Society of the Snow
72 hari di Pegunungan Andes: alur cerita lengkap film Society of the Snow, kisah bertahan hidup tim rugbi Uruguay setelah pesawat mereka jatuh di Pegunungan Andes tahun 1972, termasuk bagaimana mereka mengambil keputusan tersulit dalam situasi ekstrem kemanusiaan.
Judul
Society of the Snow
Society Of The Snow
Tahun / Durasi
2023 · 144 menit
Genre
Drama / Sejarah / Thriller / Petualangan
Sutradara
J.A. Bayona
Penulis
J.A. Bayona / Belén Atienza / Jaime Marques
Rating
Pemeran
Enzo Vogrincic, Agustín Pardella, Matías Recalt, Esteban Bigliardi
Karya asli
La sociedad de la nieve karya Pablo Vierci
Penghargaan
Academy Awards ke-96: nominasi Film Internasional Terbaik; Goya Awards ke-38: 12 penghargaan termasuk Film Terbaik dan Sutradara Terbaik; Golden Globe Awards ke-81: nominasi Film Berbahasa Asing Terbaik
Penerbangan 571
Pada 13 Oktober 1972, Penerbangan Angkatan Udara Uruguay 571 lepas landas dari Montevideo membawa 45 penumpang tim rugbi “Old Christians” menuju Santiago, Chili. Di dalam pesawat ada sekelompok anak muda berusia awal dua puluhan — para pemain, pelatih, keluarga, dan teman mereka — yang penuh semangat bersiap untuk bertanding persahabatan.
Saat melintasi Pegunungan Andes, pilot salah memperkirakan posisi pesawat karena tertutup awan tebal dan mulai turun terlalu cepat. Sayap kanan pesawat menghantam punggung gunung dan robek. Badan pesawat patah menjadi dua bagian — bagian depan meluncur ratusan meter di lereng salju yang curam sebelum akhirnya berhenti. Bagian belakang badan pesawat beserta ekornya, bersama sebagian penumpang, lenyap ke dalam jurang di belakang mereka.
Beberapa orang tewas seketika saat benturan. Para penyintas merangkak keluar dari puing-puing dan mendapati diri mereka berada di gletser pada ketinggian lebih dari 3.600 meter, dikelilingi puncak-puncak gunung bersalju tanpa batas, tanpa jejak kehidupan manusia sama sekali.

Menunggu Penyelamatan
Pada hari-hari pertama, para penyintas yakin tim penyelamat akan segera menemukan mereka. Mereka membangun tempat berlindung sementara dari puing-puing badan pesawat, menempatkan yang terluka di kursi-kursi pesawat, dan membagi rata sedikit makanan yang tersisa — beberapa batang cokelat, sedikit camilan, dan minuman beralkohol.
Namun lingkungan ekstrem di ketinggian itu segera menunjukkan kekejamannya. Suhu malam turun hingga di bawah minus tiga puluh derajat Celsius, tanpa perlengkapan penghangat apa pun. Luka-luka para korban memburuk dan terinfeksi akibat udara dingin. Seorang mahasiswa kedokteran, Roberto Canessa, berusaha merawat yang terluka dengan pengetahuan terbatas yang dia miliki, tetapi kondisinya terlalu buruk.
Pada hari ke-11, salah satu penyintas mendengar sebuah berita dari radio kecil yang berhasil diselamatkan dari puing pesawat: operasi pencarian telah dihentikan. Pihak berwenang menganggap mustahil ada yang bisa bertahan hidup dalam kondisi seperti itu, dan seluruh penumpang dinyatakan tewas.
Kabar itu bagaikan pukulan telak. Mereka telah ditinggalkan oleh dunia.

Keputusan yang Mustahil
Persediaan makanan habis dalam minggu pertama. Tidak ada hewan maupun tumbuhan yang bisa dimakan di gletser pada ketinggian itu. Para penyintas mulai dilanda kelaparan.
Film ini menampilkan dilema ekstrem kemanusiaan yang mereka hadapi melalui sudut pandang sang narator, Numa Turcatti. Setelah diskusi yang menyakitkan, para penyintas mengambil keputusan yang mengubah segalanya — memakan jasad rekan-rekan mereka yang telah meninggal.
Keputusan ini digambarkan dengan sangat hati-hati dan penuh penghormatan dalam film. Tidak ada eksploitasi sensasional, tidak ada penggambaran horor yang berlebihan. Setiap orang bergulat keras antara keyakinan dan naluri bertahan hidup. Sebagian awalnya menolak untuk makan, tetapi seiring kelaparan yang semakin parah, hampir semua orang menerima kenyataan itu. Mereka memaknainya sebagai semacam “komuni suci” — rekan yang telah tiada melanjutkan hidup yang masih hidup melalui tubuh mereka sendiri.
Pada hari ke-17, longsoran salju menerjang puing pesawat pada malam hari dan merenggut delapan nyawa lagi. Para penyintas terkubur di bawah salju dan butuh waktu berjam-jam untuk menggali diri mereka keluar.

Menembus Pegunungan
Dua bulan telah berlalu. Para penyintas yang tersisa semakin lemah, tetapi satu hal semakin jelas bagi mereka: tidak akan ada yang datang menyelamatkan. Jika mereka ingin keluar hidup-hidup, mereka harus melintasi Pegunungan Andes sendiri untuk mencari bantuan di sisi Chili.
Tiga pemuda dengan kondisi fisik yang relatif masih kuat — Nando Parrado, Roberto Canessa, dan Antonio Vizintín — secara sukarela mengambil tugas yang hampir seperti bunuh diri ini. Dengan pakaian seadanya dan membawa bekal dari jasad rekan yang telah meninggal, mereka mulai mendaki pegunungan bersalju yang tingginya lebih dari empat ribu meter.
Vizintín kehabisan tenaga di tengah perjalanan dan dikirim kembali. Parrado dan Canessa, tanpa perlengkapan pendakian apa pun, membutuhkan waktu sepuluh hari penuh untuk melintasi punggungan utama Pegunungan Andes. Ketika akhirnya mereka melihat lembah hijau di sisi lain gunung, keduanya jatuh berlutut di tanah sambil menangis.

Penyelamatan
Parrado dan Canessa bertemu seorang penggembala di sisi Chili. Mereka nyaris tidak bisa berbicara — tenggorokan mereka nyaris tak bersuara akibat dehidrasi dan udara dingin — sehingga Parrado menuliskan permintaan tolong di secarik kertas. Sang penggembala menunggang kuda untuk mengantarkan pesan itu ke kota terdekat.
Pada 22 Desember 1972 — hari ke-72 sejak kecelakaan — helikopter Angkatan Udara Chili tiba di lokasi jatuhnya pesawat. Sang pilot melihat sekelompok pemuda kurus kering berjanggut lebat berdiri di atas salju, melambai-lambai dengan panik ke arah helikopter.
Dari 45 penumpang, akhirnya 16 orang berhasil selamat.
Narator film ini, Numa Turcatti, tidak sempat hidup hingga hari penyelamatan. Dia meninggal pada tahap akhir akibat lukanya yang memburuk, tetapi suaranya menggema sepanjang film — dia berkata, mereka yang tidak berhasil keluar dari Andes bukanlah orang-orang yang gagal. Dengan nyawa mereka sendiri, mereka mewujudkan sebuah kisah tentang kehendak manusia, keyakinan, dan pengorbanan.
