Jana Gana Mana
Pembunuhan seorang profesor yang diubah menjadi alat pemilu: Uraian lengkap tentang protes mahasiswa, baku tembak oleh polisi, pengungkapan fakta di pengadilan, bertautnya kasus lama dua polisi, dan ending film Jana Gana Mana
Judul
Jana Gana Mana
ജന ഗണ മന
Tahun / Durasi
2022 · 162 menit
Genre
Drama / Misteri / Kriminal
Sutradara
Dijo Jose Antony
Penulis
Sharis Mohammed
Rating
Pemeran
Prithviraj Sukumaran (sebagai Aravind Swaminathan), Suraj Venjaramoodu (sebagai Sajjan Kumar), Mamta Mohandas (sebagai Saba Mariyam), Pasupathi Raj (sebagai Moorthy), G. M. Sundar (sebagai Nageshwara Rao), Vincy Aloshious (sebagai Gouri Lakshmi)
Jana Gana Mana (ജന ഗണ മന), yang juga memakai Jana Gana Mana sebagai judul internasionalnya, adalah film kejahatan politik berbahasa Malayalam dari India yang disutradarai Dijo Jose Antony dan ditulis Sharis Mohammed. Film ini dibintangi Prithviraj Sukumaran, Suraj Venjaramoodu, Mamta Mohandas, Pasupathi Raj, dan Vincy Aloshious. Film berdurasi 162 menit ini tayang di India pada 28 April 2022.
Film ini mendapat rating 8,3 di IMDb dari 22.407 suara. Rating penontonnya tergolong tinggi. Para kritikus umumnya memuji narasi dua alur, penampilan para pemeran, dan kekuatan isu politiknya, meski sebagian menilai bagian persidangan terlalu dramatis serta sarat informasi dan isu.
Kematian Seorang Profesor Memicu Protes Mahasiswa
Setelah Profesor Saba Mariyam dari Universitas Pusat di Ramanagaram, Karnataka, menghilang, polisi menemukan jenazahnya yang hangus terbakar. Penyelidikan awal dan pemberitaan media menggambarkan kasus itu sebagai pemerkosaan yang diikuti pembunuhan serta pembakaran jenazah. Gouri Lakshmi dan mahasiswa lain meminta pihak universitas mengadakan penghormatan resmi untuk Saba, tetapi permintaan mereka ditolak sehingga mereka menggelar protes di kampus.

Polisi membubarkan para mahasiswa dengan pentungan, dan rekaman kejadian itu cepat menyebar. Protes kemudian meluas ke luar kampus, sementara mahasiswa di daerah lain ikut menyatakan dukungan kepada Universitas Pusat. Publik menuntut agar kematian Saba diusut sekaligus mempertanyakan alasan polisi menggunakan kekerasan terhadap mahasiswa.

Sajjan Mengambil Alih Penyelidikan dan Menjanjikan Tenggat
Di bawah tekanan, pemerintah menunjuk Asisten Komisaris Polisi Sajjan Kumar untuk menyelidiki pembunuhan itu. Sajjan terlebih dahulu berbicara dengan para mahasiswa. Ia mengatakan bahwa protes adalah hak mereka dan berjanji akan menindak polisi yang melakukan kekerasan. Setelah itu, ia menemui Shabana, ibu Saba, dan Sana, adik Saba, lalu berjanji akan menemukan pihak yang bertanggung jawab dalam tiga puluh hari.

Polisi segera menangkap empat pria, tetapi kabar itu bocor ke media sebelum bukti diumumkan. Para mahasiswa kembali berkumpul dan menuntut polisi menjelaskan dasar penangkapan tersebut. Di internal kepolisian, Sajjan mempertanyakan siapa yang membocorkan informasi. Kepada publik, ia tetap mempertahankan citra sebagai orang yang akan segera menuntaskan kasus itu. Keluarga Saba pun terus dikepung kamera media.

Empat Tersangka Tewas dalam Baku Tembak
Setelah menginterogasi keempat pria itu, Sajjan masih tidak memiliki cukup bukti untuk membawa mereka ke pengadilan. Saat itulah atasannya memerintahkan agar kasus tersebut diserahkan dan para tersangka dipindahkan. Sajjan menelepon Menteri Dalam Negeri Nageshwara Rao. Setelah mendapat perintah untuk mengakhiri perkara itu, ia mengatur agar kendaraan tahanan menyimpang dari rute yang telah ditentukan menuju tempat terpencil.

Sajjan meminta rekannya, Moorthy, membantu merekayasa tempat kejadian. Ia lalu menembak mati keempat tahanan dan membuat bahu Moorthy tertembak agar kejadian itu tampak seperti baku tembak setelah para tersangka mencoba melarikan diri. Masyarakat menganggap eksekusi tersebut sebagai penegakan keadilan yang cepat, dan Sajjan pun menjadi pahlawan publik. Di tengah perayaan itu, ia mendapat kabar bahwa putranya mengalami kecelakaan.

