← Kembali ke beranda

Survival Family

Pemadaman listrik global memaksa satu keluarga di Tokyo bersepeda ke selatan: alur cerita lengkap Survival Family, kisah keluarga Suzuki bertahan hidup di jalan raya setelah listrik padam, terpisah, lalu berkumpul kembali, termasuk spoiler ending.

Judul

Survival Family

サバイバルファミリー

Tahun / Durasi

2016 · 117 menit

Genre

Komedi / Keluarga / Petualangan

Sutradara

Shinobu Yaguchi

Penulis

Shinobu Yaguchi

Rating

Pemeran

Fumiyo Kohinata (sebagai Yoshiyuki Suzuki), Eri Fukatsu (sebagai Mitsue Suzuki), Yuki Izumisawa (sebagai Kenji Suzuki), Wakana Aoi (sebagai Yui Suzuki), Saburô Tokitô (sebagai Toshio Saito), Yasuo Daichi (sebagai Zennichi Tanaka)

Survival Family
Di jalan kota yang lumpuh, dua orang muda bersepeda melewati barang-barang yang berserakan Keluarga Suzuki mendorong sepeda yang penuh muatan barang di atas jalan layang Empat anggota keluarga yang basah kuyup duduk memeluk barang bawaan mereka di dekat dinding beton Dua orang muda berjongkok di dekat ban kendaraan sambil memeriksa bungkusan plastik bening Kedua keluarga mengobrol di pinggir jalan sambil membawa sepeda masing-masing Empat orang mengenakan pakaian bersepeda berdiri berjajar di pinggir jalan
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Survival Family ditulis dan disutradarai oleh Shinobu Yaguchi, dengan Fumiyo Kohinata, Eri Fukatsu, Yuki Izumisawa, dan Wakana Aoi berperan sebagai empat anggota keluarga Suzuki. Film ini tayang di Jepang pada 11 Februari 2017 dengan durasi 117 menit, berawal dari pemadaman listrik global yang tidak diketahui penyebabnya, memadukan komedi keluarga, film jalanan (road movie), dan drama bertahan hidup dari bencana.

Skor yang bisa diverifikasi saat ini adalah 7,2 di IMDb (ID tt5890000), yang menunjukkan bahwa tanggapan penonton terhadap film ini secara umum positif. Bagian berikut menguraikan secara kronologis perjalanan lengkap keluarga Suzuki dari Tokyo menuju Kagoshima, sampai ke ending-nya.

Pemadaman Listrik Melumpuhkan Tokyo

Yoshiyuki Suzuki tinggal bersama istrinya Mitsue, putranya Kenji, dan putrinya Yui di sebuah apartemen di Tokyo. Yoshiyuki sibuk dengan urusan kantor, Mitsue mengurus rumah tangga, sementara kedua anaknya masing-masing tenggelam dalam ponsel dan kehidupan pribadi mereka; sehari-hari keluarga ini jarang benar-benar berbincang.

Suatu pagi, seluruh kota tiba-tiba mengalami pemadaman listrik total. Lampu dan peralatan elektronik di rumah tidak bisa digunakan, dan ponsel, mobil, transportasi umum, serta infrastruktur yang bergantung pada listrik ikut lumpuh satu demi satu. Orang-orang awalnya mengira gangguan ini akan segera diperbaiki dan tetap berangkat kerja serta sekolah seperti biasa, tetapi pemadaman terus meluas; air dan makanan di toko-toko diborong habis, dan Tokyo pun dengan cepat jatuh ke dalam kekacauan.

Di jalan kota yang lumpuh, dua orang muda bersepeda melewati barang-barang yang berserakan

Perusahaan tempat Yoshiyuki bekerja tidak bisa lagi beroperasi, dan atasannya menyuruh karyawan untuk sementara meninggalkan kota. Setelah mengetahui bahwa tidak ada tanda-tanda listrik akan pulih dalam waktu dekat, keluarga Suzuki memutuskan pergi ke pedesaan Kagoshima, tempat tinggal ayah Mitsue, dengan harapan masih ada air dan makanan di sana.

