The Ugly
Sebuah kerangka berusia empat puluh tahun dan sebuah wajah yang tak pernah dilihat: uraian lengkap alur cerita film The Ugly, tentang Im Dong-hwan, putra sang maestro ukir stempel tunanetra, yang menelusuri penyebab kematian ibunya, Jeong Yeong-hee, lewat lima wawancara, bagaimana kebenaran itu justru mengarah kepada sang ayah Im Yeong-gyoo, dan wajah yang ada di foto terakhir itu
Judul
The Ugly
얼굴
Tahun / Durasi
2025 · 102 menit
Genre
Misteri / Thriller / Drama
Sutradara
Yeon Sang-ho
Penulis
Yeon Sang-ho
Rating
Pemeran
Park Jeong-min (sebagai Im Dong-hwan / Im Yeong-gyoo muda), Kwon Hae-hyo (sebagai Im Yeong-gyoo), Shin Hyeon-bin (sebagai Jeong Yeong-hee), Han Ji-hyun (sebagai Kim Soo-jin), Im Sung-jae (sebagai Baek Joo-sang muda)
Karya asli
Diadaptasi dari novel grafis berjudul sama karya Yeon Sang-ho yang terbit pada 2018
Penghargaan
Baeksang Arts Awards ke-62: Aktor Terbaik kategori Film (Park Jeong-min)
The Ugly (얼굴, Eolgul) adalah film thriller misteri Korea Selatan yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Yeon Sang-ho, diadaptasi dari novel grafis berjudul sama karya sutradara itu sendiri yang terbit pada 2018. Yeon Sang-ho, yang dikenal lewat Train to Busan dan Hellbound, kali ini beralih ke produksi berbiaya kecil: biaya pembuatan film ini sekitar 200 juta won, masa syutingnya tiga minggu, krunya hanya sekitar 20 orang, dan sang pemeran utama Park Jeong-min bermain tanpa bayaran. Tim produksi bahkan melepas syuting di lokasi nyata dan memakai set buatan sementara demi menekan pengeluaran.
Park Jeong-min memerankan dua tokoh sekaligus: Im Dong-hwan, sang anak di alur masa kini, sekaligus Im Yeong-gyoo muda, pengukir stempel tunanetra di alur kenangan. Kwon Hae-hyo memerankan Im Yeong-gyoo yang sudah tua, Shin Hyeon-bin memerankan sang ibu, Jeong Yeong-hee, yang wajahnya tak pernah terlihat sepanjang film, Han Ji-hyun memerankan produser televisi Kim Soo-jin, dan Im Sung-jae memerankan masa muda Baek Joo-sang, pemilik pabrik garmen. Film ini tayang perdana untuk dunia pada September 2025 di program Special Presentations Festival Film Internasional Toronto, lalu tayang di bioskop Korea Selatan pada 11 September lewat Plus M Entertainment, dan pada 5 Oktober jumlah penontonnya menembus 1 juta orang. Durasinya 102 menit.
Dari sisi penerimaan, film ini mendapat nilai 6,6 di IMDb; dari 30 ulasan kritikus yang dihimpun Rotten Tomatoes, 53% di antaranya positif, sementara Metacritic memberinya nilai rata-rata 50. Penilaiannya jelas terbelah: pihak yang memuji menyoroti permainan ganda Park Jeong-min dan Kwon Hae-hyo serta percakapan ayah-anak di penghujung film, sedangkan pihak yang mengkritik menilai struktur bergaya wawancara itu membuat temponya lamban dan misterinya terbongkar terlalu dini. Lewat film ini Park Jeong-min meraih penghargaan Aktor Terbaik kategori Film di Baeksang Arts Awards ke-62, sementara Yeon Sang-ho dan Shin Hyeon-bin masing-masing masuk nominasi Skenario Terbaik dan Aktris Pendukung Terbaik.
”Keajaiban yang Hidup” di Depan Kamera Dokumenter
Im Yeong-gyoo terlahir buta, tetapi lewat kedua tangannya ia menjadi maestro ukir stempel yang dikenal di seluruh negeri dan dijuluki media sebagai “keajaiban yang hidup”. Ia hidup berdua saja dengan putranya, Im Dong-hwan, dan urusan toko stempel maupun publikasi ke luar sebagian besar ditangani Dong-hwan. Kim Soo-jin, seorang produser televisi, datang ke toko itu bersama kru syutingnya untuk membuat film dokumenter tentang Im Yeong-gyoo, merekam perjalanan hidup dan keahliannya.

