Land
Setelah kehilangan suami dan putranya, Edee masuk sendirian ke alam liar Wyoming; sebuah penyelamatan di ambang maut dan persahabatan yang sama-sama menahan diri membuatnya kembali menghadapi soal melanjutkan hidup
Judul
Land
Tahun / Durasi
2021 · 89 menit
Genre
Drama
Sutradara
Robin Wright
Penulis
Jesse Chatham, Erin Dignam
Rating
Pemeran
Robin Wright (sebagai Edee), Demián Bichir (sebagai Miguel), Sarah Dawn Pledge (sebagai Alawa), Kim Dickens (sebagai Emma), Warren Christie (sebagai Adam), Finlay Wojtak-Hissong (sebagai Drew)
Land adalah film drama panjang pertama yang disutradarai Robin Wright, dan dibintangi olehnya bersama Demián Bichir. Film ini tayang perdana di Festival Film Sundance pada 31 Januari 2021, lalu mulai tayang di bioskop Amerika Serikat pada 12 Februari, dengan durasi 89 menit. Saat ini film ini mendapat nilai 6,7 di IMDb; Rotten Tomatoes memberi tingkat kesegaran 69% setelah menghimpun 188 ulasan, sementara skor popcorn penonton berada di 84%. Konsensus kritikus tidak sepenuhnya seragam: lanskap pegunungan Wyoming dan akting terkendali kedua pemeran utamanya banyak dipuji, tetapi alur pemulihan yang terasa familier serta penyederhanaan trauma dalam film ini juga dipertanyakan.
Bagian berikut memuat alur cerita lengkap beserta endingnya.
Meninggalkan Kota
Edee tidak mampu bangkit dari sebuah tragedi keluarga. Konseling psikologis tidak membuatnya mau bicara, dan adiknya, Emma, khawatir ia sedang mendorong semua orang menjauh. Edee lalu meninggalkan Chicago dan pergi ke pegunungan terpencil di Negara Bagian Wyoming, tempat ia membeli sebuah kabin kayu tua yang jauh dari jalan raya maupun tetangga. Colt, yang mengantarnya melihat properti itu, mengingatkan bahwa lokasi tersebut berbatasan dengan hutan nasional dan tanah reservasi penduduk asli sehingga tinggal sendirian di sana tidak aman; Edee tetap menyuruhnya membawa pergi mobil itu, dan dengan begitu ia sendiri memutus jalan mudah untuk kembali ke kota.

Kabin di Puncak Bukit
Kabin itu tidak punya air ledeng maupun listrik. Edee membersihkan debu yang menumpuk, mengambil air dari sungai kecil, menyalakan api, menanam sayuran, dan juga mencoba membelah kayu serta memancing ikan. Bahan makanan yang ia bawa terlihat cukup banyak, tetapi keterampilan bertahan hidup di alam liar nyaris nol: kapak sulit diayunkan dengan mantap, kail pancingnya lama tidak membuahkan hasil, dan udara dingin menghabiskan kayu bakar lebih cepat. Ia menjadikan kesendirian sebagai cara melindungi diri, padahal ia belum siap untuk bertahan hidup dalam jangka panjang.


Setelah Serangan Beruang
Ketika seekor beruang hitam menerobos masuk ke kabin, Edee bersembunyi di dalam toilet luar yang sempit dan hanya bisa mendengar binatang itu mengobrak-abrik isi rumah dari balik papan kayu. Beruang tersebut merusak persediaan makanan dan barang-barang di dalam ruangan, lalu meninggalkan kekacauan di mana-mana. Belakangan Edee membidik seekor rusa, tetapi tidak sanggup menarik pelatuknya; saat rasa lapar dan keputusasaan menumpuk sampai puncaknya, ia menempelkan senapan berburunya ke tubuhnya sendiri, lalu berhenti karena teringat gambaran Emma yang memohon agar ia tidak menyakiti dirinya.

