Human Resource
Tenggat rekrutmen makin dekat, kehamilan masih dirahasiakan: Ulasan lengkap alur cerita Human Resource tentang Fren yang menghadapi karyawan yang hilang kontak, tekanan kerja, rencana suaminya untuk membesarkan anak, dan pilihan mengenai kehamilannya
Judul
Human Resource
Tahun / Durasi
2025 · 122 menit
Genre
Drama
Sutradara
Nawapol Thamrongrattanarit
Penulis
Nawapol Thamrongrattanarit
Rating
Pemeran
Prapamonton Eiamchan (sebagai Fren), Paopetch Charoensook (sebagai Thame), Chanakan Rattana-Udom (sebagai Tenn), Pimmada Chaisaksoen (sebagai Jida)
Human Resource adalah film drama Thailand yang ditulis dan disutradarai oleh Nawapol Thamrongrattanarit, dengan pemeran utama Prapamonton Eiamchan, Paopetch Charoensook, Chanakan Rattana-Udom, dan Pimmada Chaisaksoen. Film ini terpilih untuk mengikuti program Orizzonti di Festival Film Venesia pada 2025, tayang di bioskop Thailand pada 29 Januari 2026, dan berdurasi 122 menit.
Film ini mendapat skor 6,6 di IMDb, sebuah penilaian penonton yang berada di kisaran menengah. Ceritanya berpusat pada seorang staf sumber daya manusia di Bangkok, dengan pekerjaan rekrutmen dan kehamilan tahap awalnya berjalan beriringan dalam kesehariannya: sembari mencari karyawan baru untuk perusahaan, ia terus kesulitan memutuskan apakah ingin membawa anaknya ke dunia ini.
Kehamilan yang dirahasiakan
Setelah menjalani pemeriksaan, Fren mengetahui bahwa dirinya hamil. Dokter mengingatkannya untuk mengurangi stres, tetapi ia tidak langsung memberi tahu suaminya, Thame, dan tidak membicarakan hasil pemeriksaan itu dalam percakapan sehari-hari mereka. Ia menyimpan foto hasil USG, kembali ke kantor seperti biasa, lalu melanjutkan wawancara dan menangani masalah karyawan.

Hidupnya dipenuhi pekerjaan dan perjalanan pergi-pulang kantor. Berita yang terdengar di mobil terus melaporkan kekerasan di masyarakat, masalah ekonomi, dan persoalan lingkungan. Sesampainya di rumah, ia masih harus menghadapi kurang tidur dan rasa tidak nyaman pada tubuhnya. Kehamilan tidak serta-merta membuatnya ingin merayakan, melainkan menghadirkan pertanyaan yang belum ia ungkapkan kepada siapa pun: apakah ia ingin melanjutkan kehamilan ini.
Mencari orang yang tepat dalam tiga puluh hari
Seorang karyawan perusahaan sudah berhari-hari tidak masuk kerja dan tidak menjawab pesan yang dikirim Fren. Posisi kosong itu harus diisi, sehingga Fren dan rekan kerjanya, Tenn, mulai mewawancarai para pelamar secara bergantian. Tenggat rekrutmen hanya tiga puluh hari, sementara gaji untuk posisi tersebut, jadwal kerja enam hari seminggu, dan perangai atasan membuat para kandidat sulit menerima tawaran itu.

Para pelamar tidak hanya menjawab pertanyaan secara pasif, tetapi juga menanyakan gaji, hari libur, dan tunjangan perusahaan. Ada yang ingin libur pada hari Sabtu, ada pula yang meminta bayaran lebih tinggi. Fren perlu menjelaskan persyaratan perusahaan dengan jelas sambil memastikan proses rekrutmen tetap berjalan. Sementara itu, Tenn merasa tidak tenang menyerahkan karyawan baru kepada atasan yang suka menghina bawahannya.
Ketika Jida yang masih muda datang untuk wawancara, ia masih menaruh harapan pada pekerjaan baru itu. Ia ingin hidup lebih mandiri sekaligus meningkatkan keterampilannya. Saat negosiasi gaji menemui jalan buntu, Fren menyebut kemungkinan adanya kesempatan melakukan perjalanan dinas ke luar negeri dalam posisi tersebut. Jida pun bersedia menurunkan tuntutannya dan menerima pekerjaan itu.

Air mata di lift dan kabar kematian seorang karyawan
Setelah Jida mulai bekerja, antusiasme awalnya tidak bertahan lama. Fren melihatnya menangis di lift. Saat berhadapan dengan rekan kerja, perempuan muda itu kembali berusaha memasang ekspresi seperti biasa. Berada bersamanya di ruang sempit itu, Fren melihat bahwa tekanan pekerjaan bukan lagi sekadar persyaratan yang dibicarakan di meja wawancara, melainkan sesuatu yang tampak pada wajah orang di hadapannya.
Perusahaan mengabarkan bahwa seorang karyawan telah meninggal. Fren menghadiri pemakaman dan, melalui cerita keluarga mendiang, mengenal kehidupan mendiang di luar pekerjaan.

