← Kembali ke beranda

Hear Her

Serial monolog perempuan pertama di Tiongkok yang digagas Zhao Wei, menampilkan delapan aktris yang membawakan delapan dilema kehidupan perempuan: rangkuman episode demi episode musim pertama Hear Her — Cermin Ajaib, Membuat Permohonan, Mimpi Si Insomnia, Membentuk Ulang, Kisah Yunchong, Jadwal Hidup, Dia dan Kamarnya, Gadis Sempurna — beserta tema dan isi masing-masing episode.

Judul

Hear Her

听见她说 / Hear Her

Tahun / Durasi

2020 · 8 episode / tiap episode sekitar 25 menit

Genre

Drama

Sutradara

Wei Zhao, Shaohong Li, Yue Lü, Lichuan Yin, Mengqiao Li, Fei Li, Jinhe Lin

Penulis

Qilan Shen / Fei Li / Mengqiao Li / Liang Ge / Xiaopeng Zhao / Siu-Han Cheung / Gao Linyang / Lichuan Yin

Rating

Pemeran

Xi Qi, Zi Yang, Baihe Bai, Mei Yong, Meijuan Xi, Zhi Wang, Lei Hao, Mi Yang

Karya asli

Konsepnya diadaptasi dari serial monolog perempuan BBC, Snatches: Moments from Women's Lives

Hear Her
Xi Qi menatap dirinya di cermin dalam Cermin Ajaib Zi Yang bersembunyi di dalam kardus ditemani mainan dalam Membuat Permohonan Meijuan Xi yang menjalani hidup sebagai laki-laki seumur hidupnya dalam Kisah Yunchong Lei Hao dalam Dia dan Kamarnya Mi Yang sebagai gadis buatan dalam Gadis Sempurna
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Hear Her adalah serial monolog perempuan pertama di Tiongkok, diproduksi oleh Tencent Video pada tahun 2020 dengan Zhao Wei sebagai penggagas sekaligus produser eksekutif. Serial ini terdiri dari delapan episode, masing-masing berdurasi sekitar dua puluh lima menit, tayang di Tencent Video sejak 17 November 2020 hingga berakhir pada 5 Januari 2021. Konsepnya diadaptasi dari serial monolog perempuan BBC, Snatches: Moments from Women’s Lives — setelah membeli hak adaptasinya, Zhao Wei mengumpulkan delapan aktris yang masing-masing membawakan satu monolog tentang dilema yang dihadapi perempuan masa kini, sehingga serial ini juga dijuluki versi Tiongkok dari Snatches.

Berbeda dari serial pada umumnya, hampir setiap episode berupa monolog panjang satu aktris yang berhadapan langsung dengan kamera, layaknya “panggung seorang diri”. Kedelapan episode disutradarai oleh sutradara yang berbeda-beda: Zhao Wei sendiri menyutradarai Cermin Ajaib dan Gadis Sempurna, sementara Shaohong Li, Yue Lü, Lichuan Yin, Mengqiao Li, Fei Li, dan Jinhe Lin masing-masing menyutradarai episode lainnya; jajaran penulis skenarionya antara lain Qilan Shen, Fei Li, Mengqiao Li, Siu-Han Cheung, Liang Ge, dan lainnya. Delapan aktris yang tampil adalah Xi Qi, Zi Yang, Baihe Bai, Mei Yong, Meijuan Xi, Zhi Wang, Lei Hao, dan Mi Yang, yang masing-masing mewakili delapan tema: kecemasan akan penampilan, keluarga asal, ibu rumah tangga penuh waktu, krisis usia paruh baya, preferensi terhadap anak laki-laki, status lajang di usia matang, kekerasan dalam rumah tangga, dan objektifikasi perempuan.

Serial ini mendapatkan skor 5,9 di IMDb. Berikut rangkuman episode demi episode sesuai urutan tayang, tentang apa yang dibahas dalam masing-masing monolog.

