← Kembali ke beranda

Spring Tide

Tiga generasi perempuan terus berbenturan di bawah satu atap hingga trauma keluarga pada masa lalu akhirnya terungkap: Uraian lengkap alur cerita Spring Tide, dari penyelidikan seorang reporter dan perang dingin ibu-anak hingga monolog di rumah sakit serta ending di sungai

Judul

Spring Tide

Tahun / Durasi

2019 · 124 menit

Genre

Drama / Keluarga

Sutradara

Lina Yang

Penulis

Lina Yang

Rating

Pemeran

Lei Hao (sebagai Guo Jianbo), Elaine Jin (sebagai Ji Minglan), Junxi Qu (sebagai Guo Wanting), Wenbo Li (sebagai Old Zhou), Shang-Ho Huang (sebagai Master Huang)

Spring Tide
Seorang perempuan berambut pendek menunduk sambil mencatat di samping petugas polisi Seorang perempuan berbaju abu-abu duduk di meja dalam ruang publik sambil memeriksa dokumen Seorang perempuan di dekat pintu memandang ke dalam ruangan tempat seorang lansia dan seorang anak duduk Seorang perempuan memegang mangkuk sambil memandang orang di seberang meja Seorang perempuan dan anak perempuan berkuncir duduk di depan jendela kaca Seekor merpati merah muda berdiri di atas bantal kursi berwarna kuning
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Spring Tide adalah film drama tahun 2019 yang ditulis dan disutradarai Lina Yang, serta dibintangi Lei Hao, Elaine Jin, Junxi Qu, Wenbo Li, dan Shang-Ho Huang. Berlatar di sebuah kota di Tiongkok Timur Laut, film ini berpusat pada reporter Guo Jianbo, ibunya Ji Minglan, dan putrinya yang berusia sembilan tahun, Guo Wanting. Film berdurasi 124 menit ini tayang secara daring di Tiongkok daratan pada 17 Mei 2020.

Per 1 Oktober 2026, film ini mendapat skor 6,8 di IMDb berdasarkan 272 penilaian. Skor tersebut berada di atas enam dan tanggapan secara keseluruhan cenderung positif.

Penyelidikan Kekerasan Seksual dan Reporter yang Membisu

Guo Jianbo adalah seorang reporter surat kabar. Ia menyelidiki kasus seorang guru sekolah dasar yang melakukan kekerasan seksual terhadap siswi, lalu menemui siswi korban, orang tua, dan guru yang bersangkutan. Sebagian orang tua berharap media dapat membantu menuntut pertanggungjawaban, sementara yang lain khawatir pemberitaan terbuka akan melukai anak mereka. Guru tersebut menyalahkan siswinya, dan Guo Jianbo yang tidak dapat menerima pernyataannya berkonfrontasi langsung dengannya ketika polisi turun tangan.

Seorang perempuan berambut pendek menunduk sambil mencatat di samping petugas polisi

Seorang perempuan berbaju abu-abu duduk di meja dalam ruang publik sambil memeriksa dokumen

Di tempat kerja, ia berani melontarkan pertanyaan, tetapi di rumah ia terbiasa diam. Guo Jianbo tinggal bersama ibunya, Ji Minglan, dan putrinya, Guo Wanting, di sebuah rumah yang sempit. Ji Minglan mengatur keseharian rumah tangga dan kerap mengomentari pekerjaan, hubungan asmara, serta gaya hidup putrinya. Guo Jianbo jarang membantah secara langsung; ia memendam kekesalan atau menunjukkannya lewat tindakan-tindakan kecil.

Perang Dingin Ibu dan Anak yang Dipicu Latihan Paduan Suara

Sebelum pensiun, Ji Minglan bekerja sebagai guru. Kini ia aktif dalam kegiatan lingkungan dan dikenal ceria serta cekatan oleh para tetangga dan teman lamanya. Ia membawa kelompok paduan suara pulang untuk berlatih bersama, sedangkan Guo Jianbo duduk di samping dan hampir tidak ikut serta. Setelah itu, Guo Jianbo melepaskan selang air hingga air mengalir ke dalam ruangan dan latihan terpaksa berakhir lebih awal. Ji Minglan tahu putrinya tidak menyambut pertemuan tersebut, tetapi keduanya tidak membicarakan konflik itu secara langsung.

Seorang perempuan di dekat pintu memandang ke dalam ruangan tempat seorang lansia dan seorang anak duduk

Seorang perempuan memegang mangkuk sambil memandang orang di seberang meja

Meja makan juga menjadi tempat pertengkaran sering terjadi. Ji Minglan terus menceritakan perilaku buruk mendiang suaminya dan meyakini pernikahan itu telah menghancurkan hidupnya. Guo Jianbo hanya mengatakan bahwa ayahnya bertemperamen lembut, lalu tidak menanggapi lagi. Guo Wanting sudah belajar membaca emosi kedua orang dewasa itu. Ia dapat menyela pertengkaran dengan candaan, sekaligus mengingatkan neneknya agar tidak terus mencaci suaminya yang telah meninggal.