Empat Anggota Keluarga Bersepeda Meninggalkan Tokyo

Keluarga ini pertama-tama pergi ke Bandara Haneda dengan harapan bisa terbang ke selatan, tetapi ternyata sistem penerbangan juga lumpuh total. Mereka pun terpaksa membeli sepeda dan perbekalan yang bisa dibawa, lalu bersepeda menyusuri jalan raya menuju Kagoshima. Keempatnya yang terbiasa hidup di kota dengan cepat kehabisan tenaga, tetapi Yoshiyuki tetap berusaha mempertahankan sikapnya sebagai kepala keluarga.

Keluarga Suzuki mendorong sepeda yang penuh muatan barang di atas jalan layang

Di sebuah tempat istirahat di jalan raya, seseorang meminta air minum kepada mereka. Yoshiyuki, khawatir persediaan keluarganya tidak akan cukup, mengaku hanya tersisa satu botol terakhir. Malam harinya, seorang pria mencuri air mereka; Kenji mengejarnya, tetapi begitu tahu pria itu juga harus merawat istri dan bayinya, ia akhirnya tidak jadi merebut kembali air tersebut.

Jalan di depan melewati sebuah terowongan yang gelap gulita. Beberapa nenek tunanetra yang terbiasa melewati lorong tanpa penerangan itu menawarkan untuk menuntun mereka dengan imbalan makanan. Keluarga ini menerima tawaran itu dan berhasil melewati terowongan dengan selamat mengikuti para nenek tersebut; untuk pertama kalinya mereka menyadari bahwa kemampuan yang selama ini diabaikan dalam kehidupan kota justru menjadi penting di lingkungan yang baru.

Hujan Deras Menghanyutkan Perbekalan

Setelah persediaan air habis, Yoshiyuki minum air sungai yang belum diolah dan kemudian mengalami diare. Hujan deras yang dibawa topan memaksa keluarga ini berlindung di bawah jembatan, dan banjir kembali menghanyutkan pakaian serta sebagian besar perbekalan mereka. Keempatnya hanya bisa berdesakan mengenakan pakaian basah di dekat dinding beton sambil terus memikirkan cara melanjutkan perjalanan.

Empat anggota keluarga yang basah kuyup duduk memeluk barang bawaan mereka di dekat dinding beton

Saat kelaparan, mereka mencoba memakan makanan hewan peliharaan dan menjadikan cairan pengisi aki mobil sebagai air minum darurat. Setelah sepeda Kenji rusak, ia melepas sebagian casing ponselnya untuk memperbaiki roda; ponsel yang sudah tidak bisa dipakai berkomunikasi itu akhirnya berguna dengan cara lain.

Dua orang muda berjongkok di dekat ban kendaraan sambil memeriksa bungkusan plastik bening

Bertemu Keluarga Saito yang Sudah Siap Segalanya

Di jalan, keluarga Suzuki bertemu dengan keluarga Saito yang juga sedang bersepeda mengungsi. Keluarga itu sudah menguasai cara bertahan hidup di alam liar, perlengkapan mereka lengkap, mereka bisa mengenali tumbuhan di pinggir jalan yang bisa dimakan, dan juga sudah menyiapkan makanan yang diawetkan dengan cara dijemur. Kedua keluarga sempat berjalan bersama untuk sementara waktu, dan keluarga Suzuki belajar banyak cara bertahan hidup dari mereka.

Kedua keluarga mengobrol di pinggir jalan sambil membawa sepeda masing-masing

Empat orang mengenakan pakaian bersepeda berdiri berjajar di pinggir jalan

Keluarga Saito berencana menuju Nagoya, sementara keluarga Suzuki tetap bersikeras menuju Kagoshima, sehingga kedua keluarga pun berpisah. Setelah terus melanjutkan perjalanan, keluarga Suzuki tiba di sebuah akuarium di Osaka, tempat banyak orang mengantre menunggu pembagian makanan, tetapi persediaan sudah habis sebelum giliran mereka tiba.

Menangkap Babi demi Istirahat di Pedesaan

Kelaparan dan kelelahan yang berkepanjangan membuat Yoshiyuki hampir putus asa. Ia menemukan seekor babi di dekat ladang dan berhasil membunuhnya. Zennichi Tanaka, seorang warga desa setempat, datang membantu mengurus jeroan babi itu, lalu membawa keluarga Suzuki ke rumah yang ditinggalinya bersama istrinya.

