Heidi
Yatim piatu Heidi dari Pegunungan Alpen ke mansion Frankfurt dan kembali lagi ke gunung: alur cerita lengkap film anak Swiss-Jerman tahun 2015 Heidi, mulai dari ditinggalkan bibinya kepada kakek penyendiri di gunung, dijual untuk menemani Nona Klara yang duduk di kursi roda, hingga persahabatan pegunungan yang membuat gadis berkursi roda itu bisa berdiri kembali.
Judul
Heidi
Tahun / Durasi
2015 · 111 menit
Genre
Drama / Keluarga / Petualangan
Sutradara
Alain Gsponer
Penulis
Johanna Spyri / Petra Biondina Volpe
Rating
Pemeran
Anuk Steffen, Bruno Ganz, Quirin Agrippi, Isabelle Ottmann, Anna Schinz
Karya asli
Diadaptasi dari novel Heidi karya Johanna Spyri, terbit tahun 1880
Heidi adalah film drama anak-anak Swiss-Jerman tahun 2015, disutradarai oleh Alain Gsponer, diadaptasi dari novel klasik anak-anak berjudul sama karya penulis Swiss Johanna Spyri yang terbit tahun 1880. Film ini dianggap sebagai adaptasi novel tersebut yang paling setia pada cerita asli sekaligus paling megah secara audiovisual sepanjang sejarah. Sang sutradara syuting langsung di Pegunungan Alpen Swiss yang asli — gunung, kabut, bunga, dan cahaya matahari di layar semuanya nyata, tanpa sentuhan CGI.
Sang kakek diperankan oleh aktor legendaris Jerman Bruno Ganz — yang lebih dikenal lewat perannya sebagai Hitler dalam Downfall dan sang malaikat dalam Wings of Desire. Di sini ia membawakan sosok pria tua penyendiri, pendiam, yang berulang kali luluh oleh kehangatan seorang gadis kecil yatim piatu, dengan sangat wajar dan meyakinkan. Film ini tayang perdana di Jerman dan Swiss pada 2015, dan baru masuk ke pasar Tiongkok pada 2019, tetapi tetap dianggap banyak orang tua sebagai film anak-anak paling cocok ditonton bersama anak.
Gadis Kecil yang Ditinggalkan Bibinya di Gunung
Cerita dimulai di sebuah desa kecil di kaki Pegunungan Alpen Swiss pada akhir abad ke-19. Heidi (diperankan oleh Anuk Steffen), yatim piatu berusia lima tahun, selama ini dirawat oleh bibinya, Dete. Namun Dete mendapat pekerjaan sebagai pengasuh bergaji tinggi di Frankfurt dan tidak bisa lagi membawa Heidi bersamanya. Dete memutuskan mengantar Heidi ke gunung dan menitipkannya begitu saja kepada kakek Heidi — seorang lelaki tua penyendiri yang tinggal sendirian di pondok kayu di puncak gunung, begitu tertutup sampai warga desa pun takut padanya.

Dengan bujuk rayu, Dete membawa Heidi keluar dari keluarga asuh sebelumnya, lalu naik kereta kuda menuju gunung. Heidi hanya membawa satu koper kecil. Dete meninggalkannya begitu saja di depan pondok kayu lalu langsung pergi, tanpa peduli bahwa sang kakek di dalam pondok sama sekali tidak tahu apa-apa soal kedatangan ini.
Sang kakek (diperankan oleh Bruno Ganz) adalah pria gunung tua berjanggut putih yang kesehariannya hanya berurusan dengan sekawanan kambing dan mata air pegunungan. Ia sangat waspada terhadap orang lain — akibat tragedi keluarga bertahun-tahun silam, ia dijauhi seluruh desa dan mengasingkan diri ke puncak gunung.

Awalnya sang kakek bahkan tidak mau melihat cucu kecil yang datang tanpa diundang ini. Namun Heidi sama sekali tidak mengeluh. Ia menata jerami sendiri untuk tidur, belajar sendiri memerah susu kambing, dan mengejar kupu-kupu di lereng gunung. Sebelum tidur, ia berkata kepada kakeknya, “Bolehkah aku memanggilmu Kakek?” Keesokan harinya, sang kakek membuatkan bangku tinggi untuknya dengan tangannya sendiri, dan mulai menemaninya menggembalakan kambing.
Musim Panas di Gunung
Heidi segera menjadi sahabat karib Peter (diperankan oleh Quirin Agrippi), anak penggembala dari kaki gunung. Setiap pagi Peter naik ke gunung untuk menggiring kambing-kambing seluruh desa ke lereng tinggi untuk merumput, dan sejak itu Heidi selalu ikut bersamanya — berlarian di antara kabut bersama kambing-kambing, berbaring di antara bunga liar, dan memandangi langit biru.

