Wheel of Fortune and Fantasy
Tiga pertemuan kebetulan yang membuka tiga kisah cinta yang tak tuntas: alur cerita lengkap Wheel of Fortune and Fantasy, mulai dari pertemuan kembali dengan mantan, godaan yang lepas kendali, hingga salah mengenali teman lama di akhir cerita
Judul
Wheel of Fortune and Fantasy
偶然と想像
Tahun / Durasi
2021 · 121 menit
Genre
Drama / Romantis
Sutradara
Ryūsuke Hamaguchi
Penulis
Ryūsuke Hamaguchi
Rating
Pemeran
Kotone Furukawa (sebagai Meiko), Ayumu Nakajima (sebagai Kazuaki), Hyunri (sebagai Tsugumi), Kiyohiko Shibukawa (sebagai Segawa), Katsuki Mori (sebagai Nao), Shôma Kai (sebagai Sasaki), Fusako Urabe (sebagai Natsuko), Aoba Kawai (sebagai Aya)
Penghargaan
Silver Bear Grand Jury Prize, Festival Film Internasional Berlin ke-71
Wheel of Fortune and Fantasy (偶然と想像) adalah film drama romansa Jepang yang ditulis dan disutradarai oleh Ryūsuke Hamaguchi, dibintangi oleh Kotone Furukawa, Ayumu Nakajima, Hyunri, Kiyohiko Shibukawa, Katsuki Mori, Shôma Kai, Fusako Urabe, dan Aoba Kawai. Film ini terdiri dari tiga cerita yang berdiri sendiri-sendiri, berdurasi 121 menit, masuk dalam kompetisi Festival Film Internasional Berlin pada Maret 2021, tayang di Jepang pada 17 Desember tahun yang sama, dan meraih Silver Bear Grand Jury Prize pada Festival Film Internasional Berlin ke-71.
Per 18 September 2026, IMDb mencatat skor 7,5 dari 11.537 suara; Rotten Tomatoes mencatat skor kesegaran kritikus 99% dari 116 ulasan, dengan skor penonton 83%. Kedua indikator ini menunjukkan bahwa film ini mendapat tanggapan positif yang cukup stabil.
Cinta Baru yang Terasa Ajaib
Meiko, seorang model, pulang naik taksi bersama sahabatnya Tsugumi setelah selesai pemotretan. Dengan antusias, Tsugumi bercerita tentang seorang pria yang baru dikenalnya: mereka mengobrol sangat lama, dan meski tidak ada sentuhan fisik, keduanya merasa telah menyentuh sisi paling pribadi satu sama lain. Pria itu berencana mengajaknya bertemu lagi, dan Tsugumi yakin hubungan ini punya semacam “keajaiban” yang sulit dijelaskan. Sambil terus menanyakan detailnya, Meiko lama-lama menyadari bahwa pria yang diceritakan Tsugumi kemungkinan besar adalah mantan kekasihnya sendiri, Kazuaki.

Tsugumi menyebut bahwa Kazuaki sebenarnya belum benar-benar melupakan hubungan sebelumnya, tapi ia tetap ingin terus mengenalnya lebih jauh. Meiko tidak mengungkapkan hubungannya dengan Kazuaki, dan hanya mengubah tujuannya secara mendadak setelah mereka berpisah. Di saat yang sama, Kazuaki juga bersiap untuk terus berkencan dengan Tsugumi.

Meiko Kembali ke Hadapan Mantan
Malam itu juga, Meiko datang ke kantor Kazuaki dan langsung menceritakan detail kencan yang disampaikan Tsugumi. Keduanya kembali berdebat soal putus cinta mereka bertahun-tahun lalu: Meiko mencoba menyelidiki apakah masih ada kemungkinan untuk kembali bersama, sementara Kazuaki balik bertanya mengapa Meiko baru muncul lagi setelah sahabatnya sendiri jatuh cinta padanya. Setelah perdebatan yang memanas, Kazuaki memeluk Meiko, tetapi Meiko justru meninggalkan kantor itu tanpa membuat keputusan jelas soal hubungan ketiganya.


Tiga hari kemudian, Meiko dan Tsugumi duduk di sebuah kafe ketika Kazuaki kebetulan lewat di depan pintu. Tsugumi memanggilnya masuk, bermaksud memperkenalkan sahabatnya pada pria yang baru dikenalnya itu. Dalam bayangannya, Meiko membayangkan dirinya membongkar hubungan lama dengan Kazuaki saat itu juga, lalu memaksanya memilih di antara mereka berdua; dalam khayalan itu, Tsugumi pergi dengan hati terluka dan Kazuaki segera mengejarnya keluar. Namun di dunia nyata, Meiko tidak membuka masa lalu itu, melainkan pamit dengan alasan lain, membiarkan Tsugumi dan Kazuaki tinggal berdua untuk membicarakan kencan berikutnya.

