← Kembali ke beranda

Ponyo

Seekor ikan mas kecil yang diam-diam berenang ke darat jatuh cinta pada bocah laki-laki berusia lima tahun: ulasan lengkap alur cerita film animasi Ponyo karya Hayao Miyazaki, tentang tsunami yang dipanggil oleh keinginan keras kepala seorang gadis kecil hingga menenggelamkan kota pesisir, sekaligus menuntaskan surat cinta paling lembut dalam sebuah dongeng

Judul

Ponyo

崖の上のポニョ

Tahun / Durasi

2008 · 101 menit

Genre

Animasi / Fantasi / Petualangan

Sutradara

Hayao Miyazaki

Penulis

Hayao Miyazaki

Rating

Pemeran

Yuria Nara, Hiroki Doi, Tomoko Yamaguchi, Kazushige Nagashima, Yûki Amami

Penghargaan

Japan Academy Film Prize ke-32 untuk Animasi Terbaik; nominasi Kompetisi Utama Festival Film Venesia ke-66

Ponyo
Adegan Ponyo Adegan Ponyo Adegan Ponyo Adegan Ponyo Adegan Ponyo
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Kisah ini terjadi di sebuah kota pesisir kecil di Laut Pedalaman Seto, Jepang. Sōsuke, bocah laki-laki berusia lima tahun, tinggal bersama ibunya, Risa, di sebuah rumah kecil yang dibangun di tepi tebing, sementara ayahnya, Kōichi, adalah kapten kapal dagang yang hampir sepanjang tahun berada di laut dan hanya bisa mengabari keluarganya dari jauh lewat lampu sinyal kapal. Film ini dimulai dari pagi yang biasa saja di tepi laut seperti ini.

Ikan Mas Kecil dalam Toples Kaca

Saat Sōsuke turun ke pantai bersama ibunya, dia menemukan sebuah toples kaca yang terjerat sampah mengapung di air laut, dan di dalamnya ada seekor ikan mas kecil yang terjebak. Sōsuke memecahkan toples itu untuk menyelamatkan ikan mas tersebut — rambutnya merah menyala, wajahnya bulat, dan tatapannya kepada Sōsuke penuh rasa ingin tahu. Sōsuke memasukkannya ke dalam ember plastik kecil berwarna hijau, membawanya pulang untuk dipelihara, dan memberinya nama — Ponyo.

Adegan Ponyo

Sebenarnya Ponyo bukan ikan mas biasa. Nama aslinya adalah Brunhilde, dan ayahnya, Fujimoto, dulunya adalah seorang penyihir manusia yang memilih meninggalkan daratan karena muak melihat manusia merusak laut. Dia menikah dengan dewi laut, Granmamare, di dasar laut, dan bersama-sama mereka memiliki Ponyo serta puluhan adik perempuannya. Ponyo terjebak di dalam toples itu saat diam-diam kabur dari dasar laut untuk bermain sambil menunggangi ubur-ubur.

Pertama Kali Mengecap Darah, Pertama Kali Mengucapkan “Suka”

Sōsuke membawa Ponyo ke taman kanak-kanak dan ke Rumah Bunga Matahari (panti jompo tempat Risa bekerja). Ponyo bersembunyi di dalam ember plastiknya dari pandangan para nenek di sana, dan untuk pertama kalinya melihat roti, ham, dan susu kedelai dari dunia manusia. Di tengah jalan, jari Sōsuke terluka tergores papan kayu yang patah, dan Ponyo dengan sigap menjilat tetesan darah itu — gerakan spontan ini membangunkan darah sihir yang tertidur di dalam tubuhnya: dia mulai bisa menumbuhkan tangan, menumbuhkan kaki, bahkan menirukan bahasa manusia dan memanggilnya, “Sōsuke!”

Sementara itu, Fujimoto yang sudah menyadari putrinya menghilang, mengerahkan arus laut dan pasukan ubur-ubur untuk mencarinya kembali. Dengan sihirnya, dia membawa Ponyo kembali ke dasar laut dan mengurungnya di dalam gelembung kristal. Di dalam gelembung itu Ponyo berkata pada ayahnya, “Aku suka Sōsuke, aku mau jadi manusia!” Dengan sedih Fujimoto memberitahunya, “Manusia adalah makhluk yang mencemari laut, kamu tidak boleh pergi.”

