← Kembali ke beranda

Life in a Day 2020

Kumpulan rekaman kehidupan sehari-hari dari 192 negara di seluruh dunia: alur cerita film dokumenter kolaboratif Life in a Day 2020 karya Kevin Macdonald, mulai dari asal-usul proyeknya, struktur babnya, hingga sosok-sosok yang tampil di dalamnya.

Judul

Life in a Day 2020

Tahun / Durasi

2021 · 86 menit

Genre

Dokumenter

Sutradara

Kevin Macdonald

Penulis

Kevin Macdonald

Rating

Pemeran

Kontributor dari seluruh dunia (sekitar 324.000 video)

Life in a Day 2020
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Life in a Day 2020 adalah kelanjutan dari dokumenter dengan judul serupa, Life in a Day, yang tayang pada 2011. Film ini disutradarai oleh Kevin Macdonald, dengan Ridley Scott sebagai produser eksekutif, dan diproduksi oleh YouTube Originals. Seluruh filmnya disunting dari rekaman yang diambil sendiri oleh pengguna YouTube di seluruh dunia pada hari yang sama.

Film ini tayang perdana di Sundance Film Festival pada 1 Februari 2021, lalu dirilis gratis secara serentak di seluruh dunia lewat YouTube pada 6 Februari. Durasinya 86 menit. Skor IMDb 7,2, Rotten Tomatoes 70%, Metacritic 54. Tanggapan media secara umum positif: Chicago Sun-Times menyebutnya “sepenuhnya bisa ditebak tapi tetap efektif tanpa diragukan”; San Francisco Chronicle menyamakannya dengan “catatan antropologis tentang planet kita pada satu momen tertentu”; sementara Peter Bradshaw dari The Guardian mengkritik film ini karena minim konteks, seperti video promosi perusahaan.

Tim inti proyek ini terdiri dari 1 sutradara, 3 editor, dan sekitar 50 koordinator yang tersebar di berbagai negara, yang mengolah sekitar 324.000 video dari 192 negara di seluruh dunia dengan total durasi hampir 15.000 jam rekaman.

Ajakan YouTube untuk 25 Juli

Pada 8 Juli 2020, YouTube menyerukan ajakan lewat kanal resmi dan media sosialnya: mengundang siapa pun di mana pun di dunia untuk merekam kehidupan sehari-harinya pada tanggal 25 Juli, lalu mengunggah rekamannya ke halaman yang telah disediakan sebelum 2 Agustus. Semua orang yang mengunggah rekaman akan dicantumkan namanya sebagai co-director, tetapi tidak menerima bayaran.

Ajakan ini terbuka untuk siapa saja — baik yang merekam dengan kamera profesional, ponsel, maupun dashcam, baik yang merekam momen besar maupun kejadian sehari-hari. Dalam wawancara publik, sutradara Kevin Macdonald menekankan bahwa timnya tidak hanya menginginkan “momen luar biasa” — hal yang terasa membosankan dan biasa saja bagi diri sendiri, seringkali justru terasa baru bagi orang lain.

Setelah masa pengumpulan berakhir, tim menerima 324.000 video dari 192 negara, dengan total durasi sekitar 15.000 jam. Sekitar 50 koordinator yang tersebar di berbagai wilayah bahasa lebih dulu memasukkan seluruh rekaman ke database dan memberi penilaian bintang, proses yang memakan waktu sekitar dua bulan. Sutradara bersama tiga editornya kemudian menghabiskan dua bulan lagi untuk menyeleksi sekitar 400 jam rekaman inti, sebelum akhirnya menyuntingnya menjadi film berdurasi 86 menit dalam waktu 9-10 minggu.

Fajar: Dimulai dari Detik Pertama Seorang Anak

Film ini menggunakan “satu hari” sebagai kerangka waktunya, dimulai dari pagi hari tanggal 25 Juli.

Rangkaian gambar pertama menampilkan kelahiran bayi-bayi baru di seluruh dunia: ruang bersalin rumah sakit, persalinan air di rumah, ruang operasi yang baru saja disterilkan, dokter yang tetap bernyanyi meski mengenakan alat pelindung diri lengkap… Bayi-bayi dari berbagai warna kulit dan bahasa diangkat, mengeluarkan tangisan pertama yang hampir sama. Setelah itu muncul rangkaian gambar yang sejalan — bayi merangkak untuk pertama kalinya, berdiri untuk pertama kalinya.

Gambar-gambar fajar lainnya menampilkan doa dan bangun tidur: biksu yang menjalankan ritual pagi di bawah sinar matahari terbit, umat Muslim yang menunaikan salat subuh pertama, orang yang baru selesai yoga, orang yang menyeduh kopi pertama untuk pasangannya, orang yang baru mengikat rambutnya sebelum berangkat.

Pagi dan Siang Hari: Bekerja, Bepergian, Keseharian

Seiring matahari yang makin tinggi, film beralih ke aktivitas bekerja dan berpindah tempat.

