← Kembali ke beranda

Room

Anak laki-laki yang lahir di dalam sebuah sel, dan seorang ibu yang membangun seluruh dunia untuknya dengan segenap cinta: alur cerita lengkap film Room, peraih Oscar Aktris Terbaik, kabur dari sekapan hanya separuh dari kisahnya

Judul

Room

Tahun / Durasi

2015 · 118 menit

Genre

Drama

Sutradara

Lenny Abrahamson

Penulis

Emma Donoghue

Rating

Pemeran

Brie Larson, Jacob Tremblay, Joan Allen, William H. Macy, Sean Bridgers

Karya asli

novel Room karya Emma Donoghue

Penghargaan

Academy Awards ke-88: Aktris Terbaik; nominasi Film Terbaik dan Sutradara Terbaik

Room
Jack berdiri di dalam Kamar, mendongak menatap sepotong kecil langit lewat jendela atap Joy duduk bersama ibunya, Nancy, dengan wajah lelah dan bingung Joy dan Jack berbaring di ayunan gantung di halaman, disinari matahari Joy dan Jack duduk makan di sebuah restoran cepat saji Joy dan Jack duduk di atas karpet membaca buku, dikelilingi tumpukan buku
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Kamar Adalah Seluruh Dunia

Jack (diperankan oleh Jacob Tremblay) berusia lima tahun. Dia tinggal bersama ibunya di sebuah tempat yang mereka sebut “Kamar”.

Kamar itu sangat kecil — luasnya sekitar belasan meter persegi. Di dalamnya ada satu tempat tidur, satu bak mandi, satu toilet, satu televisi kecil, dan satu dapur seadanya. Di langit-langit ada jendela atap tempat sinar matahari masuk, satu-satunya sumber cahaya alami di dalam Kamar.

Bagi Jack, Kamar adalah seluruh dunia. Apa pun yang muncul di televisi tidak nyata — pohon tidak nyata, anjing tidak nyata, anak-anak lain tidak nyata. Yang nyata hanya Kamar, ibunya, dan seseorang yang selalu datang setiap malam — Jack memanggilnya “Old Nick”.

Setiap kali Old Nick datang, sang ibu menyuruh Jack bersembunyi di dalam lemari, menutup pintunya, dan melarangnya keluar. Jack mendengar suara kunci pintu berputar, mendengar langkah kaki Old Nick, mendengar derit tempat tidur. Dia berbaring di dalam lemari sambil menghitung angka, menunggu sampai semuanya sunyi kembali.

Jack tidak tahu apa arti semua itu. Sebab sang ibu tidak pernah memberitahunya.

Jack berdiri di dalam Kamar, mendongak menatap sepotong kecil langit lewat jendela atap

Rahasia Sang Ibu

Nama ibu Jack adalah Joy Newsome (Brie Larson). Tujuh tahun lalu, saat berusia tujuh belas tahun, dia ditipu oleh seorang pria bernama Old Nick (Sean Bridgers) untuk masuk ke gudang kedap suara di halaman belakang rumahnya, dan sejak itu dia tidak pernah lagi keluar dari sana.

Old Nick datang setiap beberapa hari sekali, membawa makanan dan kebutuhan sehari-hari. Dia mengunci satu-satunya pintu dengan kunci sandi. Joy tidak bisa melarikan diri, tidak bisa berteriak minta tolong, bahkan tidak bisa membuat siapa pun tahu bahwa dia masih hidup.

Jack adalah anak yang dilahirkan Joy selama masa penyekapan itu. Old Nick adalah ayah kandungnya.

Joy mengambil sebuah keputusan: dia ingin memberi Jack masa kecil yang sewajar mungkin di dalam Kamar. Dia menceritakan dongeng, mengajarinya membaca, berolahraga bersamanya, dan membuat kerajinan tangan dari cangkang telur. Dia memberi tahu Jack bahwa tidak ada apa-apa di luar Kamar, dan bahwa televisi itu palsu — karena dia tidak ingin anaknya tahu bahwa dirinya seorang tawanan, dan tidak ingin Jack menanggung keputusasaan semacam itu.

Ini adalah kebohongan paling kejam sekaligus paling lembut yang bisa diberikan seorang ibu.

Kebenaran

Saat Jack berulang tahun kelima, Joy memutuskan untuk memberitahunya kebenaran.

“Di luar Kamar ada dunia lain. Dunia yang sangat, sangat luas. Pohon itu nyata, langit itu nyata, orang-orang lain juga nyata.”

Jack tidak percaya. Dia menangis dan mengamuk. Dia tidak mau dunia luar. Kamar adalah segalanya baginya, dia tidak ingin apa pun yang lain.

Joy menjelaskan berulang kali dengan sabar. Dia tahu, jika ingin melarikan diri, dia harus membuat Jack memahami kenyataan — sebab rencana pelariannya membutuhkan kerja sama Jack.

Melarikan Diri

Rencana Joy begini: dia akan membuat Jack berpura-pura mati.

Dia membungkus Jack dengan sehelai karpet tua, mengajarinya untuk diam tak bergerak dan tidak bernapas keras-keras. Lalu dia memberi tahu Old Nick bahwa Jack demam tinggi dan meninggal, lalu memintanya membawa “jasad” itu pergi untuk diurus.

Old Nick menaikkan Jack yang terbungkus karpet ke bak truk pikapnya, lalu melaju ke suatu tempat. Ketika truk melintasi sebuah jalan perumahan, Jack — sesuai yang diajarkan ibunya — melepaskan diri dari karpet, memanjat pagar bak truk, dan menggelinding jatuh ke tanah.

Ini adalah kali pertama Jack melihat dunia luar.

