Scare Campaign
Acara prank berubah jadi mimpi buruk saat kru bertemu pembunuh bertopeng sungguhan: alur cerita lengkap Scare Campaign, dari lapis-lapis tipuan, kejar-kejaran di rumah sakit jiwa, hingga plot twist di akhir
Judul
Scare Campaign
Tahun / Durasi
2016 · 80 menit
Genre
Horor / Thriller
Sutradara
Cameron Cairnes, Colin Cairnes
Penulis
Cameron Cairnes, Colin Cairnes
Rating
Pemeran
Meegan Warner (sebagai Emma), Ian Meadows (sebagai Marcus), Olivia DeJonge (sebagai Abby), Josh Quong Tart (sebagai Trent/Rohan), Patrick Harvey (sebagai JD), Cassandra Magrath (sebagai Suze)
Scare Campaign adalah film horor Australia yang ditulis dan disutradarai bersama oleh Cameron Cairnes dan Colin Cairnes, dibintangi Meegan Warner, Ian Meadows, Olivia DeJonge, Josh Quong Tart, Patrick Harvey, dan Cassandra Magrath. Film ini tayang pada 2016 dengan durasi 80 menit, mengisahkan sebuah acara prank kamera tersembunyi yang merekam episode terbarunya di sebuah rumah sakit jiwa yang sudah ditinggalkan.
Per 18 September 2026, film ini mendapat rating 5.9 di IMDb dari sekitar 4.400 suara. Halaman Rotten Tomatoes hanya memuat 3 ulasan kritikus, dengan Popcornmeter penonton di angka 29% dari lebih dari 50 pemberi rating; sampel yang terbatas ini menunjukkan penilaian penonton IMDb dan Rotten Tomatoes yang cenderung rendah.
Prank yang Nyaris Berakhir dengan Tembakan
Acara kamera tersembunyi Scare Campaign sudah tayang selama lima tahun. Di episode terbaru, kru membawa seorang petugas keamanan ke lokasi yang sudah disiapkan, lalu seorang aktor menyamar sebagai zombie dan muncul tiba-tiba. Petugas yang ketakutan itu mengeluarkan pistol dan nyaris menembak sang aktor; kru buru-buru menunjukkan kamera untuk menghentikan prank berbahaya ini.


Emma, salah satu aktor, khawatir kru akan salah menakuti orang cepat atau lambat, dan meminta sutradara Marcus lebih berhati-hati. Keduanya pernah berpacaran dan kini masih bekerja bersama. Manajer acara, Vicki, memutar sebuah web series berjudul Masked Freaks di depan tim: dalam video itu, orang-orang bertopeng merekam pembunuhan sungguhan menjadi klip pendek yang mulai merebut penonton dari acara televisi konvensional. Vicki menuntut Marcus menaikkan tingkat ketegangan episode terbaru, atau seluruh tim bisa kehilangan pekerjaan.
Target Baru di Rumah Sakit Jiwa yang Ditinggalkan
Marcus memilih lokasi syuting di sebuah rumah sakit jiwa yang sudah ditinggalkan, dan merekrut aktris muda Abby. Kru memberi tahu Emma bahwa target prank kali ini adalah Rohan, tukang kebun yang baru mulai bekerja di sana. Emma mengenakan seragam perawat untuk memancing Rohan masuk ke rumah sakit; anggota tim lain bersembunyi di berbagai sudut, memakai lampu, properti, darah palsu, dan kamera untuk menciptakan suasana rumah berhantu.