Sekeluarga duduk di rerumputan dalam pagar bersama beberapa ekor babi

Keluarga Tanaka menyimpan daging asap dan makanan lain, tetapi tidak bersedia menjamu tamu tanpa syarat. Keluarga Suzuki setuju untuk tinggal dan bekerja, menukar tenaga seperti menebang kayu dan mengurus pekerjaan pertanian dengan tempat tinggal dan makanan. Mitsue mengangkut kayu bakar, sementara yang lain juga perlahan-lahan terbiasa hidup tanpa bergantung pada peralatan listrik.

Seorang wanita berdiri di depan tumpukan kayu sambil memeluk kayu bakar

Keluarga Suzuki makan bersama dua orang tua di sekeliling meja pendek

Seminggu kemudian, mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan membawa makanan pemberian keluarga Tanaka. Kehidupan pedesaan yang singkat itu memulihkan tenaga keluarga ini, dan juga membuat keempatnya mulai berbagi pekerjaan nyata, alih-alih hanya menunggu keputusan dari Yoshiyuki.

Sang Ayah Terseret Arus Saat Menyeberangi Sungai

Jalan terputus di depan sebuah sungai yang tidak memiliki jembatan. Keluarga Suzuki mengikat rakit dari bahan-bahan yang bisa mereka temukan, meletakkan sepeda dan barang bawaan di atasnya, lalu mencoba menyeberang bersama-sama. Di tengah perjalanan, hujan deras turun lagi dan arus dengan cepat menjadi deras; rakit itu pun berantakan, dan Yoshiyuki bersama sepedanya terseret banjir.

Keempat anggota keluarga berpegangan pada rakit yang sudah berantakan sambil hanyut di sungai

Mitsue, Kenji, dan Yui tidak berhasil menemukan Yoshiyuki dan terpaksa menganggapnya sudah tewas. Ketiganya lalu berjalan kaki menyusuri rel kereta, sementara pergelangan kaki Mitsue kembali cedera. Bau daging asap menarik sekawanan anjing yang mengepung mereka bertiga; tepat saat anjing-anjing itu semakin mendekat, suara peluit lokomotif uap membuat kawanan anjing itu lari ketakutan. Orang-orang di dalam kereta menolong ketiganya, dan dokter kereta merawat luka Mitsue.

Ending

Yoshiyuki ternyata selamat dari banjir. Ia berjalan sendirian hingga tiba di sebuah sawah, dan ketika melihat kereta uap datang dari kejauhan, ia menyalakan suar untuk meminta pertolongan. Kereta itu berhenti, dan akhirnya keempat anggota keluarga bisa berkumpul kembali, lalu bersama-sama tiba di Kagoshima untuk berkumpul dengan ayah Mitsue.

Kereta uap mengeluarkan asap tebal saat melintasi pegunungan

Pemadaman listrik berlangsung lebih dari dua tahun. Suatu pagi, alarm dan musik di seluruh kota tiba-tiba berbunyi kembali — listrik akhirnya pulih. Keluarga Suzuki mendengar suara peralatan elektronik yang sudah lama tidak terdengar, lalu bersama-sama menatap ke luar jendela; bencana panjang ini pun berakhir.

Empat anggota keluarga mendongak menatap ke luar jendela di dalam ruangan yang remang-remang

Keluarga ini kemudian kembali ke Tokyo. Berita televisi menduga pemadaman listrik global ini mungkin berkaitan dengan flare matahari besar-besaran atau komet yang mendekat secara tidak wajar, tetapi karena data terkait tidak tersimpan, penyebab sebenarnya tidak pernah dipastikan. Setelah melalui perjalanan panjang ini, hubungan keluarga mereka sudah berbeda dari sebelum keberangkatan.

Di akhir film, keluarga Suzuki menerima foto kiriman dari keluarga Saito. Foto itu merekam momen ketika kedua keluarga bertemu di jalan raya, sekaligus menjadi bukti yang bisa disimpan dari perjalanan bertahan hidup bersama ini.

Sepasang tangan memegang foto bersama keluarga Suzuki yang diambil selama perjalanan