Langit begitu luas hingga menakutkan. Pohon-pohon seribu kali lebih tinggi dari bayangannya. Udara berbau sama sekali berbeda. Tanah terasa dingin. Segalanya berputar-putar. Dia hampir tidak bisa bernapas.

Seorang pejalan kaki menemukan anak laki-laki yang ketakutan itu dan melapor ke polisi. Jack memberi tahu polisi bahwa dia dan ibunya tinggal di sebuah “Kamar”. Berdasarkan deskripsi Jack yang terputus-putus, polisi menemukan rumah Old Nick, mendobrak masuk, dan menyelamatkan Joy.

Old Nick ditangkap.

Joy duduk bersama ibunya, Nancy, dengan wajah lelah dan bingung

Dunia Luar

Cerita baru saja mencapai separuhnya di sini.

Segala hal setelah pelarian ternyata jauh lebih berat daripada masa penyekapan itu sendiri.

Jack dan Joy dibawa ke rumah sakit. Saat Jack terbangun, dia melihat sebuah bangsal yang sangat besar — berkali-kali lipat lebih besar dari “Kamar”, dengan jendela sungguhan, dan di luar jendela terbentang dunia yang tak berujung. Dia ketakutan setengah mati. Dia ingin kembali.

Ibu Joy, Nancy (Joan Allen), dan pasangan barunya, Leo, datang ke rumah sakit untuk menemui putri yang hilang selama tujuh tahun dan cucu yang belum pernah mereka temui. Nancy memeluk Joy sambil menangis tersedu-sedu. Namun reaksi Joy justru kaku — tujuh tahun penyekapan telah meninggalkan luka di dirinya yang tidak mudah sembuh.

Ayah Joy, Robert (William H. Macy), juga datang. Namun ketika melihat Jack, dia tidak sanggup menatap anak itu — sebab Jack adalah anak dari penculiknya. Dia bahkan enggan duduk di sebelah Jack saat makan. Joy melihat tatapan ayahnya itu, rasa jijik dan penghindaran itu terasa seperti pisau yang menusuk hatinya.

Joy dan Jack berbaring di ayunan gantung di halaman, disinari matahari

Keruntuhan

Setelah kembali ke rumah ibunya, Joy mendapati segalanya sudah berubah. Rumah dalam ingatannya sudah tidak sama lagi — orang tuanya sudah bercerai, ada pria asing di rumah itu, dan kamarnya sudah ditata ulang. Dia bukan lagi gadis tujuh belas tahun yang dulu, tetapi juga belum tahu siapa dirinya sekarang.

Jack pun bergulat dengan keadaan. Dunia luar terlalu luas, terlalu terang, dan terlalu bising. Dia tidak terbiasa dengan tangga (di Kamar tidak ada tangga), takut pada anjing (dia hanya pernah melihatnya di televisi), tidak tahu cara berinteraksi dengan anjing neneknya, dan tidak tahu cara mengobrol dengan anak tetangga. Dia merindukan tempat tidur di Kamar, jendela atapnya, dan ular-ularan kecil yang dia buat dari cangkang telur.

Joy menerima sebuah wawancara televisi, dengan harapan bisa mengendalikan keadaan. Namun sang pewawancara mengajukan pertanyaan kejam: apakah kamu pernah berpikir untuk menyerahkan Jack pada orang lain untuk dibesarkan? Supaya dia bisa tumbuh normal di dunia luar?

Joy runtuh di depan kamera.

Malam itu, dia menelan banyak sekali pil, mencoba bunuh diri. Jack-lah yang menemukannya.

Joy dan Jack duduk makan di sebuah restoran cepat saji

Kekuatan Jack

Joy dibawa ke rumah sakit. Jack tinggal bersama neneknya, Nancy, dan Leo.

Tanpa kehadiran ibunya, Jack justru mulai perlahan beradaptasi. Dia belajar bermain dengan anjing neneknya, berteman dengan anak laki-laki tetangga, dan mulai berlari-lari di halaman. Untuk pertama kalinya dia melihat daun sungguhan, semut sungguhan, dan bintang sungguhan.

Jack mengambil sebuah keputusan besar.

Sejak lahir, dia selalu berambut panjang — di dalam Kamar, sang ibu tidak pernah memotong rambutnya. Jack percaya kekuatannya tersimpan di dalam rambutnya, seperti Simson dalam kisah-kisah yang pernah dia dengar.

Dia meminta neneknya memotong rambut panjangnya itu. Lalu dia mengirimkan potongan rambutnya kepada sang ibu yang masih di rumah sakit.

“Aku memberikan kekuatanku untukmu.”

Joy dan Jack duduk di atas karpet membaca buku, dikelilingi tumpukan buku

Berpisah dengan Kamar

Joy keluar dari rumah sakit. Dia dan Jack kembali bersama.

Suatu hari, Jack berkata kepada Joy, “Ma, aku ingin kembali melihat Kamar.”

Joy membawa Jack, dikawal polisi, kembali ke gudang yang telah mengurung mereka berdua selama tujuh tahun.

Begitu pintu terbuka, Jack terdiam.

“Kamarnya jadi kecil.”

Dalam ingatannya, Kamar adalah seluruh alam semesta. Namun yang dia lihat sekarang hanyalah sebuah gudang kotor, rusak, dan kecil. Tempat tidur yang dulu adalah seluruh dunianya kini terlihat begitu kecil dan menyedihkan. Jendela atapnya pun jauh lebih kecil dari yang dia ingat.

Jack berjalan berkeliling Kamar sekali lagi. Dia mengucapkan selamat tinggal pada setiap benda — pada tempat tidur, pada lemari, pada jendela atap, pada ular-ularan kecil dari cangkang telur.

Kemudian dia menggenggam tangan ibunya dan berjalan keluar.

Pintu tertutup di belakang mereka.

Di luar, langit begitu luas.