Cosmos
Satu mobil, tiga orang, satu sinyal dari luar angkasa: tiga astronom amatir tanpa sengaja menangkap bukti penemuan terbesar umat manusia di padang belantara
Judul
Cosmos
Tahun / Durasi
2019 · 128 menit
Genre
Fiksi ilmiah / Misteri
Sutradara
Elliot Weaver, Zander Weaver
Penulis
Elliot Weaver / Zander Weaver
Rating
Pemeran
Tom England, Joshua Ford, Arjun Singh Panam
Tiga Penggila Astronomi
Harry, Mike, dan Roy adalah tiga astronom amatir yang terobsesi dengan langit malam, menyebut diri mereka sendiri “orang-orang gila astronomi”. Mereka tidak punya observatorium, tidak punya laboratorium, bahkan tidak punya dana yang memadai — seluruh peralatan mereka dijejalkan ke dalam satu mobil tua. Antena, penerima sinyal, penganalisis spektrum, dan laptop memenuhi jok belakang serta bagasi mobil itu.
Setiap beberapa waktu, ketiganya mengendarai “observatorium bergerak” ini ke padang belantara yang jauh dari polusi cahaya kota, memasang antena, lalu memindai sinyal radio dari alam semesta. Mereka tahu peluang menemukan sesuatu yang berharga sangat kecil, tetapi bagi mereka, sekadar mendengarkan suara alam semesta saja sudah cukup membuat jantung berdebar.

1420,163 MHz
Kali ini, mereka memilih sebuah bukit terpencil untuk berkemah. Malam tiba, peralatan dinyalakan, dan derau putih gelombang radio berdengung di dalam mobil. Ketiganya, seperti biasa, setengah mengantuk sambil menatap layar — sampai tiba-tiba muncul gelombang aneh di penganalisis spektrum.
Sinyal itu muncul di 1420,163 MHz — frekuensi yang sangat khusus, yang oleh dunia astronomi disebut “water hole” (lubang air), terletak di antara frekuensi radiasi atom hidrogen dan molekul hidroksil. Para ilmuwan telah lama meyakini bahwa jika ada peradaban asing yang ingin mengirim sinyal ke alam semesta, frekuensi inilah yang paling mungkin mereka pilih, karena inilah pita paling “sunyi” di alam semesta.
Ketiganya langsung terjaga dari kantuk. Mereka berulang kali mengkalibrasi ulang peralatan, menyingkirkan sumber gangguan, dan memastikan sinyal itu bukan berasal dari pemancar mana pun yang dikenal di Bumi. Ini adalah sinyal nyata, teratur, dan berasal dari kedalaman luar angkasa.

Gema dari Arecibo
Setelah menganalisis sinyal itu lebih dalam, Mike menemukan fakta yang mengejutkan: struktur sinyal ini sangat mirip dengan “Pesan Arecibo” yang dikirim dari teleskop radio Arecibo pada tahun 1974.
Pesan Arecibo adalah sinyal pertama yang secara sengaja dikirim umat manusia ke luar angkasa, berisi informasi dasar seperti posisi Bumi, struktur DNA manusia, dan diagram tata surya. Pesan itu ditembakkan ke gugus bintang bulat di rasi Hercules yang berjarak dua puluh lima ribu tahun cahaya dari Bumi.
Jika sinyal yang mereka tangkap ini benar-benar merupakan balasan atas Pesan Arecibo, maka artinya hanya satu — ada peradaban cerdas lain di alam semesta yang mampu menerima, memahami, dan membalas pesan manusia.

Krisis Kepercayaan
Mike mengambil keputusan berani: tanpa memberi tahu dua rekannya, ia diam-diam mengirim balasan ke arah sumber sinyal. Beberapa jam kemudian, mereka menerima respons baru.
Tindakan ini memicu perpecahan serius di antara ketiganya. Harry berpendapat penemuan ini harus segera diumumkan agar bisa diverifikasi oleh komunitas ilmiah dunia; Mike enggan melepaskannya, khawatir akan kehilangan kendali atas penemuan ini begitu dipublikasikan; sementara Roy goyah antara rasa gembira dan takut, tidak yakin apakah umat manusia sudah siap menghadapi kebenaran ini.
Yang lebih buruk, lonjakan listrik yang tidak diketahui penyebabnya menghapus data penting yang telah mereka rekam. Tanpa data asli, penemuan mereka tidak bisa dibuktikan — semuanya bisa berakhir sekadar klaim tiga orang amatir tanpa bukti.

Pilihan Sulit
Ketiganya harus membuat pilihan dalam waktu terbatas: tetap di sana untuk mencoba merekam ulang sinyal itu, atau kembali ke kota dengan hanya membawa bukti tidak langsung untuk mencari bantuan? Apakah sinyal itu akan terus ada? Jika mereka pergi, bisakah mereka menemukannya lagi?
Sementara itu, analisis lebih lanjut mengungkap detail yang lebih mengejutkan: sinyal itu ternyata bukan berasal dari luar angkasa yang jauh, melainkan dari sebuah wahana antariksa yang mengorbit di orbit rendah Bumi — wahana yang menggunakan semacam teknologi siluman, sama sekali tidak terlihat dalam spektrum cahaya tampak, tetapi bisa terdeteksi dalam spektrum inframerah.
Ini berarti “mereka” bukan berada puluhan ribu tahun cahaya jauhnya, melainkan tepat di atas kepala.

Menengadah ke Langit Malam
Di akhir film, ketiganya berdiri di padang belantara, menengadah ke langit malam. Mereka mengenakan topi bisbol merah bertuliskan “Gila Astronomi” masing-masing, wajah mereka menampilkan campuran rasa kagum, takut, dan kegembiraan luar biasa.
Di langit, ada satu titik cahaya redup yang bergerak.
Mereka tidak mendapatkan Hadiah Nobel, tidak muncul di headline berita, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa membuktikan kepada siapa pun apa yang terjadi malam itu. Tapi mereka tahu. Mereka mendengar sendiri suara dari peradaban lain. Bagi tiga orang yang seumur hidupnya mendengarkan alam semesta, itu sudah cukup.
Film debut yang dibuat oleh Weaver bersaudara dengan anggaran nol, empat kru, dan lima tahun pengerjaan ini, hampir seluruhnya berlangsung di dalam satu mobil yang penuh sesak dengan peralatan, namun berhasil menceritakan kisah hangat tentang rasa ingin tahu, persahabatan, dan romantisme alam semesta. Film ini mengingatkan pada Close Encounters of the Third Kind karya Spielberg — bukan karena efek visualnya, melainkan karena kerinduan murni dan kekanak-kanakan terhadap sesuatu yang tidak diketahui.