The Lodge
Tipu daya di tengah salju terhadap seorang penyintas sekte lepas kendali: Ulasan lengkap rangkaian bunuh diri sang ibu, pengasingan saat Natal, kebohongan tentang api penyucian, dan akhir di meja makan dalam film The Lodge
Judul
The Lodge
Tahun / Durasi
2019 · 108 menit
Genre
Drama / Thriller / Horor
Sutradara
Severin Fiala, Veronika Franz
Penulis
Sergio Casci, Veronika Franz, Severin Fiala
Rating
Pemeran
Riley Keough (sebagai Grace Marshall), Richard Armitage (sebagai Richard Hall), Jaeden Martell (sebagai Aiden Hall), Lia McHugh (sebagai Mia Hall), Alicia Silverstone (sebagai Laura Hall)
The Lodge adalah film horor psikologis yang disutradarai oleh Severin Fiala dan Veronika Franz serta ditulis oleh keduanya bersama Sergio Casci. Film ini dibintangi oleh Riley Keough, Richard Armitage, Jaeden Martell, Lia McHugh, dan Alicia Silverstone. Film ini tayang perdana di dunia pada 25 Januari 2019 di Sundance Film Festival, kemudian dirilis secara terbatas di Amerika Serikat pada 7 Februari 2020, dengan durasi 108 menit.
Film ini mendapat rating 6,0 di IMDb dari sekitar 66 ribu suara; Rotten Tomatoes mencatat 184 ulasan kritikus, dengan skor segar 75% dan skor penonton 51%. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa tanggapan kritikus secara umum cenderung positif, sementara respons penonton lebih terbagi; banyak ulasan memuji penampilan Riley Keough dan suasana menekan yang terus dibangun film ini, sedangkan sebagian lainnya mempertanyakan keputusan para tokoh dan apakah plot twist pada bagian akhir terasa meyakinkan.
Keputusan Bercerai dan Kematian Sang Ibu
Laura mengantar putranya, Aiden, dan putrinya, Mia, ke rumah Richard, suaminya yang tinggal terpisah. Richard memberi tahu Laura bahwa ia ingin mengakhiri pernikahan mereka secara resmi dan berencana menikahi Grace Marshall. Grace adalah subjek penelitian yang Richard kenal saat menulis buku tentang sekte ekstrem; hubungan baru ini juga berarti keluarga lama mereka tidak akan bersatu kembali. Laura pulang ke rumah tempat ia tinggal seorang diri, lalu bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri.

Aiden dan Mia tiba-tiba kehilangan ibu mereka. Saat pemakaman, Mia khawatir bunuh diri membuat ibunya tidak bisa masuk surga. Kesedihan kakak beradik itu pun segera berubah menjadi penolakan terhadap Grace: bagi mereka, hubungan ayah mereka dengan Grace menyebabkan perceraian orang tua mereka dan secara tidak langsung membawa Laura pada kematian.

Masa Lalu Sekte dan Rencana Natal
Enam bulan kemudian, Richard mengajak seluruh keluarga merayakan Natal di sebuah pondok terpencil di Massachusetts agar anak-anaknya mengenal Grace sebelum pernikahan. Aiden dan Mia tidak mau ikut, lalu menyelidiki masa lalu Grace melalui berkas di komputer ayah mereka. Mereka melihat rekaman kematian massal para anggota sekte: mayat-mayat terbungkus kain ungu dengan selotip bertuliskan “dosa” menutupi mulut mereka.

Berkas itu menunjukkan bahwa sejak kecil Grace hidup dalam kelompok keagamaan ekstrem yang dipimpin ayahnya. Setelah sang ayah merencanakan bunuh diri massal para anggota, Grace yang baru berusia dua belas tahun menjadi satu-satunya penyintas dan ditinggalkan untuk menyebarkan ajaran tentang hari kiamat. Saat dewasa, Grace menjalani terapi dan mengandalkan obat psikiatri agar tetap stabil, tetapi gambar-gambar keagamaan serta khotbah ayahnya masih memicu trauma lamanya. Richard tidak membatalkan perjalanan itu dan tetap membawa mereka bertiga bersama anjing Grace ke pondok di tengah salju.

Kerenggangan di Pondok Bersalju
Setelah tiba, Richard berusaha mengajak mereka berempat melakukan kegiatan bersama. Ketika mereka bermain di danau yang membeku, boneka Mia jatuh ke lubang es dan Grace masuk ke air untuk mengambilnya sebelum memanjat keluar. Grace juga berlatih menembak bersama Richard di luar pondok, tetapi pengalaman singkat mereka bersama tidak menghilangkan kewaspadaan anak-anak.

Suasana makan di pondok selalu kaku. Salib, gambar orang suci, dan hiasan Katolik lain di dalam pondok membuat Grace gelisah, dan ia mulai memimpikan ayahnya serta para anggota sekte. Saat itu Richard harus kembali ke kota selama beberapa hari karena pekerjaan, sehingga ia meninggalkan Grace untuk mengasuh Aiden dan Mia seorang diri. Kedua anak itu menolak upayanya memperbaiki hubungan dan masing-masing bersembunyi di kamar.

