Jai Bhim
Suami seorang perempuan suku pedalaman 'menghilang' di kantor polisi: uraian lengkap alur cerita film Jai Bhim, diangkat dari kasus nyata di India, tentang seorang pengacara hak asasi manusia yang memperjuangkan keadilan bagi warga adat yang disiksa hingga tewas oleh polisi
Judul
Jai Bhim
Tahun / Durasi
2021 · 164 menit
Genre
Drama / Kriminal
Sutradara
T.J. Gnanavel
Penulis
T.J. Gnanavel
Rating
Pemeran
Suriya, Lijo Mol Jose, Prakash Raj
Penghargaan
Huading Award: Film Terbaik Global
Tahun 1993, di wilayah Cuddalore, Negara Bagian Tamil Nadu, India. Rajakannu dan istrinya, Sengeni, adalah anggota suku Irula — salah satu kelompok masyarakat adat paling terpinggirkan di India. Turun-temurun, orang Irula hidup dari menangkap ular dan tikus, membasmi hama sawah untuk tuan tanah dari kasta atas. Mereka tidak punya tanah, tidak punya pendidikan, dan tidak punya status sosial, tapi Rajakannu rajin bekerja dan menyambung hidup keluarganya dari berbagai pekerjaan serabutan. Sengeni sedang hamil.
Hidup mereka memang miskin, tapi setidaknya tenang. Sampai suatu hari, semuanya hancur berantakan.
Pencurian Perhiasan
Rajakannu dipanggil oleh sebuah keluarga kasta atas untuk menangkap ular di rumah mereka. Keesokan harinya, nyonya rumah itu melapor ke polisi bahwa perhiasan emasnya senilai sekitar 130.000 rupee hilang. Siapa tersangkanya? Tentu saja, orang Irula yang datang ke rumah mereka sehari sebelumnya.
Di India yang sistem kastanya masih mengakar kuat, logika “orang suku pedalaman masuk rumahmu, lalu barangmu hilang” bisa diterima begitu saja tanpa bukti apa pun.

Penangkapan dan Penyiksaan
Sub-Inspektur Gurumoorthy dan anak buahnya menyerbu rumah Rajakannu. Karena tidak menemukan Rajakannu, mereka melampiaskan amarah pada Sengeni yang sedang hamil — memukulinya, menahannya secara ilegal, dan memaksanya membeberkan keberadaan suaminya. Mereka juga menangkap saudara laki-laki Rajakannu, Iruttappan, saudara perempuannya, Pachaiyammal, dan kakak iparnya, Mosakutty, lalu memukuli mereka dengan tongkat untuk memaksa pengakuan.
Akhirnya polisi menemukan Rajakannu. Dia dirantai ke jeruji jendela dan disiksa dengan brutal untuk memaksa pengakuan. Sengeni menyaksikan sendiri suaminya dirantai dan dipukuli. Dia kemudian dibebaskan, tapi Rajakannu, Iruttappan, dan Mosakutty masih ditahan di kantor polisi.
Menghilang Tanpa Jejak

Beberapa hari kemudian, polisi memberi tahu Sengeni bahwa ketiga orang itu sudah “kabur”. Mereka bahkan balik meminta Sengeni menjelaskan ke mana ketiganya pergi — orang-orang yang kalian tahan, kok sekarang aku yang harus bilang di mana mereka?
Kenyataannya jauh lebih kejam daripada sekadar “kabur”. Rajakannu tewas akibat penyiksaan di kantor polisi. Kepala Konstabel Veerasamy kelak mengungkap yang sebenarnya terjadi: setelah Rajakannu dipukuli sampai mati, Sub-Inspektur Gurumoorthy merancang skenario penutupan yang rapi — mengumumkan ke publik bahwa ketiganya kabur dari tahanan, membuang jasad Rajakannu di jalan raya dekat perbatasan Puducherry dan menyamarkannya sebagai kecelakaan lalu lintas, lalu memindahkan Iruttappan dan Mosakutty secara diam-diam ke penjara terpencil agar mereka tidak bisa bersaksi.
Sengeni Mencari Bantuan

