← Kembali ke beranda

All the Long Nights

Dua orang yang terperangkap oleh penyakit yang tak kasat mata, menjadi sekutu paling tenang satu sama lain: ulasan lengkap alur cerita film All the Long Nights, tentang seorang perempuan dengan sindrom pramenstruasi berat dan seorang pria dengan gangguan panik yang bertemu di perusahaan kecil yang sama, lalu menemukan kekuatan untuk terus menjalani hidup dalam hubungan yang bukan persahabatan maupun percintaan

Judul

All the Long Nights

夜明けのすべて

Tahun / Durasi

2024 · 120 menit

Genre

Drama

Sutradara

Shō Miyake

Penulis

Kiyohito Wada / Shō Miyake

Rating

Pemeran

Hokuto Matsumura, Mone Kamishiraishi, Kiyohiko Shibukawa

Karya asli

Novel dengan judul sama karya Maiko Seo

All the Long Nights
Adegan dari All the Long Nights Adegan dari All the Long Nights Adegan dari All the Long Nights Adegan dari All the Long Nights Adegan dari All the Long Nights
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Setiap bulan, ada beberapa hari saat Misa Fujisawa berubah menjadi orang lain.

Dia mengidap sindrom pramenstruasi (PMS) yang parah. Saat gejalanya muncul, dia tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri — tiba-tiba marah besar, menangis histeris, atau sama sekali tidak bisa bergerak. Ini bukan drama, dan bukan sesuatu yang bisa hilang kalau sekadar ditahan, melainkan tubuhnya sendiri yang mengkhianati kemauannya. Karena itulah dia meninggalkan pekerjaan sebelumnya dan pindah ke perusahaan kecil bernama Kurita Science. Perusahaan ini memproduksi planetarium mainan dan kit edukasi sains, skalanya kecil, ritmenya santai, dan karyawannya tidak banyak.

Takatoshi Yamazoe mulai bekerja beberapa hari setelahnya. Dia mengidap gangguan panik. Saat serangan panik datang, jantungnya berdebar cepat, dia sulit bernapas, seluruh tubuhnya gemetar, dan dia merasa akan mati. Dulu dia bekerja di perusahaan besar dengan masa depan cerah, tapi gangguan panik itu menghancurkan total kariernya, sekaligus menghancurkan kemauannya untuk terus menjalani hidup.

Adegan dari All the Long Nights

Konflik Pertama

Pertemuan langsung pertama mereka berujung pada ledakan emosi.

Saat itu Misa sedang berada di hari-hari terparah PMS-nya, dan Yamazoe melakukan kesalahan kecil dalam pekerjaan. Kalau di hari biasa, ini bukan masalah besar. Tapi hari itu, emosi Misa sudah mencapai titik puncaknya. Dia meluapkan amarah besar-besaran ke Yamazoe, suaranya begitu keras hingga seluruh kantor terdiam.

Setelah itu, Misa jatuh ke dalam kebencian mendalam terhadap dirinya sendiri. Dia tahu reaksinya benar-benar berlebihan, tahu Yamazoe tidak seharusnya menanggung semua itu, tapi dia tidak bisa mengendalikannya. Inilah sisi paling kejam dari PMS — kamu tahu persis apa yang sedang kamu lakukan, tapi tidak bisa menghentikan dirimu sendiri.

Saling Melihat

Titik baliknya terjadi saat Yamazoe mengalami serangan panik.

Hari itu di kantor, Yamazoe tiba-tiba kambuh. Dia jongkok di sudut ruangan, seluruh tubuhnya gemetar, keringat membasahi wajahnya, tangannya mencari-cari sesuatu di dalam saku dengan panik — obatnya hilang. Rekan-rekan kerja lain tidak tahu apa yang terjadi, ada yang mengira dia hanya bermalas-malasan.

Adegan dari All the Long Nights

Misa mengenali kondisi itu. Dia tidak panik, tidak membuat keributan, melainkan dengan tenang membantu mencari obat yang berserakan di lantai. Dia menyerahkan obat itu kepada Yamazoe, lalu duduk diam di sampingnya, menunggu sampai dia pulih.

Sejak saat itu, muncul ikatan halus di antara mereka berdua. Bukan simpati, bukan rasa kasihan, melainkan sesuatu yang lebih dalam — kamu tahu apa yang sedang kualami, karena kamu juga mengalami penderitaan serupa yang sulit dipahami orang lain.

