Kim Ji-young: Born 1982
Namanya Kim Ji-young, lahir tahun 1982, nama perempuan paling umum di Korea: alur cerita lengkap film Kim Ji-young: Born 1982, kisah seorang perempuan Korea biasa yang perlahan tenggelam oleh masyarakat, keluarga, dan peran gender sejak lahir hingga menjadi ibu
Judul
Kim Ji-young: Born 1982
82년생 김지영
Tahun / Durasi
2019 · 118 menit
Genre
Drama
Sutradara
Kim Do-Young
Penulis
Kim Do-Young / Yoo Yeong-ah
Rating
Pemeran
Jung Yu-mi, Gong Yoo, Kim Mi-kyung
Karya asli
Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Cho Nam-Joo
Penghargaan
Grand Bell Awards ke-56: Aktris Terbaik (Jung Yu-mi), Korean Association of Film Critics Awards ke-40: Aktris Terbaik, Baeksang Arts Awards ke-56: Sutradara Baru Terbaik
Kim Ji-young (diperankan oleh Jung Yu-mi) berusia tiga puluh enam tahun, seorang perempuan Korea yang biasa-biasa saja. Suaminya, Jeong Dae-hyeon (diperankan oleh Gong Yoo), bekerja di sebuah perusahaan IT. Mereka punya seorang anak perempuan yang baru berusia satu tahun, dan tinggal di sebuah apartemen berukuran sedang di Seoul. Hari-harinya diisi dengan menyusui, mengganti popok, memasak, dan bersih-bersih — berulang-ulang, sama persis setiap hari.
Namun belakangan ini, Ji-young mulai menunjukkan gejala yang aneh. Ia tiba-tiba bisa berubah menjadi orang lain — berbicara dengan nada ibunya, atau bercerita dengan gaya bicara neneknya yang sudah meninggal. Ia sendiri sama sekali tidak ingat pernah melakukan itu, tapi Dae-hyeon, suaminya, menyaksikan semuanya. Ia mulai sadar: istrinya sedang mengalami gangguan jiwa.

Perjalanan Hidup Ji-young
Melalui adegan kilas balik, film ini menelusuri perjalanan hidup Ji-young sejak kecil — pengalaman-pengalaman yang tampak sepele, namun perlahan mengiris dirinya sedikit demi sedikit.
Sewaktu kecil, Ji-young punya seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan. Namun di keluarga Korea yang tradisional ini, segala sesuatu yang terbaik selalu diberikan lebih dulu kepada anak laki-laki. Neneknya menyimpan makanan terbaik untuk cucu laki-lakinya, sementara Ji-young dan adiknya hanya kebagian sisa. Suatu kali, Ji-young mencuri susu formula kakaknya dan dimarahi habis-habisan oleh sang nenek. Ibunya menyaksikan semua ini, hatinya sakit tapi tak berdaya — karena ia sendiri juga dibesarkan dengan cara yang sama. Semasa muda, ibunya berprestasi bagus di sekolah, tapi harus berhenti sekolah dan bekerja demi membiayai pendidikan kakak-kakaknya, sehingga impiannya sendiri tak pernah terwujud.
Saat sekolah, seorang teman sekelas laki-laki menguntit dan melecehkan Ji-young dalam waktu lama. Setelah gurunya tahu, bukannya menghukum anak laki-laki itu, gurunya malah menyalahkan Ji-young karena memakai rok terlalu pendek. “Kalau kamu berpakaian seperti itu, pantas saja anak laki-laki memperhatikanmu.”

Setelah lulus kuliah, Ji-young bekerja di sebuah perusahaan pemasaran. Kemampuan kerjanya menonjol dan ia dihargai oleh atasannya, Manajer Kim. Tapi langit-langit kaca di dunia kerja ada di mana-mana: proyek-proyek penting selalu diberikan ke rekan laki-laki, saat makan bersama ia diminta menuangkan minuman untuk atasan, dan di acara akhir tahun ia harus melayani klien. Yang lebih membuatnya hancur, suatu malam sehabis lembur, seorang rekan kerja laki-laki mengintipnya diam-diam di lorong kantor. Ia ketakutan dan melapor ke polisi malam itu juga, tapi hanya ditanggapi seadanya.
Manajer Kim, perempuan karier yang paling ia kagumi, akhirnya disingkirkan perlahan-lahan oleh perusahaan setelah hamil, dan terpaksa mengundurkan diri. Ji-young melihat punggung Manajer Kim meninggalkan kantor, dan seolah bisa menebak nasibnya sendiri di masa depan.
Menjadi Ibu

