← Kembali ke beranda

The Curious Case of Benjamin Button

Satu kehidupan yang tumbuh mundur dan kisah cinta yang membentang setengah abad: alur cerita lengkap film The Curious Case of Benjamin Button, tentang seorang pria yang lahir tua dan semakin muda seiring waktu, serta caranya menjalani perang, cinta, dan perpisahan

Judul

The Curious Case of Benjamin Button

Tahun / Durasi

2008 · 166 menit

Genre

Drama / Romantis / Fantasi

Sutradara

David Fincher

Penulis

Eric Roth / Robin Swicord

Rating

Pemeran

Brad Pitt, Cate Blanchett, Taraji P. Henson, Tilda Swinton, Julia Ormond

Karya asli

Cerita pendek berjudul sama karya F. Scott Fitzgerald

Penghargaan

Academy Awards ke-81: Tata Artistik Terbaik, Tata Rias Terbaik, Efek Visual Terbaik (13 nominasi)

The Curious Case of Benjamin Button
Benjamin bersama ibu angkatnya, Queenie Benjamin di usia paruh baya Daisy mengemasi barang-barangnya saat Benjamin pergi Benjamin dan Daisy berjalan di tengah salju Caroline, putri Daisy, membacakan buku harian untuk ibunya di samping ranjang rumah sakit
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Kenangan di Tengah Badai

Tahun 2005, Badai Katrina mendekati New Orleans, Amerika Serikat. Di sebuah kamar rumah sakit, Daisy (diperankan oleh Cate Blanchett) yang sudah tua berbaring di ranjang, hidupnya hampir sampai di penghujung. Putrinya, Caroline (diperankan oleh Julia Ormond), menemaninya di sisi ranjang. Daisy meminta Caroline membuka sebuah buku harian lama dan membacakannya untuknya. Buku harian itu milik seorang pria bernama Benjamin Button (diperankan oleh Brad Pitt) — seorang pria yang menjalani hidupnya secara terbalik.

Kisah ini dibuka dengan sebuah legenda tentang jam. Sebelum Perang Dunia I, stasiun kereta New Orleans meminta seorang tukang jam tuna netra, Mr. Gateau, membuat sebuah jam besar. Putra Mr. Gateau gugur di medan perang, dan dalam dukanya ia merancang jarum jam itu berputar berlawanan arah jarum jam, berharap waktu bisa berjalan mundur — agar anak-anak muda yang gugur bisa hidup kembali, dan tahun-tahun yang telah hilang bisa terulang. Jam yang berjalan mundur ini dipasang di stasiun kereta, menjadi sebuah metafora tentang waktu.

Benjamin bersama ibu angkatnya, Queenie

Bayi yang Lahir Tua

Pada malam gencatan senjata Perang Dunia I, 11 November 1918, Benjamin Button lahir di New Orleans. Ibunya meninggal karena komplikasi persalinan, sementara ayahnya, Thomas Button, sangat ketakutan melihat bayi itu — bayi yang baru lahir ini penuh kerutan, persendiannya sudah merosot, dan seluruh tubuhnya tampak seperti orang tua renta berusia delapan puluhan yang sekarat. Thomas tidak sanggup menerima “monster” ini, dan di tengah kegelapan malam ia meninggalkan bayi itu di teras sebuah panti jompo.

Queenie (diperankan oleh Taraji P. Henson), seorang perawat kulit hitam di panti jompo itu, menemukan bayi yang terlantar tersebut. Meski penampilannya menakutkan, hati Queenie tergerak oleh rasa iba, lalu ia membawanya pulang dan membesarkannya, memberinya nama Benjamin. Di panti jompo itu, Benjamin tumbuh bersama para lansia yang sudah mendekati ajal. Tak seorang pun merasa ia janggal di sana — di tempat ini, seorang anak yang tampak seperti orang tua justru menemukan tempatnya.

Dokter memastikan Benjamin tidak akan bertahan lama. Namun, keajaiban terjadi: Benjamin tidak hanya bertahan hidup, tapi juga “membaik” dari hari ke hari. Persendiannya tak lagi kaku, kulitnya perlahan menghalus, dan rambut putihnya berangsur menghitam. Ia tumbuh secara terbalik — semakin lama hidup, semakin muda ia jadinya.

