The Nightmare Before Christmas
Raja Labu keliru mengubah Natal menjadi pengantaran hadiah yang menakutkan: alur cerita lengkap Jack menemukan Kota Natal, mengambil alih hari raya itu, memicu kekacauan, lalu kembali ke Kota Halloween untuk membereskannya
Judul
The Nightmare Before Christmas
Tahun / Durasi
1993 · 76 menit
Genre
Animasi / Fantasi / Musikal
Sutradara
Henry Selick
Penulis
Caroline Thompson, Michael McDowell, Tim Burton
Rating
Pemeran
Danny Elfman (sebagai suara nyanyian Jack Skellington, Barrel), Chris Sarandon (sebagai suara percakapan Jack Skellington), Catherine O'Hara (sebagai Sally, Shock), Ken Page (sebagai Oogie Boogie), Edward Ivory (sebagai Sinterklas)
Karya asli
Puisi dan karakter berjudul sama karya Tim Burton
Penghargaan
Saturn Awards: Film Fantasi Terbaik; Academy Awards: nominasi Efek Visual Terbaik; masuk National Film Registry Amerika Serikat pada 2023
The Nightmare Before Christmas adalah film fantasi musikal animasi stop motion asal Amerika Serikat yang disutradarai Henry Selick serta digagas dan diproduseri Tim Burton, dengan naskah karya Caroline Thompson dan lagu serta musik latar karya Danny Elfman. Bagian nyanyian dan bagian percakapan Jack Skellington masing-masing diisi oleh Elfman dan Chris Sarandon, sementara Catherine O’Hara, Ken Page, dan pengisi suara lainnya ikut terlibat. Film ini tayang di Amerika Serikat pada Oktober 1993 dengan durasi 76 menit.
Hingga artikel ini terbit, film ini mendapat nilai 7,9 di IMDb; dari 107 ulasan kritikus yang dihimpun Rotten Tomatoes, 95% di antaranya positif, sedangkan Popcornmeter penontonnya berada di angka 91%. Ulasan-ulasan itu umumnya memuji animasi stop motion, latar yang ganjil, dan musiknya, tetapi juga menyebut bahwa sosok tengkorak, monster, serta adegan berbahaya di dalamnya bisa membuat penonton yang masih kecil merasa tidak nyaman. Belakangan film ini memenangi Saturn Award untuk Film Fantasi Terbaik dan menjadi film animasi panjang pertama yang masuk nominasi Efek Visual Terbaik di Academy Awards; pada 2023, Perpustakaan Kongres Amerika Serikat memasukkannya ke dalam National Film Registry.
Kekosongan Setelah Malam Halloween

Kota Halloween dihuni tengkorak, hantu, manusia serigala, dan aneka monster. Setiap malam Halloween, warganya menebar rasa takut di bawah pimpinan sang Raja Labu, Jack Skellington. Perayaan tahun ini pun kembali berhasil: warga bersorak mengelilingi Jack, dan Wali Kota sudah tidak sabar mengajaknya menyiapkan acara tahun depan. Jack sendiri justru sudah jenuh mengulang hari raya yang itu-itu saja. Ia meninggalkan perayaan, berjalan sendirian ke pemakaman, lalu menceritakan kekosongan yang tidak bisa dihapus oleh tepuk tangan itu kepada Zero, anjing hantunya.

Malam itu Jack terus berjalan makin jauh ke dalam hutan, dan baru setelah hari terang ia menemukan sebuah tanah lapang asing. Pada batang-batang pohon di sekelilingnya terpasang pintu-pintu yang masing-masing mewakili hari raya berbeda, dan salah satunya berbentuk pohon Natal. Setelah membukanya, Jack terpeleset dan jatuh ke dalam lorong, lalu terbawa ke sebuah dunia yang sama sekali berbeda dari Kota Halloween.
Hutan Hari Raya dan Kota Natal

Kota Natal diselimuti salju putih, rumah-rumahnya berwarna cerah, para peri sibuk membuat mainan, anak-anak bermain seluncur es dan membuat boneka salju, sementara Sinterklas mengatur seluruh hadiah. Jack belum pernah melihat kepingan salju, lampu warna-warni, kaus kaki Natal, maupun kotak hadiah yang terbungkus rapi. Ia berkeliling kota sambil mengamati, memasukkan benda-benda perayaan yang bisa ia temukan ke dalam karungnya, bahkan memetik sekeping salju untuk ia teliti; kepingan itu langsung meleleh di ujung jarinya.