Di tengah masa syuting, Dong-hwan menerima telepon dari polisi. Polisi menemukan kerangka manusia di lereng sebuah gunung yang sepi, dan setelah dipastikan, jenazah itu adalah Jeong Yeong-hee, istri Im Yeong-gyoo yang hilang empat puluh tahun lalu sekaligus ibu yang tak pernah Dong-hwan temui. Sejak kecil Dong-hwan selalu diberi tahu bahwa ibunya meninggalkan mereka berdua saat ia masih bayi; kini perempuan itu kembali dalam wujud kerangka yang terkubur di gunung selama hampir empat puluh tahun, dan polisi menduga ia mati dibunuh.


Dong-hwan menggelar pemakaman untuk ibunya. Di rumah tak pernah ada satu pun foto Jeong Yeong-hee, sehingga yang dipajang di ruang duka hanyalah sebuah bingkai foto kosong, dan sang ayah pun sama sekali tak pernah menyinggung perempuan itu.

Wawancara Pertama: “Monster” di Mulut Para Kerabat
Di pemakaman itu Dong-hwan untuk pertama kalinya bertemu kerabat dari pihak ibunya, yaitu kakak-kakak perempuan Jeong Yeong-hee beserta keluarga mereka. Para kerabat yang bertahun-tahun tak berhubungan itu tak punya sepatah pun kata baik tentang Jeong Yeong-hee. Menurut versi mereka, waktu muda Jeong Yeong-hee mengaku melihat ayahnya berselingkuh lalu melaporkan hal itu kepada ibunya, tetapi ia malah dipukuli; setelah itu ia pergi dari rumah dengan hati dongkol dan tak pernah kembali. Mereka juga menuduhnya menggondol perhiasan keluarga saat pergi. “Monster” dan “si buruk rupa” adalah kata yang paling sering mereka pakai ketika menyebutnya. Soal mengapa tak ada satu pun fotonya di rumah, mereka bilang itu karena wajahnya jelek sehingga ia tak pernah suka difoto.

Dong-hwan tidak sepenuhnya percaya pada cerita itu. Kim Soo-jin, yang sedari tadi merekam di samping, justru mencium bau materi yang “lebih menggugah” ketimbang biografi seorang pengukir stempel. Ia membujuk Dong-hwan agar mendatangi satu per satu orang yang dulu mengenal ibunya, supaya jelas siapa sebenarnya sang ibu dan bagaimana ia mati. Karena peristiwanya sudah berlalu empat puluh tahun, kasus itu sudah lewat masa kedaluwarsa penuntutan, sehingga pelakunya tak bisa dituntut secara pidana sekalipun berhasil diketahui; meski begitu, Dong-hwan tetap memutuskan untuk terus menelusurinya.
Wawancara Kedua: “Hantu Tai” di Pabrik Garmen
Pada era 1970-an, Jeong Yeong-hee bekerja di sebuah pabrik garmen. Dong-hwan dan Soo-jin menemui beberapa bekas rekan kerjanya dari masa itu. Orang-orang ini tidak membenci Jeong Yeong-hee, tetapi juga tak bisa dibilang dekat dengannya, dan ketika berbicara tentangnya kata “jelek” serta “monster” tetap meluncur begitu saja. Mereka ingat, para pekerja memberi Jeong Yeong-hee julukan “Hantu Tai”. Penyebabnya, ia pernah buang air besar di celananya di depan orang banyak: karena pekerjaan yang berat ia lama menahannya, sementara mandornya tak mau memberi kelonggaran dan hanya memberinya waktu yang sangat singkat untuk ke toilet, padahal antrean di depan toilet panjang sehingga ia sama sekali tak sempat.

Para bekas rekan kerja itu juga mengakui bahwa Jeong Yeong-hee sebenarnya orang yang sangat baik hati. Namun ketika sampai pada satu peristiwa besar yang kemudian terjadi di pabrik, beberapa dari mereka bicara tersendat-sendat dan hanya bilang bahwa Dong-hwan bisa menanyakannya kepada bekas rekan kerja yang lain, Lee Jin-sook.
Wawancara Ketiga: Penyesalan Lee Jin-sook
Lee Jin-sook yang kini sudah lanjut usia menceritakan masa lalu itu dengan hati penuh sesal. Dulu ia diperkosa oleh Baek Joo-sang, pemilik pabrik, tetapi tak berani bersuara, dan setelah itu ia malah dipecat dengan alasan yang dicari-cari. Ia hanya berani mencurahkan isi hatinya kepada Jeong Yeong-hee yang memang dekat dengannya.