Masa-masa di gunung ini adalah babak paling bebas dan paling bahagia dalam seluruh film. Heidi mempelajari semua pengetahuan tentang gunung — bunga apa yang mekar di pagi hari, jalan mana yang menuju puncak, dan nama masing-masing kambing. Keluarga Peter hidup miskin, tetapi neneknya sangat menyayangi Heidi. Heidi sering turun gunung mengunjungi rumah Peter, membawakan roti dan susu kambing untuk neneknya.
Sang kakek pun perlahan luluh oleh anak ini. Setiap malam, dengan caranya yang pendiam, ia menceritakan kisah-kisah kepada Heidi — tentang masa mudanya ketika ia pernah turun gunung, tentang anak laki-lakinya yang sudah lama pergi (ayah Heidi). Sifat penyendirinya perlahan-lahan memudar.
Sebuah Kesepakatan: Heidi Dikirim ke Frankfurt
Namun kehidupan idilis di gunung ini hanya berlangsung beberapa bulan. Suatu hari, Bibi Dete tiba-tiba kembali — ia sudah menemukan “posisi yang sempurna” untuk Heidi di keluarga Sesemann yang kaya raya di Frankfurt: keluarga itu punya seorang nona muda yang bertahun-tahun duduk di kursi roda dan membutuhkan teman sebaya. Latar belakang Heidi yang berasal dari pedesaan dianggap cocok untuk itu. Dete meyakinkan dirinya sendiri dengan alasan “Heidi akan mendapat pendidikan yang baik, pakaian bagus, dan kehidupan yang mewah,” lalu membujuk Heidi turun dari gunung dan membawanya naik kereta menuju Frankfurt.

Sang kakek tidak sempat mengejar ke stasiun kereta. Pada hari Heidi dibawa pergi, ia menemukan koper kecil Heidi, gambar kambing-kambingnya, serta lukisan yang dibuat Heidi khusus untuknya. Ia duduk termenung semalaman sambil memegangi lukisan itu, dan keesokan harinya berhenti berhubungan dengan siapa pun di kaki gunung.
Rumah keluarga Sesemann di Frankfurt adalah sebuah mansion bergaya Victoria. Penghuninya hanya Klara (diperankan oleh Isabelle Ottmann), nona muda berusia dua belas tahun, dan Nona Rottenmeier, kepala pelayan rumah itu — ibu Klara sudah lama meninggal, sementara ayahnya selalu bepergian jauh untuk urusan bisnis. Klara tidak bisa berdiri lagi sejak menderita sakit keras saat kecil, dan ia terkurung di kursi roda, terkurung di dalam mansion, serta terkurung oleh aturan tata krama yang ketat.
Kedatangan Heidi benar-benar memecah kebekuan rumah itu. Ia tidak bisa membaca, tidak paham tata krama, dan pada malam pertama saja sudah salah urutan memakai peralatan makan — tetapi ia membawa kejujuran dan tawa khas pegunungan. Klara belum pernah melihat anak sebebas ini, dan langsung menjadikan Heidi sahabat paling berharga baginya.
Yang Diajarkan Seorang Nenek kepada Heidi
Nona Rottenmeier sangat keras terhadap Heidi — ia berusaha mendidik anak liar ini menjadi “teman belajar yang pantas.” Heidi dipaksa duduk di ruang belajar bersama Klara mengikuti pelajaran dari guru privat. Karena buta huruf, ia diejek teman sebaya dan disindir oleh Nona Rottenmeier. Heidi sangat merindukan kakek dan gunungnya, hingga mulai berjalan dalam tidur di malam hari dan terus-menerus “menulis” surat untuk kakeknya, meski ia sendiri tidak bisa menulis.

