Fish Story
Bagaimana sebuah lagu punk yang tidak dilirik siapa pun justru menyelamatkan dunia puluhan tahun kemudian: uraian lengkap alur cerita Fish Story tentang novel salah terjemahan, band Gekirin, mahasiswa penakut, pembajakan kapal feri, dan krisis komet yang saling terhubung
Judul
Fish Story
フィッシュストーリー
Tahun / Durasi
2009 · 112 menit
Genre
Komedi / Musik / Fiksi ilmiah
Sutradara
Yoshihiro Nakamura
Penulis
Tamio Hayashi
Rating
Pemeran
Atsushi Itô (sebagai Shigeki), Kengo Kôra (sebagai Goro), Mikako Tabe (sebagai Asami), Gaku Hamada (sebagai Masashi), Mirai Moriyama (sebagai Pahlawan Keadilan), Nao Ōmori (sebagai Okazaki / anak Okazaki yang sudah dewasa)
Karya asli
Novel Fish Story karya Kôtarô Isaka
Fish Story (フィッシュストーリー) adalah film Jepang yang disutradarai Yoshihiro Nakamura dengan naskah karya Tamio Hayashi, diadaptasi dari novel berjudul sama karya Kôtarô Isaka, serta dibintangi Atsushi Itô, Kengo Kôra, Mikako Tabe, Gaku Hamada, Mirai Moriyama, dan Nao Ōmori. Film ini tayang di Jepang pada 20 Maret 2009, berdurasi 112 menit, dan merangkai beberapa kisah dari tahun 1953 sampai 2012 secara tidak berurutan.
Per 10 September 2026, film ini mendapat nilai 7,5 di IMDb dari sekitar 3.600 suara; di Rotten Tomatoes, 12 ulasan kritikus yang terkumpul seluruhnya positif, dengan nilai penonton 88%. Kedua sumber itu sama-sama menunjukkan tanggapan yang cukup baik, sedangkan hal yang paling banyak dibicarakan dari film ini adalah caranya membuat sebuah lagu yang tidak dilirik siapa pun saat dirilis bisa memengaruhi beberapa generasi lewat rentetan peristiwa yang konkret.
1953: Sebuah Novel yang Salah Diterjemahkan
Sebuah penerbit mendapatkan hak terbit novel berbahasa Inggris A Fish Story, tetapi untuk sementara tidak menemukan penerjemah. Berpatokan pada penampilan seorang pelamar, direktur penerbit itu mengira sang pelamar fasih berbahasa Inggris; padahal pria tersebut tidak bisa berbahasa Inggris dan sedang sangat butuh penghasilan untuk menghidupi keluarganya, sehingga ia hanya bisa membawa pulang naskah aslinya dan menerjemahkannya dengan susah payah bermodal kamus.

Ia salah menerjemahkan kalimat “My own solitary fish story” pada naskah asli menjadi kalimat yang dibuka dengan “Kalau kesepianku adalah seekor ikan”. Setelah mengetahui ada masalah pada terjemahan itu, penerbit menarik kembali seluruh cetakan bukunya, dan hanya seorang karyawan perempuan yang diam-diam menyimpan satu eksemplar. Kesalahan terjemahan ini tidak langsung menimbulkan dampak apa pun, tetapi membuat kalimat yang sebenarnya tidak ada dalam karya aslinya itu tetap terjaga.
1973 sampai 1975: Lagu Terakhir yang Ditinggalkan Gekirin
Band rock “Gekirin” memainkan musik berirama keras di sebuah kabaret, dan gayanya sama sekali tidak cocok dengan selera tamu di tempat itu. Okazaki, manajer sebuah perusahaan rekaman, tidak sengaja mendengar penampilan mereka lalu menawarkan kontrak kepada band tersebut. Dua tahun kemudian, Gekirin tetap tidak kunjung laku di pasar, sehingga perusahaan bersiap mengakhiri kontrak setelah album ketiga selesai direkam, dan band itu pun akan bubar.