Aravind Mempertanyakan Keadilan Instan di Pengadilan
Organisasi hak asasi manusia mengajukan gugatan atas insiden baku tembak tersebut, dan pengadilan memulai sidang terbuka. Pengacara bertongkat Aravind Swaminathan mewakili keempat korban tewas dan berhadapan di pengadilan dengan Raghuram Iyer, pengacara yang mewakili pemerintah. Aravind tidak membela perilaku keempat pria itu. Ia meminta pengadilan terlebih dahulu memastikan apakah polisi berhak menjatuhkan hukuman mati tanpa melalui persidangan.

Aravind menjelaskan satu per satu bahwa latar belakang dan pakaian para tersangka serta kebencian publik tidak dapat menggantikan bukti. Tuduhan yang terus diputar media juga tidak membuktikan adanya kejahatan. Ia membongkar narasi kepahlawanan yang dibangun Sajjan dan memaksa pengadilan memeriksa kembali pertentangan antara catatan penangkapan, pemindahan tahanan, penembakan, dan tempat kejadian.

Kematian Vidya Mengungkap Penyelidikan Saba
Bukti di pengadilan membawa kasus itu kembali ke universitas. Vidya, seorang mahasiswa doktoral, terus direndahkan oleh dosen pembimbingnya, Vydarshan, dan didiskriminasi karena latar belakangnya. Ia akhirnya bunuh diri setelah meninggalkan pesan di ponselnya. Saba menyelidiki perlakuan terhadap Vidya, mengadukan Vydarshan kepada pihak universitas, dan menolak syarat yang ia ajukan agar Saba tutup mulut.


Suatu hari, skuter Saba mogok di tepi jalan. Vydarshan yang melintas dengan mobil sengaja menabraknya hingga tewas. Sajjan kemudian menyuruh orang memilih empat pria dari daftar warga setempat yang memiliki catatan kriminal dan membayar mereka di muka untuk memindahkan serta membakar jenazah Saba, lalu merekayasa agar keempat orang itu menjadi tersangka pemerkosaan dan pembunuhan. Mereka memang terlibat dalam penanganan jenazah, tetapi bukan merekalah yang menabrak Saba hingga tewas. Sajjan akhirnya menembak mati mereka, sekaligus menutupi penyebab kematian yang sebenarnya dan menghilangkan kesempatan mereka untuk menjelaskan perbuatan masing-masing di pengadilan.
Pembunuhan Itu Diubah Menjadi Proyek Pemilu
Aravind terus mengajukan bukti yang menunjukkan bahwa operasi yang menjadi sorotan nasional itu bukan tindakan Sajjan akibat kehilangan kendali sesaat. Partai Nageshwara terancam kalah dalam pemilu, lalu Sajjan mengusulkan agar pembunuhan itu dimanfaatkan untuk membalikkan opini publik: menunda bukti penting, mendorong satu narasi tentang pemerkosaan dan pembunuhan, membiarkan polisi terlebih dahulu memukuli mahasiswa, kemudian tampil sendiri untuk menenangkan para pengunjuk rasa, dan akhirnya merekayasa baku tembak demi menciptakan dukungan publik.

Kecelakaan putra Sajjan membuatnya sadar bahwa sang menteri juga dapat mengorbankannya kapan saja. Mimpi buruknya di rumah sakit dan ucapan Shabana agar ia menanggung akibat perbuatannya mendorong Sajjan untuk diam-diam menyimpan bukti. Moorthy menyaksikan sendiri eksekusi itu dan kemudian bekerja sama dengan Sajjan untuk menyerahkan dokumen serta kesaksian kepada Aravind. Setelah seluruh rangkaian peristiwa terungkap di pengadilan, Sajjan dicopot dari jabatannya dan ditangkap.

Ending
Setelah Sajjan dipenjara, Moorthy datang menjenguk dan memberi tahu bahwa Vydarshan telah resmi ditangkap. Moorthy juga menjelaskan masa lalu Aravind. Aravind pernah menjabat sebagai Wakil Komisaris Polisi. Ketika menyelidiki kerusuhan pada 2013 yang menewaskan 136 orang, ia menetapkan Nageshwara sebagai tersangka utama. Ia kemudian dikhianati oleh orang-orang terdekatnya, dijebak, dan dipenjarakan. Montase di bagian akhir memperlihatkan luka di leher Padma, istri Aravind, yang menunjukkan bahwa ia dibunuh. Adegan ini disandingkan dengan aksi balas dendam Nageshwara, tetapi tidak mengungkapkan secara jelas siapa pembunuhnya. Berbekal gelar sarjana hukum, Aravind menjadi pengacara setelah meninggalkan kepolisian. Melalui persidangan kasus baku tembak kali ini, ia secara terbuka menyerang jaringan kekuasaan Nageshwara.

Sajjan mengatakan bahwa ia tentu mengenal Aravind, dan kilas balik memperlihatkan bahwa ia pernah menginterogasi Aravind di penjara. Para mahasiswa Saba memutuskan untuk mengikuti pemilu mendatang dan menantang langsung partai Nageshwara. Sementara itu, Aravind menelepon Nageshwara dan menyatakan bahwa pengungkapan di pengadilan baru permulaan. Setelah mengakhiri panggilan, ia menyingkirkan tongkat yang selama ini digunakannya dan bersiap menghadapi tahap pertarungan berikutnya.

Lebih Banyak Foto Adegan
Foto Adegan Lainnya









