The Wasted Times
Kemewahan Shanghai lama runtuh di tengah perang dan pengkhianatan: Uraian lengkap potret kolektif non-linear The Wasted Times, jati diri Watabe, dan pembalasan di kamp tawanan perang
Judul
The Wasted Times
Tahun / Durasi
2016 · 125 menit
Genre
Drama
Sutradara
Er Cheng
Penulis
Er Cheng
Rating
Pemeran
You Ge (sebagai Tuan Lu), Ziyi Zhang (sebagai Xiao Liu), Tadanobu Asano (sebagai Watabe), Chun Du (sebagai sang pembunuh bayaran), Gillian Chung (sebagai Xiao Wu), Quan Yuan (sebagai Nona Wu)
Karya asli
Kumpulan cerita pendek karya Er Cheng dengan judul yang sama
Penghargaan
China Film Directors' Guild Awards 2016: Sutradara Tahun Ini (Er Cheng); Asian Film Awards ke-11: nominasi Sinematografi Terbaik dan Desain Kostum Terbaik
The Wasted Times ditulis, disutradarai, sekaligus disunting oleh Er Cheng, diadaptasi dari kumpulan cerita pendeknya yang berjudul sama, dengan You Ge, Ziyi Zhang, Tadanobu Asano, Chun Du, Gillian Chung, dan Quan Yuan sebagai pemeran utama. Film ini memecah lalu menyusun ulang beberapa garis cerita tokoh sejak 1934 hingga setelah Perang Melawan Jepang berakhir, dan membuka gambaran utuh peristiwanya sedikit demi sedikit lewat beberapa kali kilas balik. Film ini tayang di Tiongkok daratan pada 16 Desember 2016 dengan durasi 125 menit.
Per 27 Agustus 2026, film ini mendapat skor 6,9 di IMDb dari 2.211 penilai; di Rotten Tomatoes, tingkat kesegaran ulasan kritikus profesional berada di 20% dengan sampel 5 ulasan, sedangkan indeks popcorn penonton mencapai 75% dengan keterangan 250+ penilai di halamannya. Data penonton Rotten Tomatoes secara keseluruhan cenderung positif, IMDb berada di tengah, sementara ulasan kritikus profesional Rotten Tomatoes punya sampel yang sangat kecil dan hasilnya cenderung negatif, sehingga perbedaan antarplatform terlihat jelas. Berikut uraian alur ceritanya sesuai urutan kejadian yang sebenarnya.
Tiga Tahun Sebelumnya: Xiao Liu Dikirim Pergi dari Shanghai
Di Shanghai pada 1934, setelah Bos Wang menikahi Xiao Liu yang seorang sosialita, Xiao Liu tetap menjalin hubungan dengan pria lain dan ingin mengakhiri pernikahan itu. Ia meminta Tuan Lu menjadi penengah. Bos Wang mempersoalkan bagaimana orang luar memandang perkara ini, tetapi pada akhirnya ia tidak menuntut Xiao Liu dihukum mati; ia justru memutuskan mengirim Xiao Liu bersama aktor yang menjadi kekasihnya keluar dari Shanghai, mengumumkan kepada publik bahwa keduanya sudah meninggal, dan memberi Xiao Liu sejumlah uang untuk biaya hidup.

Tuan Lu menyerahkan tugas pengawalan itu kepada Watabe, adik iparnya yang berkebangsaan Jepang. Watabe sudah bertahun-tahun tinggal di Shanghai, menikah dengan adik perempuan Tuan Lu, punya dua anak laki-laki, sehari-hari mengelola restoran masakan Jepang, dan bisa berbicara dalam dialek Shanghai dengan lancar. Ia mengemudikan mobil membawa Xiao Liu, sang aktor, dan seorang sopir menuju Suzhou untuk berpindah ke kereta api. Di tengah jalan, satu iring-iringan kendaraan militer Jepang datang dari arah berlawanan, dan mereka memundurkan mobil ke tepi jalan untuk memberi jalan. Setelah kendaraan militer itu pergi, Watabe menyuruh sopir kembali menepikan mobil keluar dari jalan, lalu menembak mati sopir dan sang aktor, dan memperkosa Xiao Liu.

Watabe Menyembunyikan Xiao Liu di Restorannya
Setelah mengubur kedua korban, Watabe membawa Xiao Liu kembali ke restoran masakan Jepang miliknya dan menyembunyikannya di sebuah kamar yang terputus dari dunia luar. Ia menyuruh Xiao Liu mengenakan pakaian Jepang dan mengubah gaya rambutnya, membatasi kebebasan geraknya dalam waktu lama, serta terus-menerus melakukan kekerasan seksual terhadapnya. Xiao Liu pernah mendapatkan sebuah pistol di dalam mobil dan membidikkannya ke arah Watabe, tetapi ia tidak menembak; film tidak menjelaskan pilihan itu sebagai satu motif tunggal.

Di rumah, Watabe tetap memerankan sosok suami dan ayah, dan di hadapan keluarga Lu ia menjaga citra adik ipar yang dekat serta bisa diandalkan; begitu masuk ke restorannya, ia berganti memakai pakaian Jepang dan berbicara dalam bahasa Jepang. Xiao Liu dikurung seperti itu selama kurang lebih tiga tahun. Dua kehidupan yang berjalan bersamaan itu sekaligus menutupi satu lapis jati diri Watabe yang lebih dalam: ia adalah mata-mata yang sejak lama ditempatkan pihak Jepang di Shanghai.

