← Kembali ke beranda

Darkest Hour

Kabinet Perang mendekati keputusan dalam empat pekan: Ulasan lengkap Darkest Hour, dari Churchill yang diangkat di tengah krisis, evakuasi Dunkirk, hingga penolakannya berunding damai dengan Jerman

Judul

Darkest Hour

Tahun / Durasi

2017 · 125 menit

Genre

Drama / Biografi / Sejarah / Perang

Sutradara

Joe Wright

Penulis

Anthony McCarten

Rating

Pemeran

Gary Oldman (sebagai Winston Churchill), Kristin Scott Thomas (sebagai Clementine Churchill), Lily James (sebagai Elizabeth Layton), Ben Mendelsohn (sebagai George VI), Stephen Dillane (sebagai Lord Halifax), Ronald Pickup (sebagai Neville Chamberlain)

Darkest Hour
Seorang perempuan bertopi berdiri di dalam ruangan dengan papan bertuliskan Plant Room Dua pria berbincang di ruangan mewah yang penuh bingkai foto dan telepon Sejumlah orang duduk dan berdiri di sekitar meja panjang dan peta dinding Seorang perempuan memeluk dari belakang seorang pria lanjut usia bermantel hitam Dua pria berbincang di kedua ujung meja panjang di dalam hanggar Seorang pria berkacamata bundar membungkuk membacakan naskah di depan mikrofon siaran
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Darkest Hour adalah film drama biografi perang asal Inggris yang disutradarai Joe Wright dengan naskah karya Anthony McCarten. Gary Oldman berperan sebagai Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, Kristin Scott Thomas sebagai istrinya, Clementine, Lily James sebagai sekretaris Elizabeth Layton, dan Ben Mendelsohn sebagai Raja George VI. Film berdurasi 125 menit ini tayang di Tiongkok daratan pada 1 Desember 2017.

Hingga 22 Agustus 2026, film ini mendapat nilai 7,4 di IMDb dari sekitar 245.000 penilaian. Rotten Tomatoes mencatat tingkat kesegaran kritikus 84% dari 309 ulasan, sementara skor penontonnya 83% berdasarkan lebih dari 10.000 penilaian. Secara keseluruhan, indikator kritikus maupun penonton sama-sama condong positif.

Cerita dimulai dari pergantian kekuasaan pada Mei 1940, saat posisi Inggris di Eropa Barat memburuk dengan cepat, dan berfokus pada beberapa pekan pertama Churchill sebagai Perdana Menteri. Ia harus menangani evakuasi Dunkirk sekaligus memutuskan di dalam Kabinet Perang apakah Inggris akan berunding dengan Jerman melalui perantaraan Italia atau terus bertempur meski menghadapi kemungkinan invasi. Bagian berikut memuat alur cerita lengkap beserta endingnya.

Pengunduran Diri Chamberlain dan Penunjukan Churchill oleh Raja

Ketika pasukan Jerman bersiap menyerang Belgia dan Belanda, pihak oposisi di parlemen Inggris menuntut Perdana Menteri Neville Chamberlain mundur karena dianggap gagal menyiapkan negara menghadapi Jerman. Petinggi Partai Konservatif cenderung menginginkan Menteri Luar Negeri Lord Halifax sebagai pengganti, tetapi Halifax menilai waktunya belum tepat. Satu-satunya calon yang masih bisa memperoleh dukungan oposisi tinggal First Lord of the Admiralty, Winston Churchill.

Pada hari yang sama, Elizabeth Layton memulai pekerjaannya sebagai sekretaris Churchill. Churchill mendiktekan dokumen sambil berbaring di tempat tidur, lalu meledak marah karena Elizabeth tidak menangkap ucapannya, dan Elizabeth pergi sambil menangis. Clementine meminta suaminya menahan sikap kasar itu, sebab jabatan barunya akan memaksanya bekerja sama dengan lebih banyak orang. Churchill kemudian meminta maaf kepada Elizabeth, dan perempuan itu bertahan untuk melanjutkan pekerjaannya.

Seorang perempuan bertopi berdiri di dalam ruangan dengan papan bertuliskan Plant Room

Pada 10 Mei, meski masih meragukan penilaian politik Churchill di masa lalu, Raja George VI tetap mengundangnya membentuk pemerintahan sesuai prosedur konstitusional. Churchill menerima penunjukan itu dan mempertahankan Chamberlain serta Halifax di dalam Kabinet Perang yang beranggotakan lima orang, dengan harapan pemerintahan koalisi bertahan di tengah krisis nasional.

