← Kembali ke beranda

Birds Without Names

Rahasia yang dijaga seorang pria terbuang dengan nyawanya: ulasan lengkap alur cerita Birds Without Names, film thriller romantis Jepang karya sutradara Kazuya Shiraishi, mengisahkan jalinan rumit Towako dengan tiga pria — dalam rutinitas penuh penghinaan dan ketergantungan, sebuah kasus orang hilang membongkar kebenaran kejam tentang cinta dan dosa.

Judul

Birds Without Names

Kanojo Ga Sono Na Wo Shiranai Toritachi

Tahun / Durasi

2017 · 123 menit

Genre

Drama / Misteri

Sutradara

Kazuya Shiraishi

Penulis

Taeko Asano

Rating

Pemeran

Yû Aoi, Sadao Abe, Tôri Matsuzaka, Yutaka Takenouchi

Karya asli

Novel karya Mahokaru Numata dengan judul yang sama (2006)

Penghargaan

Festival Film Internasional Toronto (TIFF) 2017: bagian Contemporary World Cinema; Yû Aoi meraih Blue Ribbon Awards Jepang untuk Aktris Terbaik dan sejumlah penghargaan akting lainnya berkat film ini

Birds Without Names
Adegan 1 Adegan 2 Adegan 3 Adegan 4 Adegan 5
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Kehidupan Serumah yang Kelabu

Towako (diperankan oleh Yû Aoi), 33 tahun, tinggal bersama Jinji (diperankan oleh Sadao Abe) yang usianya lima belas tahun lebih tua, di sebuah apartemen kecil. Jinji bekerja sebagai buruh kasar di sebuah pabrik, dan seluruh gajinya diserahkan kepada Towako. Sementara itu Towako tidak bekerja; ia memakai uang Jinji untuk membeli baju, merawat kuku, lalu berdandan rapi untuk menemui pria lain. Kebenciannya pada Jinji tidak ditutup-tutupi—Jinji makan dengan suara berisik, berpakaian sembarangan, dan bicara kasar, sehingga Towako sering melontarkan kata-kata pedas di depan wajahnya, nyaris tanpa pernah memperlihatkan wajah ramah. Jinji menanggung semuanya dalam diam, tidak pernah membantah, tidak pernah melawan. Meski tinggal di bawah atap yang sama, suasana di antara mereka terasa seperti dipisahkan oleh sungai es yang membeku.

Di dalam hati Towako selalu ada satu orang—mantan kekasihnya, Shunichi Kurosaki (diperankan oleh Yutaka Takenouchi). Delapan tahun lalu, setelah mereka putus, Kurosaki menghilang tanpa jejak, tanpa cara apa pun untuk dihubungi. Namun Towako keras kepala percaya bahwa Kurosaki akan kembali mencarinya. Dalam kenangannya yang terus berulang, Kurosaki tampak tampan, terhormat, dan penuh pesona—kontras paling kejam dengan sosok Jinji di hadapannya. Kurosaki adalah satu-satunya penyangga dunia batin Towako, meski penyangga itu sebenarnya sudah lama tidak ada.

Kemunculan Mizushima

Di konter perhiasan sebuah department store, Towako berkenalan dengan Makoto Mizushima (diperankan oleh Tôri Matsuzaka), seorang pramuniaga. Mizushima muda, tampan, dan punya pekerjaan terhormat—tipe pria ideal bagi Towako, secemerlang Kurosaki dalam ingatannya, dan sangat berbeda dari Jinji. Hubungan fisik di antara mereka berkembang dengan cepat. Bagi Towako, Mizushima adalah jalan keluar dari kehidupan kelabunya, kemungkinan lain dari hidup yang bisa ia raih.