Cermin Ajaib: Xi Qi dan Cermin yang Ia Tatap Berlama-lama

Episode pertama, Cermin Ajaib, disutradarai oleh Zhao Wei dan dibintangi Xi Qi, menyoroti “kecemasan akan penampilan”. Perempuan yang diperankan Xi Qi setiap hari menatap dirinya sendiri di cermin dalam waktu yang sangat lama — sampai berjam-jam, tepatnya dua jam tiga puluh tujuh menit. Rasa tidak percaya dirinya sudah berakar sejak lama: saat kecil, ia pertama kali dibilang berkaki gemuk seperti “kaki gajah” hingga merasa malu; belakangan, cowok yang diam-diam disukainya selama tiga tahun bahkan memberinya julukan “tongkat pemukul anjing”. Cermin itu memantulkan sesuatu yang lebih dalam: pengamatan dan keraguan yang telah lama ia tujukan pada tubuh dan wajahnya sendiri.

Dalam monolog ini, ia terus bertanya-tanya: “Apa standar kecantikan itu? Siapa yang menentukan standar itu? Dan untuk siapa standar itu dibuat?”

Xi Qi menatap dirinya di cermin dalam Cermin Ajaib

Membuat Permohonan: Zi Yang dan Ibu yang Mengontrolnya

Membuat Permohonan ditulis dan disutradarai oleh Fei Li, dibintangi Zi Yang, membahas pengaruh “keluarga asal” terhadap seseorang. Putri yang diperankan Zi Yang memiliki ibu yang sangat posesif; dari masa kecilnya yang dipenuhi tumpukan kardus dan mainan hingga ia dewasa, tarik-menarik kendali yang berkedok cinta antara ibu dan anak inilah yang terus-menerus dikenang dalam monolog ini.

Di depan kue ulang tahun dengan lilin yang menyala, ia diam-diam membuat permohonan untuk dirinya sendiri dan juga untuk hubungan ini. Setelah menengok kembali segala hal yang diatur dan dikendalikan sepanjang masa pertumbuhannya, kisah ini akhirnya berujung pada pelukan dan pemulihan hubungan antara ibu dan anak.

Zi Yang bersembunyi di dalam kardus ditemani mainan dalam Membuat Permohonan

Mimpi Si Insomnia: Baihe Bai dan Ibu Rumah Tangga yang Terjaga di Tengah Malam

Mimpi Si Insomnia ditulis dan disutradarai oleh Mengqiao Li, dibintangi Baihe Bai, menyoroti sosok “ibu rumah tangga penuh waktu”. Baihe Bai memerankan seorang istri yang hidup berkecukupan secara materi namun makin kosong secara batin: karena tidak kekurangan sandang pangan, ia seolah tidak punya alasan untuk mengeluh, dan karena itu pula haknya untuk mengeluh atau mempertanyakan sesuatu perlahan-lahan dirampas.

Karena mengurus rumah tangga hari demi hari, ia mengalami insomnia, terjaga sendirian pada malam demi malam yang tak seorang pun pahami, terus bertanya pada dirinya sendiri — apakah hari-hari ke depan hanya akan seperti ini selamanya.

Membentuk Ulang: Mei Yong dan Usia Paruh Baya yang Didefinisikan oleh Peran

Membentuk Ulang disutradarai oleh Lichuan Yin (dan ditulis bersama Qilan Shen), dibintangi Mei Yong, membahas “krisis usia paruh baya”. Perempuan yang diperankan Mei Yong sudah lama didefinisikan oleh peran seperti “istri yang baik” dan “ibu yang baik”; memasuki usia paruh baya, ia mulai menilai ulang dan berusaha “membentuk ulang” dirinya sendiri.

Baik saat melamun menatap ke luar jendela maupun saat berulang kali memukul dan menendang samsak tinju, ia terus berusaha melepaskan diri dari identitas yang telah ditentukan untuknya. Monolog ini bermuara pada satu kebenaran sederhana: di dunia orang dewasa, tidak ada sandaran yang abadi — rasa aman yang sesungguhnya hanya bisa datang dari kemandirian batin.