Penemuan ini membuat Jack kembali bersemangat. Ia pulang ke Kota Halloween membawa topi Natal, hadiah, permen, dan hiasan, lalu mengumpulkan seluruh warga untuk memperkenalkan Natal. Namun warga hanya bisa memahami hal-hal baru itu lewat pengalaman horor yang mereka kenal: mereka penasaran monster apa yang bersembunyi di dalam kotak hadiah, dan mereka pun salah menyebut Sinterklas sebagai “Sandy Claws”. Meski gagal membuat semua orang merasakan kehangatan yang ia alami di Kota Natal, Jack tetap memutuskan untuk lebih dulu mencari tahu bagaimana sebenarnya Natal bekerja.
Natal yang Tidak Bisa Dijelaskan


Jack mengurung diri di rumah yang penuh sesak oleh benda-benda yang ia bawa dari Kota Natal. Ia membaca berbagai bahan bacaan, mengukur hiasan, membongkar mainan, bahkan menganalisis perlengkapan Natal dengan mikroskop dan percobaan kimia. Papan tulisnya dipenuhi rumus, tetapi semua cara itu tetap tidak bisa menjelaskan mengapa Natal membuat orang bahagia. Pada akhirnya Jack berhenti berusaha memahaminya dan justru yakin bahwa ia bisa merancang ulang Natal dengan cara Kota Halloween.

Ia mengumumkan bahwa Kota Halloween akan mengambil alih Natal tahun itu, lalu membagi pekerjaan kepada seluruh warga: sebagian bertugas membuat hadiah, Dr. Finkelstein sang ilmuwan aneh membuat rusa kutub tengkorak penarik kereta luncur, sedangkan Sally harus menjahit baju Natal merah. Jack menganggap peniruan Natal ini sebagai pertunjukan baru yang megah, tanpa sadar bahwa setiap benda yang dibuat warganya tetap mengikuti selera Halloween.

Sally Melihat Bencana
Sally adalah boneka kain yang dijahit oleh Dr. Finkelstein. Sang dokter tidak mau melepasnya keluar dari laboratorium; saat kabur, Sally pernah kehilangan satu lengannya, lalu ditangkap kembali dan dijahit ulang oleh dokter itu. Belakangan ia mencampurkan belladona ke dalam makanan supaya sang dokter tertidur untuk sementara, lalu ia kembali meninggalkan laboratorium. Ia peduli kepada Jack, tetapi saat memetik bunga ia melihat firasat: sebatang pohon Natal terbakar di depan matanya. Dari situ Sally menyimpulkan bahwa mengambil alih Natal akan mendatangkan bencana, dan berkali-kali membujuk Jack menghentikan rencananya.


Jack yang tenggelam dalam persiapan tidak menerima peringatan itu. Ia bahkan menyerahkan tugas menculik Sinterklas kepada Lock, Shock, dan Barrel, meminta ketiga anak itu membawa sang sandera dengan selamat sekaligus melarang tegas keterlibatan Oogie Boogie. Mereka bertiga mula-mula salah menangkap Kelinci Paskah, dan baru setelah berangkat lagi mereka berhasil memasukkan Sinterklas yang asli ke dalam karung lalu membawanya ke Kota Halloween.

Hadiah Menyeramkan dan Sinterklas yang Disandera

Jack memberi tahu Sinterklas bahwa ia akan menggantikannya menyelesaikan pengantaran tahun itu, lalu menyuruh ketiga anak tadi membawanya ke tempat yang aman. Namun Lock, Shock, dan Barrel melanggar perintah dan justru mengirim Sinterklas ke sarang bawah tanah Oogie Boogie. Oogie Boogie menyiksa tawanannya dengan dadu dan aneka jebakan, lalu bersiap melemparkan Sinterklas ke dalam perjudian yang dipenuhi perangkat berbahaya.

