← Kembali ke beranda

The Voice Calling Your Name

Kehidupan penuh keputusasaan di balik mayat wanita yang digerogoti kucing: uraian lengkap alur cerita serial drama Jepang The Voice Calling Your Name (Zekkyo, 2019), mulai dari masa kecil Yôko Suzuki yang diabaikan, pergulatannya jatuh ke jurang keputusasaan, hingga kebenaran di balik pembunuhan berantai demi uang asuransi dan akhir hidupnya yang berujung kematian dalam kesepian.

Judul

The Voice Calling Your Name

絶叫

Tahun / Durasi

2019 · 4 episode × 52 menit

Genre

Drama / Kriminal

Sutradara

Naruhide Mizuta

Penulis

Natsuko Ikeda

Rating

Pemeran

Machiko Ono, Ken Yasuda, Manami Konishi, Jin Katagiri

Karya asli

Zekkyo (novel karya Aki Hamanaka dengan judul yang sama)

The Voice Calling Your Name
Cuplikan adegan 1 Cuplikan adegan 2 Cuplikan adegan 3 Cuplikan adegan 4 Cuplikan adegan 5
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

The Voice Calling Your Name (絶叫, Zekkyo) adalah miniseri drama kriminal Jepang berdurasi empat episode yang tayang di stasiun televisi WOWOW pada 2019, diadaptasi dari novel misteri karya Aki Hamanaka dengan judul yang sama, disutradarai oleh Naruhide Mizuta dan ditulis oleh Natsuko Ikeda, dibintangi oleh Machiko Ono, Ken Yasuda, dan Manami Konishi. Kisahnya berawal dari penemuan mayat seorang wanita di sebuah apartemen di Tokyo, lalu melalui dua alur cerita yang saling terjalin — penyelidikan polisi dan kilas balik kehidupan korban sebelum meninggal — perlahan mengupas bagaimana seorang wanita biasa terdesak hingga ke titik nadir oleh keluarga asalnya, masyarakat, dan takdir, sampai akhirnya terjerumus ke dalam pembunuhan berantai demi uang asuransi. Berikut ini uraian lengkap alur ceritanya, termasuk spoiler besar.

Awal: Mayat yang Digerogoti Kucing

Di sebuah apartemen sederhana di Kokubunji, Tokyo, pemilik rumah mendobrak masuk karena sudah lama tidak menerima uang sewa, dan menemukan mayat seorang wanita yang sudah meninggal setidaknya lima bulan. Di dalam rumah dipelihara sebelas ekor kucing yang, karena tidak ada yang memberi makan, telah menggerogoti mayat pemiliknya hingga hampir tak dikenali. Berdasarkan sebuah buku tabungan yang ditemukan di dalam akuarium ikan mas di rumah itu, polisi awalnya memastikan identitas korban sebagai Yôko Suzuki, berusia sekitar empat puluh tahun. Dokter forensik menyimpulkannya sebagai kasus khas kodokushi — kematian dalam kesepian, tanpa ada yang peduli atau menjenguknya, seorang yang hidup di pinggiran masyarakat dan mati sendirian di rumah sewaannya.

Namun, detektif wanita yang menangani kasus ini, Ayano Okunuki (diperankan oleh Manami Konishi), meragukan kesimpulan tersebut. Ada beberapa detail di lokasi kejadian yang tidak masuk akal: tingkat kerapian ruangan tidak sesuai dengan kekacauan yang biasanya menyertai kodokushi, dan hubungan sosial Yôko tampak sengaja dihapus jejaknya. Ayano memutuskan untuk menyelidiki lebih dalam, dan dari situlah terkuak sebuah kehidupan yang mencekik napas.

Cuplikan adegan 1

Masa Kecil yang Diabaikan: Sang Ibu Lebih Sayang pada Adik Laki-Laki

Kisah kembali ke masa remaja Yôko Suzuki. Yôko lahir dalam keluarga yang tampak biasa saja, tetapi sang ibu, Taeko, sejak awal mencurahkan seluruh kasih sayangnya hanya kepada adik laki-laki Yôko. Sang adik menjadi anak emas yang dimanja, sementara Yôko tidak pernah mendapat pengakuan dari ibunya, sekeras apa pun ia berusaha. Nilainya bagus dan ia patuh, tetapi selalu diperlakukan seolah tidak terlihat. Sang ayah memang lebih lembut terhadap Yôko, tetapi ia tidak punya suara di rumah dan tidak berdaya mengubah sikap pilih kasih istrinya.