Tenn memutuskan untuk meninggalkan perusahaan. Kondisi keluarganya memungkinkan ia melepaskan pekerjaan ini tanpa harus menggantungkan seluruh biaya hidup pada gajinya saat ini. Namun, Fren tetap bertahan di posisinya dan terus menangani rekrutmen. Pemakaman itu tidak membuatnya langsung mengundurkan diri; rutinitas kantor tetap berjalan.

Rencana Thame setelah mengetahui kehamilan Fren
Thame juga sibuk dengan pekerjaannya. Ia menjual rompi pelindung antitusuk dan membicarakan produk, pelanggan, serta lingkungan sosial yang makin berbahaya. Keraguan Fren tidak menjadi pokok percakapan mereka pada awalnya; ia masih menyimpan kabar kehamilan itu untuk dirinya sendiri.

Pemeriksaan di rumah sakit setelah sebuah kecelakaan mobil membuat Fren tidak bisa lagi menyembunyikan kehamilannya. Thame sangat gembira saat mengetahui istrinya hamil dan mulai merencanakan masa depan anak mereka. Untuk sementara, ia berinisiatif menyiapkan sarapan dan lebih memperhatikan pengeluaran keluarga yang akan datang. Namun, reaksi mereka terhadap kehamilan itu berbeda: Thame ingin segera melangkah maju, sedangkan pertanyaan yang sejak awal mengusik Fren tidak lantas hilang.

Mendaftar sekolah sebelum anak lahir
Pasangan itu mengunjungi sebuah sekolah internasional. Anak mereka belum lahir, tetapi urusan pendaftaran dan menunggu tempat sudah dimulai. Thame berharap pendidikan yang lebih baik membuat generasi berikutnya tidak perlu mengulangi pengalaman yang ia alami saat bersekolah. Karena itu, ia mengaitkan upayanya bekerja keras mencari uang dengan kesempatan anaknya masuk ke sekolah ini.


Mereka kemudian menemui ibu Fren. Sang ibu mengucapkan selamat kepada putrinya, membicarakan tanggung jawab setelah menjadi ibu, dan menasihatinya agar tidak selalu mengalah demi orang lain. Fren mendengarkan nasihat itu. Orang-orang di sekitarnya sudah mulai membicarakan bagaimana anaknya akan tumbuh, sedangkan keraguannya sendiri mengenai memiliki anak masih belum menemukan jawaban sederhana.

Konflik di jalan satu arah
Masalah lalu lintas berulang kali memasuki kehidupan mereka. Di jalan satu arah, sebuah sepeda motor yang melawan arus berhadapan dengan mobil mereka. Thame bersikeras mempertahankan hak jalannya dan tidak mau terus mengalah. Pihak lain juga tidak begitu saja pergi, sehingga pertengkaran semakin memanas. Fren berada di dalam mobil dan tidak bisa menganggap konflik antara kedua pihak itu sebagai sesuatu yang tidak berkaitan dengannya.
Perselisihan itu akhirnya berlanjut hingga ke kantor polisi. Kehidupan keluarga yang semula ingin mereka jauhkan dari risiko kembali tersita oleh pertengkaran dan upaya membereskan akibatnya. Setelah urusan itu selesai, mereka tetap harus kembali bekerja, pergi-pulang kantor, dan mengumpulkan uang untuk pengeluaran di masa depan. Selesainya satu konflik tidak mengubah lingkungan yang mereka hadapi setiap hari.

Ending
Fren tidak mengakhiri fase kehidupan ini dengan mengundurkan diri, meninggalkan suaminya, atau melakukan perlawanan secara terbuka. Thame tetap merencanakan pendidikan anak dan pengeluaran keluarga, sementara menyiapkan sarapan di rumah kembali menjadi rutinitas Fren. Kamera terus menyorot wajahnya tanpa memberinya monolog yang menyatakan bahwa semua pertanyaan telah terjawab.

Menjelang akhir film, adegan pencucian mobil otomatis kembali muncul. Fren duduk di dalam mobil, dikelilingi air dan sikat yang berputar, sementara musik Für Elise terdengar. Ia masih hamil. Film tidak melanjutkan cerita dengan memperlihatkan kehidupan setelah anaknya lahir, dan tidak menafsirkan ekspresi tenangnya sebagai tanda bahwa ia sepenuhnya merasa tenteram menghadapi masa depan.
Foto adegan lainnya
Foto adegan tambahan