Rohan tidak bergerak sesuai jalur yang direncanakan kru. Ia mondar-mandir di lorong dan ruang-ruang bangsal, bersikap tenang secara aneh terhadap kejadian-kejadian aneh yang muncul berturut-turut. Emma semakin gelisah dan berkali-kali meminta Marcus menghentikan syuting, tetapi Marcus bersikeras melanjutkan karena ingin membuat episode ini lebih intens daripada saingannya di dunia maya.
Rohan Mulai Menyerang Kru
Abby berdandan sebagai pasien berlumuran darah dan menunggu Rohan mendekat di sebuah ruangan. Rohan tiba-tiba menikamnya dengan pisau pembuka surat, lalu menyerang kru yang bertugas di bagian kamera dan akting. Kematian demi kematian terekam di layar pemantau, membuat Emma yakin acara ini sudah benar-benar lepas kendali.


Emma dan JD, penata efek khusus, bersembunyi di sebuah ruangan dan meminta Marcus menghubungi polisi. Rohan terus mendekat, dan Marcus bersama juru kamera juga tampak tumbang di layar pemantau. Emma lari ke mobil kru, tetapi kunci mobil tidak ada di dalamnya; Rohan tiba-tiba muncul, Emma menusuk tangannya dengan sebuah alat, lalu berbalik lari kembali ke rumah sakit.

Emma Ternyata Target Sesungguhnya Episode Ini
Setelah Emma masuk kembali ke dalam, orang-orang yang tadinya tampak tumbang satu per satu bangkit kembali. Sosok yang disebut Rohan ternyata adalah aktor bernama Trent, dan Abby beserta kru lainnya juga hanya berakting. Sejak awal, Marcus diam-diam merancang lapisan prank lain: yang sebenarnya ingin direkam episode ini adalah reaksi Emma saat menyaksikan teman-temannya “mati”. Emma marah karena merasa dikhianati, dan Trent pun mengecam Marcus karena mendorong seluruh skenario ini terlalu jauh, lalu memilih keluar dari syuting.

Setelah Trent pergi, sekelompok orang bertopeng sungguhan memasuki rumah sakit sambil membawa senjata yang dilengkapi kamera. Mereka adalah anggota web series Masked Freaks yang sebenarnya. Trent segera dibunuh, dan adegan-adegan kematian yang baru saja diperankan kru mulai menjadi kenyataan.

Masked Freaks Mengambil Alih Syuting
Setelah menemukan mayat Trent, Marcus kembali ke dalam rumah sakit untuk memperingatkan Emma. Emma awalnya mengira ini masih bagian dari skenario kru, sampai keduanya melihat mayat Suze dan anggota kru lain yang benar-benar tewas, barulah mereka yakin serangan ini bukan prank. Masked Freaks mengambil alih komputer dan sistem pemantau milik kru, mengklaim sedang membuat hiburan yang lebih nyata untuk penonton internet.


Masked Freaks mengubur Abby di dalam tanah dengan pasokan udara terbatas, lalu memberi Marcus dan Emma waktu lima menit untuk menyelamatkannya. Keduanya bergegas keluar dan menggali Abby, dan dalam perkelahian itu mereka membunuh salah satu penyerang; setelah topengnya dilepas, ternyata pelakunya hanya seorang remaja. Lebih banyak anggota Masked Freaks segera mengepung mereka bertiga, dan sang pemimpin memaksa Emma memilih satu orang, antara Marcus atau Abby, untuk pergi bersamanya.

Ending
Emma memilih membawa Abby pergi. Sebelum berangkat, ia mencium Marcus sebagai perpisahan, lalu mengemudi meninggalkan rumah sakit bersama Abby. Masked Freaks kemudian memberi tahu Marcus bahwa Abby sejak awal adalah orang dalam yang mereka sisipkan ke kru acara; Marcus yang tidak bisa melarikan diri diikat ke ranjang dorong dan didorong masuk ke tungku pembakaran.

Di dalam mobil, Emma menyadari sebuah kamera milik Masked Freaks sedang mengarah ke dirinya. Ia menoleh ke Abby di sampingnya dan mulai menyadari bahwa orang yang menemaninya itu mungkin terlibat dalam seluruh pembantaian ini. Film berakhir dengan Emma yang masih belum lepas dari bahaya, tanpa kepastian apakah ia berhasil melarikan diri.