Dua pria berbincang di ruangan mewah yang penuh bingkai foto dan telepon

Kabinet Perang dan Pidato Pertama di Parlemen

Setelah masuk ke Downing Street, Churchill harus menghadapi ketidakpercayaan di dalam partainya sekaligus situasi perang di Eropa. Chamberlain dan Halifax merasa masih bisa memengaruhi pilihan Perdana Menteri baru itu. Jika Churchill menolak mempertimbangkan perundingan damai, keduanya siap mundur dari jabatan pemerintahan untuk memicu krisis mosi tidak percaya sehingga Halifax berpeluang menggantikannya.

Sejumlah orang duduk dan berdiri di sekitar meja panjang dan peta dinding

Churchill menyampaikan pidato pertamanya di parlemen setelah dilantik dan berjanji mengerahkan seluruh kekuatan untuk berperang. Ia tidak mendapat sambutan hangat dari kursi Partai Konservatif, sementara Chamberlain dan Halifax tidak puas dengan sikapnya yang menolak perundingan. Dalam kehidupan pribadi, Clementine terus mendukung suaminya sambil mengingatkan bahwa ia tidak boleh melampiaskan tekanan dengan menyerang orang-orang di sekitarnya.

Seorang perempuan memeluk dari belakang seorang pria lanjut usia bermantel hitam

Runtuhnya Front Prancis dan Gagalnya Bantuan Amerika

Pasukan Jerman dengan cepat menembus Negara-Negara Dataran Rendah dan masuk ke Prancis, sementara pasukan Inggris dan Prancis terus mundur. Churchill pergi ke Prancis untuk menemui Perdana Menteri Paul Reynaud dengan harapan tentara Prancis menyusun serangan balik, tetapi Reynaud menilai Sekutu sedang kalah dan kedua pihak tidak menemukan cara membalikkan keadaan. Sekembalinya ke Inggris, Churchill tetap berusaha menjaga kepercayaan publik, meski laporan militer makin jelas menunjukkan pasukan Inggris terdesak ke garis pantai.

Dua pria berbincang di kedua ujung meja panjang di dalam hanggar

Dalam pidato radionya, Churchill menggambarkan situasi perang di Prancis lebih optimistis daripada kenyataan, dan Raja George VI langsung memintanya untuk tidak menyesatkan rakyat. Churchill lalu menelepon Presiden Amerika Serikat Franklin Roosevelt untuk meminta kapal perusak serta pesawat tempur yang sudah dibeli Inggris. Roosevelt bersimpati pada posisi Inggris, tetapi terikat Undang-Undang Netralitas Amerika Serikat dan politik di Kongres sehingga tidak dapat langsung menyerahkan bantuan militer tersebut.

Seorang pria berkacamata bundar membungkuk membacakan naskah di depan mikrofon siaran

Pasukan Calais Mengulur Waktu untuk Dunkirk

Pasukan Ekspedisi Britania terjebak di sekitar Dunkirk dan Calais, sementara kapal-kapal angkatan laut mudah menjadi sasaran serangan udara Jerman. Churchill menyetujui Operasi Dynamo, yang mengerahkan kapal-kapal sipil untuk menyeberangi Selat Inggris dan membawa pulang pasukan dalam jumlah besar dari pantai serta pelabuhan Dunkirk. Evakuasi itu butuh waktu, sedangkan pasukan yang bertahan di Calais menahan laju tentara Jerman yang mendekat.

Seorang perempuan yang memeluk berkas berdiri di depan peta dinding

Churchill memerintahkan Brigadir Claude Nicholson dan Brigade Infanteri ke-30 yang bertahan di Calais untuk terus bertempur, sekaligus menegaskan bahwa mereka tidak akan dievakuasi. Keputusan itu membebankan tugas yang nyaris mustahil dilalui hidup-hidup kepada ribuan prajurit, karena setiap jam tambahan mereka bertahan berarti satu jam tambahan bagi evakuasi di Dunkirk. Churchill memahami harga perintah itu, tetapi tetap menempatkan penyelamatan kekuatan utama Pasukan Ekspedisi Britania sebagai prioritas.

Seorang pria lanjut usia berkacamata bundar berdiri di dalam ruangan dengan seorang pria lain di belakangnya

Keraguan Raja dan Tekanan Damai dari Kabinet

Seiring menyerahnya Belgia dan Prancis yang berada di ambang kekalahan, kemungkinan wilayah Inggris sendiri diinvasi ikut meningkat. Raja George VI khawatir keluarga kerajaan terpaksa pindah ke Kanada dan pada awalnya juga tidak sepenuhnya menutup pintu perundingan. Halifax mengusulkan pendekatan kepada Mussolini lewat duta besar Italia di Inggris, agar Italia menjadi perantara untuk menanyakan syarat damai kepada Jerman. Chamberlain berpendapat, jika menunggu sampai tentara Inggris habis di Prancis, posisi tawar mereka justru akan makin lemah.