Wanting di Antara Dua Sosok Ibu

Guo Wanting terutama diasuh oleh neneknya. Ji Minglan mengantar dan menjemputnya, mengatur kesehariannya, serta berulang kali memperingatkannya agar menjauhi laki-laki. Saat berdua dengan putrinya, Guo Jianbo bersikap lebih lembut. Ia mengajak Wanting bepergian dan mengobrol, tetapi pekerjaan serta kebiasaannya meninggalkan rumah dalam waktu lama membuatnya melewatkan banyak momen pertumbuhan sang anak. Wanting tahu ibu dan neneknya tidak dapat lama-lama bersama. Ketika mengantar Guo Jianbo pergi, ia menyuruh ibunya lekas berangkat agar pertengkaran tidak membesar.

Seorang perempuan dan anak perempuan berkuncir duduk di depan jendela kaca

Di sekolah, Wanting berteman dengan Cui Yingzi, seorang siswi dari etnis Korea. Kelas mereka menyiapkan pertunjukan pembacaan puisi bersama dan Wanting terpilih menjadi anggota kelompok. Di satu sisi, ia luwes menghadapi guru dan teman-temannya; di sisi lain, aturan orang dewasa yang dipelajarinya di rumah turut membentuk penilaiannya. Ketika seekor merpati merah muda muncul di rumah, ia menumpuk bantal kursi menjadi panggung tinggi untuk menaruh burung itu, lalu bermain di sekelilingnya tanpa menyadari bahwa merpati tersebut ketakutan.

Seekor merpati merah muda berdiri di atas bantal kursi berwarna kuning

Asrama, Kekasih, dan Barang Pribadi yang Tersingkir

Guo Jianbo masih memiliki ranjang dan buku-buku di asrama kantor, tetapi setelah seorang rekan muda pindah ke sana, ruangnya untuk menyendiri semakin sempit. Ia menjalin hubungan intim dengan seorang pria yang namanya tidak disebutkan dalam film, tetapi tidak membawa hubungan itu ke rumah. Pada saat yang sama, Ji Minglan mencarikan pasangan bagi putrinya dan mengundang seorang pria dengan kehidupan mapan ke rumah. Di hadapannya, Guo Jianbo mengirim pesan yang membuat pria itu mundur sehingga perjodohan tersebut segera berakhir.

Seorang perempuan duduk di dekat jendela kendaraan dengan pantulan wajahnya terlihat di kaca

Pada malam hari, seorang perempuan berdiri di dekat pintu sambil melihat ke dalam ruangan

Ji Minglan meminta Old Zhou membantu memindahkan kotak-kotak yang telah disimpan Guo Jianbo selama bertahun-tahun. Ia kemudian menaruh rak buku di tempat semula dan menata rapi buku-buku yang dibawa putrinya dari asrama. Ji Minglan menganggapnya sebagai tindakan merapikan dan merawat, tetapi Guo Jianbo mendapati barang-barang pribadinya kembali ditangani sang ibu tanpa izin. Ia merobohkan rak buku itu, membuat perebutan wilayah yang lama terpendam di antara ibu dan anak akhirnya terjadi secara terbuka.

Kematian Bibi Wang dan Abu Kremasi di Tepi Sungai

Setelah Bibi Wang yang tinggal di lantai atas bunuh diri, Ji Minglan tidak memahami mengapa tetangga lamanya itu tidak menerima sarannya untuk tinggal sementara di kuil. Ia juga merasa Bibi Wang tidak menganggapnya sebagai teman yang dapat diandalkan. Guo Jianbo membantah ibunya karena memaksakan pengaturan sendiri kepada orang lain. Ji Minglan pun menentang rencana putrinya untuk memberitakan kejadian itu karena khawatir kabar negatif akan merusak citra lingkungan mereka. Perbedaan pandangan ibu dan anak mengenai tugas reporter serta pilihan pribadi kembali memicu pertentangan.

Dua perempuan berwajah serius duduk berdampingan di kursi belakang mobil

Kemudian, Ji Minglan dan Guo Jianbo ikut menangani abu kremasi Bibi Wang dan suaminya, lalu membawanya ke tepi sungai. Ji Minglan tampak kehilangan semangat di tepi sungai. Wadah abu itu sempat terlepas dari tangannya, dan Guo Jianbo membantu memungutnya. Dari seberang permukaan air, Guo Jianbo kembali melihat seorang perempuan berbaju merah. Sosok tersebut sebelumnya juga terlihat dalam pantulan jendela kendaraan, tetapi film tidak menjelaskan apakah ia manusia nyata, kenangan, atau halusinasi.

