← Kembali ke beranda

On the Occasion of Remembering the Turning Gate

Aktor yang tengah terpuruk, Gyung-soo, meninggalkan Seoul dan terlibat dalam dua hubungan berturut-turut di Chuncheon dan Gyeongju, mengulang pola egois dan kehilangan yang sama, baik saat dicintai maupun saat mengejar orang lain.

Judul

On the Occasion of Remembering the Turning Gate

생활의 발견

Tahun / Durasi

2002 · 115 menit

Genre

Drama / Romantis

Sutradara

Hong Sang-soo

Penulis

Hong Sang-soo

Rating

Pemeran

Kim Sang-kyung (sebagai Gyung-soo), Choo Sang-mi (sebagai Seon-young), Ye Ji-won (sebagai Myung-sook), Kim Hak-sun (sebagai Seong-woo), Ahn Kil-kang (sebagai sutradara film)

Penghargaan

Asia-Pacific Film Festival ke-47: Sutradara Terbaik (Hong Sang-soo); Chunsa Film Art Awards ke-10: Aktris Pendukung Terbaik (Ye Ji-won), Aktor Pendatang Baru Terbaik (Kim Sang-kyung)

On the Occasion of Remembering the Turning Gate
Gyung-soo berdiri di depan bangunan stasiun sambil menunduk merapikan pakaiannya Gyung-soo dan seorang perempuan yang menemaninya duduk mengenakan jaket pelampung di atas perahu wisata Myung-sook menari di ruang latihan tari, sementara Gyung-soo dan Seong-woo duduk menonton di belakangnya Myung-sook dan Gyung-soo berbincang di seberang meja makan yang dipenuhi botol arak dan hidangan Myung-sook dan Gyung-soo berbaring di sisi ranjang yang berlawanan, saling menatap Seon-young dan Gyung-soo duduk berdampingan di dalam gerbong kereta
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

On the Occasion of Remembering the Turning Gate adalah film drama Korea Selatan tahun 2002 yang ditulis dan disutradarai oleh Hong Sang-soo, dibintangi oleh Kim Sang-kyung, Choo Sang-mi, Ye Ji-won, dan Kim Hak-sun, tayang di Korea Selatan pada 22 Maret 2002 dengan durasi 115 menit. Film ini merangkai enam malam tujuh hari lewat dua hubungan di Chuncheon dan Gyeongju: pria yang sama lebih dulu melarikan diri dari orang yang mencintainya dengan sepenuh hati, lalu dengan cara yang nyaris sama justru mengejar orang lain. Berdasarkan data yang dihimpun kali ini, film ini mendapat skor 7,3 di IMDb; para kritikus umumnya memuji pengamatan dingin film ini terhadap hasrat, peniruan, dan hubungan yang saling tumpang tindih, serta humor yang canggung namun tajam dalam dialog sehari-harinya.

Aktor yang Terpuruk Pergi ke Chuncheon

Gyung-soo adalah aktor yang cukup dikenal di panggung. Ia bermain dalam film baru sutradara yang dikenalnya, tetapi film itu gagal di box office, dan proyek berikutnya yang semula ia harapkan pun sudah tidak lagi menyertakan namanya. Gyung-soo tetap bersikeras meminta sisa honor yang telah disepakati; sang sutradara balik mengkritiknya karena hanya memikirkan diri sendiri, dan mengingatkannya bahwa meski sulit menjadi orang yang sempurna, ia jangan sampai hidup sebagai “monster” yang menyakiti orang lain. Kalimat ini kelak terus diulang-ulang oleh Gyung-soo, tanpa benar-benar mengubah perilakunya.

Tepat saat Gyung-soo tidak punya kesibukan, Seong-woo, kenalan lamanya, meneleponnya dan mengajaknya tinggal sebentar di Chuncheon. Gyung-soo pun meninggalkan Seoul dan menumpang di rumah kerabat yang sedang ditinggali Seong-woo. Malam pertama setelah keduanya bertemu kembali dihabiskan di meja minum; Seong-woo bercerita tentang menulis dan kehidupannya, sementara Gyung-soo masih terbawa rasa kesal karena kariernya yang tersendat.