Okazaki menyerahkan buku Fish Story peninggalan bibinya kepada Shigeki, pemain bas sekaligus penulis lagu band itu. Setelah membaca kalimat pembuka yang salah diterjemahkan tadi, Shigeki menjadikannya titik awal untuk menulis lagu baru berjudul “FISH STORY”. Produser rekaman meminta band membuat musik yang lebih lembut dan lebih gampang dijual, tetapi beberapa personelnya justru memutuskan untuk mempertahankan suara mereka sendiri pada rekaman terakhir itu.

Tenggat penyerahan pita master kian dekat, sehingga band hanya bisa melakukan satu kali rekaman utuh. Di bagian instrumental lagu itu, Goro sang vokalis keluar dari lirik resmi dan bertanya kepada Okazaki apakah kelak lagu ini bisa sampai ke telinga seseorang. Agar ucapan tersebut tidak ikut masuk ke hasil akhir, kru rekaman mengubah bagian itu menjadi jeda senyap selama hampir satu menit.

Setelah itu, Okazaki datang bersama anak laki-lakinya ke izakaya langganan band tersebut. Mereka membicarakan kemungkinan lagu ini mempertemukan sepasang lelaki dan perempuan puluhan tahun kemudian, lalu anak pasangan itu menyelamatkan dunia, dan menganggap bayangan tadi sebagai “cerita bualan” yang memang pas dengan judul lagunya. Setelah Gekirin bubar, piringan hitam itu menjadi barang lama yang nyaris tidak dikenal orang; sedangkan anak Okazaki, setelah dewasa, membuka sebuah toko piringan hitam bekas.
1982: Teriakan Minta Tolong di Balik Bagian Senyap
Masashi, seorang mahasiswa, mengemudikan mobil sambil mengantar dua temannya, Satoru dan Kentaro, ke sebuah acara kencan berkelompok. Satoru adalah penggemar piringan hitam; ia memutar rekaman ulang “FISH STORY” miliknya lalu menceritakan legenda urban yang tumbuh di sekitar bagian senyap itu: konon jeritan seorang perempuan ikut terekam saat proses rekaman, sehingga perusahaan rekaman membisukan bagian tersebut, dan kadang masih ada orang yang mendengar suara di ruang kosong itu. Masashi yang penakut pun jadi makin gelisah.

Di lokasi acara, Haruko yang mengaku bisa meramal masa depan berkata bahwa di antara para pria yang menemuinya malam itu ada yang kelak ikut menyelamatkan dunia; ia juga memberi tahu Masashi bahwa Masashi akan bertemu perempuan yang ditakdirkan untuknya. Kentaro membawa pergi Haruko tanpa memedulikan penolakannya, sementara Masashi tidak sempat mencegah dan menyesali sikapnya yang mundur.

Ketika pulang mengemudi sendirian, Masashi memutar “FISH STORY” dengan volume sangat keras. Saat lagu itu masuk ke bagian senyap, ia tiba-tiba mendengar teriakan minta tolong seorang perempuan dari luar mobil. Di tepi jalan, seorang pria sedang menyerang seorang perempuan muda; kali ini Masashi tidak menghindar, ia turun dari mobil, berhadapan dengan pria tersebut, lalu menyelamatkan perempuan itu.