Seorang perempuan di tepi sungai memandang sosok berbaju merah yang berdiri jauh di dalam air

Old Zhou, Kisah Sang Ayah, dan Kebenaran Hubungan Ibu-Anak

Old Zhou telah lama menemani Ji Minglan dan berharap dapat hidup bersamanya. Ji Minglan bercerita kepadanya tentang kemiskinan dan pernikahannya dahulu. Ia pernah menyisihkan jatah makan untuk dikirim kepada ibunya sendiri, tetapi tidak mendapat pengertian. Ia juga merinci perbuatan suaminya yang melecehkan perempuan, membeli jasa seks, dan mempermalukannya. Namun, Guo Jianbo mengingat ayahnya sebagai sosok yang lembut dan penuh perhatian. Gambaran ibu dan anak mengenai orang yang sama itu tidak pernah selaras.

Seorang perempuan lanjut usia mengangkat gelas untuk bersulang dengan pria di sebelahnya

Dalam sebuah pertengkaran, Ji Minglan memberi tahu Wanting bahwa Guo Jianbo pernah ingin mengakhiri kehamilan saat kandungannya berusia tiga bulan. Untuk pertama kalinya, Wanting berhadapan langsung dengan kisah kelahirannya dan kepercayaannya kepada sang ibu pun terguncang. Guo Jianbo mengakui bahwa awalnya ia memang ragu, tetapi ia juga menjelaskan bahwa dirinya menyesal begitu melihat putrinya dan selalu ingin merawatnya sendiri. Namun, Ji Minglan telah menanggung sebagian besar pengasuhan sejak Wanting masih bayi, sehingga upaya Guo Jianbo untuk merebut kembali posisinya sebagai ibu berulang kali gagal.

Seorang perempuan memeluk anak perempuan berkuncir di bawah pohon di tepi sungai

Monolog di Rumah Sakit Setelah Stroke

Ji Minglan dirawat di rumah sakit setelah mengalami stroke dan kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi secara normal dengan keluarganya. Guo Jianbo menjaga di sisi ranjang, membersihkan tubuh ibunya, dan untuk pertama kalinya menuturkan tanpa henti pengalaman masa lalu yang telah lama ia pendam. Ia menuduh ibunya berulang kali menulis surat pengaduan demi bercerai. Sang ibu juga pernah membangunkannya ketika masih kecil pada tengah malam dan membawanya ke tempat kerja ayahnya untuk mengadu sambil menangis, sehingga ia terseret ke dalam konflik kedua orang tuanya.

Di kamar rumah sakit yang remang-remang, seorang perempuan membungkuk untuk merawat lansia yang memakai masker pernapasan

Guo Jianbo mengenang bahwa ketika mengalami menstruasi pertamanya, ayahnya yang mengajarinya menyiapkan pembalut dan merebus air untuk merawatnya, sedangkan ibunya bereaksi dingin. Ia juga mengakui pernah ingin menggugurkan Wanting saat masih dalam kandungan, tetapi setelah anaknya lahir, ia berharap dapat memberinya kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah ia peroleh. Menurutnya, Ji Minglan menjadikan pengasuhan Wanting sebagai bentuk kendali baru dan memperlakukan keluarga sebagai medan pertempuran yang harus dimenangi. Ji Minglan tidak menanggapi perkataan itu. Film juga tidak memberi petunjuk tegas melalui keterangan medis atau upacara perpisahan mengenai apakah pada saat itu ia telah meninggal.

Ending

Setelah meninggalkan kamar rumah sakit, Guo Jianbo kembali menghadapi kehidupannya seperti semula. Ia bertemu lagi dengan Master Huang, seorang terapis pijat tunanetra. Keduanya mendekat dan berhubungan seks. Pada saat yang sama, air merembes secara surealis dari bawah pintu, menyusuri koridor, dan memasuki area sekolah. Kelompok paduan suara Ji Minglan masih bernyanyi di panggung, sementara adegan nyata muncul bergantian dengan aliran air yang terus meluas.

Seorang perempuan dan seorang anak perempuan berjalan melewati halaman tua yang dipenuhi berbagai barang

Di kamar tidur bernuansa hangat, seorang perempuan membungkuk untuk menjaga anak perempuan yang sedang tidur

Wanting semula akan mengikuti pembacaan puisi bersama di sekolah. Sebelum naik ke panggung, ia menggandeng Cui Yingzi dan meninggalkan kelompok, lalu berlari keluar sekolah mengikuti aliran air. Air dari celah-celah kota menyatu menjadi sungai dan Wanting masuk ke dalamnya untuk berenang. Film berakhir dengan gambar dirinya di tengah sungai, tanpa memperlihatkan Ji Minglan siuman ataupun menghadirkan rekonsiliasi verbal yang jelas di antara tiga generasi perempuan tersebut.