Gyung-soo berdiri di depan bangunan stasiun sambil menunduk merapikan pakaiannya

Legenda Turning Gate dan Kemunculan Myung-sook

Keesokan harinya, Seong-woo mengajak Gyung-soo naik perahu mengelilingi danau. Ia menceritakan legenda tentang gerbang berputar di Cheongpyeongsa: seorang pria berstatus rendah jatuh cinta pada seorang putri, dibunuh, lalu berubah menjadi ular yang melilit sang putri; setelah sang putri masuk ke gerbang kuil, ular itu tertahan di luar pintu oleh hujan lebat dan petir, dan akhirnya pergi. Keduanya mendengarkan cerita itu sampai selesai, tetapi tidak benar-benar mendatangi gerbang berputar itu.

Gyung-soo dan seorang perempuan yang menemaninya duduk mengenakan jaket pelampung di atas perahu wisata

Setibanya kembali di darat, Seong-woo mengenalkan Gyung-soo kepada Myung-sook. Myung-sook adalah seorang penari, sekaligus penggemar Gyung-soo. Di hadapan keduanya, ia menampilkan tarian dengan berbagai gaya secara berturut-turut, tanpa menyembunyikan ketertarikannya pada Gyung-soo. Gyung-soo pada awalnya hanya tertarik pada semangatnya, tanpa menyadari bahwa Seong-woo pun menyimpan perasaan yang sama terhadap Myung-sook.

Myung-sook menari di ruang latihan tari, sementara Gyung-soo dan Seong-woo duduk menonton di belakangnya

Ungkapan Cinta Myung-sook dan Keretakan dengan Seong-woo

Saat ketiganya minum bersama, Myung-sook memanfaatkan momen ketika Seong-woo meninggalkan meja untuk langsung mengungkapkan perasaannya kepada Gyung-soo. Gyung-soo menerima kedekatan itu, dan hubungan keduanya dengan cepat melewati batas pertemanan biasa. Seong-woo yang menyadarinya merasa sangat terluka; Gyung-soo baru saat itu sadar apa yang telah ia lakukan di depan temannya sendiri, tetapi tidak segera menghentikannya.

Myung-sook dan Gyung-soo berbincang di seberang meja makan yang dipenuhi botol arak dan hidangan

Malam itu, Gyung-soo dan Myung-sook berhubungan intim. Myung-sook berharap Gyung-soo memberi kepastian atas perasaannya, tetapi Gyung-soo enggan membuat komitmen apa pun. Keesokan harinya, Myung-sook masih berusaha menahannya, dan Gyung-soo justru merasa ia terlalu mendesak. Ia mengutip kembali kalimat yang pernah dipakai sang sutradara untuk mengkritiknya, menyampaikannya kepada Myung-sook, lalu meninggalkan Chuncheon. Seong-woo dan Myung-sook sama-sama ditinggalkannya, sementara Gyung-soo menganggap semua ini sekadar masalah yang merepotkan, dan naik kereta seorang diri.

Myung-sook dan Gyung-soo berbaring di sisi ranjang yang berlawanan, saling menatap

Seon-young di Dalam Kereta

Di dalam kereta menuju selatan, Gyung-soo bertemu Seon-young. Seon-young mengenalinya, mengaku pernah menonton pertunjukan panggungnya, dan mengatakan mereka berdua sepertinya pernah bertemu bertahun-tahun lalu; namun Gyung-soo sama sekali tidak mengingat hal itu. Setibanya kereta di Gyeongju, Seon-young turun dan berhenti sejenak di peron; Gyung-soo yang tertarik pada sikapnya yang antara dekat dan menjauh itu pun ikut turun.

Seon-young dan Gyung-soo duduk berdampingan di dalam gerbong kereta

Gyung-soo membuntuti Seon-young hingga menemukan rumahnya, dan keesokan harinya muncul lagi di depan pintu. Keluarga Seon-young sangat waspada terhadap pria asing ini, tetapi Gyung-soo tetap berhasil mendapatkan nomor teleponnya. Berbeda dengan di Chuncheon, kali ini Gyung-soo lah yang aktif mendekati, menunggu, dan mencari kesempatan bertemu; sementara Seon-young tidak pernah benar-benar mengungkapkan isi hatinya secara utuh.

