In Front of Your Face
Seorang aktris yang telah lama meninggalkan dunia akting menjalani satu hari setelah kembali ke Seoul: alur lengkap pertemuan kembali Sangok dengan adiknya, kunjungannya ke rumah masa kecil, pengakuannya tentang penyakitnya kepada seorang sutradara, serta caranya menghadapi hari-hari terakhir
Judul
In Front of Your Face
당신얼굴 앞에서
Tahun / Durasi
2021 · 85 menit
Genre
Drama
Sutradara
Hong Sang-soo
Penulis
Hong Sang-soo
Rating
Pemeran
Lee Hye-yeong (sebagai Sangok), Cho Yun-hee (sebagai Jeongok), Kwon Hae-hyo (sebagai Jaewon), Shin Seok-ho (sebagai Seung-won), Kim Sae-byeok (sebagai pemilik rumah lama)
Penghargaan
Baeksang Arts Awards ke-58: Aktris Terbaik kategori Film (Lee Hye-yeong)
In Front of Your Face (당신얼굴 앞에서, judul internasional In Front of Your Face) adalah film drama Korea Selatan yang ditulis dan disutradarai oleh Hong Sang-soo, serta dibintangi Lee Hye-yeong, Cho Yun-hee, dan Kwon Hae-hyo. Film ini tayang perdana di Festival Film Cannes pada Juli 2021 dan dirilis di Korea Selatan pada Oktober tahun yang sama dengan durasi 85 menit. Berkat film ini, Lee Hye-yeong meraih penghargaan Aktris Terbaik kategori Film di Baeksang Arts Awards ke-58.
Per 24 September 2026, film ini meraih skor 6,9 di IMDb. Rotten Tomatoes mencatat 38 ulasan kritikus dengan tingkat kesegaran 95%. Kedua data tersebut menunjukkan bahwa film ini secara umum mendapat tanggapan positif.
Pertemuan Kembali Kakak Beradik di Pagi Hari
Sangok, yang pernah bekerja sebagai aktris, meninggalkan Korea Selatan selama bertahun-tahun. Kini ia kembali dari Amerika Serikat ke Seoul dan untuk sementara tinggal di apartemen adiknya, Jeongok. Pada pagi hari, Sangok menulis di ruang tamu dan memandang ke luar jendela, lalu mengucapkan doa dalam hati saat Jeongok masih tidur. Ia berusaha memusatkan perhatian pada orang-orang dan berbagai hal yang ada di hadapannya, tanpa memberi tahu adiknya seluruh alasan kepulangannya.

Setelah bangun, Jeongok mengatakan bahwa ia mengalami mimpi yang istimewa, tetapi seperti kebiasaannya, ia belum mau menceritakan isinya. Kakak beradik itu sarapan di teras tepi danau. Dalam percakapan mereka, Jeongok mengeluhkan bahwa kakaknya jarang pulang selama bertahun-tahun dan terkejut karena Sangok tidak memiliki tabungan meski berjualan minuman beralkohol di Amerika Serikat. Sangok lalu menjelaskan bahwa ia pernah pulang sebelum ibu mereka meninggal. Kedekatan sekaligus kecanggungan setelah lama berpisah tampak pada keduanya. Mereka juga mengakui bahwa masing-masing tidak banyak mengetahui kehidupan satu sama lain dalam beberapa tahun terakhir.

Tempat Usaha Sang Keponakan dan Persinggahan di Bawah Jembatan
Kakak beradik itu kemudian pergi menemui Seung-won, putra Jeongok. Seung-won mengelola sebuah restoran dan menyambut bibinya yang sudah bertahun-tahun tidak ditemuinya dengan sikap sungguh-sungguh dan hangat. Saat mereka makan, kuah memercik ke pakaian Sangok. Ia sempat berniat pulang untuk berganti pakaian sebelum menemui sutradara pada sore hari, tetapi pada akhirnya tidak membatalkan rencananya karena kejadian itu. Ketika Sangok meninggalkan tempat tersebut, Seung-won mengejarnya untuk memeluknya dan memberinya sebuah dompet kecil.

Sangok berhenti sejenak di bawah jembatan dan merokok tanpa sepengetahuan adiknya. Ia semula telah membuat janji untuk bertemu sutradara Jaewon, tetapi Jaewon mendadak memindahkan tempat pertemuan mereka ke sebuah bar kecil bernama Novel. Dalam perjalanan ke sana, Sangok meminta sopir untuk lebih dahulu mampir ke rumah lamanya di Itaewon, tempat ia tinggal saat masih kecil.

