Breaking Surface
Penyelaman musim dingin berubah menjadi penyelamatan bawah laut akibat runtuhan batu: Uraian lengkap upaya Ida menyelamatkan adiknya, Tuva, dalam Breaking Surface saat seluruh peralatan rusak, oksigen menipis, dan risiko dekompresi mengancam
Judul
Breaking Surface
Tahun / Durasi
2020 · 82 menit
Genre
Drama / Aksi / Thriller
Sutradara
Joachim Hedén
Penulis
Joachim Hedén
Rating
Pemeran
Moa Gammel (sebagai Ida), Madeleine Martin (sebagai Tuva), Trine Wiggen (sebagai Anne)
Breaking Surface adalah film thriller bertahan hidup produksi bersama Swedia, Norwegia, dan Belgia yang ditulis serta disutradarai Joachim Hedén, dengan Moa Gammel, Madeleine Martin, dan Trine Wiggen sebagai pemeran utama. Film berdurasi 82 menit ini tayang di Swedia pada 14 Februari 2020.
Per 2 Oktober 2026, film ini mendapat rating 6,1 di IMDb dari 7.098 penilaian; skor Tomatometer dari kritikus di Rotten Tomatoes mencapai 100% berdasarkan 7 ulasan, sedangkan Popcornmeter dari penonton berada di angka 51% dan halaman tersebut mencatat 50+ penilaian. Sampel ulasan kritikus sangat kecil dan semuanya memberikan penilaian positif, sementara tanggapan penonton lebih beragam.
Kecelakaan Masa Kecil dan Kepulangan untuk Berkumpul Kembali
Sejak kecil, Ida dan adik tirinya dari pihak ibu, Tuva, belajar menyelam bersama ibu mereka, Anne. Saat masih kecil, keduanya berenang di bawah dermaga, tetapi Tuva tak kunjung muncul ke permukaan sehingga Ida menyelam dan membawanya kembali ke tepi. Anne tidak menenangkan Ida yang ketakutan, tetapi justru memarahinya karena gagal menjaga sang adik dan menyalahkannya atas kejadian yang nyaris menenggelamkan Tuva. Pengalaman ini membuat Ida tetap mudah menyalahkan diri sendiri dan panik saat menghadapi krisis setelah dewasa.
Bertahun-tahun kemudian, Ida telah menikah dan memiliki dua anak, tetapi hubungannya dengan sang suami berada di ambang kehancuran. Putrinya menyadari bahwa kedua orang tuanya tidur di kamar terpisah dan langsung bertanya akan tinggal dengan siapa jika mereka bercerai. Ida hanya bisa menenangkannya terlebih dahulu, lalu pergi seorang diri ke Norwegia untuk mengunjungi ibu dan adiknya.

Tuva menjemput Ida di bandara. Ia bekerja sebagai penyelam komersial dan biasa menyelam untuk membersihkan baling-baling kapal barang. Meski baru saja mengalami kejadian berbahaya ketika sebuah baling-baling tiba-tiba menyala, ia tetap berencana bekerja di Filipina selama empat bulan setelah Natal. Tuva dan Anne sama-sama lebih berpengalaman menyelam daripada Ida. Hubungan ibu dan anak itu juga lebih dekat, sehingga Ida kembali merasa tersisih.

Di rumah, Anne mendesak Ida untuk menceritakan keadaan rumah tangganya dan menentang pilihannya untuk melanjutkan terapi pasangan. Keesokan harinya, Anne tidak dapat menyelam karena batuk dan sedang minum obat, sehingga penyelaman musim dingin yang semula direncanakan untuk bertiga hanya diikuti kedua bersaudari itu. Ida sempat mengajak Tuva tinggal bersamanya di Swedia untuk sementara, tetapi Tuva sudah mengatur perjalanan ke Filipina. Kerenggangan mereka pun belum terselesaikan saat berangkat.
Perjalanan ke Fyord dan Persiapan Menyelam
Kedua bersaudari itu membawa anjing milik Anne, Knut, dan berkendara menuju sebuah fyord terpencil. Di tengah perjalanan, mereka bertemu seorang perempuan yang ban mobilnya bocor. Tuva mengambil dongkrak dari mobilnya untuk membantu, tetapi kendaraan bantuan tiba tepat pada waktunya. Mereka pun melanjutkan perjalanan dan meninggalkan dongkrak di lokasi tersebut.
Setibanya di teluk berbatu, mereka meletakkan tabung udara cadangan, ponsel, dan peralatan lain di bawah tebing batu di tepi pantai, lalu memastikan daya baterai serta sinyal ponsel. Mereka berencana menyelam mengikuti tebing hingga kedalaman sekitar 14 meter, kemudian kembali melalui celah yang menanjak sampai kedalaman 5 meter dan menjadikannya sebagai lokasi perhentian aman.

