← Kembali ke beranda

Dangal

Mimpi medali emas seorang ayah dan kebangkitan dua putrinya: ulasan lengkap alur cerita film Dangal, diadaptasi dari kisah nyata, tentang bagaimana pegulat wanita India bangkit di tengah prasangka dan meraih emas untuk negaranya di arena internasional

Judul

Dangal

Tahun / Durasi

2016 · 161 menit

Genre

Drama / Keluarga / Biografi / Olahraga

Sutradara

Nitesh Tiwari

Penulis

Piyush Gupta / Shreyas Jain / Nikhil Mehrotra / Nitesh Tiwari

Rating

Pemeran

Aamir Khan, Fatima Sana Shaikh, Sanya Malhotra, Zaira Wasim, Sakshi Tanwar

Penghargaan

Filmfare Awards ke-62: Film Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Aktor Terbaik

Dangal
Geeta dan Babita berlatih gulat Mahavir muda dengan tubuh yang kekar Geeta dan Babita di masa remaja Geeta fokus penuh saat bertanding Geeta remaja disambut sorak-sorai dalam pertandingan gulat di desa
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Penyesalan Seorang Pegulat

Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Aamir Khan) dulunya adalah pegulat amatir yang tangguh di negara bagian Haryana, India. Semasa muda, ia tak terkalahkan di arena gulat tanah, dan bermimpi suatu hari bisa mewakili India di panggung internasional serta meraih medali emas untuk negaranya. Namun, karena tuntutan ayahnya dan tekanan ekonomi, Mahavir terpaksa meninggalkan karier gulatnya dan menjadi pegawai biasa di kantor pemerintah.

Ini menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.

Mahavir menaruh harapannya pada generasi berikutnya — ia yakin anak laki-lakinya kelak bisa mewujudkan mimpi emas yang tak sempat ia capai. Untuk itu, ia dan istrinya, Daya (diperankan oleh Sakshi Tanwar), mencoba berbagai “resep punya anak laki-laki” yang diwariskan turun-temurun oleh para tetua desa. Namun nasib justru mempermainkannya: istrinya melahirkan empat anak perempuan berturut-turut. Ejekan warga desa pun bermunculan, dan Mahavir perlahan menyerah, menyimpan semua medali gulatnya ke dalam sebuah peti.

Geeta dan Babita berlatih gulat

Menemukan Bakat

Titik balik muncul pada Geeta, putri sulungnya, dan Babita, putri keduanya. Suatu hari, dua anak laki-laki mengejek mereka di sekolah, dan tanpa berpikir dua kali, kedua bersaudari itu langsung menghajar mereka — dengan gerakan yang sangat rapi. Ketika orang tua kedua anak laki-laki itu datang ke rumah membawa anak mereka yang babak belur, Mahavir sama sekali tidak memarahi putri-putrinya. Sebaliknya, matanya berbinar: kedua gadis ini memang berbakat jadi pegulat!

Siapa bilang hanya anak laki-laki yang bisa jadi pegulat? Mahavir membuat keputusan yang saat itu terdengar gila: melatih kedua putrinya menjadi pegulat.

Di desa India yang konservatif, ini terdengar seperti mimpi di siang bolong. Anak perempuan seharusnya belajar mengurus rumah dan menikah muda — begitu anggapan semua orang di desa. Mahavir tidak peduli. Ia menyusun jadwal latihan yang ketat untuk putri-putrinya: bangun pukul lima pagi untuk lari, berlatih teknik gulat berulang-ulang di arena tanah, dan menjalani pola makan tinggi protein. Yang lebih mengejutkan warga desa, ia memotong rambut panjang putri-putrinya — dalam budaya India, tindakan ini hampir setara dengan penghinaan di depan umum.

Pada awalnya, Geeta dan Babita sangat membenci ayah mereka. Mereka diam-diam memperlambat alarm, menyiram air ke arena latihan, dan pura-pura sakit untuk membolos latihan. Sampai suatu hari, mereka menghadiri pernikahan seorang gadis seusia mereka. Pengantin itu baru berusia empat belas tahun, wajahnya basah oleh air mata, namun ia mengucapkan kata-kata yang menghancurkan hati kedua bersaudari itu: ia iri karena mereka punya ayah seperti itu — setidaknya, ayah mereka memandang anak perempuannya sebagai orang yang bisa meraih sesuatu dalam hidup, bukan sekadar barang yang bisa dinikahkan begitu saja di usia empat belas tahun.

