Ashfall
Gunung berapi Baekdu meletus tanpa peringatan, Korea Selatan dan Korea Utara bekerja sama merebut hulu ledak nuklir untuk meredakan tekanan gunung berapi: uraian lengkap alur cerita film Ashfall, dari Seoul yang berubah jadi puing dalam sekejap sampai keputusan akhir dua agen rahasia di kedalaman terowongan tambang di Korea Utara, memuat spoiler penuh.
Judul
Ashfall
백두산 / Ashfall
Tahun / Durasi
2019 · 130 menit
Genre
Aksi / Bencana
Sutradara
Lee Hae-jun, Kim Byung-seo
Penulis
Lee Hae-jun
Rating
Pemeran
Lee Byung-hun, Ha Jung-woo, Ma Dong-seok, Jeon Hye-jin, Bae Suzy
Gunung Berapi Meletus Tanpa Peringatan
Cerita ini terjadi pada hari ketika Korea Utara dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan soal denuklirisasi, dan Korea Utara bersiap menyerahkan hulu ledak nuklirnya untuk disimpan Amerika. Gunung berapi Baekdu, yang selama puluhan tahun tertidur dan tidak pernah aktif lagi sejak 1903, tiba-tiba meletus dahsyat tanpa tanda-tanda apa pun, dan daya rusaknya langsung menyapu seluruh Semenanjung Korea. Pusat kota Seoul berguncang hebat, gedung-gedung tinggi roboh, jalan layang patah seperti kertas; Pyongyang juga hancur jadi puing hampir di saat yang sama. Jo In-chang (diperankan Ha Jung-woo) memiliki istri, Choi Ji-Young (diperankan Bae Suzy), yang sedang hamil tua dan lari ketakutan di jalanan Seoul. Dia menyaksikan aliran lumpur sederas tsunami menerjang di dekatnya, dan setelah beberapa kali lolos dari maut, akhirnya sempat berlindung sementara di sebuah tempat pengungsian.

Rencana Gila
Setelah bencana terjadi, Cheong Wa Dae langsung mengumpulkan tim ahli untuk membahas solusi. Profesor Kang Bong-Rae (diperankan Ma Dong-seok), seismolog Korea-Amerika yang sudah lama meneliti Gunung Baekdu, mengemukakan teori yang dianggap semua orang sebagai “omong kosong”: satu-satunya cara mencegah letusan kedua dan ketiga yang jauh lebih dahsyat adalah dengan meledakkan bom nuklir berdaya ledak besar tepat di jalur magma Gunung Baekdu, membuka jalur itu agar tekanannya lepas. Menurut model Profesor Kang, Gunung Baekdu akan meletus total empat kali, dan tiga letusan berikutnya akan makin mematikan, cukup untuk menenggelamkan seluruh Semenanjung Korea dalam lautan api.
Setelah mempertimbangkan segalanya, pejabat tinggi Cheong Wa Dae memutuskan menerima rencana ekstrem ini. Masalahnya, Korea Selatan tidak punya bom nuklir. Satu-satunya jalan adalah mengirim pasukan khusus secara diam-diam menyusup ke Korea Utara untuk “merampas” salah satu hulu ledak nuklir di tengah jalan, sebelum Korea Utara menyerahkannya ke Amerika. Misi ini diberikan kepada Jo In-chang, ahli peledak yang sebentar lagi pensiun—padahal dia hanya tinggal beberapa hari lagi sebelum bisa mendampingi istrinya melahirkan. Jeon Yoo-Kyung (diperankan Jeon Hye-jin) mewakili Cheong Wa Dae memimpin langsung seluruh operasi di lapangan.
Menyusup ke Korea Utara
Jo In-chang memimpin tim yang dibentuk dadakan, terjun payung ke wilayah Korea Utara dengan pesawat militer. Di tengah penerbangan mereka mengalami turbulensi hebat, badan pesawat rusak, penerjunan jadi tergesa-gesa dan kacau, dan banyak anggota tim tewas. Setelah mendarat, mereka harus menemukan seorang informan penting—Lee Joon-pyeong (diperankan Lee Byung-hun), agen intelijen Korea Utara. Lee Joon-pyeong adalah mata-mata ganda yang ditahan Korea Utara karena dicap “pengkhianat”, dan dia menguasai informasi rute pengangkutan bom nuklir tersebut.

Jo In-chang dan timnya berhasil membebaskan Lee Joon-pyeong dari penjara, lalu terus menghindari kejaran militer Korea Utara. Sejak awal, kedua orang ini penuh rasa curiga satu sama lain—Jo In-chang adalah tentara Korea Selatan yang bekerja sesuai perintah, sementara Lee Joon-pyeong adalah orang licin dan sulit ditebak pikirannya. Sepanjang perjalanan, Lee Joon-pyeong terus bercanda dan bersikap tidak serius, tetapi beberapa kali justru menyelamatkan nyawa Jo In-chang di saat-saat kritis. Mereka berhasil merebut alat yang berisi komponen kunci hulu ledak nuklir (uranium yang sudah diperkaya), tetapi tindakan ini juga membuat militer Amerika murka—pihak Amerika tidak ingin melihat bom nuklir Korea Utara jatuh ke tangan yang tidak terkendali, sehingga mengerahkan pasukan khusus untuk mencegat mereka.
Rintangan Tak Terduga
Setelah hulu ledak nuklir berhasil direbut, masalah baru datang bertubi-tubi. Alat pemicu ledakannya rumit dan butuh peralatan khusus untuk diaktifkan kembali. Lee Joon-pyeong tidak langsung membawa timnya ke titik peledakan, melainkan berbelok arah lebih dulu—dia ingin pergi ke Kabupaten Bocheon untuk menjemput putrinya, Soon-ok, yang sudah lama tidak dia temui. Bagi Jo In-chang, “perjalanan mendadak” ini membuat misi yang sudah mepet waktu jadi makin berat, tetapi ketika melihat gadis kecil itu, dia jadi teringat istrinya yang sebentar lagi melahirkan di Seoul.

