Gukoroku - Traces of Sin
Satu kasus pembantaian keluarga yang tidak terpecahkan membongkar masa lalu yang sama-sama disembunyikan korban dan penyelidiknya: uraian lengkap tentang Takeshi yang menelusuri pembunuhan keluarga Takou, menyusun kesaksian lapis demi lapis, hingga kebenaran akhirnya terungkap dalam Gukoroku - Traces of Sin
Judul
Gukoroku - Traces of Sin
愚行録
Tahun / Durasi
2016 · 120 menit
Genre
Drama / Misteri / Kriminal
Sutradara
Kei Ishikawa
Penulis
Kōsuke Mukai
Rating
Pemeran
Satoshi Tsumabuki (sebagai Takeshi Tanaka), Hikari Mitsushima (sebagai Mitsuko Tanaka), Keisuke Koide (sebagai Hiroki Takou), Asami Usuda (sebagai Junko Miyamura), Yui Ichikawa (sebagai Emi Inamura), Wakana Matsumoto (sebagai Yukie Natsuhara)
Karya asli
Gukoroku karya Tokuro Nukui (novel dengan judul yang sama)
Penghargaan
Venice Film Festival ke-73: seleksi resmi bagian Orizzonti; Kaneto Shindo Award 2017: Penghargaan Perak untuk Kei Ishikawa
Gukoroku - Traces of Sin (愚行録) adalah film misteri kriminal Jepang yang disutradarai Kei Ishikawa dengan naskah karya Kōsuke Mukai, diadaptasi dari novel berjudul sama karya Tokuro Nukui, dan dibintangi oleh Satoshi Tsumabuki, Hikari Mitsushima, Keisuke Koide, Asami Usuda, Yui Ichikawa, serta Wakana Matsumoto. Film ini menggelar pemutaran perdananya di Venice Film Festival pada 6 September 2016, lalu tayang di Jepang pada 18 Februari 2017 dengan durasi 120 menit.
Hingga 10 September 2026, film ini mendapat nilai 6,7 di IMDb dari 1.273 suara. Halaman Rotten Tomatoes hanya memuat 2 ulasan kritikus dengan tingkat kepuasan penonton 64% dari sampel kurang dari 50 orang, sehingga angka itu belum cukup untuk menggambarkan konsensus yang luas; sementara itu, nilai yang terlihat di IMDb secara keseluruhan berada di kisaran menengah yang cenderung positif.
Takeshi Menjenguk Adiknya di Tahanan
Takeshi Tanaka, seorang wartawan majalah mingguan, naik bus menuju rumah tahanan. Di dalam bus, seseorang memintanya memberikan tempat duduk kepada seorang lansia. Takeshi berdiri, lalu sengaja berpura-pura kakinya bermasalah sehingga orang yang menegurnya merasa canggung; setelah turun dari bus, ia langsung berjalan normal kembali.

Mitsuko Tanaka, adik Takeshi, ditangkap karena sekian lama menelantarkan Chihiro, putrinya yang berusia tiga tahun. Saat diselamatkan, berat badan anak itu jauh di bawah normal dan ia masih terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit. Di hadapan Takeshi dan pengacara Tachibana, Mitsuko terus berbicara tanpa henti, tetapi reaksinya sama sekali tidak sepadan dengan keadaan yang ia hadapi. Tachibana lalu mengusulkan pemeriksaan kejiwaan untuk memastikan kondisi mental Mitsuko dan kemampuannya mempertanggungjawabkan perbuatan.

Pembantaian Keluarga Takou Setahun Sebelumnya
Takeshi mengusulkan kepada editornya untuk menyelidiki ulang pembantaian keluarga Takou yang terjadi setahun sebelumnya. Korbannya, Hiroki Takou, bekerja di sebuah perusahaan properti besar, sedangkan istrinya, Yukie, merupakan lulusan universitas ternama; keduanya tinggal bersama putri kecil mereka di sebuah rumah tapak di Tokyo. Ketiganya tewas ditikam, tetapi polisi tidak pernah berhasil menetapkan tersangka. Sang editor tahu Takeshi sedang menanggung tekanan akibat kasus adiknya, tetapi ia tetap menyetujui peliputan ulang kasus lama itu.

