To the Bright Side
Tujuh Cerita Buku Bergambar, Tujuh Wujud Cinta Ala Tiongkok: ulasan lengkap alur cerita film animasi To the Bright Side, tujuh sutradara memakai gaya seni berbeda-beda seperti lukisan tinta, potongan kertas, dan cat air untuk menceritakan tujuh film pendek tentang cinta ibu, ikatan saudara, kehangatan tetangga, dan kenangan masa kecil
Judul
To the Bright Side
Tahun / Durasi
2022 · 83 menit
Genre
Animasi / Keluarga / Anak-anak
Sutradara
Xiya Lan, Nianze Li, Yi Zhao, Kun Yu, Gaoxiang Liu, Maoning Liu, Chen Chen
Penulis
Dayong Gan / Yi Peng / Haiyan Li / Yi Zhao / Yun Feng / Yujuan Jiang / Hailin Yang / Maoning Liu / Xun Liu
Rating
Pemeran
Yuejia Zhu, Shiyi Wang, Xiaofu Yu
Film ini adalah kumpulan film pendek karya tujuh sutradara animasi Tiongkok, setiap ceritanya diadaptasi dari sebuah buku bergambar orisinal Tiongkok, dengan gaya visual berbeda-beda untuk menceritakan kisah tentang masa kecil dan cinta. Ketujuh film pendek ini gayanya sangat beragam — ada yang bergaya lukisan tinta, potongan kertas, cat air, hingga stop-motion — tetapi semuanya mengarah ke satu arah yang sama: cahaya kecil namun pasti yang menerangi masa kecil kita.
Pertanyaan Si Kelinci Kecil
Si kelinci kecil adalah anak yang suka sekali bertanya. Ia tidak mau makan dengan baik, dan seharian merecoki induk kelinci dengan berbagai pertanyaan: “Kenapa aku harus makan dengan baik?” “Kenapa aku harus tumbuh besar?” “Kenapa mata Ibu begitu besar?” “Kenapa telinga Ibu begitu panjang?”
Induk kelinci menjawab satu per satu dengan sabar. Mata yang besar supaya bisa melihat dengan jelas di mana kamu berada, telinga yang panjang supaya bisa mendengar kamu memanggil Ibu.

Si kelinci kecil mengajukan pertanyaan yang paling penting: “Kalau suatu hari aku pergi jauh sekali meninggalkan Ibu, lalu aku rindu Ibu, bagaimana?” Induk kelinci tidak langsung menjawab. Ia mengajak si kelinci kecil melihat bulan di langit — ke mana pun kamu pergi, bulan yang kamu lihat saat mendongak selalu sama. Cinta seorang ibu seperti benang layang-layang itu: seberapa pun tinggi dan jauh layangan itu terbang, di ujung sana selalu ada seseorang yang memegangnya.
Film pendek ini menggambarkan, dengan garis sederhana dan warna lembut, sebuah kebenaran paling sederhana tentang cinta ibu: melepaskan, tetapi tetap selalu mengkhawatirkan.
Gadis Kunang-Kunang
Pak Zhou adalah seorang sopir bus yang sudah mengemudi di jalur pegunungan selama empat puluh tahun penuh. Hari ini adalah perjalanan terakhirnya sebelum pensiun.
Malam turun, bus memasuki hutan pegunungan yang gelap. Bus itu kosong, Pak Zhou mengemudi sendirian menembus jalan gunung yang gelap gulita. Tiba-tiba, seorang anak laki-laki kecil muncul di pinggir jalan, mengaku tersesat. Pak Zhou membiarkannya naik. Lalu, hal yang lebih aneh terjadi — dua puluh anak perempuan kecil yang wajahnya identik muncul bersamaan di dalam bus. Di pinggir jalan, seekor beruang hutan berdiri di sebelah halte, merentangkan kedua tangannya menunggu sebuah pelukan.
Pak Zhou perlahan mengerti: mereka bukan penumpang biasa. Selama bertahun-tahun ini, ia diam-diam sudah menolong makhluk hidup tak terhitung jumlahnya di jalan gunung itu — menunjukkan jalan pada anak yang tersesat, memberi jalan pada hewan yang terluka, tidak pernah membunyikan klakson agar tidak mengganggu penghuni hutan. Malam ini, seluruh hutan mengadakan upacara perpisahan besar untuknya. Kunang-kunang menyala beribu-ribu titik cahaya di luar jendela bus, semua hewan berdiri di kedua sisi jalan, mengantar bus ini menyelesaikan perjalanan terakhirnya.
Kamu diam-diam menjaga dunia selama empat puluh tahun, dunia pun diam-diam menjagamu.
Kereta Kecil