Di permukaan Jeong Yeong-hee tampak lemah lembut, tetapi saat menghadapi masalah ia ternyata keras di luar dugaan. Baginya, orang jahat yang berpura-pura menjadi orang baik itu salah. Ia langsung mendatangi Baek Joo-sang untuk mengonfrontasinya dan diusir keluar; setelah itu ia menulis selebaran dan membeberkan perbuatan Baek Joo-sang kepada umum. Namun tindakan itu sama sekali tak mendatangkan dukungan untuknya: para pekerja justru makin mengucilkannya, bahkan Lee Jin-sook sendiri sebagai korban merasa privasinya dibongkar lalu menampar Jeong Yeong-hee dengan marah. Gara-gara itu Jeong Yeong-hee dipecat dari pabrik, dan Baek Joo-sang bahkan mengirim orang untuk memberi pelajaran kepada pasangan suami istri itu.

Wawancara Keempat: Baek Joo-sang yang Terbaring Sakit
Dong-hwan dan Soo-jin akhirnya menemukan Baek Joo-sang. Pemilik pabrik pada masa itu kini terbaring sakit di tempat tidur dan hidup melarat; dinding kamarnya penuh tempelan foto hasil jepretannya sendiri, banyak di antaranya foto telanjang perempuan. Mendengar nama Jeong Yeong-hee, reaksi pertamanya pun sama saja: “monster”.


Baek Joo-sang lalu melontarkan versi yang jauh lebih mengejutkan: yang membunuh Jeong Yeong-hee adalah si buta itu. Rupanya Im Yeong-gyoo bertahun-tahun membuka lapak ukir stempel di dekat pabrik garmen, dan Baek Joo-sang yang gemar memotret mengenalnya, pernah memotretnya, juga pernah mengajaknya minum. Setelah perkara Lee Jin-sook meledak, Baek Joo-sang memanggil Im Yeong-gyoo untuk minum bersama; sambil menuangkan minuman ke atas kepala Im Yeong-gyoo, ia menuduh pasangan itu tak tahu berterima kasih dan menyebut istrinya sebagai perempuan perusuh yang merepotkan. Im Yeong-gyoo hanya meminta maaf dengan ketakutan sambil tersenyum dan berkata bahwa ia akan mengurus istrinya baik-baik.

Setelah pemukulan yang pertama itu, keesokan harinya Jeong Yeong-hee kembali mendatangi Baek Joo-sang untuk menuntut perhitungan, dan Baek Joo-sang sekali lagi mengirim preman untuk mengurusnya. Namun malam itu, yang dilihat para preman di gunung justru Im Yeong-gyoo: ia sedang meraba-raba membuang jasad Jeong Yeong-hee di tempat yang sepi, tanpa tahu ada orang yang mengawasinya dari samping. Para preman takut terseret masalah, jadi mereka buru-buru mengubur jasad itu. Itulah kerangka yang empat puluh tahun kemudian ditemukan.
Dong-hwan tak sanggup menerima semua itu. Sejak awal ia memang tak suka pada kamera tersembunyi yang selalu dibawa Soo-jin; keduanya bertengkar hebat, lalu Dong-hwan mengambil seluruh materi rekaman yang sudah dikumpulkan Soo-jin dan memutuskan untuk menghadapi ayahnya sendirian.
Wawancara Kelima: Ayah dan Anak
Dong-hwan pulang ke rumah dan menunggu ayahnya, lalu bertanya langsung kepadanya apakah ia yang menyebabkan kematian sang ibu. Im Yeong-gyoo mengakuinya.

Im Yeong-gyoo mulai bercerita tentang masa lalunya. Sejak kecil ia dipukuli, dipermainkan, dan dihina orang karena kebutaannya; demi mencari nafkah ia belajar mengukir stempel lalu membuka lapak di pinggir jalan, tetapi nyaris tak ada orang yang datang. Jeong Yeong-hee adalah pelanggan pertama yang menanyakan harga; Im Yeong-gyoo mengukirkan huruf untuk perempuan itu secara cuma-cuma, dan perempuan itu membalas budi dengan membawakan nasi kepal. Begitulah dua orang yang sama-sama dipandang rendah oleh sekitarnya itu saling mendekat. Orang-orang di sekitar terus-menerus berkata kepada Im Yeong-gyoo bahwa Jeong Yeong-hee perempuan yang sangat cantik, bahwa ia sedang beruntung besar, dan kalau tak segera mendekatinya perempuan itu akan direbut orang lain. Di tengah sorak-sorai orang banyak, Im Yeong-gyoo memberanikan diri melamar, keduanya menikah dan menjalani hidup kecil yang tenang selama beberapa waktu, lalu kemudian lahirlah Dong-hwan.