Mencuri Air Kehidupan

Ponyo tidak menyerah. Dia mengajak puluhan adik perempuannya membantu mencuri “Air Kehidupan” yang sudah disimpan ayahnya bertahun-tahun dari ruang penyimpanan rahasia — itu adalah kumpulan seluruh sihir Fujimoto seumur hidupnya, senjata pamungkas yang awalnya direncanakan Fujimoto untuk “memurnikan laut yang dicemari manusia”. Ponyo menuangkan seluruh Air Kehidupan itu ke laut, dan seketika wajah lautan berubah total: permukaan air naik drastis, ikan-ikan raksasa purba dari zaman Devon yang tertidur di dasar laut bangkit kembali, dan tsunami menerjang ke arah tebing rumah Sōsuke.

Ponyo sendiri juga berubah sepenuhnya menjadi sosok manusia di tengah gelombang sihir yang tak terkendali itu — mengenakan gaun merah, berambut merah acak-acakan, dan bertelanjang kaki — dia berlari menginjak punggung ikan-ikan raksasa yang datang bergelombang, mengejar jalan pulang Sōsuke menuju garis pantai.

Adegan Ponyo

Malam Tsunami: Reuni Keluarga

Kota kecil itu tenggelam oleh air laut hingga hanya menyisakan beberapa rumah di atas tebing yang masih terlihat di permukaan air. Risa mengendarai mobil pulang di tengah badai, dan melihat Sōsuke bersama seorang gadis kecil berambut merah yang berlari sambil melambaikan tangan dari bawah tebing — Ponyo. Ponyo langsung memeluk Sōsuke erat-erat, “Sōsuke! Ponyo sudah jadi manusia!”

Risa membawa kedua anak itu masuk ke rumah, merebus air panas, dan memasak dua mangkuk ramen dengan telur goreng dan ham. Untuk pertama kalinya Ponyo makan makanan manusia, dengan rasa penasaran dan riang gembira dia menghabiskan semangkuk penuh ramen suap demi suap.

Adegan Ponyo

Namun, semuanya belum berakhir. Risa harus kembali ke “Rumah Bunga Matahari” di kaki bukit untuk memeriksa para nenek yang masih terjebak di panti jompo itu. Dia berpesan pada kedua anak itu untuk menunggu di rumah, lalu mengemudikan mobilnya menerjang air laut menuju kota.

Petualangan Berperahu di Bawah Air

Risa tidak kunjung kembali. Setelah menunggu lama di rumah, Sōsuke dan Ponyo memutuskan untuk berangkat sendiri mencari ibunya. Dengan sisa sihir terakhirnya, Ponyo mengubah kapal layar mainan Sōsuke menjadi perahu sungguhan yang bisa berlayar, dan keduanya mendayung menyusuri jalanan yang tergenang air laut menuju kaki bukit.

Sepanjang perjalanan mereka melihat kotak pos, tiang listrik, lampu lalu lintas, dan atap bus yang terendam air laut, sementara bayangan ikan-ikan raksasa zaman Devon masih berenang di bawah permukaan air. Mereka bertemu sepasang suami istri muda yang membawa bayi — keluarga itu juga sedang mengungsi, dan Ponyo menggunakan sihirnya untuk menghangatkan sebotol teh dingin lalu memberikannya kepada bayi yang digendong sang ibu.

Adegan Ponyo

Semakin jauh mereka menuju kaki bukit, sihir Ponyo semakin melemah — dari gadis manusia yang lincah berlari, dia perlahan berubah kembali menjadi sosok setengah ikan setengah manusia, lalu akhirnya tertidur lelap. Sōsuke menggendongnya dan terus berjalan sendirian menuju terowongan yang terendam air di kaki bukit.