Sejak hari itu, Geeta dan Babita mulai menjalani latihan yang sesungguhnya.

Mahavir muda dengan tubuh yang kekar

Dari Tanah Berlumpur ke Juara Nasional

Karena tidak ada arena latihan profesional, Mahavir menggali sendiri lubang gulat di ladang keluarganya. Karena tidak ada lawan latihan, ia membiarkan putri-putrinya berlatih tanding dengan anak-anak laki-laki di desa. Geeta berkembang sangat cepat, dan dalam waktu singkat ia berhasil mengalahkan semua anak laki-laki di kompetisi gulat desa, membuat heboh seisi kampung.

Mahavir mulai membawa Geeta bertanding di berbagai tingkat kompetisi. Dari kompetisi tingkat kecamatan hingga tingkat negara bagian, Geeta terus melaju mengalahkan lawan demi lawan. Pertandingan resminya yang pertama adalah melawan pegulat laki-laki — meski akhirnya kalah tipis, penampilannya membuat semua orang terkesan. Setelah itu, Geeta tak terkalahkan di kategori putri, berturut-turut meraih juara tingkat negara bagian dan juara nasional junior. Babita menyusul di belakangnya dengan performa yang sama mengesankan.

Nama kedua bersaudari itu mulai muncul di surat kabar. Latihan “gila” ala Mahavir pun menjadi legenda yang dibicarakan orang-orang.

Geeta dan Babita di masa remaja

Tersesat di Akademi Olahraga

Setelah menjadi juara nasional, Geeta terpilih masuk National Sports Academy di Patiala untuk mendapatkan pelatihan yang lebih profesional, dengan target mewakili India di Commonwealth Games. Babita menyusul masuk ke akademi yang sama tak lama kemudian.

Namun, setelah masuk akademi, Geeta berubah. Pelatih barunya, Pramod, punya filosofi gulat yang sangat berbeda dari Mahavir. Mahavir mengajarkan gulat menyerang — merebut peluang dan menyerang tanpa ragu; sementara Pramod lebih menekankan pertahanan dan analisis teknik. Geeta mulai meragukan metode ayahnya. Ia memanjangkan rambutnya lagi, berteman dengan orang-orang baru, menonton film, dan jalan-jalan, menikmati kebebasan jauh dari pengawasan ayahnya.

Yang lebih parah, ia mulai sering kalah di kompetisi internasional. Tersingkir di babak pertama menjadi hal biasa baginya.

Saat pulang mengunjungi keluarga, Geeta dan Mahavir terlibat konflik sengit karena perbedaan pendapat soal metode latihan. Geeta yang muda dan berdarah panas bahkan bertanding langsung di arena tanah melawan ayahnya yang sudah tua dan gemuk — dan ia menang. Mahavir terdiam, dan Geeta kembali ke akademi dengan kebanggaan seorang pemenang.

Tapi Babita melihat semuanya dengan jelas. Ia menelepon kakaknya dan berbicara terus terang: kamu menang melawan Ayah bukan karena kamu semakin kuat, tapi karena beliau sudah tua. Kekalahanmu yang beruntun di kompetisi internasional, bukankah itu justru membuktikan ada yang salah dengan metodemu sekarang?

Geeta akhirnya runtuh. Sambil menangis, ia menelepon ayahnya, dan sepatah kata “Ayah, maafkan aku” membuat keduanya menangis di ujung telepon masing-masing.

Geeta fokus penuh saat bertanding

Ayah dan Anak Berlatih Bersama

Mahavir meninggalkan segalanya dan menyewa rumah di dekat akademi, lalu diam-diam mulai melatih ulang Geeta. Ia menganalisis rekaman setiap pertandingan yang kalah, mencari kelemahan, dan menyusun taktik yang tepat sasaran. Di siang hari Geeta berlatih dengan pelatih Pramod, dan di malam hari ia diam-diam menemui ayahnya untuk latihan tambahan.