Setelah menikah, mertuanya mulai mendesak agar mereka segera punya anak. Dae-hyeon memang perhatian, tapi ia pun akhirnya tunduk pada tekanan keluarga. Ji-young hamil, lalu berhenti bekerja.
Kehidupan sebagai ibu rumah tangga penuh waktu ternyata jauh lebih sepi daripada yang ia bayangkan. Sepanjang hari hanya ia dan bayinya di rumah, sementara Dae-hyeon berangkat pagi dan pulang malam. Ia tidak punya waktu untuk dirinya sendiri, tidak ada kehidupan sosial, dan tidak berpenghasilan. Setiap kali pulang ke rumah mertua saat Tahun Baru Imlek, ibu mertuanya menganggap wajar kalau Ji-young sibuk di dapur dari pagi sampai malam, sementara kakak-kakak perempuan Dae-hyeon cukup duduk-duduk mengobrol. Ketika Ji-young mengusulkan untuk pulang ke rumah orang tuanya sendiri saat Chuseok, wajah ibu mertuanya langsung berubah.
Suatu kali, saat Dae-hyeon libur dan menjaga anak mereka, Ji-young jarang-jarang keluar sendirian untuk minum kopi. Seorang pegawai kantoran muda di dekatnya memandanginya, lalu menggumamkan satu kata: “Mom-chung.” — sebutan merendahkan di dunia maya Korea untuk ibu rumah tangga, yang berarti “seperti parasit yang hidup menumpang pada suami, tapi masih sempat-sempatnya santai minum kopi.”
Kondisi kejiwaan Ji-young semakin memburuk. Ia mulai berbicara sebagai ibunya — berkata kepada Dae-hyeon, “Kamu harus menjaga Ji-young kita baik-baik, ya,” dengan nada bicara dan sikap yang persis seperti ibunya. Ia sendiri tidak ingat pernah mengucapkan kata-kata itu. Ini sebenarnya semacam gangguan identitas disosiatif — ketika penderitaan yang menumpuk sudah tak sanggup ia tanggung sendiri, alam bawah sadarnya memanggil sosok-sosok yang pernah mencintai dan melindunginya, untuk berbicara mewakili dirinya.

Pilihan Dae-hyeon
Dae-hyeon adalah suami yang baik. Ia mencintai Ji-young dan bersedia berbagi pekerjaan rumah serta mengasuh anak. Setelah menyadari kondisi Ji-young, ia berkonsultasi dengan psikiater dan ingin membawa Ji-young berobat. Tapi Ji-young menolak — di masyarakat Korea, pergi ke psikiater dianggap memalukan.
Dae-hyeon mengusulkan sebuah rencana: ia yang akan mengambil cuti mengasuh anak, sementara Ji-young kembali mencari pekerjaan. Keputusan ini menimbulkan kehebohan besar, baik di kantor maupun di keluarga. Rekan-rekan kerja Dae-hyeon mengejeknya karena “dikendalikan istri,” sementara ibu mertuanya justru langsung menentang, “Mana ada laki-laki berhenti kerja demi mengurus anak di rumah?”
Tapi Dae-hyeon tetap teguh pada pendiriannya.
Ji-young mulai bersiap-siap lagi untuk wawancara kerja. Ia menemukan pekerjaan pemasaran yang mirip dengan pekerjaannya dulu. Pewawancara bertanya, “Kamu punya anak, kan? Bagaimana nanti kalau harus lembur?” Pertanyaan seperti ini tidak pernah ditanyakan kepada pelamar laki-laki.
Pada akhirnya, Ji-young tidak menerima pekerjaan itu. Bukan karena ditolak, melainkan karena ia sendiri, setelah mempertimbangkan segalanya, memilih jalan lain.

Ending
Ji-young akhirnya setuju untuk menemui psikiater. Dalam terapi, ia mulai menghadapi semua kepedihan dan kemarahan yang selama bertahun-tahun ia pendam — semua momen ketika ia diajarkan untuk bersabar, mengalah, dan berkorban, semua ketidakadilan yang selama ini dianggap sebagai hal yang wajar.
Di akhir film, Ji-young duduk di depan komputer dan mulai menulis. Yang ia tulis adalah kisahnya sendiri — perjalanan hidup seorang perempuan Korea biasa yang lahir pada tahun 1982.
Buku itu diberi judul Kim Ji-young: Born 1982.