Ada sopir taksi yang mengantar penumpang pertamanya di pagi hari, orang yang merapikan panel surya di atap, pekerja yang membongkar muatan di pelabuhan, teknisi listrik yang memperbaiki jaringan kabel, orang yang memanen di sawah, orang yang mendorong gerobak mengantar makanan. Ada pula beberapa gambar olahraga sudut pandang orang pertama: seorang joki pacuan kuda yang berlari sejajar dengan kuda lainnya saat start, direkam dari kamera helm; seorang gadis remaja yang berjalan di puncak atap rumahnya; seorang penggemar kebugaran yang mengangkat kedua tangannya ke langit setelah menyelesaikan latihan pagi di atap gedung kota.

Di antaranya juga muncul seorang penggemar kereta api yang bertahun-tahun mendokumentasikan tujuh perusahaan kereta Class I di Amerika Serikat. Pada hari itu, ia berhasil “melengkapi” kunjungannya ke ketujuh perusahaan Class I tersebut, menjadikan target yang bagi orang lain terdengar membosankan itu sebagai hari yang penting dalam hidupnya.

Dua Hal tentang Tahun 2020: Pandemi dan Protes

Film ini tidak menghindari konteks khusus tahun 2020.

Pandemi COVID-19 hadir sebagai latar yang mengalir sepanjang film: tenaga medis di koridor rumah sakit, tetangga yang saling menyapa dari balkon dan jendela, tetangga yang mengangkat gelas bersama dari atap rumah masing-masing, keluarga yang bertemu lewat Zoom, pernikahan bermasker, pemakaman bermasker.

Salah satu segmen potret yang lebih panjang menampilkan seorang ibu di Amerika Serikat: ia menceritakan di depan kamera bagaimana putranya, Alexander “ATG” Lucas, meninggal karena COVID-19 pada 18 Februari 2020 — kasus yang sebelumnya belum banyak diketahui publik dari daftar resmi kematian awal COVID-19 di Amerika Serikat.

Alur lainnya adalah protes “Black Lives Matter” yang dipicu oleh kematian George Floyd pada akhir Mei dan masih berlangsung hingga 25 Juli. Film ini menampilkan rekaman handheld dari berbagai peserta di barisan unjuk rasa di sejumlah kota: kerumunan yang membawa poster, orang yang berlutut dalam diam, kawasan yang dibubarkan polisi, cahaya lampu yang masih bergerak di jalan pada malam hari.

Beberapa Sosok yang Membekas

Secara keseluruhan film ini berbentuk potret kolektif, tetapi ada beberapa segmen yang ditampilkan dengan rentang waktu yang lebih utuh.

Seorang perempuan transgender berdandan di depan kamera, bersiap untuk menari di jalanan demi mencari nafkah. Ia menceritakan hinaan dan diskriminasi yang ia hadapi sehari-hari, namun tetap menjadikan tarian sebagai satu-satunya sumber penghasilan tetap yang ia jalani.

Seorang pria muda pengguna kursi roda bercerita di depan kamera tentang prasangka yang dihadapi penyandang disabilitas fisik setiap harinya — orang-orang keliru mengira ia tidak bisa hidup mandiri, tidak bisa memiliki kehidupan seksual, tidak bisa menjalin hubungan cinta.

Seorang anak perempuan kecil bernama Sondos mengucapkan permohonan di depan kue ulang tahunnya. Gambarnya diambil oleh keluarganya sendiri, hampir tanpa proses penyuntingan.

Sebuah keluarga memelihara burung macaw biru-ungu bernama Love. Hari itu adalah kali pertama burung ini benar-benar terbang bebas — sang pemilik melepaskannya dari lengannya, dan kamera mengikuti burung itu terbang berputar sebelum akhirnya hinggap kembali dengan mantap di tubuh pemiliknya.

Seorang lansia yang hampir berusia seratus tahun berpesan di depan kamera: hal terpenting dalam hidup adalah bahagia.

Seorang pekerja pengumpul es di depan gudang esnya berkata di depan kamera bahwa ketakutan terbesarnya adalah menjalani hidup ini tanpa meninggalkan jejak apa pun.

Ending

Saat malam tiba, film kembali ke gambar-gambar yang selaras dengan adegan pembuka: orang-orang satu per satu naik ke tempat tidur, mematikan lampu, menyelesaikan doa terakhir mereka, memeluk orang di sisinya.

Rangkaian gambar puncak terakhir diberikan untuk langit — seorang penggemar olahraga ekstrem mendarat setelah terjun payung, kembang api yang meletup di atas beberapa sungai, matahari terbenam di tepi pantai, lampu-lampu kota yang memasuki malam di berbagai zona waktu. Kamera menjauh dari jendela sebuah rumah, melewati kota, melewati negara, melewati awan, dan akhirnya berhenti pada pemandangan satu sisi Bumi yang perlahan memasuki malam.

Teks penutup muncul: film ini direkam bersama oleh orang-orang dari 192 negara pada hari yang sama, 25 Juli 2020; daftar co-director disusun berdasarkan abjad dan memenuhi seluruh credit penutup.