Rumah Bunga Matahari: Tempat Berlindung Rahasia di Dasar Laut

Sōsuke melewati terowongan gelap dan tiba di Rumah Bunga Matahari. Tempat itu sudah sepenuhnya terendam air laut, tetapi anehnya — seluruh bangunan itu dilindungi oleh gelembung raksasa transparan yang tidak bisa dimasuki air. Di dalam gelembung itu cahaya terasa lembut, bunga-bunga bermekaran, dan semua nenek di sana kembali gesit seperti masa muda mereka, sementara Risa juga ada bersama mereka. Ibu Ponyo — dewi laut Granmamare — melindungi Rumah Bunga Matahari di dalam gelembung sihir itu justru untuk menunggu kedatangan Sōsuke.

Fujimoto juga ada di sana. Dewi laut Granmamare muncul di hadapan semua orang dan dengan lembut bertanya kepada Risa, “Jika anak itu (Ponyo) menjadi manusia sungguhan, apakah Sōsuke akan tetap mencintainya selamanya?” Risa menjawab, “Anakku, Sōsuke, bisa membedakannya — meskipun Ponyo berubah kembali menjadi ikan mas atau menjadi air laut sekalipun, dia pasti akan tetap mengenalinya.”

Maka Granmamare pun membuat keputusan: jika Sōsuke tetap mengatakan “aku suka dia” saat melihat Ponyo yang sudah kembali menjadi ikan mas, Ponyo bisa selamanya menjadi manusia; tetapi jika Sōsuke tidak mengenalinya, Ponyo akan berubah menjadi buih di lautan dan tidak akan pernah bisa kembali.

Jawaban Terakhir

Sōsuke berdiri di atas permukaan air di luar gelembung itu, dan Granmamare meletakkan Ponyo yang tertidur lelap dalam wujud ikan mas ke telapak tangannya. Sōsuke menatap ikan mas kecil yang sudah kembali ke wujud aslinya itu di telapak tangannya, dan teringat pada pagi di tepi tebing, cahaya di dalam ember plastik, semangkuk ramen yang mengepul, dan setetes darahnya yang dulu dijilat Ponyo.

Adegan Ponyo

Tanpa ragu dia menjawab, “Aku suka Ponyo yang berwujud ikan mas, dan aku juga suka Ponyo yang menjadi manusia, aku suka keduanya.”

Granmamare tersenyum. Dia mengubah Ponyo kembali menjadi wujud manusia, dan dengan satu ciuman lembut, bibir Sōsuke dan Ponyo bersentuhan — air laut yang meluap perlahan surut, matahari terbit kembali, semua kapal yang terjebak muncul kembali dengan selamat dari dasar laut, dan kota kecil yang tenggelam semalaman itu pulih seperti sedia kala. Sejak saat itu, Ponyo menjadi seorang gadis kecil manusia sungguhan dan tinggal di rumah di atas tebing itu.

Ending: Dongeng yang Paling Lembut

Ponyo adalah karya Hayao Miyazaki tahun 2008. Dari seekor ikan mas kecil yang diam-diam berenang ke darat hingga tsunami yang nyaris menghancurkan seluruh kota kecil, sepanjang 101 menit film ini hampir tidak punya tokoh antagonis, juga tidak ada pertarungan yang menegangkan. Film ini bercerita tentang apakah seorang anak berusia lima tahun bisa mengucapkan rasa sukanya, apakah seorang ibu bisa memercayai penilaian anaknya, dan apakah sepasang orang tua yang berbeda pendapat (Fujimoto dan Granmamare) bisa menemukan jalan keluar untuk sikap keras kepala anak mereka.

Hal paling menyentuh dari film ini adalah keyakinannya yang tanpa keraguan pada “janji masa kecil” — ucapan “aku suka kamu” dari seorang bocah lima tahun sudah cukup menjadi janji yang bisa memulihkan dunia dari bencana. Dibandingkan karya-karya Miyazaki yang lebih berat di masa berikutnya, Ponyo menggunakan gaya gambar tangan seperti lukisan cat air, tanpa metafora politik yang rumit, tanpa pertanyaan tentang perang, dan hanya dengan satu tanya-jawab paling sederhana berhasil menceritakan sebuah musim panas penuh di tepi laut. Bertahun-tahun kemudian jika dikenang kembali, mungkin inilah karya Miyazaki yang paling berharga.