Seon-young berdiri di peron stasiun berbicara dengan Gyung-soo

Hubungan Terlarang di Gyeongju

Seon-young memberi tahu Gyung-soo bahwa dirinya sudah menikah, dan suaminya seorang profesor universitas. Gyung-soo tidak mundur; keduanya tetap bertemu di penginapan dan berhubungan intim. Seon-young kembali menyinggung pertemuan mereka di masa lalu; Gyung-soo, meski masih belum mengingatnya dengan jelas, menjadikan rasa familier itu sebagai bukti bahwa mereka berdua seharusnya bersama. Ia mengucapkan kepada Seon-young janji yang dulu enggan ia ucapkan kepada Myung-sook, dan mulai memintanya meninggalkan suaminya.

Seon-young dan Gyung-soo yang mengenakan atasan merah berjalan berdampingan menyusuri jalan pasar

Seon-young dan Gyung-soo duduk berhadapan sambil mengobrol di sebuah restoran

Saat Gyung-soo berkeliaran di sekitar rumah Seon-young, ia sempat berpapasan langsung dengan suami Seon-young, dan hanya bisa buru-buru mencari alasan untuk kabur. Bahaya itu tidak membuatnya berhenti. Keduanya terus bertemu diam-diam, dan Gyung-soo semakin mendesak; dulu ia jengkel ketika Myung-sook menuntut kepastian cinta, kini ia justru memberikan tekanan yang sama kepada Seon-young.

Seon-young, Gyung-soo, dan seorang perempuan yang lebih tua duduk mengelilingi meja rendah di halaman

Janji untuk Kabur Bersama

Gyung-soo dan Seon-young pergi menemui peramal. Sang peramal menilai keduanya tidak cocok, dan justru mengatakan bahwa Seon-young dan suaminya akan memiliki nasib baik dalam beberapa tahun ke depan. Gyung-soo menolak menerima penghalang ini, dan mendesak Seon-young untuk pergi bersamanya. Seon-young menyanggupi secara lisan, mengatakan ia akan pulang dulu untuk mengambil uang, dan meminta Gyung-soo menunggunya di luar.

Di tengah malam, Seon-young dan Gyung-soo berdiri di pinggir jalan sambil menjaga jarak saat berbicara

Gyung-soo menunggu di tempat yang telah disepakati; waktu terus berlalu, tetapi Seon-young tak kunjung muncul. Dari yang semula penuh harap, ia berubah gelisah, hingga akhirnya melangkah ke depan pintu rumah Seon-young. Pada titik ini, ia telah berdiri di posisi yang dulu ditempati Myung-sook: sadar betul bahwa orang itu tidak pernah memberi kepastian, namun tetap ingin menukar kejaran tanpa henti dengan sebuah hubungan.

Ending

Langit tiba-tiba berubah, hujan deras dan petir jatuh di lorong-lorong. Gyung-soo berdiri kehujanan menjaga pintu rumah Seon-young yang tertutup rapat, tetapi ia tak pernah melihatnya keluar. Pintu di hadapannya, badai petir, dan sosok pengejar yang tertahan di luar pintu itu bergema dengan legenda gerbang berputar yang pernah diceritakan Seong-woo; film ini hanya menampilkan Gyung-soo yang tertahan di luar pintu, memastikan bahwa janji itu tidak terpenuhi, tanpa memberi Seon-young kesempatan untuk muncul dan menjelaskan.

Gyung-soo berdiri sendirian di jalan setapak yang diguyur hujan

Gyung-soo akhirnya berbalik dan pergi. Di Chuncheon, ia menolak perasaan Myung-sook yang terus mengejarnya tanpa henti; sampai di Gyeongju, ia justru mengulang sikap Myung-sook, menjadi orang yang tertahan oleh pintu yang lain. Kisah ini tidak memberinya arah baru bagi karier maupun hubungan asmaranya; kegagalan kali ini hanya mendorong kembali ke hadapannya nasihat hidup yang selama ini terus ia tiru dan ucapkan ulang, tetapi tidak pernah benar-benar ia pahami.