Souleymane's Story
Hitung mundur 48 jam, perjuangan hidup seorang pengungsi Guinea di Paris: uraian lengkap alur cerita film Souleymane's Story, tentang seorang pengemudi kurir makanan yang berjuang putus asa menjelang wawancara suaka
Judul
Souleymane's Story
L'histoire de Souleymane
Tahun / Durasi
2024 · 93 menit
Genre
Drama
Sutradara
Boris Lojkine
Penulis
Boris Lojkine / Delphine Agut
Rating
Pemeran
Abou Sangare (sebagai Souleymane), Alpha Oumar Sow (sebagai Barry), Nina Meurisse (sebagai pewawancara OFPRA)
Penghargaan
Festival Film Cannes, bagian Un Certain Regard: Hadiah Juri dan Aktor Terbaik; César Awards: Skenario Orisinal Terbaik, total meraih empat penghargaan besar
Paris di musim gugur. Souleymane, seorang pemuda asal Guinea, telah menyeberangi Gurun Sahara dan menyeberangi Laut Mediterania untuk akhirnya tiba di Prancis. Ia akan segera menghadapi momen terpenting dalam hidupnya—wawancara suaka dengan OFPRA (Kantor Prancis untuk Perlindungan Pengungsi dan Orang Tanpa Kewarganegaraan). Jika lolos, ia bisa mendapatkan status resmi; jika gagal, yang menantinya adalah deportasi.
Kisah ini berlangsung dalam kurun waktu sekitar 48 jam menjelang wawancara itu.

Akun Pinjaman, Tubuh yang Terkuras
Souleymane menyambung hidup dengan mengantar makanan naik sepeda. Namun karena tidak memiliki dokumen resmi, ia tidak bisa mendaftarkan akun sendiri di platform pengantaran makanan, sehingga terpaksa menyewa akun Uber Eats milik sesama warga Guinea, Emmanuel, seharga 120 euro per minggu. Emmanuel licik dan tamak—ia mengambil sebagian besar penghasilan, sementara Souleymane melakukan seluruh kerja fisiknya. Setelah tujuh hari mengayuh sepeda tanpa henti, Souleymane hanya mendapatkan sekitar 302 euro, dan sebagian besar dari jumlah itu masih harus dibayarkan ke Emmanuel serta pengeluaran lainnya. Ia selalu tidak punya uang sepeser pun, terus-menerus mengayuh sepeda tergesa-gesa antara restoran dan gedung apartemen, berjuang melawan hujan, lalu lintas, dan risiko kecelakaan yang bisa terjadi kapan saja.
Kisah yang Direkayasa
Souleymane juga membayar seorang perantara bernama Barry, yang berperan sebagai semacam konsultan imigrasi di komunitas diaspora Guinea. Barry menilai bahwa alasan sebenarnya Souleymane meninggalkan Guinea—migrasi ekonomi—tidak cukup untuk mendapatkan suaka berdasarkan hukum Prancis. Karena itu, Barry menyusun sebuah narasi penganiayaan politik yang dirancang dengan cermat: mengikuti program pendidikan sosial, ikut serta dalam demonstrasi, ditangkap dan dipenjara pada tahun 2020, serta disiksa. Barry melatihnya berulang-ulang—“Ceritakan detailnya, karena detail itulah yang membuatnya meyakinkan.” Souleymane mendengarkan rekaman latihan sambil mengantar makanan, menggumamkan hafalan naskah itu sambil mengayuh sepedanya.

Tak Punya Tempat Bernaung
Souleymane tidak memiliki tempat tinggal tetap. Setiap malam ia harus mengejar bus menuju penampungan di pinggiran kota, tempat ia bisa mendapatkan satu tempat tidur, mandi, dan makan. Bus itu punya jadwal keberangkatan yang ketat, dan jika ia terlambat karena masih mengantar pesanan—yang sering terjadi—ia terpaksa tidur di jalanan yang dingin atau di tangga gedung. Musim dingin semakin mendekat.
Jauh di Guinea, kekasih Souleymane, Kadiatou, menunggunya. Mereka tetap berhubungan lewat FaceTime dan saling mencintai dengan tulus. Namun Kadiatou menerima lamaran dari seorang insinyur—seseorang yang bisa memberinya kehidupan stabil yang tidak bisa diberikan Souleymane. Dalam momen yang menyakitkan namun tanpa pamrih, Souleymane meminta Kadiatou untuk melupakannya dan menerima lamaran insinyur itu.

48 Jam yang Runtuh
Dalam hitungan mundur menjelang wawancara, segalanya mulai runtuh. Souleymane mengalami kecelakaan lalu lintas dan kehilangan salah satu roda sepedanya, mengancam kemampuannya untuk bekerja. Sebuah kesalahan pengantaran membuat akunnya diskors dan upahnya dipotong. Ia diberhentikan polisi untuk pemeriksaan, tapi tidak bisa menunjukkan dokumen apa pun. Ia tidak berhasil mengumpulkan cukup uang untuk membayar Barry demi dokumen palsu. Ia ketinggalan bus menuju penampungan, sehingga terpaksa tidur di tangga yang dingin pada malam sebelum wawancara.
Keesokan paginya, dengan wajah penuh luka, ia melangkah masuk ke kantor OFPRA.

Wawancara—Klimaks Film
Souleymane duduk berhadapan dengan pewawancara OFPRA. Ia mulai membacakan secara kaku narasi penganiayaan politik yang dilatihkan Barry kepadanya—bergabung dengan partai oposisi, ikut demonstrasi, ditangkap, dipenjara. Namun pewawancara itu sangat berpengalaman. Ia menyadari jejak-jejak cerita yang terpola, detail yang terlalu dihafalkan, dan hal-hal yang saling bertentangan. Ia terus mengajukan pertanyaan lebih lanjut.
Ketika narasi rekaan itu runtuh di bawah pertanyaan yang terus mendesak, sesuatu berubah dalam diri Souleymane. Ia tidak lagi mempertahankan kebohongan itu, melainkan memberanikan diri untuk meninggalkan naskah yang telah dihafalnya. Ia mulai menceritakan kisahnya yang sebenarnya—ibunya sakit parah, dan demi mencari uang untuk mengobatinya, ia nekat menyeberangi Gurun Sahara dan Laut Mediterania. Wajah pewawancara itu dipenuhi emosi yang sulit diungkapkan: rasa iba yang lelah, dan hati yang tersayat melihat pemuda di hadapannya—kisah hidupnya yang nyata ternyata jauh lebih menyakitkan dan lebih nyata daripada drama politik rekaan mana pun.

Ending
Film ini berakhir secara tiba-tiba sebelum kita sempat mengetahui hasil wawancara itu. Adegan terakhir memperlihatkan Souleymane keluar dari gedung OFPRA. Sutradara Boris Lojkine membuat pilihan artistik yang disengaja—membiarkan endingnya terbuka: kita tidak akan pernah tahu apakah permohonan suaka Souleymane dikabulkan atau ditolak.
Ketidakpastian inilah yang justru menjadi inti makna film ini—ia mencerminkan ketidakpastian nyata yang dihadapi ratusan ribu pemohon suaka, memaksa penonton untuk hidup berdampingan dengan ketidakpastian itu, alih-alih mendapatkan ending yang rapi. Yang membuat hati teriris adalah sindiran ini: mengatakan kebenaran—“Saya datang untuk mencari uang mengobati ibu saya yang sakit”—di bawah kerangka hukum suaka Prancis, justru bisa lebih sulit disetujui dibandingkan kisah politik rekaan itu, karena hukum dirancang seputar penganiayaan politik, bukan kesulitan ekonomi.