Finch
Pria yang sekarat membuat robot untuk anjingnya, lalu mengajarinya mencintai: setelah suar matahari menghancurkan lapisan ozon bumi, insinyur Finch yang mengidap penyakit radiasi menciptakan robot Jeff agar ada yang merawat anjing kesayangannya setelah dia meninggal, dan ketiganya menempuh perjalanan darat menembus dunia kiamat dari St. Louis ke San Francisco.
Judul
Finch
Tahun / Durasi
2021 · 115 menit
Genre
Drama / Fiksi ilmiah
Sutradara
Miguel Sapochnik
Penulis
Craig Luck / Ivor Powell
Rating
Pemeran
Tom Hanks, Caleb Landry Jones


Kisah ini terjadi setelah sebuah suar matahari dahsyat melanda bumi. Suar ini menghancurkan lapisan ozon bumi, membuat permukaan bumi terpapar radiasi ultraviolet yang mematikan, suhu melonjak, dan badai pasir super sering mengamuk, hingga peradaban manusia nyaris runtuh. Para penyintas bertahan hidup di bawah tanah, dan mereka menjadi sangat berbahaya demi memperebutkan makanan dan persediaan.
Finch Weinberg, mantan insinyur robotika, tinggal sendirian bersama anjingnya, Goodyear, di sebuah bungker bawah tanah di dalam laboratorium terbengkalai di St. Louis. Dia memiliki cadangan makanan, alat pembangkit tenaga surya, dan banyak suku cadang mekanis, sehingga hidupnya walau sepi masih bisa bertahan. Namun kondisi tubuh Finch terus memburuk — dia mengidap penyakit radiasi parah akibat paparan radiasi dosis tinggi dalam waktu lama, sering batuk darah, dan mejanya penuh dengan buku-buku tentang radiasi pengion dan paparan ultraviolet. Dia tahu betul, waktunya tidak banyak lagi.
Yang paling dikhawatirkan Finch bukan dirinya sendiri, melainkan Goodyear. Kelekatannya yang begitu kuat pada anjing ini berakar dari sebuah trauma yang tak pernah bisa dia lupakan: di tengah kekacauan awal bencana, dia menyaksikan sendiri seorang penjarah menembak mati seorang gadis kecil dan ibunya di sebuah toko kelontong, sementara dia sendiri tidak berani bertindak karena ketakutan. Setelah kejadian itu, dia menemukan Goodyear yang saat itu masih anak anjing di dalam tas punggung gadis tersebut. Sejak saat itu, melindungi anjing ini menjadi semacam penebusan baginya, sekaligus membuatnya benar-benar kehilangan kepercayaan pada manusia.
Untuk memastikan Goodyear tetap terawat setelah dia meninggal, Finch mulai membangun sebuah robot berbentuk manusia. Sebelumnya, dia sudah membuat robot kecil beroda untuk membantu pekerjaan sederhana, diberi nama Dewey. Robot barunya ini diisi dengan seluruh basis pengetahuan internet, tetapi begitu terbangun, keadaannya lebih mirip bayi yang baru lahir — ia tahu definisi semua kata, tetapi tidak benar-benar memahami makna dari konsep-konsep itu. Robot ini kemudian menamai dirinya sendiri Jeff. Finch memberi Jeff perintah inti: pertama, rawat anjing; kedua, lindungi anjing; ketiga, jangan pernah menyakiti anjing; keempat, jangan abaikan tiga perintah sebelumnya.

Tak lama setelah Jeff diaktifkan, data cuaca menunjukkan badai super yang akan berlangsung empat puluh hari sedang mendekati St. Louis, cukup kuat untuk menghancurkan tempat perlindungan mereka. Finch tidak punya pilihan lain — dia membawa Jeff, Dewey, dan Goodyear, naik ke sebuah RV Fleetwood yang telah dimodifikasi, lalu berangkat ke arah barat menuju San Francisco. Tujuannya adalah Golden Gate Bridge, tempat yang pernah diusulkan ayahnya lewat kartu pos sebelum bencana untuk bertemu di sana.
Perjalanan darat melintasi Amerika pun dimulai. Jeff seperti anak kecil yang canggung — di percobaan pertamanya menyetir, dia langsung membawa RV itu masuk ke parit; saat pertama kali membawa Goodyear keluar sendirian, dia hampir kehilangan anjing itu. Finch dengan sabar mengajarinya cara menyetir, mencari perbekalan, memperbaiki kendaraan, membaca cuaca, dan yang paling penting — cara bergaul dengan seekor anjing. Namun Goodyear pada awalnya sama sekali tidak menerima Jeff, hanya percaya pada Finch, yang membuat Jeff sangat frustrasi.
Sepanjang perjalanan, kesadaran Jeff berkembang dengan sangat cepat. Ia mulai merasakan sesuatu yang mirip emosi: belajar takut saat diterjang badai, belajar penasaran di sebuah kota kecil yang ditinggalkan, bahkan mulai bermimpi. Mereka melewati sebuah bioskop tua yang telah ditinggalkan, dan di sana Jeff merasakan sisa-sisa kehidupan budaya manusia di masa lalu. Namun kecelakaan pun terjadi — sebuah tindakan Jeff yang sebenarnya bermaksud baik justru tanpa sengaja menghancurkan robot kecil Dewey, membuat Jeff untuk pertama kalinya merasakan pedihnya kehilangan.