Barang-Barang yang Hilang dalam Semalam
Setelah Richard pergi, Grace memergoki Aiden mengintipnya mandi dari luar kamar mandi dan menegurnya. Aiden kemudian menyiapkan cokelat panas untuk Grace. Mereka bertiga menonton film bersama dan menggunakan pemanas berbahan bakar gas di dalam pondok. Keesokan paginya, Grace terbangun dan mendapati pakaian, obat-obatan, serta anjingnya menghilang. Makanan, hiasan Natal, televisi, dan pemanas di dalam pondok juga lenyap. Barang-barang anak-anak pun tidak berada di tempat semula, sehingga Grace belum bisa memastikan siapa pelakunya.

Generator berhenti bekerja, ponsel kehabisan daya, dan pipa air perlahan membeku. Grace memandang ke luar dari depan jendela yang diselimuti embun beku, lalu menyadari jam dan kalender di pondok telah melompat dari sebelum Natal ke 9 Januari. Aiden mengaku bermimpi pemanas rusak dan mereka bertiga meninggal akibat keracunan karbon monoksida, sehingga yang tertinggal di pondok kini hanyalah arwah mereka yang tidak bisa pergi.


Api Penyucian yang Direkayasa
Pada awalnya Grace mengira anak-anak itu sedang mengerjainya, tetapi rasa lapar, dingin, dan efek penghentian obat terus memburuk. Ia mulai berjalan dalam tidur, mendengar suara ayahnya berkhotbah, dan berulang kali melihat gambar yang berkaitan dengan sekte. Grace mencoba berjalan kaki ke kota terdekat untuk mencari bantuan. Di tengah badai salju, ia menemukan sebuah bangunan tinggi berbentuk seperti salib dan melihat ayahnya melambaikan tangan kepadanya dari dalam bangunan; setelah terus berjalan, ia justru kembali ke pondok semula.

Foto peringatan untuk Aiden dan Mia terkubur di salju. Di dalam pondok juga terdapat sebuah koran yang menyatakan Grace dan kedua anak itu meninggal akibat keracunan karbon monoksida pada 22 Desember 2019. Aiden bersikeras bahwa mereka berada di api penyucian, lalu menggantung diri di loteng tetapi tetap bergerak di tali untuk membuktikan bahwa orang mati tidak dapat mati lagi. Kemampuan Grace menilai kenyataan semakin runtuh; ketika menemukan anjingnya mati membeku di luar pondok, ia roboh di beranda dan tidak bereaksi untuk waktu yang lama.

Tipu Muslihat Terungkap Terlambat
Khawatir Grace akan mati kedinginan, Aiden dan Mia akhirnya mengakui bahwa semuanya merupakan tipu muslihat yang mereka rancang. Mereka membius Grace, menyembunyikan makanan, pakaian, ponsel, obat-obatan, dan barang lain di ruang tersembunyi dalam pondok, memalsukan koran serta foto peringatan, berpura-pura menggantung diri, dan memutar rekaman khotbah ayah Grace melalui pengeras suara nirkabel.

Anak-anak itu mengembalikan obat-obatan Grace dan mencoba menyalakan generator untuk memulihkan listrik, tetapi pengakuan mereka sudah terlambat. Grace telah yakin bahwa mereka bertiga benar-benar meninggal dan hanya bisa naik ke surga dengan menebus dosa. Pada malam hari, ia membakar kulitnya sendiri di dekat perapian. Aiden dan Mia bersembunyi di loteng, tetapi Grace kembali menemukan mereka keesokan harinya; ia menuntut mereka meninggalkan berhala dan melemparkan boneka kesayangan Mia ke dalam api.
Ending
Richard kembali ke pondok dan melihat Grace yang kehilangan kendali memegang revolver miliknya. Ia mencoba mendekat dan meminta Grace meletakkan senjata. Grace lebih dahulu mengarahkan pistol ke dirinya sendiri dan menarik pelatuk, tetapi pistol itu tidak meletus; ia menganggapnya sebagai bukti bahwa dirinya sudah mati dan tidak dapat mati lagi, lalu berbalik menembak Richard tepat di kepala hingga tewas.

Aiden dan Mia berlari ke mobil untuk mencoba melarikan diri, tetapi kendaraan itu terjebak di salju. Grace mengejar mereka, membawa keduanya kembali ke dalam pondok, dan menyuruh mereka duduk di meja makan bersama jasad Richard. Ia menyanyikan himne, lalu menempelkan selotip bertuliskan “dosa” pada mulut kedua anak itu. Pistol berisi peluru tetap berada di atas meja sementara anak-anak masih berada di bawah kendalinya; film berakhir sebelum Grace memutuskan apakah ia akan menembak mereka, tanpa memperlihatkan lebih lanjut apakah mereka hidup atau mati.

Foto Adegan Lainnya
Foto Adegan Tambahan