Penyelamatan di Tengah Badai Salju
Setelah musim dingin yang keras tiba, badai salju mengoyak atap rumah. Edee memanjat tangga untuk menanganinya, tetapi jatuh dan terluka sehingga hanya bisa merangkak susah payah kembali ke dalam rumah, dan akhirnya kehilangan kesadaran. Miguel, seorang pemburu setempat yang kebetulan lewat di dekat kabin, menemukannya lalu membawa serta Alawa, seorang perawat. Keduanya menghangatkan tubuh Edee, memberinya cairan, dan merawat lukanya; Alawa bersikeras bahwa Edee perlu dibawa ke rumah sakit, tetapi setelah sadar Edee menolak turun gunung. Miguel tidak memaksanya berubah pikiran, ia hanya menunjukkan bahwa membayangkan kelaparan sebagai cara mati yang tenang adalah pikiran orang yang belum pernah benar-benar kelaparan.


Belajar Bertahan Hidup
Miguel menawarkan diri untuk mengajari Edee memasang jerat, berburu, dan mengolah hasil buruan selama musim-musim berikutnya, lalu tidak akan mengganggunya lagi begitu Edee sanggup bertahan hidup sendiri. Edee menerimanya. Mereka berdua masuk ke hutan musim gugur untuk mengenali jejak binatang dan berlatih memegang senapan di tepi sungai, sampai akhirnya Edee mampu menembak buruan dan menyimpan persediaan makanan. Kegiatan sehari-hari yang dulu hanya berarti pengurasan tenaga perlahan berubah menjadi kehidupan yang bisa diulang dan bisa diselesaikan.


Dua Orang yang Tidak Membicarakan Masa Lalu
Miguel sesekali datang membawa anjingnya, dan juga menyanyikan lagu Everybody Wants to Rule the World dari Tears for Fears untuk Edee di dekat api. Mereka makan bersama, memperbaiki kabin, dan minum kopi di beranda, sampai hubungan mereka berubah dari penolong dan orang yang ditolong menjadi teman. Miguel hanya mengatakan bahwa istri dan putrinya meninggal dalam kecelakaan mobil delapan tahun lalu, sementara Edee juga hanya mengakui bahwa dulu ia pernah punya sebuah keluarga; Miguel tidak tahu nama keluarganya, tidak mencari tahu tentangnya di internet, apalagi memaksanya menceritakan detail yang belum sanggup ia tanggung.


Penantian yang Panjang
Setelah menitipkan anjingnya di kabin, Miguel tidak muncul lagi selama beberapa bulan berturut-turut. Edee beralih dari menunggu menjadi cemas, dan untuk pertama kalinya ia sendiri membuka kembali foto-foto yang selama ini ia tekan di dasar kotak. Barulah pada titik ini film mengungkapkannya secara utuh: suaminya, Adam, dan putranya, Drew, yang ada di foto itu sudah tewas dalam penembakan acak di sebuah gedung konser. Edee mengemasi ranselnya, membawa anjing itu keluar dari hutan pegunungan, mencari Miguel di kota terdekat, dan dari Alawa ia mengetahui bahwa Miguel sedang dirawat di rumah sakit karena kanker tenggorokan.


Ending
Di ruang rawat, Miguel sudah mendekati akhir hidupnya. Ia akhirnya mengungkapkan kebenaran tentang kecelakaan itu: dialah yang dulu mengemudi dalam keadaan mabuk, dan karena itu istri serta putrinya tewas. Edee pun untuk pertama kalinya menjelaskan kepadanya kematian Adam dan Drew. Sebelum itu keduanya sama-sama mengurung diri dalam kesendirian yang bersifat hukuman, dan pada saat ini mereka tidak lagi memakai diam untuk menghindari tanggung jawab dan kesedihan. Edee berterima kasih kepada Miguel karena telah membuatnya kembali ingin hidup; perpisahan ini tidak menghapus traumanya, tetapi membuatnya bisa menulis ulang bertahan hidup dari sebuah hukuman menjadi sebuah pilihan.

Saat meninggalkan ruang rawat, Edee membawa serta ponsel yang ditinggalkan Miguel untuknya. Begitu sampai di luar, ia menghubungi nomor Emma. Setelah adiknya mengangkat telepon, Edee hanya menyebut namanya, dan film pun langsung berakhir; tidak ada adegan tambahan setelah kredit. Penutup ini tidak menyatakan bahwa ia sudah sembuh, melainkan menjawab keterputusan total di awal film lewat satu kontak yang ia mulai sendiri: alam liar mengajarinya mempertahankan hidup, sedangkan kehadiran Miguel membuatnya kembali bersedia pulang ke hubungan antarmanusia.