Sementara itu, hitungan mundur juga berlangsung di Seoul. Profesor Kang Bong-Rae terus memperbarui prediksi letusan Gunung Baekdu lewat data satelit, dan setiap koreksi berarti jumlah korban jiwa melonjak berlipat ganda. Choi Ji-Young sempat kehilangan kontak dengan suaminya selama pengungsian; dengan perut besarnya, dia menembus jalanan yang porak-poranda, dengan satu-satunya harapan bahwa Jo In-chang masih hidup.
Untuk mengaktifkan bom nuklir itu, Lee Joon-pyeong terpaksa berurusan dengan sekelompok mafia Tiongkok—informan lamanya dari masa perang intelijen di Korea Utara. Proses negosiasinya penuh ketidakpastian: mafia meminta harga selangit, pasukan pengejar Amerika kian mendekat, dan rekan-rekan tim Jo In-chang tumbang satu demi satu. Akhirnya alat itu berhasil diatur dengan pengatur waktu peledakan, dan waktunya harus tepat bertepatan dengan letusan kedua gunung berapi agar jalur magma benar-benar bisa ditembus.
Kedalaman Terowongan Tambang
Titik peledakan ditetapkan di kedalaman terjauh sebuah tambang terbengkalai di bawah tubuh Gunung Baekdu. Saat mereka mengendarai mobil membawa bom nuklir ke mulut tambang, helikopter militer Amerika sudah membuntuti dari belakang, permukaan tanah mulai bergetar hebat sebagai tanda letusan kedua akan datang, dan abu vulkanik panas mulai menyembur dari celah-celah tanah.

Awalnya Jo In-chang berencana membawa sendiri hulu ledak itu ke titik terdalam tambang—dia ahli peledak, dan ini memang tugasnya. Namun pada detik-detik terakhir, Lee Joon-pyeong mendorongnya keluar. Lee Joon-pyeong berkata kepada Jo In-chang: kamu masih punya istri dan anak yang akan lahir yang menunggumu, dan putriku, Soon-ok, juga butuh seseorang yang merawatnya. Setelah berkata begitu, dia menarik Jo In-chang naik ke kendaraan evakuasi terakhir, lalu sendirian memanggul hulu ledak berjalan masuk ke kedalaman tambang.
Jo In-chang membawa Soon-ok berlari sekuat tenaga, mengemudikan mobil menerobos keluar dari lembah yang guncangannya terus membesar. Tepat saat mereka hampir tersusul oleh material vulkanik panas, bom nuklir di kedalaman tambang meledak—dentuman keras itu membuka jalur magma Gunung Baekdu sepenuhnya, melepaskan tekanan dalam sekejap. Letusan kedua, ketiga, dan keempat yang tadinya akan datang berhasil dicegah sepenuhnya. Lee Joon-pyeong tewas di dalam tambang.

Setahun Kemudian
Film ini ditutup dengan gambaran kehidupan setahun kemudian. Korea Selatan dan Korea Utara memulai kerja sama rekonstruksi besar-besaran setelah krisis gunung berapi itu, dan situasi di semenanjung menunjukkan tanda-tanda mereda yang belum pernah terjadi sebelumnya. Profesor Kang Bong-Rae kembali menetap di Seoul dan melanjutkan penelitian geologinya. Jo In-chang selamat dan kembali ke Seoul, membangun kembali rumahnya di atas puing-puing. Istrinya, Choi Ji-Young, berhasil melahirkan anak mereka; di ujung meja makan duduk Soon-ok, putri Lee Joon-pyeong—Jo In-chang menepati janjinya kepada Lee Joon-pyeong dengan membawanya pulang dan membesarkannya sebagai anak sendiri. Makan malam kumpul keluarga yang sederhana ini menjadi penghormatan paling sederhana bagi mereka yang telah berkorban.
Ulasan Singkat
Sebagai film bencana ala Korea yang khas, Ashfall mengangkat ide “Korea Selatan dan Korea Utara bekerja sama meledakkan bom nuklir untuk menyelamatkan semenanjung” yang terdengar seperti alegori politik, lalu mengemasnya sebagai hiburan murni—skalanya besar, temponya kencang. Adegan-adegan antara Lee Byung-hun dan Ha Jung-woo adalah bagian paling menonjol dari keseluruhan film—satu agen senior yang licin dan satu tentara yang hanya menjalankan perintah, hubungan mereka berkembang dari saling curiga menjadi saling mempercayakan nyawa, dan adegan perpisahan di terowongan menjelang akhir sempat membuat penonton lupa sejenak bahwa ini film bencana kelas B. Tanpa terlalu memikirkan logika yang ketat, menikmatinya sebagai wahana roller coaster adalah cara paling nyaman untuk menonton film ini.