Kurita Science

Bos mereka, Kurita, adalah pria paruh baya yang lembut. Semasa hidupnya, adiknya sangat mencintai astronomi dan meninggalkan banyak rekaman visual tentang langit berbintang beserta narasi yang puitis. Kurita melanjutkan kecintaan sang adik terhadap alam semesta menjadi sebuah usaha — membuat planetarium mini agar orang biasa pun bisa melihat langit berbintang di rumah mereka sendiri.

Kurita Science bukan tempat yang mengejar efisiensi dan target kerja. Tempat ini lebih seperti tempat berlindung, tempat orang yang pernah terluka bisa berhenti sejenak untuk beristirahat. Kurita tidak pernah terburu-buru mendesak Misa dan Yamazoe, juga tidak pernah menanyakan lebih jauh soal kondisi mereka. Dia hanya memberi mereka ruang untuk bekerja sesuai ritme masing-masing.

Adegan dari All the Long Nights

Bukan Teman, Bukan Pasangan

Hubungan antara Misa dan Yamazoe sulit didefinisikan dengan kata-kata biasa.

Mereka bukan teman — tidak pernah makan bersama, tidak mengobrol, tidak berbagi cerita hidup masing-masing. Mereka juga bukan pasangan — tidak ada rasa suka, tidak ada debaran hati, tidak ada isyarat romantis apa pun. Tapi di antara mereka ada sesuatu yang lebih langka daripada persahabatan maupun cinta: saling memahami tanpa syarat, tanpa ekspektasi apa pun.

Saat gejala Misa kambuh, Yamazoe tidak akan berkata, “Apakah kamu mau istirahat sebentar?” atau “Nanti juga akan membaik.” Dia tidak berkata apa-apa, hanya diam-diam membantu meringankan sebagian pekerjaannya. Saat Yamazoe mengalami serangan panik, Misa tidak menunjukkan kekhawatiran atau ketakutan. Dia hanya diam berada di dekatnya, membuat Yamazoe tahu ada seseorang di sana.

Mereka menemukan sebuah kebenaran yang kejam sekaligus penting: gejala mereka sendiri mungkin tidak akan pernah membaik, tapi mereka bisa membantu satu sama lain melewati malam-malam gelap masing-masing.

Planetarium

Adegan dari All the Long Nights

Kurita meminta Misa dan Yamazoe untuk bersama-sama menangani acara pameran planetarium tahunan perusahaan. Mereka harus menyusun rekaman visual yang ditinggalkan adik Kurita, lalu pergi ke sekolah-sekolah untuk memberikan demonstrasi sains kepada anak-anak.

Narasi yang ditulis adik Kurita penuh dengan kekaguman puitis terhadap alam semesta. Selama proses persiapan pameran, Misa dan Yamazoe berulang kali menonton rekaman itu — nebula, rasi bintang, tahun cahaya yang jauh. Keluasan alam semesta membuat penderitaan manusia terasa begitu kecil, tapi anehnya, rasa “kecil” itu justru membawa semacam penghiburan.

Mereka mulai memahami satu hal: ada bayangan karena ada cahaya. Tanpa malam, bintang-bintang tidak akan terlihat.

Fajar

Di awal film, Misa terbaring di tengah hujan deras tanpa bisa bergerak. Itu adalah salah satu momen paling parah dari serangan PMS-nya, sampai-sampai dia tidak punya tenaga untuk bangkit dari air hujan.

Menjelang akhir film, Misa meninggalkan Kurita Science dan pindah ke perusahaan lain. Gejalanya tidak hilang, dan tidak akan pernah hilang. Tapi dia tidak lagi merasa takut. Selama masa-masanya di Kurita Science, dia belajar kembali satu hal — meskipun tubuh bisa mengkhianatimu, meskipun ada beberapa hari setiap bulan kamu jatuh ke dalam jurang, di ujung jurang itu tetap ada cahaya.

Adegan dari All the Long Nights

Yamazoe tetap tinggal di Kurita Science. Adegan terakhir menampilkan gedung perusahaan dari kejauhan, dengan pengambilan gambar statis yang panjang. Samar-samar terdengar suara Yamazoe bertanya kepada rekan kerjanya, “Aku mau ke minimarket, ada yang perlu kamu beli?”

Kalimat itu terucap begitu pelan, hampir tidak terdengar. Tapi maknanya sangat besar — seseorang yang dulu kehilangan kemauan untuk hidup, kini mulai peduli pada apa yang dibutuhkan orang di sekitarnya.

Film ini tidak menghadirkan pelukan, tidak ada pernyataan cinta, tidak ada kesembuhan dramatis. Ia hanya menyampaikan satu hal secara tenang: ada orang-orang yang hadir dalam hidupmu bukan untuk menyelamatkanmu, melainkan untuk menemanimu menunggu fajar tiba.