Dengan perut yang membesar dan tanpa bantuan siapa pun, Sengeni mulai berkeliling mencari suaminya. Tapi apa yang bisa dilakukan seorang perempuan suku pedalaman tanpa pendidikan, tanpa sumber daya, dan tanpa status sosial, saat berhadapan dengan seluruh sistem kepolisian?
Titik balik datang dari seorang perempuan muda bernama Maithra. Dia adalah pendidik orang dewasa yang mengajar baca-tulis khusus untuk suku Irula. Setelah mengetahui apa yang dialami Sengeni, Maithra membawanya menemui seseorang — pengacara hak asasi manusia bernama Chandru.
Chandru dikenal luas karena sering membela kelompok rentan tanpa bayaran. Setelah mendengar cerita Sengeni, dia memutuskan untuk menangani kasus ini.
Permohonan Habeas Corpus
Chandru mengajukan permohonan habeas corpus ke Pengadilan Tinggi Madras, menuntut agar pihak kepolisian menghadirkan Rajakannu, Iruttappan, dan Mosakutty ke pengadilan — hidup atau mati.
Pihak pemerintah mengutus pengacara pembela Ram Mohan, yang tetap berpegang pada versi polisi: ketiga orang itu sudah kabur dari tahanan dan melarikan diri ke Kerala, sehingga tidak bisa dihadirkan ke pengadilan. Polisi menyediakan bukti palsu dan kesaksian bohong untuk mendukung cerita ini.

Menyusun Kepingan Kebenaran
Chandru mulai membongkar kebohongan polisi itu satu per satu secara sistematis.
Pertama adalah catatan telepon. Dia meminta catatan panggilan kantor polisi dan menemukan ada sebuah panggilan ke rumah Gurumoorthy pukul sembilan lewat sepuluh malam itu — waktu ini bertentangan langsung dengan kesaksian bersumpah Veerasamy.
Berikutnya adalah rekayasa suara. Chandru mendapati bahwa polisi sengaja pergi ke Kerala untuk menelepon seseorang bernama Varadarajulu, dengan Gurumoorthy meniru suara Iruttappan di telepon untuk menciptakan kesan bahwa ketiganya sudah kabur ke Kerala.
Lalu, menemukan orang yang masih hidup. Maithra dan Chandru menemukan Iruttappan dan Mosakutty di sebuah penjara dekat Dharapuram — mereka ditahan secara rahasia di sana, terputus dari dunia luar. Keduanya bersaksi di pengadilan, menceritakan secara rinci penyiksaan yang mereka alami serta bagaimana Rajakannu dibunuh.
Kemudian, menemukan jasadnya. Chandru dan Maithra menemukan jenazah Rajakannu (berupa sisa-sisa hasil pembakaran) di jalan raya dekat perbatasan Puducherry. Hasil otopsi memastikan ada tulang rusuk yang patah, jejak ban di lokasi cocok dengan mobil polisi, dan jejak kaki cocok dengan sepatu bot para polisi yang terlibat.
Kepingan terakhir datang dari Veerasamy sendiri. Dihadapkan dengan bukti-bukti yang tak terbantahkan, Veerasamy mengaku semuanya kepada pengacara pemerintah Ram Mohan: Rajakannu tewas akibat penyiksaan di kantor polisi, dan Gurumoorthy-lah yang menyuruhnya merekayasa seluruh cerita “kabur dari tahanan” serta menangani jasadnya.
Putusan

Semua bukti diajukan ke pengadilan — catatan telepon yang bertentangan, kesaksian para penyintas, hasil otopsi, jejak ban, kecocokan jejak kaki, dan pengakuan Veerasamy. Pengadilan memutuskan:
Tiga polisi — Gurumoorthy, Veerasamy, dan Kirubakaran — ditangkap segera dan diadili melalui proses persidangan cepat atas dakwaan pembunuhan.
Pengadilan memberikan Sengeni kompensasi sebesar 300.000 rupee dan setengah bidang tanah. Iruttappan, Mosakutty, dan Pachaiyammal masing-masing menerima kompensasi 200.000 rupee.
Chandru menghadiri peresmian rumah baru Sengeni — impian seumur hidup Rajakannu: memberi keluarganya rumah sendiri.
Ending: Kisah Nyata
Teks penutup film mengungkap kelanjutan kisah ini. Dalam kenyataannya, setelah perjuangan hukum selama tiga belas tahun, pengadilan akhirnya memutuskan bahwa Rajakannu tewas akibat penyiksaan selama masa penahanan polisi, dan para polisi yang terlibat dijatuhi hukuman empat belas tahun penjara.
K. Chandru, sosok nyata di balik karakter Chandru, kelak menjadi hakim di Pengadilan Tinggi Madras. Selama masa jabatannya, dia menuntaskan sekitar 96.000 perkara dan terus berkomitmen melindungi hak-hak kelompok rentan.
“Jai Bhim” berarti “Hidup Bhim”, sebuah seruan penghormatan untuk Bhimrao Ambedkar, bapak konstitusi India dan pejuang hak-hak Dalit. Di negara yang sistem kastanya masih mengakar kuat, film ini mengingatkan kita: hukum bisa menjadi senjata paling ampuh di tangan mereka yang paling lemah — asalkan ada orang yang mau mengangkat senjata itu untuk mereka.