Lingkungan tumbuh kembang yang diabaikan dalam waktu lama ini menanamkan luka batin yang dalam di hati Yôko. Ia mendambakan kasih sayang, ingin dilihat, tetapi tidak pernah mendapat balasan. Yang lebih parah, sang ayah kemudian menghilang karena terlilit utang besar, membuat tulang punggung ekonomi keluarga runtuh seketika. Alih-alih memberikan penghiburan, Taeko justru melimpahkan tekanan hidup dan kebenciannya kepada Yôko, menuntutnya untuk menanggung tanggung jawab mengirim uang demi menghidupi keluarga.

Bertahan Hidup di Tokyo: dari Sales Asuransi hingga Pekerja Seks

Setelah lulus SMA, Yôko pergi sendirian ke Tokyo, berharap bisa memulai hidup baru lewat kerja kerasnya sendiri. Ia bekerja sebagai sales di sebuah perusahaan asuransi, bekerja keras namun hasilnya selalu biasa saja. Demi menjual satu polis lagi, ia harus menahan perlakuan buruk dari klien dan tekanan dari atasan, bahkan mengalami pelecehan seksual dan penghinaan fisik. Di kota yang dingin ini, Yôko berjuang sekuat tenaga namun tetap terjebak di lapisan paling bawah.

Cuplikan adegan 2

Namun pukulan yang lebih besar menyusul — Yôko dipecat dari perusahaan asuransi itu. Setelah kehilangan pekerjaan, ia tidak bisa mendapat pekerjaan baru dan hidupnya jatuh ke dalam kemiskinan total. Sementara itu, Taeko masih terus meminta uang bulanan, sehingga Yôko terjepit oleh tekanan ekonomi dan psikologis sekaligus hingga ke titik putus asa. Tanpa jalan keluar lain, ia terjun ke industri seks, menjual tubuhnya untuk bertahan hidup sambil tetap mengirim uang kepada ibunya.

Pengalaman ini mengubah Yôko sepenuhnya. Gadis yang dulu lembut dan baik hati mulai berubah menjadi keras dan dingin; ia belajar bertahan hidup dengan cara lain di dunia yang kejam ini.

Bertemu Takeshi Kamishiro: Gerbang Menuju Neraka

Titik balik takdir muncul pada hari Yôko bertemu Takeshi Kamishiro (diperankan oleh Ken Yasuda). Kamishiro adalah pria yang berkeliaran di zona abu-abu hukum, menjalankan organisasi nirlaba bernama “Kind Net” yang di permukaan membantu para tunawisma, tetapi sebenarnya mengancam dan membujuk orang-orang tanpa rumah itu untuk memakai identitas mereka guna menipu dana bantuan hidup dari pemerintah. Kamishiro juga punya seorang tunawisma bernama Tokuo Yagi sebagai tangan kanan sekaligus kaki tangannya.

Pertemuan Yôko dengan Kamishiro sama sekali tidak romantis. Dalam sebuah bentrokan, Yôko diserang oleh Kamishiro dan orang-orangnya. Namun justru di saat paling putus asa itulah terjadi perubahan mendasar dalam diri Yôko. Ia tidak hancur, tidak memohon ampun, melainkan dengan tenang mengajukan sebuah tawaran yang mengejutkan kepada Kamishiro.

Cuplikan adegan 3

Pembunuhan demi Uang Asuransi: Menukar Nyawa dengan Uang

Tawaran Yôko adalah pembunuhan demi uang asuransi. Ia pernah bertahun-tahun bekerja di perusahaan asuransi dan memahami betul setiap celah dan prosedur klaim asuransi. Ia menyusun rencana yang rapi: pertama membuat target membeli polis asuransi jiwa bernilai tinggi, lalu merekayasa “kecelakaan” yang menewaskannya, dan akhirnya penerima manfaat yang telah ditunjuk mencairkan uang asuransi dalam jumlah besar.

Yôko mula-mula memanfaatkan tubuhnya untuk mendekati pria-pria yang bernilai ekonomi, menjalin hubungan dengan mereka bahkan sampai menikah palsu. Setelah itu, ia menyuruh Kamishiro dan Yagi turun tangan, merekayasa kematian yang tampak seperti kecelakaan. Setelah satu kali berhasil dan merasakan manisnya hasil itu, Yôko dan Kamishiro mulai berulang kali melakukan “tukar uang” semacam ini — menukar nyawa manusia dengan uang asuransi. Setiap kali berhasil, Yôko menjadi semakin kejam dan semakin lihai berhitung.

Para pria yang menikahi Yôko itu semuanya “meninggal secara tidak sengaja” tak lama setelah pernikahan. Namun karena setiap kali modusnya berbeda, jarak waktunya cukup panjang, dan secara kasat mata tidak terlihat ada keterkaitan, polisi tidak pernah menyadari adanya keganjilan.