Adegan 1

Namun Mizushima jauh dari pangeran berkuda putih yang dibayangkan Towako. Semakin hubungan mereka mendalam, kebenaran pun terkuak lapis demi lapis: Mizushima sudah menikah dan punya anak, dan hubungannya dengan Towako tak lain hanyalah pencarian sensasi di luar pernikahan. Ketertarikannya pada Towako berasal dari rasa memiliki dan kesenangan akan hal baru, bukan perasaan cinta. Ketika Towako mencoba membawa hubungan itu ke arah yang serius, Mizushima langsung mundur, memperlihatkan sifat dingin dan mementingkan diri sendiri yang mengakar dalam dirinya—ia tidak akan pernah melepaskan keluarganya yang stabil demi Towako.

Jinji yang Diam

Sementara itu, film ini secara diam-diam merangkai sosok utuh Jinji lewat serpihan-serpihan adegan keseharian. Ia memang kasar—bersuara keras, berpenampilan berantakan, dan sama sekali tidak punya sisi romantis. Namun di balik semua itu, pengorbanannya untuk Towako bersifat mutlak, tanpa syarat apa pun. Seluruh gajinya diserahkan, ia tak pernah mempertanyakan ke mana Towako pergi, dan selalu memasak lalu diam-diam menunggunya pulang. Towako jelas-jelas dekat dengan pria lain, tetapi Jinji berpura-pura tidak tahu. Aktor yang memerankannya menghidupkan Jinji sebagai sosok yang lemah tanpa batas, namun di setiap jeda keheningan itu, terasa ada beban tidak biasa yang tersembunyi. Ia tidak seperti orang lemah—lebih seperti seseorang yang sedang menanggung sesuatu.

Adegan 2

Satu gambar berulang kali muncul dalam film ini: Jinji bersandar di jendela, mengintip lewat teropong ke arah Towako pergi. Gerakan ini pada awalnya tampak seperti tindakan mengintai yang tidak nyaman untuk dilihat. Jinji juga punya satu kebiasaan lain—ia selalu suka bercerita kepada Towako tentang burung apa yang baru saja ia lihat, tetapi Towako tidak pernah sabar mendengarkannya, dan tidak pernah mengingat nama-nama burung itu.

Kedatangan Detektif

Alur cerita lain diam-diam semakin mengetat. Seorang detektif datang ke rumah Towako dan memberitahunya bahwa Kurosaki, mantan kekasihnya, telah menghilang selama lima tahun dan pihak kepolisian sedang menyelidiki kasus ini. Towako bersikeras mengatakan bahwa ia tidak tahu apa-apa, dan terakhir kali bertemu Kurosaki adalah pada hari mereka putus.

Adegan 3

Towako mulai memperhatikan beberapa tingkah laku Jinji yang tidak biasa—Jinji diam-diam membuntutinya, dan suatu kali pulang dengan tubuh berlumuran darah setelah berkelahi dengan rekan kerjanya. Dalam hatinya perlahan tumbuh sebuah kecurigaan mengerikan: jangan-jangan Jinji yang membunuh Kurosaki?

Seiring penyelidikan berlanjut, film ini lewat kilas balik demi kilas balik perlahan membongkar hubungan sesungguhnya antara Towako dan Kurosaki di masa lalu. Hubungan itu jauh dari gambaran indah dalam ingatan Towako—Kurosaki sebenarnya adalah pria yang sangat posesif dan punya kecenderungan kekerasan. Dahulu, demi mendapatkan dukungan uang dari seorang pria bernama Kunieda, Kurosaki bahkan menyerahkan Towako kepada Kunieda. Yang lebih kejam lagi, Kurosaki kemudian menikahi keponakan perempuan Kunieda. Ketika Towako, yang selama ini yakin Kurosaki akan bersamanya, mengetahui kebenaran ini, Kurosaki bukannya merasa bersalah, malah melampiaskan kekerasan yang kejam kepada Towako, memukulinya hingga terluka parah lalu membuangnya di pinggir jalan.

Kebenaran Terungkap

Twist akhir film ini membalikkan seluruh narasi sebelumnya sepenuhnya.

Orang yang membunuh Kurosaki bukan Jinji—melainkan Towako sendiri.