Hal ini membuat Pramod tidak senang. Ia melapor ke pihak akademi dan meminta agar Geeta dan Babita dikeluarkan. Dalam sidang dengar pendapat, Mahavir menunjukkan semua medali dan penghargaan yang telah diraih putri-putrinya untuk gulat India selama bertahun-tahun, memohon agar akademi memberi mereka satu kesempatan lagi. Pihak akademi tersentuh dan mengizinkan mereka tetap tinggal — dengan syarat tidak boleh ada pelanggaran lagi.

Mahavir kemudian membimbing Geeta dari jarak jauh lewat telepon. Ia meminta Geeta menonton rekaman pertandingannya sendiri melawan lawan-lawannya, mempelajari kelemahan setiap lawan, dan menyusun strategi pertandingan secara rinci. Performa Geeta mulai membaik, ia kembali menemukan gaya menyerangnya, terus menang di babak kualifikasi, dan akhirnya meraih tiket untuk tampil di Commonwealth Games.

Final Commonwealth Games

Commonwealth Games 2010 digelar di New Delhi, India. Geeta mewakili India di nomor gulat gaya bebas putri kelas 55 kg.

Mahavir datang ke arena dan duduk di tribun penonton untuk mendukung putrinya. Namun Pramod, yang diam-diam iri, tidak ingin Mahavir “mencuri” pujian. Sebelum final dimulai, ia menjebak Mahavir agar masuk ke sebuah gudang di dalam gedung olahraga, lalu menguncinya dari luar.

Final pun dimulai. Lawan Geeta adalah seorang pegulat Australia yang tangguh. Di babak pertama, Geeta meraih poin lewat serangan agresif. Namun di babak kedua, lawannya mengubah strategi dan berhasil membalikkan keadaan. Memasuki babak ketiga, Geeta tertinggal poin.

Tidak ada sosok ayahnya di tribun penonton. Sambil bertanding, Geeta gelisah memindai tribun. Ia teringat kata-kata ayahnya dulu: “Ayah tidak mungkin selalu bisa menyelamatkanmu, kamu harus belajar menyelamatkan dirimu sendiri.”

Sembilan detik terakhir. Geeta tertinggal lima poin. Semua orang mengira pertandingan sudah berakhir.

Tepat pada saat itu, Geeta teringat pelajaran yang diajarkan ayahnya di tepi sungai saat ia masih kecil — ketika lawan mengira dirinya sudah menang, itulah saat terbaik untuk melakukan serangan balik. Ia langsung mengeluarkan tenaga penuh dan melakukan lemparan bahu sempurna, membanting lawannya keras-keras ke matras — lima poin! Seluruh arena bersorak. Wasit mengangkat tangan Geeta sebagai tanda kemenangan.

Lagu kebangsaan India berkumandang di arena. Geeta menjadi wanita pertama dalam sejarah India yang meraih medali emas gulat di Commonwealth Games.

Geeta remaja disambut sorak-sorai dalam pertandingan gulat di desa

Kamu Adalah Kebanggaanku

Mahavir yang terkunci di gudang akhirnya berhasil keluar dan berlari menuju arena. Ia melihat putrinya berdiri di podium dengan medali emas tergantung di dadanya. Geeta turun dari podium dan menyerahkan medali emas itu ke tangan ayahnya.

Mahavir menerima medali emas itu, memandangi gadis kecil yang dulu bergulat penuh lumpur di lubang gulat, kini telah menjadi kebanggaan seluruh India. Ia pun mengucapkan kalimat yang telah Geeta nantikan seumur hidupnya:

“Kamu adalah kebanggaanku.”

Di akhir film, teks penutup memperkenalkan kisah nyata keluarga Phogat: Geeta Phogat kemudian meraih medali perunggu di World Wrestling Championships 2012; Babita Phogat juga menjadi juara gulat di panggung internasional; kedua adik perempuan mereka pun mengikuti jejak menjadi pegulat. Kisah Mahavir Singh Phogat mengubah pandangan seluruh Haryana terhadap perempuan — setelahnya, semakin banyak keluarga India yang mendukung putri-putri mereka berolahraga.