Godaan sebagai Balas Dendam
Cerita kedua dimulai di lingkungan kampus. Sasaki, seorang mahasiswa, berlutut di hadapan Segawa, profesor bahasa Prancisnya, memohon kelonggaran karena nilainya tidak lulus, dan mengatakan bahwa kegagalan itu akan menghancurkan rencananya untuk menjadi presenter berita. Segawa tidak mengubah keputusannya. Beberapa bulan kemudian, Sasaki mengetahui dari berita bahwa Segawa memenangkan Penghargaan Akutagawa berkat novel barunya, dan ia melihat ini sebagai kesempatan untuk membalas dendam kepada sang profesor.
Sasaki menjalin hubungan intim dengan Nao, teman kuliahnya yang sudah menikah dan memiliki anak. Ia meminta Nao mendekati Segawa dan berusaha merekam percakapan yang cukup untuk memicu skandal. Awalnya Nao enggan terlibat, tetapi akhirnya ia setuju menjalankan rencana itu.


Pintu yang Terbuka dan Email yang Salah Kirim
Nao datang ke kantor Segawa membawa novelnya, dengan alasan meminta tanda tangan agar bisa tinggal lebih lama. Segawa bersikeras membiarkan pintu kantornya tetap terbuka. Nao mulai membacakan bagian-bagian eksplisit dari buku itu, lalu melontarkan serangkaian pertanyaan pribadi untuk memancingnya kehilangan kendali; namun Segawa tidak merespons sesuai skenario yang sudah disiapkan Nao, dan percakapan mereka justru berbelok ke arah topik menulis, hasrat, dan suara.

Pada akhirnya, Nao mengakui bahwa ia telah merekam pembicaraan mereka sejak awal, dan menjelaskan tujuan Sasaki mengatur pertemuan ini. Segawa tidak memarahinya, justru ingin mendapatkan rekaman itu. Nao mengajukan satu syarat pribadi, dan Segawa menyetujuinya secara lisan sebelum akhirnya mereka mengakhiri pertemuan.

Sesampainya di rumah, Nao mengirim rekaman itu kepada Segawa, tetapi salah memasukkan alamat penerima, sehingga email tersebut malah sampai ke tangan pihak administrasi kampus. Rekaman itu memicu skandal besar: Segawa mengundurkan diri dari jabatan mengajarnya, dan pernikahan Nao pun ikut hancur. Beberapa tahun kemudian, Nao yang kini bekerja sebagai proofreader bertemu Sasaki secara tidak sengaja di dalam bus; Sasaki kini menjadi editor dan sama sekali tidak menyesali akibat yang terjadi saat itu, bahkan memberi tahu Nao bahwa ia akan segera menikah. Sebelum turun dari bus, Nao menyerahkan kartu namanya, tiba-tiba menciumnya sekali, lalu pergi sendirian.

Teman Lama yang Salah Dikenali
Cerita ketiga terjadi di realitas yang sedikit berbeda: pada tahun 2019, sebuah virus komputer menyebabkan kebocoran informasi pribadi secara besar-besaran, sehingga sejak itu orang-orang hampir sepenuhnya meninggalkan komunikasi digital. Natsuko kembali ke Sendai untuk menghadiri reuni teman-teman SMA putrinya. Ia tidak ingat banyak nama teman lamanya, dan tidak menemukan orang yang paling ingin ditemuinya kembali.

Keesokan harinya, Natsuko melihat wajah yang familiar di eskalator stasiun. Keduanya saling mengenali pada saat bersamaan dan mengobrol dengan antusias; wanita itu mengajak Natsuko ke rumahnya. Saat mereka membicarakan masa SMA, detail-detailnya justru semakin tidak cocok, hingga akhirnya keduanya menyadari bahwa mereka salah mengenali satu sama lain.

Dua Pengakuan Pengganti
Aya, pemilik rumah itu, mencegah Natsuko yang hendak pergi. Natsuko menjelaskan bahwa orang yang salah ia kenali adalah cinta pertamanya semasa SMA; setelah mereka putus di masa kuliah, ia tidak pernah benar-benar bisa melupakannya. Aya mengusulkan untuk sementara berperan sebagai mantan kekasih itu, agar Natsuko bisa mengatakan hal-hal yang selama bertahun-tahun tidak sempat ia ungkapkan. Natsuko menerima permainan peran ini, dan akhirnya menyampaikan perpisahan yang terlambat itu di hadapan Aya.

Saat mereka berjalan kembali ke stasiun, Aya juga mengungkapkan kesalahannya sendiri: ia mengira Natsuko adalah teman semasa sekolah yang dulu sering bermain piano bersamanya dan sangat ia kagumi. Natsuko kemudian berperan sebagai teman itu, membiarkan Aya mencurahkan segala kegelisahan yang terpendam di balik pernikahan dan kehidupan keluarganya yang tampak stabil. Dua orang asing ini, lewat wajah satu sama lain, masing-masing berhasil mewujudkan pertemuan kembali yang sebenarnya tidak akan pernah terjadi.

Ending
Natsuko dan Aya berpisah di luar stasiun, lalu berjalan ke arah masing-masing. Tiba-tiba Aya teringat nama teman lamanya itu, lalu berbalik dan mengejar Natsuko untuk memberitahukan ingatan yang baru saja kembali padanya. Keduanya berpelukan dengan penuh haru; mereka tetap bukan orang yang sebenarnya saling dicari, tetapi lewat pertemuan kebetulan ini, masing-masing telah mengucapkan kata-kata yang selama ini terpendam di hati orang lain.
