggagalkan semuanya.

Adegan dari Perfect Number

Ending

Adegan terakhir film ini berada di ruang kunjungan rumah tahanan. Hwa-seon menatap Seok-go dari balik kaca; tubuh Seok-go sudah kurus tak berbentuk, wajahnya tanpa ekspresi apa pun. Dia hanya mengucapkan satu kalimat, “terima kasih”. Seok-go tidak menjawab. Dia menunduk, memandangi tangannya sendiri yang diletakkan di atas meja — tangan penuh kapalan yang pernah mengajar matematika untuk satu sekolah SMA itu — sama sekali tidak bergerak.

Waktu kunjungan habis, Hwa-seon berdiri dan berbalik keluar dari ruang kunjungan. Kamera mengikutinya keluar dari gerbang rumah tahanan, ke jalan di luar yang diterangi matahari terik. Kim Seok-go, yang tak lagi muncul di kamera, tertinggal di dalam ruangan abu-abu itu.

Ada orang yang mencintaimu dengan cara yang bisa kamu lihat; ada juga yang mencintaimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu ketahui seumur hidupmu — dia menggunakan sebuah persamaan yang tidak akan pernah bisa kamu pecahkan, untuk menukarnya dengan ketenangan hidupmu tanpa dirinya, selamanya.