Seorang pria berjas biru duduk sendirian di meja makan sebuah ruangan mewah

Mayoritas anggota Kabinet Perang perlahan berpihak pada perundingan. Churchill bersikeras bahwa Hitler tidak akan menawarkan syarat yang bisa diterima begitu Inggris kehilangan kemampuan bertahan, tetapi untuk sementara ia tidak memperoleh dukungan yang cukup. Akhirnya ia mengizinkan Halifax menyetujui penyusunan dokumen pendekatan lewat Italia. Namun, ketika mencoba mendiktekan kalimat permohonan damai itu kepada sekretarisnya, ia sendiri pun sulit mengucapkannya sampai selesai.

Pada 27 Mei, Raja George VI tiba-tiba datang ke kediaman resmi Perdana Menteri. Ia memberi tahu Churchill bahwa kini ia mendukung perlawanan diteruskan, sekaligus mendorongnya mencari tahu apakah rakyat biasa bersedia berperang. Pertemuan itu tidak menghapus bahaya militer, tetapi membuat Churchill mencari dukungan politik di luar Kabinet Perang.

Suara Rakyat di Kereta Bawah Tanah dan Dukungan Kabinet Luar

Keesokan harinya, dalam perjalanan menuju parlemen, Churchill turun dari mobilnya dan untuk pertama kalinya naik kereta bawah tanah London. Ia menjelaskan kepada para penumpang di gerbong yang sama pilihan-pilihan yang mungkin dihadapi Inggris. Para penumpang, laki-laki maupun perempuan, sama-sama menolak menyerah kepada Jerman dan menyatakan bersedia terus melawan meski kota mereka diserang. Dari situ Churchill memastikan bahwa kecenderungan berunding di Kabinet Perang tidak mewakili suara yang ia dengar dari rakyat.

Seorang pria bertopi tinggi duduk di dalam gerbong kereta bawah tanah dengan kedua tangan bertaut

Ia kemudian mengumpulkan anggota Kabinet Luar dan anggota parlemen lainnya, berterus terang soal situasi perang dan tekanan untuk berunding, serta menegaskan bahwa ia tidak bersedia menerima perdamaian di bawah dominasi Jerman. Para hadirin dengan jelas mendukung perang diteruskan. Churchill kembali ke Kabinet Perang dan menghentikan rencana perundingan lewat Italia. Halifax masih berharap Chamberlain menjalankan rencana semula, yaitu mengundurkan diri untuk menjatuhkan pemerintahan, tetapi Chamberlain memutuskan menunggu sampai pidato Perdana Menteri selesai disampaikan.

Seorang pria lanjut usia berdiri di samping sekelompok orang yang bertepuk tangan

Ending

Churchill melangkah masuk ke Majelis Rendah, mula-mula melaporkan perkembangan evakuasi Dunkirk, lalu menyatakan bahwa sekalipun Prancis kalah dan Jerman melancarkan invasi, Inggris akan terus melawan di pantai, di lapangan terbang, di ladang, dan di jalan-jalan, serta tidak akan pernah menyerah. Dukungan pertama meledak dari kursi oposisi. Anggota parlemen Partai Konservatif mula-mula diam, sampai Chamberlain mengusap dahinya dengan sapu tangan sebagai isyarat dukungan kepada Perdana Menteri sesuai kesepakatan sebelumnya.

Seorang pria berkacamata bundar berdiri di depan mimbar parlemen

Anggota Partai Konservatif langsung ikut bersorak, dan Halifax kehilangan peluang menjatuhkan Churchill lewat pembelotan di dalam partai. Churchill berjalan melintasi aula parlemen sementara para anggota melambaikan berkas dan melemparkan kertas ke udara. Film menempatkan pidato ini sebagai penutup politik dari krisis tersebut: evakuasi Dunkirk masih berlangsung dan perang jauh dari selesai, tetapi pemerintah Inggris sudah berhenti mencari jalan damai dengan Jerman.

Kerumunan orang di aula parlemen melambaikan dan melemparkan tumpukan kertas ke udara

Teks penutup film menjelaskan bahwa sebagian besar pasukan Inggris di sekitar Dunkirk akhirnya berhasil dievakuasi. Chamberlain meninggal karena sakit enam bulan kemudian, sedangkan Halifax dikirim ke Washington sebagai Duta Besar untuk Amerika Serikat. Churchill memimpin Inggris sampai perang di Eropa berakhir pada 1945, lalu kehilangan jabatan Perdana Menteri dalam pemilihan umum yang digelar pada tahun yang sama.