Kisah Yunchong: Meijuan Xi dan Seniman Porselen Guangcai yang Seumur Hidup Menyamar Jadi Pria

Kisah Yunchong disutradarai oleh Shaohong Li, dibintangi Meijuan Xi, dengan skenario oleh Liang Ge dan Xiaopeng Zhao; judul bahasa Inggrisnya Legend of Canton Porcelain, membahas “preferensi terhadap anak laki-laki”. Meijuan Xi memerankan seorang seniman porselen guangcai (porselen berlapis emas khas Guangzhou) senior bernama Yunchong. Di bawah cara pandang lama yang mengutamakan anak laki-laki, sepanjang hidupnya ia tampil sebagai laki-laki dan mencari nafkah dalam bidang kerajinan ini, sampai-sampai ia sendiri hampir lupa bahwa dirinya seorang perempuan.

Baru di usia tua, untuk pertama kalinya ada orang yang menyadari bahwa “dia (laki-laki)” sebenarnya adalah “dia (perempuan)”. Dalam monolognya ia berkata, “Setelah sekian tahun, baru kali ini ada laki-laki yang mengenali diriku, sampai aku sendiri hampir lupa bahwa aku adalah perempuan.”

Meijuan Xi yang menjalani hidup sebagai laki-laki seumur hidupnya dalam Kisah Yunchong

Jadwal Hidup: Zhi Wang dan Hidup yang Terus Dikejar Waktu

Jadwal Hidup disutradarai oleh Jinhe Lin dan ditulis oleh Siu-Han Cheung, dibintangi Zhi Wang, membahas “status lajang di usia matang”. Orang-orang terbiasa menjalani hidup seperti mengikuti jadwal — usia sekian harus menikah, usia sekian harus punya anak, seolah-olah melewatkan satu kotak saja berarti ada yang salah.

Namun perempuan yang diperankan Zhi Wang justru menolak mengikuti jadwal itu. Baginya, melajang bukan berarti tidak mandiri, dan pernikahan pun bukan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan; daripada sibuk mencari rasa aman dari luar, ia lebih memilih untuk mengurus dirinya sendiri terlebih dahulu.

Dia dan Kamarnya: Lei Hao dan Tawa di Pemakaman Itu

Dia dan Kamarnya disutradarai oleh Yue Lü dan ditulis oleh Gao Linyang, dibintangi Lei Hao, menyentuh soal “kekerasan dalam rumah tangga”. Feng Aimei, istri yang diperankan Lei Hao, tak sanggup menahan diri dan tertawa keras di pemakaman suaminya, sehingga ia menerima tatapan hina dari keluarga anaknya dan para kerabat.

Tak ada yang tahu, di balik tawa itu tersembunyi puluhan tahun kekerasan dan pengkhianatan dalam rumah tangga yang ia tanggung diam-diam — kematian suaminya justru menjadi semacam kelegaan yang datang terlambat baginya. Monolog ini ingin mengatakan: kekerasan fisik adalah kekerasan, kekerasan dingin yang berlangsung lama juga sama-sama kekerasan, dan perempuan yang terjebak di dalam “kamar” itu seharusnya tidak lagi menanggungnya sendirian.

Lei Hao dalam Dia dan Kamarnya

Ending

Sebagai episode penutup dari seluruh serial monolog ini, Gadis Sempurna disutradarai oleh Zhao Wei dan ditulis oleh Qilan Shen, dibintangi Mi Yang, sekaligus menjadi satu-satunya cerita berlatar fiksi ilmiah dari kedelapan episode, dengan tema “objektifikasi perempuan”. Mi Yang memerankan seorang “gadis sempurna” buatan — dirancang dan diproduksi sesuai keinginan orang lain, tanpa rasa sakit maupun emosi, seolah-olah keberadaannya hanya untuk memuaskan dan menyenangkan orang lain. Lewat sosok perempuan buatan yang diobjektifikasi hingga taraf ekstrem ini, episode ini melemparkan kembali pertanyaan “perempuan tidak eksis untuk siapa pun” ke dunia nyata di luar layar.

Delapan monolog ini pun berakhir di sini. Dari gadis yang menatap cermin hingga “gadis sempurna” yang diproduksi di jalur perakitan, Hear Her menggunakan delapan wajah dan delapan kehidupan yang berbeda untuk menghadirkan dilema-dilema konkret seperti penampilan, keluarga, pernikahan, dan kekerasan ke permukaan, membiarkan “dia” mengucapkan kata demi kata yang selama ini sering diabaikan — agar akhirnya benar-benar didengar.

Mi Yang sebagai gadis buatan dalam Gadis Sempurna