Setelah gempa bumi, seorang anak laki-laki kehilangan kemampuan berjalan. Ia seharian berdiam di rumah, memandang dunia luar lewat jendela dengan tatapan kosong.
Ayah dan ibunya tidak menyerah. Mereka mencarikan mainan kereta kecil berwarna merah, lalu berkata padanya: naiklah kereta kecil ini, ia akan membawamu melewati terowongan tergelap sekalipun. Anak itu naik kereta kecil itu, dan dalam imajinasinya memulai sebuah perjalanan — kereta kecil itu membawa satu keluarga bertiga, melintasi terowongan gelap, melewati reruntuhan yang runtuh, menembus jalan yang diguyur hujan badai. Terowongan itu panjang, di dalamnya tidak terlihat apa-apa, tetapi ayah dan ibunya selalu menemani di sisinya.

Saat kereta kecil itu akhirnya keluar dari terowongan, cahaya memenuhi seluruh layar. Anak laki-laki itu memasang kaki palsu dan berdiri kembali. Film pendek ini memakai sulih suara berdialek Sichuan, dan lewat metafora sebuah kereta kecil, menceritakan kisah sebuah keluarga yang saling menopang dan bangkit kembali setelah bencana.
Kedai Air Gula Pak Kuai
Malam sudah larut, kedai air gula di sudut jalan masih menyalakan lampu. Pak Kuai mengenakan celemek, sendirian menjaga kompor, dengan santai merebus air gula. Semua minuman harganya sama, lima yuan.
Anak-anaknya sudah dewasa semua, pindah ke kota lain, dan sepanjang tahun jarang pulang. Pak Kuai tidak pernah mengeluh, ia hanya berkata, “Kan selalu ada orang yang ingin minum semangkuk air gula di malam hari.”
Seekor kucing liar melintasi kegelapan malam, datang ke kedai air gula itu. Lewat matanya, kita melihat kehidupan orang-orang biasa di jalan itu: anak muda yang lembur sampai larut masuk untuk minum semangkuk pelepas lelah, sepasang kekasih yang baru bertengkar duduk di meja masing-masing tanpa bicara tapi sama-sama enggan pergi duluan, nenek yang tinggal sendirian membawa mangkuknya dan mengobrol sebentar dengan Pak Kuai.
Pak Kuai tahu anak-anaknya sibuk, tahu mereka tidak sempat. Ia menghela napas, “Ah, semua orang memang sibuk.” Nadanya penuh iba, penuh pengertian, tanpa nada menyalahkan. Semangkuk air gula seharga lima yuan ini, manisnya bukan cuma di rasa, tetapi cara seorang lelaki tua menjaga kehangatan sebuah jalan dengan caranya sendiri.
Jenderal Heng dan Jenderal Ha