Adegan 4

Tiga tahun setelah putus, Kurosaki tiba-tiba menghubungi Towako. Setelah mengetahui semua pengkhianatan dan pemanfaatan yang dilakukan Kurosaki selama ini, dalam kemarahan dan keputusasaan yang luar biasa, Towako menikam Kurosaki hingga tewas. Namun akibat trauma psikologis yang begitu besar, ingatan ini terkunci sepenuhnya dalam alam sadarnya—ia benar-benar melupakan fakta bahwa dirinya telah membunuh, dan sebaliknya, dalam ingatannya, ia membentuk ulang sosok Kurosaki menjadi bayangan kekasih sempurna, lalu menghabiskan delapan tahun menunggu dengan penuh harap seorang pria yang sebenarnya telah ia bunuh dengan tangannya sendiri.

Sementara itu, Jinji—pria paruh baya yang muncul di saat Towako berada dalam titik paling rapuh—diam-diam mengurus jasad Kurosaki, lalu sejak itu memikul rahasia ini sambil mulai mengurus kehidupan Towako. Ia melakukan semua itu bukan untuk mengharapkan balasan, melainkan karena ia sangat mencintai Towako dan rela menghabiskan sisa hidupnya untuk menjaganya. Semua sikap “lemahnya” akhirnya terjelaskan—bukan karena ia tidak punya amarah, melainkan karena ia tidak berani menunjukkan amarah; bukan karena ia tidak peduli Towako bersama pria lain, melainkan karena ia merasa tidak punya hak untuk peduli. Teropong di jendela pun akhirnya terjawab: ia bukan sedang mengintai, melainkan sedang berjaga, memastikan Towako aman.

Pilihan Jinji

Ketika penyelidikan polisi semakin mendekat dan kebenaran nyaris terbongkar, Jinji mengambil keputusan terakhirnya. Di sebuah bangku taman di dataran tinggi, Jinji dan Towako duduk berdampingan. Jinji berkata kepadanya, “Towako, hari-hari bersamamu terasa seperti mimpi. Mulai sekarang, kamu harus terus hidup membawa semua yang kamu ingat.”

Towako, dengan ketakutan, mencoba menghentikannya, tetapi Jinji melanjutkan, “Kamu harus hidup! Kamu harus hidup, harus tersenyum, kalau tidak kematianku akan sia-sia. Aku memang tidak bisa mengandung, tapi aku akan masuk ke dalam perutmu—lahirkanlah aku, kandunglah seorang anak. Untuk itulah aku melakukan ini sekarang. Sudah kubilang, Towako, selamat tinggal.”

Setelah berkata begitu, Jinji melompati pagar taman dan terjun ke bawah.

Adegan 5

Pada saat Jinji jatuh, tak terhitung banyaknya burung mengepakkan sayap melintasi langit. Air mata menetes dari sudut mata Towako, layar menggelap, dan muncul monolog batinnya, “Jinji, satu-satunya cintaku.”

Dengan kematiannya sendiri, Jinji menanggung dosa pembunuhan yang sebenarnya dilakukan Towako. Dengan delapan tahun kesabaran, seluruh tabungannya, dan nyawanya yang terakhir, ia menuntaskan sebuah penjagaan yang tidak diketahui siapa pun, dan tidak pernah diucapkan terima kasih oleh siapa pun. Baru pada saat inilah Towako akhirnya menyadari—pria yang selama delapan tahun ia hina adalah satu-satunya orang yang benar-benar mengorbankan segalanya untuknya; sementara pria yang selama delapan tahun tidak bisa ia lupakan adalah orang yang paling dalam melukainya.

Pada momen inilah judul film ini menuntaskan seluruh metaforanya. Birds Without Names—burung-burung yang namanya tidak ia ketahui: Jinji selalu suka bercerita tentang burung apa yang ia lihat, tetapi Towako tidak pernah mendengarkannya, dan tidak pernah mengingat nama-nama itu. Namun burung-burung itu selalu terbang di dalam dunianya, sama seperti cinta Jinji yang selalu ada di sisinya. Ia hanya belum pernah mendongak untuk melihatnya.