Konfrontasi Terakhir dengan Sang Ibu

Seiring uang asuransi yang terus terkumpul, kehidupan materi Yôko membaik, tetapi kekosongan di hatinya tidak pernah terisi. Selama bertahun-tahun, Taeko tetap menjadi belenggu terberat yang membebani hatinya — wanita yang tidak pernah memberinya kasih sayang namun terus menuntut.

Dalam sebuah kunjungan pulang ke kampung halaman untuk menemui ibunya, kebencian yang terpendam bertahun-tahun akhirnya meledak. Yôko mencoba mencekik ibunya, tetapi di detik terakhir tangannya berhenti. Ia tidak sanggup melakukannya. Meski disakiti seumur hidup, gadis kecil yang mendambakan kasih sayang ibu itu tetap tinggal di dalam dirinya. Namun, di tengah pertengkaran yang kacau itu, Taeko terpeleset dan jatuh dari tebing.

Cuplikan adegan 4

Ironisnya, justru pada saat ibunya terjatuh itulah Yôko seakan akhirnya merasakan semacam pemahaman yang datang terlambat — mungkin ibunya tidak sepenuhnya tidak mencintainya, hanya saja tidak pernah tahu cara mengungkapkannya. Namun kesadaran ini datang terlalu terlambat, semuanya sudah tak bisa diperbaiki lagi.

Penyelidikan Ayano: Dua Kasus yang Bersinggungan

Berjalan beriringan dengan kilas balik kehidupan Yôko adalah alur penyelidikan detektif Ayano Okunuki. Pada periode yang sama saat jasad Yôko ditemukan sebagai kasus kodokushi, kasus lain menarik perhatian polisi: Takeshi Kamishiro, perwakilan organisasi nirlaba “Kind Net”, ditemukan tewas mengenaskan di kantornya sendiri setelah ditikam lebih dari dua puluh kali.

Ayano dengan tajam menangkap adanya keterkaitan tersembunyi antara kedua kasus itu. Seiring penyelidikan yang semakin dalam, ia perlahan menyusun kembali hubungan rumit antara Yôko dan Kamishiro, serta rencana pembunuhan berantai demi uang asuransi yang mereka jalankan bersama. Rangkaian bukti tersambung satu sama lain: para suami yang “meninggal secara tidak sengaja”, aliran dana asuransi bernilai besar, cara kerja organisasi Kamishiro — semuanya mengarah pada satu inti yang sama, yaitu Yôko Suzuki adalah dalang sesungguhnya di balik seluruh rencana pembunuhan ini.

Ending: Hampir 300 Juta Yen dan Kematian dalam Kesepian

Penyelidikan akhirnya mengungkap seluruh kebenaran di balik pembunuhan demi uang asuransi, sekaligus duduk perkara pembunuhan Kamishiro. Yôko dan Kamishiro berselisih secara fatal soal pembagian uang asuransi yang hampir mencapai tiga ratus juta yen. Mitra yang dulunya bekerja sama itu kini saling bermusuhan, dan hasil dari perselisihan internal ini adalah Kamishiro tewas ditikam lebih dari dua puluh kali, sementara Yôko, setelah mengumpulkan kekayaan yang sangat besar, tinggal sendirian di apartemen sederhana itu hingga akhirnya meninggal dalam kesepian.

Cuplikan adegan 5

Namun, penutup kasus ini penuh dengan ironi kelam. Polisi menemukan sepotong tali pusar di kediaman lama Taeko, ibu Yôko, dan setelah diperiksa DNA-nya, tali pusar itu cocok sepenuhnya dengan jasad kodokushi di apartemen itu — yang akhirnya memastikan bahwa korban memang benar Yôko Suzuki sendiri. Setelah identitas dipastikan dan semua kebenaran terungkap, tim penyelidik dinyatakan bubar.

Perjalanan hidup Yôko, dari gadis kecil yang diabaikan ibunya, menjadi sales asuransi yang digilas masyarakat, lalu menjadi pembunuh berantai yang nekat mengambil risiko, dan akhirnya berujung sebagai mayat tanpa identitas yang digerogoti kucing. Ia telah mengerahkan segala cara untuk melarikan diri dari jeratan takdirnya, namun setiap perjuangan yang ia lakukan justru mendorongnya semakin dalam ke jurang. Jeritan “Zekkyo” ini adalah protes terhadap takdir yang tidak adil, sekaligus catatan kaki paling menyayat tentang sisi gelap kemanusiaan.