Film pendek ini memakai bentuk animasi potongan kertas, menceritakan kisah sepasang saudara kembar. Idenya terinspirasi dari Jenderal Heng dan Jenderal Ha dalam tradisi Tiongkok — dua dewa penjaga di kedua sisi pintu kuil.
Sang kakak dan adik wajahnya sama persis, tetapi tidak ada yang mau mengalah. Mereka berlomba siapa yang lari lebih cepat, siapa yang makan lebih banyak, siapa yang mainannya lebih hebat, siapa yang berkelahi lebih kuat. Selesai berkelahi lalu berbaikan, berbaikan lalu berkelahi lagi, tidak ada habisnya.
Tetapi begitu ada orang luar yang mengganggu si adik, yang maju paling depan pasti si kakak. Begitu si kakak menahan kekesalan dan tidak mau bicara, yang pertama menyadarinya pasti si adik.
Gaya potongan kertasnya kasar sekaligus halus, adegan kedua jenderal kecil itu bermain-main di lautan awan penuh keceriaan khas anak-anak. Film pendek ini bercerita tentang keseharian paling nyata dalam keluarga dengan dua anak: keributannya cuma di permukaan, ikatan darah yang mengalir di dalamnya itulah yang abadi.
Kursi Roda Lemari Besi Biru Nenek
Di sebuah desa di Henan, seorang anak laki-laki nakal ditinggal ibunya di rumah untuk menjaga neneknya yang sulit berjalan. Sang nenek duduk di kursi roda hasil modifikasi dari lemari besi berwarna biru, dan di dalam lemari itu tersimpan tabungan seumur hidupnya — uang receh yang dibungkus lapis demi lapis dengan sapu tangan.
Anak itu menemukan rahasia ini. Ia diam-diam mengambil uang dari sapu tangan neneknya, lalu berlari keluar untuk membeli jiaosubang — camilan renyah dan manis. Satu kali, dua kali, tiga kali. Sang nenek tidak berkata apa-apa.

Sampai suatu hari, anak itu memergoki neneknya sedang menghitung uang. Saat itu juga, ketakutan dan rasa bersalah yang begitu besar membanjirinya. Ia menangis meraung-raung — ini satu-satunya kali ia menangis di depan neneknya. Sang nenek tetap tidak berkata apa-apa. Apakah ia tahu? Tentu saja ia tahu. Tapi ia memilih untuk tidak mengatakannya.
Setelah sang nenek meninggal, dalam perjalanan pemakaman, untuk pertama kalinya anak itu melihat ibunya menangis. Ia tiba-tiba teringat ibunya pernah bilang ingin membelikan selimut listrik untuk neneknya, tetapi tidak pernah sempat membelinya. Ternyata di antara ibu dan neneknya, ada penyesalan yang sama — cinta yang tidak sempat terucap, dan rasa berutang budi yang tidak akan pernah bisa terbayar.
Film pendek ini bergaya hangat namun terkendali, lewat kejadian kecil seorang anak yang mencuri uang, menyingkap emosi paling tersembunyi dalam keluarga tradisional Tiongkok: cinta memang tidak pernah diucapkan, tetapi semua orang tahu.
Hari Minggu Yiwazi
Yiwazi tahun ini berusia sembilan tahun, tinggal di kota bersama ayah dan ibunya. Orang tuanya membuka warung mi kecil, sibuk dari pagi sampai malam setiap hari.
Minggu pagi jam setengah enam, Yiwazi sudah bangun. Ia duduk di sudut warung mi mengerjakan pekerjaan rumah, di sampingnya kompor mengepulkan uap panas. Ibunya sambil mengelap meja mengingatkannya untuk duduk tegak, ayahnya sibuk di dapur belakang, sesekali menengok untuk melihatnya sebentar. Pelanggan datang dan pergi, Yiwazi tetap menunduk menulis di tengah keramaian itu, dan kalau lelah menulis ia tidur-tiduran di meja sambil melihat mainan dinosaurusnya.
Tidak ada kejadian besar apa pun, hanya hari paling biasa dari sebuah keluarga pekerja migran di kota. Tetapi justru kebersamaan kecil yang berulang setiap hari inilah yang membentuk seluruh rasa aman seorang anak. Semangkuk mi yang disodorkan ibunya, sekilas pandang ayahnya yang tanpa sengaja, kompor di warung mi yang selalu mengepulkan uap panas — inilah seluruh dunia Yiwazi, kecil namun utuh, biasa namun cerah.