Titik baliknya datang dari satu kunjungan temannya, Gyu-chil. Sambil tertawa Im Yeong-gyoo berkata bahwa keinginan terbesarnya adalah bisa melihat rupa istrinya sekali saja, tetapi Gyu-chil tanpa sungkan memberitahunya bahwa wajah Jeong Yeong-hee seperti monster. Dunia Im Yeong-gyoo runtuh pada saat itu juga. Baru saat itulah ia paham bahwa semua pujian tentang istrinya yang cantik dan tentang keberuntungannya itu dari awal sampai akhir hanyalah ejekan, dan ia baru mengetahui kebenarannya setelah menikah serta punya anak. Ia merasa sekali lagi dipermainkan dan dipermalukan oleh semua orang, menganggap pernikahan itu sebagai jebakan yang dirancang istrinya bersama orang-orang di sekitarnya, dan seluruh amarahnya pun berbalik kepada sang istri. Dengan kata-katanya sendiri, “sejak saat itu aku mulai bisa melihat hal-hal yang sebelumnya tak bisa kulihat”: setiap tawa kecil dan setiap sindiran orang di sekitarnya menjadi terdengar jelas sejelas-jelasnya. Ia mulai ingin mengusir Jeong Yeong-hee, tetapi Jeong Yeong-hee tak mau pergi.
Tepat pada saat itulah terjadi malam ketika Baek Joo-sang mengajaknya minum. Setelah dimabukkan dan dipermalukan, Im Yeong-gyoo merasa istrinya kini bahkan menghancurkan hubungannya dengan sang pemilik pabrik. Sesampainya di rumah keduanya bertengkar, dan dalam kemarahan yang memuncak Im Yeong-gyoo yang mabuk itu menerkam Jeong Yeong-hee serta membekap mulutnya, sampai perempuan itu tak lagi bersuara. Setelah itu ia memanggul jasad istrinya dalam gelap ke gunung dan membuangnya di sana, mengira tak ada seorang pun yang melihat.

Setelah mendengar semua itu, Dong-hwan berkata bahwa ayahnya seorang pembunuh. Im Yeong-gyoo mencengkeram kerah baju putranya dan balik bertanya siapa yang pembunuh. Ia berkata bahwa dirinya adalah orang yang melihat dunia dengan ujung jari, sebuah “keajaiban” yang bertahan melewati masa-masa sulit itu, dan ia menolak menerima sebutan “pembunuh”. Dong-hwan menyatakan bahwa ia tak bisa memahami ayahnya lalu berbalik pergi, sementara Im Yeong-gyoo ambruk dan tergeletak di lantai.
Ending
Setelah itu, Dong-hwan kembali menemui Kim Soo-jin dan mengembalikan materi rekaman yang sebelumnya ia ambil, seraya berkata bahwa ia ingin menyelesaikan film dokumenter tentang ayahnya. Namun ia memberi tahu Soo-jin bahwa sebagian dari materi itu sudah ia hapus. Ia memilih menyembunyikan kejahatan ayahnya demi menjaga citra sang ayah di mata publik.
Pada titik ini sikap keduanya sudah bertukar: Dong-hwan yang semula tak antusias pada dokumenter itu berubah menjadi aktif, sedangkan Soo-jin yang dulu mengejarnya tanpa henti justru kehilangan minat. Ia menyindir Dong-hwan, mengatakan bahwa kini Dong-hwan makin lama makin mirip ayahnya. Sebelum pergi, Soo-jin menyerahkan satu benda kepada Dong-hwan: sebuah foto Jeong Yeong-hee. Foto yang semua orang bilang tidak ada itu ia temukan di antara koleksi foto milik Baek Joo-sang.

Dong-hwan membuka foto itu sendirian dan untuk pertama kalinya melihat wajah ibunya. Jeong Yeong-hee di foto itu sama sekali tidak jelek, hanya sebuah wajah yang biasa-biasa saja.
Lebih Banyak Foto Adegan
Poster Lainnya








Foto Adegan Lainnya

