Dogman
Anak laki-laki yang dikurung di kandang anjing, tumbuh besar ditemani anjing-anjing: ulasan lengkap alur cerita film Luc Besson, DogMan, tentang seorang pria yang sejak kecil dikurung di kandang anjing oleh ayahnya yang kejam, lalu menemukan jati dirinya dan membalas dendam berkat sekawanan anjing yang menemaninya.
Judul
Dogman
Tahun / Durasi
2023 · 114 menit
Genre
Drama
Sutradara
Luc Besson
Penulis
Luc Besson
Rating
Pemeran
Caleb Landry Jones, Christopher Denham, Marisa Berenson, Clemens Schick
Masa Kecil di Dalam Kandang Anjing
Douglas (diperankan oleh Caleb Landry Jones) sejak kecil hidup dalam keluarga yang penuh kekerasan. Ayahnya seorang pemabuk yang kejam, yang menjalankan arena adu anjing ilegal. Sang ayah mengurung Douglas kecil di dalam kandang anjing, membiarkannya hidup bersama anjing-anjing yang dipakai untuk berkelahi. Di dalam kandang besi itu, Douglas menghabiskan empat tahun masa kecilnya.
Anjing-anjing itu menjadi satu-satunya temannya. Mereka menghangatkannya dengan tubuh mereka, menjilat luka-lukanya, dan mengelilinginya untuk melindunginya saat sang ayah mengamuk. Douglas belajar berkomunikasi dengan anjing lewat suara, ekspresi, dan bahasa tubuh, hingga terjalin ikatan yang nyaris tak masuk akal—ia bisa memahami emosi setiap anjing, dan bisa membuat anjing mana pun menuruti perintahnya.
Akhirnya, suatu hari polisi mendobrak masuk dan menyelamatkan Douglas dari kandang itu. Namun bertahun-tahun terkurung membuat kedua kakinya nyaris kehilangan kemampuan untuk berjalan. Sejak saat itu ia harus hidup dengan kursi roda, dan hanya mampu berdiri lalu berjalan beberapa langkah dalam keadaan yang benar-benar darurat.

Salma dan Shakespeare
Douglas dikirim ke sebuah panti sosial. Di sana ia bertemu seorang staf bernama Salma. Salma adalah perempuan yang mencintai seni; ia mengajari Douglas membaca karya Shakespeare, serta mengajarinya merias wajah dan bermain teater. Di bawah bimbingan Salma, Douglas menemukan bakat lain dalam dirinya—akting.
Ia bisa berubah menjadi siapa saja. Pria, perempuan, orang tua, anak-anak—dengan bantuan riasan dan kostum, Douglas mampu memerankan karakter apa pun dengan sempurna. Kemampuan ini kelak menjadi cara utamanya bertahan hidup.
Setelah dewasa, Douglas meninggalkan panti sosial dan menjalani hidup yang unik di kota. Ia mengadopsi puluhan anjing terlantar dan tinggal di sebuah gedung teater terbengkalai, yang ia ubah menjadi rumah besar bagi anjing-anjing itu. Untuk menghidupi anjing-anjingnya, Douglas memanfaatkan bakat menyamarnya, berdandan menjadi berbagai sosok untuk mencuri barang milik orang-orang kaya, lalu menjual hasil curiannya demi membeli makanan anjing.

Evelyn
Kehidupan Douglas berubah karena seorang perempuan bernama Evelyn. Ia bekerja di sebuah klub malam, dan berkenalan dengan Douglas lewat salah satu aksi menyamarnya. Perasaan yang halus pun tumbuh di antara mereka berdua.
Namun “pekerjaan” Douglas juga mengundang bahaya. Kelompok kriminal setempat mulai memperhatikannya dan berusaha memaksanya bekerja untuk mereka. Douglas menolak, dan itu membuatnya menjadi target buruan.

Pasukan Anjing
Konflik inti film meletus di babak ketiga. Kelompok kriminal itu menemukan gedung teater Douglas dan mengancam akan menyakiti anjing-anjingnya. Ini menyentuh batas yang benar-benar tak boleh dilanggar bagi Douglas—anjing-anjing itu adalah keluarganya, satu-satunya yang tidak pernah mengkhianatinya sepanjang hidupnya.
Douglas melepaskan “pasukannya”—puluhan anjing terlatih yang bergerak di bawah komandonya, bagaikan pasukan yang presisi, menyerang para penjahat itu. Naluri liar yang dulu ditempa di arena adu anjing kini berubah menjadi kekuatan seorang pelindung.

Berdiri untuk Terakhir Kalinya
Seluruh kisah ini disampaikan lewat alur mundur—sejak awal, Douglas duduk di ruang interogasi kantor polisi, berhadapan dengan seorang psikiater perempuan, menceritakan seluruh hidupnya. Ia bertutur dengan tenang dan sedikit humor gelap, seolah sedang menceritakan kisah orang lain.
Di akhir cerita, Douglas mengambil keputusan terakhirnya. Ia berdiri sekali lagi—inilah kali terakhir dalam film ini ia berjalan dengan kedua kakinya yang nyaris tak berfungsi. Adegan ini menggemakan kutipan Lamartine yang dikutip di awal film, tentang kesetiaan dan cinta antara manusia dan anjing yang melampaui kata-kata.
Sepanjang hidupnya, Douglas dibuang, disiksa, dan diburu oleh dunia manusia, namun di dunia anjing ia selalu dicintai. Film ini, dengan cara yang nyaris seperti fabel, mengajukan sebuah pertanyaan: di antara sisi manusiawi dan sisi kebinatangan, manakah yang sesungguhnya lebih dekat dengan “kebaikan”?