Titik baliknya adalah kunjungan nenek Klara yang lembut hati. Sang nenek menyadari Heidi tidak bisa tidur semalaman karena rindu kampung halaman, lalu memutuskan mengajarinya membaca dan menulis. Ia memberi Heidi sebuah buku bergambar berjudul Sang Gembala di Pegunungan Alpen, dan mendorongnya membaca untuk meredakan rasa rindu itu. Dalam beberapa bulan Heidi berhasil belajar membaca huruf, bahkan bisa membacakan seluruh buku itu untuk Klara. Namun rasa rindu kampung halamannya tidak sembuh — setiap malam ia bermimpi kembali ke Pegunungan Alpen dan terus berjalan dalam tidur.
Seorang dokter dipanggil untuk memeriksa kondisi Heidi, dan akhirnya memberi diagnosis: anak ini menderita rasa rindu kampung halaman yang parah, dan hanya bisa sembuh jika dikembalikan ke gunung — jika tidak, ia bisa mati terkurung di dalam mansion ini. Begitu mendengar diagnosis itu, Tuan Sesemann langsung membelikan Heidi tiket kereta kembali ke Swiss.
Keajaiban dari Gunung
Pada hari Heidi kembali ke Pegunungan Alpen, sang kakek melihatnya muncul di depan pondok kayu. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia berjalan mendekat dan memeluk Heidi erat-erat. Heidi telah kembali ke gunungnya, kambing-kambingnya, dan Peternya.
Namun cerita belum berakhir. Musim panas berikutnya, Klara berlibur ke Swiss ditemani neneknya dan Tuan Sesemann, lalu mengunjungi Heidi di gunung. Untuk pertama kalinya ia melihat langsung keindahan Pegunungan Alpen, meski awalnya masih harus didorong dengan kursi roda. Heidi, Peter, dan sang kakek bersama-sama mengajak Klara menyusuri jalan setapak gunung, melihat kawanan kambing, dan memetik bunga liar.
Klimaks cerita terjadi di sebuah lereng di luar pondok gunung. Karena ingin membawa Klara ke padang bunga yang lebih tinggi dan lebih indah, Heidi bersama Peter mengangkat Klara berdiri dari kursi rodanya dan membiarkannya mencoba menopang tubuhnya sendiri dengan tangan. Diterangi sinar matahari, dikelilingi pegunungan, dan didukung semangat teman-temannya, Klara yang belum pernah berjalan sekali pun akhirnya melangkah — satu, dua, tiga langkah, dengan gemetar. Ia menangis, Heidi pun ikut menangis, sementara sang kakek yang menyaksikan dari kejauhan matanya memerah menahan haru.
Keajaiban benar-benar terjadi di gunung itu. Selama musim panas yang dihabiskan di Pegunungan Alpen, Klara belajar berjalan dan akhirnya bisa berpisah dengan kursi roda yang telah menemaninya bertahun-tahun.
Ending
Di penghujung musim panas, Tuan Sesemann bersiap membawa Klara pulang ke Frankfurt. Sebelum berpisah, ia mentraktir makan semua orang di desa kaki gunung dan dengan tulus berterima kasih kepada sang kakek karena telah “menyembuhkan” kaki Klara — ia bahkan ingin memberi imbalan besar. Sang kakek hanya menjawab, “Tidak perlu. Dia sudah membiarkan Heidi pulang ke rumah, itu saja sudah menjadi balasan terbaik.”
Adegan terakhir film kembali ke sekolah. Kemampuan membaca dan menulis yang diajarkan sang nenek dari Frankfurt membuat Heidi menonjol di sekolah dasar desanya. Sang guru bertanya kepada seluruh anak di kelas tentang cita-cita mereka kelak — anak-anak laki-laki menjawab ingin menjadi tukang pos, tukang roti, atau tentara; giliran terakhir adalah Heidi. Ia terdiam sejenak, lalu berkata dengan sungguh-sungguh:
“Aku ingin menulis cerita.”
Sang guru tertawa, seluruh kelas pun tertawa — hanya Heidi yang tidak tertawa, karena ia sungguh-sungguh percaya pada kata-katanya sendiri. Cerita apa yang ingin ia tulis? Ia ingin menulis kisahnya bersama gunung, kakeknya, Klara, dan Peter. Ia ingin menuliskan semuanya, agar orang-orang di tempat jauh yang belum pernah melihat gunung pun bisa ikut melihatnya.