Pada saat yang sama, Kota Halloween mengebut pembuatan hadiah sesuai rancangan Jack. Di dalam kotak-kotak itu ada kepala terpenggal yang bisa bergerak, mainan berkaki panjang, ular, dan berbagai benda pengagetan lain; bagi Jack, semua karya tersebut adalah bukti bahwa persiapannya sudah rampung. Untuk menggagalkan pengantaran, Sally membuat kabut tebal dengan harapan kereta luncur tidak bisa lepas landas, tetapi hidung Zero yang bercahaya menerangi jalurnya, sehingga Jack pun mengenakan pakaian merah lalu terbang bersama rusa-rusa kutub tengkorak.

Kepanikan Natal di Dunia Nyata

Jack masuk ke dunia nyata dan menjatuhkan hadiah lewat cerobong asap dari rumah ke rumah. Ia mengira jeritan anak-anak adalah tanda kejutan yang berhasil, tanpa menyadari bahwa mainan-mainan itu justru sedang mengejar dan menyerang para penerima hadiah. Para orang tua melapor ke polisi, siaran radio meminta warga mengunci pintu dan jendela, dan pihak militer mulai melacak kereta luncur di udara. Ketika Kota Halloween mendengar kabar itu dari radio, mereka mula-mula malah menganggap rentetan peristiwa mengerikan tersebut sebagai tanda bahwa Jack sukses menjalankan tugasnya.

Tembakan meriam dari darat mengenai kereta luncur, lalu Jack dan hadiah-hadiahnya jatuh ke pemakaman. Warga Kota Halloween yang mendengar Jack ditembak jatuh mengira ia sudah tewas. Jack terbangun di antara puing kereta luncurnya, mula-mula murung karena telah merusak Natal, tetapi setelah itu ia mengakui bahwa pengalaman ini juga membuatnya kembali melihat hal yang benar-benar ia kuasai. Semangatnya pulih, dan ia memutuskan kembali ke Kota Halloween untuk menyelamatkan Sinterklas agar kekacauan itu masih sempat dibereskan.

Penyelamatan di Sarang Oogie Boogie

Setelah Jack pergi, Sally mencari Sinterklas yang disekap dan menyelinap masuk ke sarang Oogie Boogie. Ia melepas salah satu kakinya dan menggerakkannya di dalam ruangan dengan tali, berusaha melepaskan Sinterklas selagi perhatian Oogie Boogie teralihkan. Jebakan di sana membongkar siasatnya, Sally ikut tertangkap, lalu ia dan Sinterklas sama-sama berakhir tergantung di atas perangkat berbahaya.


Begitu tiba, Jack mengelak dari bilah pisau dan jebakan yang dijalankan Oogie Boogie, lalu menangkap sehelai benang pada kulit luar lawannya. Ia menarik benang jahitan itu sampai tubuh karung Oogie Boogie terurai dan serangga dalam jumlah besar yang bersembunyi di dalamnya tumpah keluar; satu serangga yang tersisa pun diinjak Sinterklas sampai mati. Jack menyelamatkan Sally dan Sinterklas, lalu meminta maaf atas akibat dari tindakannya mengambil alih hari raya tanpa izin. Meski kesal, Sinterklas memastikan masih ada waktu untuk menyelamatkan Natal, lalu langsung pergi dengan kereta luncurnya.

Ending

Sinterklas bergegas ke dunia nyata, menarik kembali mainan berbahaya yang dikirim Kota Halloween, menggantinya dengan hadiah yang semestinya, dan memulihkan Natal seperti sediakala. Jack pulang dengan selamat ke Kota Halloween, dan warga merayakan keselamatannya; ia sendiri sudah melepaskan rencana menggantikan Sinterklas dan kembali menekuni garapan Halloween yang ia kuasai. Setelah itu Sinterklas melintasi Kota Halloween dengan kereta luncurnya dan membalas sambutan warga dengan menurunkan salju, sehingga para monster yang baru pertama kali melihat salju pun turun ke jalan untuk merayakannya.

Dr. Finkelstein membuat asisten baru untuk dirinya sendiri. Sally diam-diam meninggalkan kerumunan yang sedang berpesta dan menaiki bukit berbentuk bulan sabit di pemakaman. Jack menyusulnya ke bawah cahaya bulan, keduanya saling menyatakan perasaan, lalu berpelukan dan berciuman di puncak bukit itu sementara Zero melesat melintasi langit malam.