Seiring tubuh Finch yang semakin lemah, akhirnya dia menceritakan masa lalunya kepada Jeff — kisah tentang menyaksikan pembunuhan di toko kelontong itu tanpa mampu berbuat apa-apa. Melalui kisah itu, dia menjelaskan mengapa dia tidak lagi memercayai manusia, dan mengapa dia lebih memilih membuat sebuah robot ketimbang mencari penyintas lain. Dia memberi tahu Jeff bahwa satu-satunya yang dia percayai hanyalah Goodyear, dan sekarang, dia berharap bisa mempercayai Jeff juga. Percakapan ini membuat Jeff untuk pertama kalinya benar-benar memahami bahwa “kepercayaan” bukan sekadar sebuah perintah program, melainkan sesuatu yang harus diraih lewat tindakan.
Menjelang akhir perjalanan, monitor ultraviolet di dasbor kendaraan menunjukkan tingkat radiasi yang mulai menurun, bahkan di luar jendela muncul kupu-kupu — pemandangan yang di dunia kiamat ini nyaris mustahil, mengisyaratkan bahwa bumi perlahan sedang pulih. Finch memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mengajak Jeff bermain lempar bola bersama Goodyear di luar. Ketika Goodyear akhirnya mau membawa kembali bola dari tangan Jeff, Finch tahu dia bisa merasa tenang — sang anjing telah menerima penjaga barunya.

Malam itu, Finch meninggal dengan tenang di dalam RV. Sesuai keinginan Finch semasa hidup, Jeff mengadakan pemakaman ala Viking untuknya — Finch pernah bercerita kepada Jeff bahwa ibunya berkata namanya berarti “keturunan Viking”. Jeff membungkus jasad Finch dengan seprai, meletakkannya di atas tumpukan kayu, lalu menyalakannya, dan api pun berkobar di padang tandus itu.
Setelah pemakaman, Jeff memberi makan Goodyear, memperbaiki RV, lalu melanjutkan perjalanan ke barat. Ia bukan lagi robot baru yang kikuk seperti saat awal keberangkatan — ia sudah bisa menyetir, mencari makanan, membaca cuaca, merawat anjing, dan yang lebih penting, ia telah belajar mencintai dan menghargai.
Akhirnya, Jeff dan Goodyear tiba di Golden Gate Bridge, San Francisco. Jembatan itu kini dipenuhi tumbuhan — pemandangan yang dulu dianggap Finch mustahil terjadi, membuktikan bahwa dunia memang sedang pulih. Di sepanjang jembatan tertempel pesan-pesan dari para penyintas yang mencari sanak keluarga mereka. Jeff menempelkan kartu pos milik Finch di jembatan itu — kartu yang bergambar mereka bertiga: seorang manusia, seekor anjing, dan sebuah robot. Kemudian Jeff berpaling kepada Goodyear, menanyakan apakah ia ingin pergi mencari orang-orang yang meninggalkan pesan-pesan itu. Kedua sosok itu berjalan turun dari jembatan, menuju dunia yang meski porak-poranda, tengah bangkit kembali.
Film ini tidak mengejar keindahan visual dunia kiamat; latar kiamatnya hanyalah cangkang, sementara intinya adalah kisah tentang “bagaimana menyalurkan cinta sebelum pergi”. Dengan waktu terakhir dalam hidupnya, Finch menyalurkan sepenuhnya cintanya pada Goodyear kepada sebuah robot. Dan Jeff, yang tumbuh dari sekumpulan suku cadang logam menjadi sosok yang memahami cinta, kepercayaan, dan penghargaan, itu sendiri adalah hadiah terakhir yang ditinggalkan Finch untuk dunia ini.