Celah Bawah Air dan Runtuhan Mendadak
Tuva memimpin di depan dengan mengenakan masker wajah penuh, sedangkan Ida yang lebih jarang menyelam mengikutinya. Mereka melewati lorong sempit dan memasuki kantong udara bawah air di dalam formasi batuan. Saat beristirahat sejenak, Ida membicarakan hubungannya yang renggang dengan sang ibu dan rumah tangganya yang sedang hancur. Ia juga menuduh Tuva selalu bisa menjalani kehidupan bersama Anne yang tidak dapat ia ikuti. Tuva menjelaskan bahwa setelah orang tua mereka berpisah, siapa yang tinggal bersama siapa bukanlah sesuatu yang ia pilih sendiri.

Setelah meninggalkan kantong udara, mereka bersiap mengakhiri penyelaman. Tuva melihat beberapa orca melintas di dekat mereka, lalu kedua bersaudari itu berhenti untuk mengamatinya. Orca-orca tersebut segera berbalik dan berenang ke perairan yang lebih dalam. Sesaat kemudian, tebing mulai runtuh dan banyak pecahan batu jatuh ke dalam air.

Runtuhan Batu Menjebak Tuva di Kedalaman 33 Meter
Runtuhan batu memisahkan kedua bersaudari itu. Ida mendengar panggilan Tuva melalui radio, tetapi tidak bisa melihatnya secara langsung sehingga ia hanya dapat terus menyelam mengikuti petunjuk Tuva. Setelah mencapai dasar laut pada kedalaman 33 meter, Ida memasang tali penanda dan berulang kali mencari di air yang keruh. Akhirnya, ia menemukan adiknya dengan mengikuti cahaya lampu.

Tuva tertindih batu besar dan tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Ida mencoba mendorong batu itu dengan tangan kosong, tetapi tidak berhasil. Tuva memintanya tetap tenang, mengeluarkan pelampung penanda untuk menandai lokasi, naik ke permukaan guna meminta bantuan, lalu kembali membawa tabung udara cadangan dan peralatan.

Seluruh Peralatan di Pantai Hancur
Ida naik dengan cepat tanpa melakukan perhentian aman, tetapi mendapati bahwa keruntuhan juga menerjang tepi pantai. Ponsel, kunci mobil, dan tabung udara yang ada di darat tertimbun bebatuan, bahkan beberapa tabung telah rusak. Karena pintu mobil terkunci, Ida memecahkan jendela untuk masuk, tetapi lama tidak berhasil membuka bagasi dari kursi belakang. Ketika Tuva menyuruhnya mengambil dongkrak untuk mengangkat batu besar, barulah Ida teringat bahwa alat itu tertinggal di dekat mobil yang bannya bocor tadi.

Pesawat Terlewat dan Pencarian Peralatan di Rumah Kosong
Ida membawa tabung udara yang masih dapat dijangkau kembali ke dasar laut, tetapi salah satunya terjatuh ke perairan dalam saat ia memindahkannya dan meminta bantuan. Ia lebih dulu meninggalkan tabung miliknya sendiri yang masih berfungsi bersama Tuva, lalu menyusuri tali penanda untuk mencari tabung yang jatuh dan sempat tersesat dalam kegelapan. Setelah kembali ke sisi Tuva, Ida terlebih dahulu menyambungkan masker adiknya ke tabung yang tadi ia tinggalkan sehingga aliran udara pulih. Baru kemudian, saat mencoba menggunakan tabung lain yang telah ditemukan kembali, Ida menyadari bahwa katup tabung itu rusak dan tidak dapat dibuka; karena itu, tabung yang masih nyaris penuh tersebut tidak dapat dipakai sebagai sumber udara biasa.
Sebuah pesawat kecil melintas di atas fyord. Ida kembali naik ke permukaan dan melambaikan tangan untuk meminta bantuan. Pesawat itu sempat berbelok dan berputar-putar, tetapi kemudian pergi. Ida juga tidak memiliki alat pemberi sinyal yang dapat menunjukkan posisinya dengan jelas kepada awak pesawat. Berkali-kali naik dan turun dengan cepat membuat bahu serta lengannya mulai nyeri, hidungnya berdarah, dan ia muntah, yang merupakan tanda-tanda cedera dekompresi.

