The Cabin in the Woods
Dekonstruksi total genre horor, sebuah reality show pengorbanan untuk Dewa Kuno: alur cerita lengkap film The Cabin in the Woods, tentang lima mahasiswa yang masuk ke sebuah kabin kecil di hutan tanpa menyadari bahwa mereka sedang diawasi
Judul
The Cabin in the Woods
Tahun / Durasi
2012 · 95 menit
Genre
Horor
Sutradara
Drew Goddard
Penulis
Drew Goddard / Joss Whedon
Rating
Pemeran
Kristen Connolly, Chris Hemsworth, Fran Kranz, Jesse Williams, Anna Hutchison
Film ini dibuka dengan cara yang tak terduga: dua pria paruh baya berkemeja putih dan berdasi—Gary Sitterson dan Steve Hadley—memegang cangkir kopi, mengobrol santai soal gosip rekan kerja di sebuah area kantor yang tampak biasa saja. Percakapan mereka begitu santai, sama sekali tidak terasa seperti pembuka film horor. Baru setelah kamera berpindah, kita sadar bahwa mereka sebenarnya berada di dalam sebuah fasilitas bawah tanah yang sangat besar.
Di saat yang sama, lima mahasiswa sedang berkemas, bersiap menuju sebuah kabin terpencil di hutan untuk menghabiskan akhir pekan. Ada Curt (diperankan Chris Hemsworth) si atlet dan pacarnya yang seksi dan bebas, Jules; Dana (diperankan Kristen Connolly) yang pendiam dan kalem; Holden (diperankan Jesse Williams) si kutu buku pintar; serta Marty (diperankan Fran Kranz) yang selalu teler—kombinasi karakter film horor yang klise sampai-sampai terasa terlalu klise.

Pilihan di Ruang Bawah Tanah
Setelah kelima orang tiba di kabin, semuanya tampak normal—rumah kayu tua, lokasi terpencil, tanpa sinyal ponsel. Malam harinya, pintu jebakan di ruang bawah tanah tiba-tiba terbuka sendiri. Dengan penasaran, anak-anak muda itu turun ke bawah dan menemukan sebuah gudang penuh benda-benda aneh: kotak musik kuno, bola kristal, buku harian yang sudah menguning, gaun pengantin lama, bola teka-teki…
Yang belum diketahui penonton saat itu, setiap benda yang mereka lihat berhubungan dengan satu jenis monster yang berbeda. Benda apa pun yang dipilih dan disentuh oleh kelima orang itu akan “memanggil” mimpi buruk yang sesuai. Di ruang kontrol fasilitas bawah tanah, Sitterson dan Hadley memelototi layar monitor, bahkan membuka taruhan—menebak monster mana yang akan dipilih anak-anak itu.
Dana mengambil buku harian itu dan membacakan salah satu mantra berbahasa Latin di dalamnya. Maka, nasib mereka pun terkunci: keluarga zombi Buckner.

Pembantaian yang Berjalan Sesuai Rencana
Apa yang terjadi selanjutnya tampak sepenuhnya mengikuti pakem klasik film horor. Jules dan Curt pergi bermesraan di hutan, lalu Jules dipenggal oleh zombi—dialah yang mati pertama, sesuai arketipe “pelacur”. Namun penonton lambat laun menyadari, “pakem” ini bukan kebetulan. Staf fasilitas bawah tanah terus mengendalikan semuanya dari balik layar: mereka melepaskan feromon ke saluran ventilasi agar Jules menjadi lebih genit, dan mencampur obat ke pewarna rambut Curt agar dia yang tadinya cerdas berubah jadi impulsif dan gegabah.
Setiap orang sudah diberi peran masing-masing: Jules sebagai “pelacur”, Curt sebagai “atlet”, Holden sebagai “cendekiawan”, Dana sebagai “perawan”, dan Marty sebagai “si bodoh”. Mereka pun harus mati sesuai urutan yang sudah ditentukan.
Curt mencoba kabur dengan melompati jurang naik motor, tapi menabrak dinding medan gaya yang tak terlihat dan tewas seketika, tubuhnya hancur berkeping-keping. Holden yang mengemudikan mobil membawa Dana kabur, tapi tertusuk tembus dadanya oleh tangan zombi yang menjulur dari bawah mobil, hingga mobilnya jatuh ke danau.