Masashi kemudian menikahi perempuan yang ia tolong itu dan mempunyai seorang anak laki-laki. Ia terus menekankan pentingnya keberanian kepada anaknya, bahkan melatih kemampuan bela diri anak itu sejak kecil, dengan harapan sang anak menjadi “pahlawan keadilan” yang mampu melindungi orang lain. Setelah dewasa, anak tersebut bekerja sebagai juru masak di sebuah kapal feri.
2009: Pahlawan Keadilan di Atas Kapal Feri
Pada 1999, Taniguchi, pemimpin sekte kiamat “Bahtera Nuh”, meramalkan bahwa dunia akan hancur lalu mengumpulkan para pengikutnya untuk menunggu hasilnya. Setelah ramalan itu tidak terbukti, Kentaro dengan marah memukul Taniguchi. Dua petinggi sekte, Suzuki dan Tanaka, merebut kendali dan menyatakan bahwa kiamat yang sesungguhnya akan datang pada 2009, lalu mengusir Taniguchi yang tetap bersikeras bahwa kemungkinan berikutnya adalah 2012. Satoru pun sempat dibawa Kentaro ke tempat itu, tetapi ia diam-diam pergi setelah melihat perubahan di dalam sekte tersebut. Sepuluh tahun kemudian, Suzuki dan Tanaka tidak juga menyaksikan kehancuran yang diramalkan, sehingga mereka berbalik memimpin sekelompok orang untuk membajak sebuah kapal feri.
Asami, siswi SMA jurusan sains, menumpang kapal feri dalam perjalanan sekolahnya, tetapi ia tidak sempat turun ketika kapal merapat sehingga terpaksa tetap berada di kapal yang melanjutkan pelayaran. Juru masak muda di kapal itu mengantarkan kue untuk menghiburnya dan menjelaskan bahwa ayahnya melatih dirinya sejak kecil sebagai “pahlawan keadilan”, sehingga kemampuan bela dirinya jauh melampaui orang biasa.

Suzuki, Tanaka, dan kawan-kawannya menguasai kapal feri itu dengan senjata api dan memerintahkan para penumpang untuk menurut. Sang juru masak balas melawan, melumpuhkan para pembajak satu per satu di dalam ruang kapal yang sempit, dan menghentikan mereka sebelum penumpang lain ikut dilukai.


Asami selamat berkat penyelamatan tersebut. Ia kemudian menjadi peneliti matematika dan bergabung dengan misi antariksa yang menangani krisis komet. Masashi yang mendengar lagu itu pada 1982, perempuan yang ia selamatkan, anak mereka berdua, dan Asami yang tertolong akhirnya membentuk satu rantai sebab-akibat yang membentang lebih dari dua puluh tahun.
Ending
Pada 2012, sebuah komet raksasa mendekati Bumi. Penduduk di berbagai tempat mengungsi atau menunggu tumbukan itu, sementara anak Okazaki tetap bertahan di toko piringan hitam bekas miliknya. Taniguchi yang mengidap kanker stadium akhir datang ke toko tersebut dan menyindir keadaan umat manusia yang sebentar lagi punah; sang pemilik toko justru mengeluarkan piringan hitam langka peninggalan Gekirin dan menceritakan asal usul “FISH STORY” kepada Taniguchi serta seorang pelanggan lain.


Umat manusia berencana mendekatkan pesawat antariksa ke komet itu, lalu menembakkan bom nuklir ke bagian dalamnya untuk meledakkannya, tetapi misi tersebut semula nyaris tidak punya peluang berhasil. Asami, yang kini sudah menjadi matematikawan muda sekaligus astronaut, menghitung lintasan peluncuran yang bisa dijalankan dan menyediakan parameter penting bagi pesawat itu.

Bom nuklir itu masuk ke dalam komet mengikuti lintasan hasil perhitungannya lalu meledak, dan benda langit raksasa tersebut hancur berkeping-keping sebelum menghantam Bumi. Orang-orang di permukaan bumi melihat perubahan di langit, dan setelah itu berita memberitakan sumbangan astronaut perempuan Jepang tersebut dalam operasi itu.

Pada bagian penutup, film ini menyambungkan kembali satu per satu peristiwa yang sebelumnya terpencar ke titik awalnya: kesalahan terjemahan pada 1953 melahirkan lirik lagu, dan buku yang tersisa mengilhami Shigeki untuk menulis lagu; ucapan Goro saat rekaman melahirkan bagian senyap; legenda yang diceritakan Satoru membuat Masashi mendengar teriakan minta tolong yang sungguhan di ruang kosong itu; anak dari Masashi dan perempuan yang ia selamatkan melumpuhkan para pembajak kapal feri; lalu Asami yang ditolong anak itu akhirnya menghitung lintasan untuk menghancurkan komet. Lagu yang direkam Gekirin sebelum bubar tidak langsung mengubah dunia, tetapi lewat setiap orang yang mendengarnya lalu bertindak, “cerita bualan” pada masa itu pun menjadi kenyataan.