Takeshi pertama-tama mewawancarai Masato Watanabe, teman kuliah sekaligus rekan kerja Hiroki. Watanabe mengenang bahwa Hiroki pernah berhubungan dengan seorang rekan kerja perempuan, lalu merasa terganggu ketika perempuan itu mulai serius, sehingga ia menyuruh Watanabe mendekati perempuan tersebut lebih dulu dan kemudian meninggalkannya begitu saja. Watanabe memandang kenangan menyakiti orang lain bersama-sama itu sebagai bukti persahabatan mereka; dalam keadaan mabuk pun ia tetap bersikeras bahwa Hiroki adalah orang baik dan tidak mengerti mengapa temannya sampai dibunuh.

Jaringan Pertemanan Yukie di Kampus
Setelah itu, Takeshi mewawancarai Junko Miyamura, teman kuliah Yukie, di sebuah kafe. Di kampus mereka, mahasiswa yang naik langsung dari sekolah afiliasi disebut “mahasiswa internal”, sedangkan mahasiswa yang masuk lewat ujian disebut “mahasiswa eksternal”. Latar belakang keluarga para mahasiswa internal membentuk lingkaran yang tertutup, dan tidak sedikit mahasiswa eksternal yang berharap bisa diterima di dalamnya. Yukie sudah masuk ke lingkaran itu sejak awal, sehingga banyak orang berkumpul di sekitarnya demi membangun koneksi melalui dirinya.

Junko berkata bahwa kelembutan Yukie kepada orang lain hanyalah cara menjaga posisinya sendiri, dan Yukie bahkan merebut Takayuki Ogata, kekasih Junko. Takeshi kemudian menemui Ogata. Ogata mengakui bahwa ia meninggalkan Junko demi mengejar Yukie, tetapi ia tetap memandang Yukie sebagai sosok yang ideal dan justru menuduh Junko sebagai perempuan yang gila gengsi. Kesaksian keduanya saling bertentangan, sekaligus membuka rasa cemburu, obsesi, dan pembelaan diri masing-masing.

Emi Menceritakan Pilihan-pilihan Hiroki
Setelah artikelnya terbit, Emi Inamura, mantan kekasih Hiroki semasa kuliah, menghubungi redaksi dan mengaku tahu lebih banyak. Takeshi pun datang ke rumahnya untuk mewawancarainya. Emi bercerita bahwa ia mengenal Hiroki di klub kampus dan sempat berpacaran singkat dengannya; lalu, pada masa mencari kerja, Hiroki kembali mendekatinya karena ingin mendapat posisi lewat perusahaan milik ayah Emi, sementara pada saat yang sama ia juga mendekati seorang mahasiswi lain yang keluarganya menjalankan sebuah perusahaan.

Hiroki berhasil memperoleh kesempatan dari kedua pihak, dan ketika kedua perempuan itu mengonfrontasinya, ia terang-terangan mengatakan bahwa ia akan memanfaatkan segala hal demi mendapatkan titik awal terbaik, meski pada akhirnya ia justru masuk ke perusahaan lain berkat kemampuannya sendiri. Emi juga mengakui bahwa hubungan mereka tetap berlanjut walau keduanya sudah menikah dengan orang lain. Sambil menggendong anaknya, ia bertanya kepada Takeshi apakah pria itu melihat kemiripan, tetapi ia tidak pernah langsung menyebut nama ayah kandung anak tersebut maupun nama pelaku pembunuhan; ia hanya mengajukan dugaan bahwa Yukie mungkin putus asa karena hubungan gelap Hiroki.

Masa Kecil Mitsuko dan Kehidupannya di Kampus
Selama pemeriksaan kejiwaan, Mitsuko menceritakan kepada dokter bagaimana ia dan kakaknya tumbuh besar. Ibu mereka jarang mengurus keduanya, sementara ayah mereka bertahun-tahun melakukan kekerasan dan melecehkan Mitsuko secara seksual. Takeshi selalu memasak untuk adiknya dan melindunginya, sampai akhirnya ia memukuli sang ayah dan mengusirnya dari rumah. Kedua kakak beradik itu meninggalkan keluarga lama mereka, dan Mitsuko berjuang agar lolos masuk ke universitas tempat Yukie berkuliah dengan harapan bisa memulai kehidupan yang berbeda.