Kebenaran Terungkap
Sesuai skenario, Marty seharusnya sudah mati sejak lama. Namun di luar dugaan, berkat semacam ketahanan tubuh akibat ganja, dia lolos dari obat halusinogen yang dilepaskan ruang kontrol dan tetap sadar sepenuhnya. Saat zombi menyerangnya, dia bukan cuma selamat, tapi juga menemukan sebuah lorong rahasia menuju fasilitas bawah tanah.
Di luar kabin, Dana dikejar-kejar zombi dengan brutal hingga berlumuran darah. Tepat saat dia hampir terbunuh, Marty muncul dari terowongan dan menariknya masuk. Keduanya menyusuri lorong itu semakin dalam, hingga akhirnya tiba di fasilitas bawah tanah yang sangat luas.

Pertarungan Semua Monster
Di dalam fasilitas bawah tanah, Dana dan Marty menemukan pemandangan yang mengejutkan: deretan sel kaca transparan tersusun rapi, masing-masing berisi satu jenis monster yang berbeda—duyung, unicorn, ular raksasa, badut pembunuh, monster berkepala gergaji, tawon pembunuh mekanis… tempat ini benar-benar seperti museum monster film horor.
Keduanya menyadari, semua yang selama ini terjadi di film-film horor—ternyata nyata. Di seluruh dunia ada fasilitas serupa yang setiap tahun mementaskan drama yang sama. Di Jepang, sekelompok siswi sedang menghadapi hantu wanita berambut panjang. Ini bukan permainan menyimpang, melainkan ritual kuno.
Direktur fasilitas akhirnya muncul dan menjelaskan semuanya: di dalam perut bumi tertidur sosok-sosok yang disebut “Dewa Kuno”. Setiap tahun, umat manusia harus mengorbankan lima anak muda yang sesuai arketipe tertentu—pelacur, atlet, cendekiawan, si bodoh, dan perawan—agar mereka terus tertidur. Jika ritual ini gagal, Dewa Kuno akan terbangun dan memusnahkan seluruh peradaban manusia.
Direktur fasilitas memohon Dana untuk membunuh Marty demi menuntaskan ritual. Dana ragu-ragu. Tepat saat itu, Marty menemukan tuas utama yang mengontrol seluruh sel—lalu menariknya.
Semua sel terbuka bersamaan.
Ratusan bahkan ribuan monster keluar dari sel mereka, menciptakan pembantaian besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya di dalam fasilitas itu. Zombi, vampir, manusia serigala, kelelawar raksasa, badut pembunuh, monster berkepala gergaji… para staf tercabik-cabik dalam kekacauan ini. Seluruh fasilitas bawah tanah berubah menjadi neraka di bumi.

Akhir Dunia
Setelah pembantaian mereda, Dana dan Marty duduk di tengah reruntuhan fasilitas yang penuh mayat dan darah. Direktur fasilitas muncul untuk terakhir kalinya, mengacungkan pistol ke arah Marty, memohon Dana untuk menuntaskan pengorbanan. Namun salah satu zombi Buckner menyerangnya dari belakang dan menyeretnya ke dalam kegelapan.
Dana dan Marty saling berpandangan. Mereka tahu, jika ritual tidak diselesaikan, Dewa Kuno akan terbangun dan umat manusia akan musnah. Tapi mereka juga tahu, apakah dunia yang dibangun di atas pengorbanan terus-menerus anak-anak muda yang tak bersalah ini benar-benar layak diselamatkan?
Marty menyalakan sebatang rokok ganja dan menyerahkannya kepada Dana. Keduanya duduk berdampingan, menunggu kiamat tiba.
Tanah mulai bergetar hebat. Sebuah tangan raksasa muncul dari dalam bumi, menghancurkan kabin, menghancurkan segalanya. Dewa Kuno pun terbangun.