Mengunjungi Kembali Rumah Masa Kecil
Rumah lama itu telah berganti pemilik. Pemiliknya sekarang mengenali Sangok sebagai mantan aktris dan mengizinkannya masuk untuk melihat-lihat. Sebelumnya, mereka duduk di luar rumah sambil merokok. Sangok menjelaskan bahwa ia tinggal di sana hingga masa sekolah menengah pertama. Meski tata ruang di hadapannya telah berubah, rumah itu tetap membangkitkan kenangannya tentang keluarga.

Ketika Sangok melihat-lihat ruangan sendirian, ia mendengar sang pemilik rumah dan putrinya membicarakan makan siang. Seorang anak perempuan kemudian masuk ke kamar kecil tempat Sangok berada dan mengatakan bahwa tempat itu adalah rumahnya. Sangok memuji kecantikan anak itu dan, setelah mendapat izin, memeluknya. Sebelum pergi, ia berpamitan kepada pemilik rumah lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat pertemuan.

Tawaran Sutradara di Bar Kecil
Setibanya di bar, Sangok bertemu Jaewon dan asistennya. Pemilik bar sedang tidak berada di sana, tetapi Jaewon memegang kuncinya. Mereka bertiga memesan makanan Tionghoa dari restoran terdekat dan mulai minum. Tak lama kemudian, sang asisten pergi, sementara Jaewon dan Sangok tetap berada di dalam dan melanjutkan percakapan.

Jaewon mengatakan bahwa ia pernah menonton film Sangok saat masih muda, dan salah satu adegannya mendorongnya untuk menjadi sutradara. Ia mengagumi akting Sangok pada masa itu dan ingin membuat film baru bersamanya. Sangok telah bertahun-tahun meninggalkan dunia akting dan pada awalnya tidak langsung menerima tawaran tersebut. Baru setelah percakapan mereka semakin mendalam, ia menjelaskan tujuan sebenarnya dari pertemuan itu.

Kebersamaan Setelah Pengakuan tentang Penyakit
Sangok memberi tahu Jaewon bahwa ia didiagnosis mengidap penyakit serius dan dokter memperkirakan hidupnya hanya tersisa beberapa bulan. Ia tidak berniat menjalani perawatan di rumah sakit. Selama masih mampu bergerak, ia ingin terus menjalani hidup, lalu mengandalkan obat pereda nyeri ketika rasa sakit mulai muncul. Justru karena waktunya terbatas, ia bersedia datang menemuinya. Ia juga tidak dapat berjanji untuk menyelesaikan film yang membutuhkan persiapan jangka panjang.
Jaewon sulit menerima pengakuan itu, tetapi Sangok justru menenangkannya. Mereka terus minum, lalu Sangok mengambil gitar di bar dan memainkannya. Ia juga bercerita bahwa saat masih muda ia pernah ingin mengakhiri hidup, tetapi di dekat Stasiun Seoul ia tiba-tiba memperhatikan wajah orang-orang asing dan berbagai hal di sekelilingnya. Belakangan ini, ketika menghadapi kematian, perasaan memusatkan perhatian pada dunia di hadapannya itu kembali muncul.

Jaewon mengusulkan agar mereka segera berangkat melakukan perjalanan dan menyelesaikan pengambilan gambar serta penyuntingan selama perjalanan. Sangok bertanya apakah rencana itu juga mencakup hubungan seksual dengannya, dan Jaewon tidak menyangkalnya. Ketika sang asisten kembali, percakapan pribadi mereka terputus. Tak lama kemudian, hujan deras turun di luar.
Ending
Sangok dan Jaewon berdiri di luar bar, berlindung dari hujan di bawah payung yang sama. Jaewon masih terpengaruh alkohol dan terus membicarakan rencana untuk berangkat membuat film keesokan harinya. Sangok tidak menganggap janji-janji tersebut sebagai rencana kerja yang sudah pasti. Setelah berpisah, ia kembali ke apartemen Jeongok.

Keesokan harinya, Jaewon mengirim pesan suara untuk meminta maaf atas perkataan dan tindakannya saat mabuk sehari sebelumnya. Ia menyatakan dengan jelas bahwa rencana pembuatan film yang telah mereka sepakati tidak dapat diwujudkan. Ia juga berterima kasih karena Sangok telah menceritakan keadaannya dan mendoakannya agar bahagia. Sangok bersandar di dekat sofa sambil memutar pesan itu berulang kali, lalu mulai tertawa saat terus mendengarkannya.

Di dalam kamar, Jeongok masih tertidur di ranjang. Sangok menghampiri adiknya dan menunduk memandangnya, lalu bertanya dengan lembut apakah ia sedang bermimpi. Film berakhir pada momen yang menggemakan suasana pagi itu, tanpa menjelaskan lebih jauh tentang perawatan atau tujuan Sangok setelahnya.