Di kampus, Mitsuko mendapat perhatian karena penampilannya, dan ia pun ingin masuk ke lingkaran pergaulan para mahasiswa internal. Yukie mendekatinya lebih dulu dan berkali-kali mengenalkannya kepada para pria di lingkaran itu. Mula-mula Mitsuko percaya bahwa semua itu adalah persahabatan, tetapi belakangan ia menyadari para pria tersebut hanya menginginkan hubungan seks dengannya, sementara Yukie memanfaatkan perkenalan-perkenalan itu untuk mengukuhkan posisinya sendiri di dalam lingkaran. Ketika orang yang bisa dikenalkan semakin sedikit, Mitsuko ditinggalkan di luar lingkaran itu dan akhirnya keluar dari kampus.

Telepon Kedua dari Junko
Junko kembali mengajak Takeshi bertemu dan mengatakan bahwa ia teringat pada seseorang yang mungkin membenci Yukie. Ia menceritakan pengalaman Mitsuko yang dimanfaatkan dan dikucilkan Yukie semasa kuliah, lalu menyebut bahwa Mitsuko baru saja ditangkap karena menganiaya putrinya. Junko sama sekali tidak tahu bahwa wartawan yang duduk di hadapannya adalah kakak Mitsuko.

Begitu Junko berbalik, Takeshi mengambil sebuah benda berat di dalam kafe itu dan memukulnya sampai tewas. Ia memasukkan puntung rokok yang ia peroleh saat mewawancarai Ogata ke dalam asbak di tempat kejadian, lalu meninggalkan kafe tersebut. Polisi kemudian menangkap Ogata berdasarkan petunjuk di lokasi. Sampai di titik ini terlihat bahwa Takeshi menyelidiki ulang kasus lama itu bukan semata-mata demi artikelnya: sejak awal ia mencari orang yang berpotensi membongkar peran Mitsuko, dan ia membunuh Junko untuk membungkamnya setelah perempuan itu menyebut nama adiknya.

Ending
Sendirian di ruang pemeriksaan kejiwaan, Mitsuko menuturkan apa yang terjadi pada malam pembantaian keluarga Takou. Pada hari kejadian, ia tidak sengaja berpapasan dengan Yukie yang sudah menikah beserta putrinya di sebuah pusat perbelanjaan, dan sapaannya diabaikan begitu saja. Ia lalu mengikuti ibu dan anak itu sampai ke rumah mereka, dan melihat bahwa Yukie memiliki suami, anak, serta rumah tapak, persis kehidupan yang selama ini ia inginkan tetapi tidak pernah ia dapatkan. Malam harinya, Mitsuko masuk ke rumah keluarga Takou lewat pintu belakang yang tidak terkunci, membunuh Hiroki, Yukie, dan putri mereka dengan pisau, lalu pergi tanpa meninggalkan petunjuk langsung yang cukup bagi polisi untuk mengarah kepadanya.

Dokter kembali ke ruangan itu dan memberi tahu Mitsuko bahwa Chihiro sudah meninggal di rumah sakit. Pengacara Tachibana kemudian menemui ibu kedua kakak beradik itu untuk mencocokkan keterangan Mitsuko tentang keluarganya dan tentang siapa ayah kandung anak tersebut. Informasi dari sang ibu menggugurkan kemungkinan bahwa Chihiro lahir akibat pelecehan seksual yang dilakukan ayah mereka terhadap Mitsuko; reaksi sang ibu, rahasia di antara kedua kakak beradik itu, serta cara Takeshi sebelumnya menghindari pertanyaan soal ayah kandung Chihiro sama-sama mengisyaratkan bahwa ayah anak itu mungkin adalah Takeshi, meski film ini tidak pernah memastikannya secara langsung.

Takeshi menemui Mitsuko sekali lagi. Mitsuko masih memandang kakaknya sebagai satu-satunya orang yang berpihak kepadanya dan berulang kali membicarakan rahasia yang hanya milik mereka berdua; Takeshi diam menanggung kematian Chihiro, pembantaian yang dilakukan adiknya, serta pembunuhan yang baru saja ia lakukan sendiri. Pada akhirnya, ia kembali naik bus, dan kali ini ia sendiri yang menawarkan tempat duduknya kepada seorang perempuan hamil. Film ini tidak menjelaskan apakah kejahatan kedua kakak beradik itu akhirnya terungkap oleh polisi, dan tidak pula mengartikan pemberian tempat duduk itu sebagai penyesalan; ceritanya ditutup hanya dengan raut wajah Takeshi yang suram.