Nona Wu Didorong ke Kediaman Tuan Dai
Pada masa yang sama, Nona Wu, seorang bintang film terkenal, membintangi sebuah film bersama suaminya yang juga aktor. Karier dan kemampuan akting suaminya sama-sama berada di bawah dia, dan suaminya pernah ditahan polisi karena terlibat masalah. Nona Wu akhirnya hanya bisa meminta bantuan Tuan Dai, orang yang punya kekuasaan besar, lewat perantaraan Bibi Wang. Tuan Dai mengatur agar suaminya mendapat pekerjaan bergaji besar di luar kota; syarat pertukarannya tidak dituliskan langsung sebagai sebuah perjanjian, tetapi berarti Nona Wu akan pindah ke kediaman Tuan Dai.

Nona Wu mula-mula berusaha menolak, dan baru kemudian mengetahui bahwa suaminya sudah menerima pekerjaan itu. Suaminya memilih meninggalkan Shanghai dan menyerahkan dia sendirian kepada Tuan Dai. Sambil menatap cincin kiriman Tuan Dai, Nona Wu paham bahwa suaminya sudah mengambil keputusan untuk mereka berdua. Setelah perang meluas, Tuan Dai menitipkan urusan pengungsian Nona Wu kepada Tuan Lu, dan garis cerita sampingan ini pun ikut melebur ke dalam rombongan pengungsi seiring berubahnya keadaan di Shanghai dan Hong Kong.

Tuan Lu Menolak Kerja Sama dengan Pihak Jepang
Menjelang Pertempuran Shanghai pada 1937, aksi mogok kerja, penculikan, dan bentrokan antargeng di Shanghai terus meningkat. Tuan Lu menangani berbagai perselisihan dengan caranya sendiri, dan ia juga menahan seorang pemuda yang semula menarik becak untuk tetap berada di sisinya sebagai pembunuh bayaran. Pihak Jepang berencana mendirikan bank di Shanghai dan berusaha mengajak Tuan Lu beserta kekuatan yang menopangnya untuk bekerja sama. Tuan Lu menolak permintaan itu, tetapi Tuan Zhang, orang dalam geng tersebut, justru berbalik memihak Jepang.

Watabe diam-diam menghadiri rapat pihak Jepang dan setuju membantu menyingkirkan Tuan Lu. Supaya jati diri publiknya tetap meyakinkan, ia menyiapkan sebuah serangan yang bisa membuatnya tampak sebagai korban: keluarga Tuan Lu akan dibunuh, sedangkan ia sendiri akan baku tembak dengan orang Jepang di depan mata Tuan Lu lalu tertembak. Sampai saat itu Tuan Lu masih menganggap Watabe sebagai keluarga dan tidak menyadari rencana tersebut.

Pembantaian Keluarga, Pelarian, dan Perhitungan di Hong Kong
Orang-orang Tuan Zhang menyerang keluarga Lu; banyak kerabat dan anak buah Tuan Lu tewas, dan istri Watabe termasuk yang meninggal di sana. Baku tembak di dalam restoran terjadi setelah itu: Watabe menembak mati seorang Jepang di depan mata Tuan Lu, sementara dadanya sendiri tertembak, sehingga ia tampak seperti sedang menyelamatkan Tuan Lu. Kenyataannya, lewat cara itu ia merampungkan kematian palsu sekaligus pergantian jati dirinya. Tuan Lu melarikan diri dari Shanghai sambil membawa kedua putra Watabe, lalu kemudian berpindah ke Hong Kong.

Setelah tentara Jepang menduduki Shanghai, Watabe tidak lagi mempertahankan kehidupan publiknya yang lama. Sebelum meninggalkan garis depan, ia sempat mencoba mencekik Xiao Liu sampai mati untuk membungkamnya, tetapi akhirnya mengurungkan niat itu. Xiao Liu selamat dan muncul di sebuah panti penampungan di Shanghai setelah perang berakhir; film tidak menceritakan secara utuh apa yang ia alami antara masa di restoran itu dan masa di panti penampungan. Pada saat yang sama, Tuan Lu yang berada di Hong Kong memburu para pengkhianat. Pada 1941, ia mengirim sang pembunuh bayaran kembali ke Shanghai untuk membunuh Tuan Zhang, dan Xiao Wu yang masih tinggal di Shanghai ikut dalam aksi itu. Di stasiun, Xiao Wu lebih dulu melepaskan tembakan untuk menarik perhatian rombongan Tuan Zhang, lalu ia sendiri tertembak dan tewas, sementara sang pembunuh bayaran memanfaatkan kekacauan itu untuk membunuh Tuan Zhang.

Ending
Setelah Perang Melawan Jepang berakhir, Tuan Lu kembali ke Shanghai dan menemukan Xiao Liu di panti penampungan. Xiao Liu mengenalinya, lalu ikut pergi bersamanya. Sementara itu, Watabe menjadi tawanan perang di Filipina. Tuan Lu datang ke kamp tawanan perang bersama Xiao Liu, sang pembunuh bayaran, serta kedua putra Watabe, dengan harapan bisa membawa Watabe keluar dari kamp untuk diadili dengan caranya sendiri; menurut prosedur, Watabe harus menandatangani dokumen persetujuan ekstradisi.

Watabe mula-mula menolak menandatanganinya. Tuan Lu membuatnya melihat Xiao Liu dan kedua putranya di luar kamp dari sisi jendela, dan sang pembunuh bayaran langsung menembak mati putra yang lebih tua. Barulah Watabe menandatangani dokumen itu dan dibawa keluar kamp. Ia menyuruh putranya yang tersisa kembali ke kamp tawanan perang dan menyatakan kepada penjaga bahwa dirinya orang Jepang. Setelah anak itu masuk ke dalam kamp, Xiao Liu mengangkat pistol dan menembak mati Watabe. Di akhir film, Tuan Lu tiba di Hong Kong seorang diri; keluarga, geng, dan kehidupan Shanghai lama yang dulu mengelilinginya semuanya sudah tidak ada lagi.