Peta di tepi pantai menunjukkan sebuah rumah sekitar satu kilometer dari sana. Ida berlari ke rumah itu untuk meminta bantuan, tetapi tidak ada seorang pun di dalam, sementara telepon dan internet tidak dapat tersambung. Seekor anjing lain di halaman menerkamnya dan menggigit hingga pakaian selam keringnya robek. Ida membunuh anjing itu dalam perkelahian. Ia meninggalkan pesan di dalam rumah bahwa seorang penyelam terjebak di kedalaman 33 meter dan meminta siapa pun yang menemukannya untuk menelepon 112, lalu mengambil sebuah perkakas logam dari tungku. Dengan perkakas itu, ia mencongkel bagasi mobil hingga terbuka. Di dalamnya tidak ada dongkrak, hanya cairan penambal ban. Ida kemudian mencopot tiang rambu jalan dan menutup robekan pada bagian kaki pakaian selamnya dengan cairan penambal ban serta perban sebelum kembali ke teluk.

Linggis dan Rompi Tiup Sama-Sama Gagal
Ida membawa tiang rambu jalan ke dasar laut dan mencoba menggunakan titik tumpu untuk mengangkat batu besar, tetapi batang logam itu patah ketika diberi tekanan. Sisa udara Tuva hanya cukup untuk bertahan beberapa menit, sedangkan katup tabung cadangan juga rusak sepenuhnya. Kedua bersaudari itu beralih menggunakan alat apung. Mereka menyelipkan rompi tiup ke bawah batu besar lalu mengisinya dengan udara, tetapi alat itu bocor sehingga tidak menghasilkan daya apung yang cukup.

Ending
Saat udara hampir habis, Tuva meminta Ida memilih antara tetap di dasar laut untuk berbagi sisa udara terakhir atau mengambil risiko naik ke permukaan demi menyelamatkan diri. Awalnya, Ida tidak mau pergi sendirian. Ia meminta maaf karena ibu mereka tidak bisa berada di sisi Tuva, tetapi Tuva menegaskan bahwa orang yang ia inginkan di sisinya saat itu adalah kakaknya. Tuva meminta Ida beralih menggunakan tabung udara milik Tuva setelah udara Ida habis agar setidaknya sang kakak dapat bertahan hidup. Pada akhirnya, Ida tetap melakukan pendakian darurat ke permukaan.
Setelah kembali ke tepi pantai, Ida melihat cairan penambal ban dan menyadari bahwa cairan itu juga dapat memperbaiki alat apung yang bocor. Ia segera kembali ke dasar laut, menutup titik kebocoran dengan cairan tersebut, lalu menyelipkan alat itu ke bawah batu besar dan mengisinya dengan udara. Alat apung itu mengembang dan mengangkat batu, sehingga Tuva dapat menarik tubuhnya yang terjepit keluar melalui celah.

Tuva tidak membiarkan Ida, yang sudah berkali-kali naik dengan cepat, segera melesat ke permukaan. Ia membawa kakaknya masuk ke kantong udara bawah air untuk sebisa mungkin menjalani dekompresi. Karena udara di dalam kantong itu tidak mencukupi, mereka mengambil kembali tabung dari dasar laut yang katupnya rusak tetapi isinya masih hampir penuh. Mereka memukul katup itu hingga pecah, lalu melepaskan udara di dalam tabung ke kantong udara agar dapat menunggu lebih lama. Keduanya terus naik dan akhirnya kembali ke tepi pantai, kemudian Ida lemas dan tidak lagi merespons. Tuva membawa kakaknya ke pantai berbatu. Beberapa menit kemudian, Ida kembali membuka mata, dan sebuah helikopter dengan lampu sorot tiba di fyord. Kedua bersaudari itu akhirnya diselamatkan. Knut tetap berada di tepi pantai dan tidak terluka dalam kecelakaan tersebut.