Benjamin di usia paruh baya

Pertemuan Pertama dengan Daisy

Sekitar saat Benjamin berusia dua belas tahun (usia fisiknya sekitar tujuh puluhan awal), panti jompo itu kedatangan cucu seorang penghuni baru — seorang gadis kecil berusia enam-tujuh tahun bernama Daisy. Dialah orang pertama yang benar-benar memperlakukan Benjamin sebagai teman sebaya. Kedua anak itu (meski penampilan mereka jauh berbeda) langsung merasa dekat secara alami. Daisy sama sekali tidak takut dengan penampilan tuanya, dan menggandeng tangannya bermain di lorong-lorong panti. Ikatan masa kecil ini menjadi kerinduan yang menemani seluruh hidup Benjamin.

Berlayar Mengarungi Lautan

Seiring Benjamin perlahan “menjadi muda” — tubuhnya berangsur pulih dari tujuh puluhan menjadi enam puluhan — ia tak lagi puas dengan kehidupan di panti jompo. Sekitar usia delapan belas tahun, Benjamin berpamitan dengan Queenie, naik ke sebuah kapal tunda bernama “Chelsea” dan bekerja di laut mengikuti Kapten Mike. Di laut, ia belajar berbagai keterampilan kerja dan hidup, sekaligus melihat dunia yang jauh lebih luas.

Selama kapal tunda itu berlabuh di pelabuhan Murmansk, Rusia, Benjamin berkenalan dengan Elizabeth Abbott (diperankan oleh Tilda Swinton), istri seorang diplomat Inggris, di sebuah hotel. Wanita yang anggun namun kesepian ini menjalin hubungan yang tak terucapkan dengan Benjamin. Setiap malam larut, mereka bertemu di lobi hotel, mengobrol, minum teh, dan berbagi rahasia satu sama lain. Elizabeth bercerita kepada Benjamin bahwa saat muda ia pernah mencoba berenang menyeberangi Selat Inggris namun gagal. Kisah cinta singkat ini berakhir ketika Elizabeth pergi, tetapi hal itu mengajarkan Benjamin pelajaran pertamanya tentang cinta dan penyesalan.

Api Perang dan Hidup Mati

Setelah peristiwa Pearl Harbor, Amerika Serikat ikut berperang. Kapal tunda tempat Benjamin bekerja direkrut oleh Angkatan Laut. Dalam sebuah misi, mereka diserang kapal selam musuh. Di tengah tembakan meriam, Kapten Mike dan banyak awak kapal tewas. Benjamin selamat, tetapi pertempuran ini adalah kali pertama ia begitu dekat menghadapi kematian, dan hal itu mengubah secara mendalam caranya memandang kehidupan.

Daisy mengemasi barang-barangnya saat Benjamin pergi

Bertemu Kembali, Namun Berlalu Begitu Saja

Setelah perang, Benjamin kembali ke New Orleans. Saat itu, tubuhnya berusia sekitar lima puluhan. Ia bertemu kembali dengan Daisy yang sudah tumbuh dewasa. Daisy telah menjadi penari balet berbakat di New York, bersinar terang dan tak kekurangan pengagum. Benjamin pergi ke New York untuk menemuinya, tetapi kesenjangan di antara mereka — Daisy sedang berada di puncak masa mudanya, sementara Benjamin, meski semakin muda, masih tampak tua — membuat pertemuan ini dipenuhi kecanggungan. Daisy mengajaknya untuk tinggal, tetapi Benjamin merasa dirinya tidak pantas berada di dunia Daisy yang penuh gairah itu, sehingga ia memilih untuk pergi.

Pada saat yang sama, Thomas, ayah kandung Benjamin, mendatanginya. Ayah yang telah bertahun-tahun dilanda rasa bersalah ini akhirnya memberanikan diri mengakui hubungan mereka sebagai ayah dan anak, mengungkapkan kebenaran tentang penelantarannya dulu, dan mewariskan pabrik kancing milik keluarga kepada Benjamin. Tak lama kemudian, Thomas meninggal dunia. Meski Benjamin menerima warisan ayahnya, perasaannya terhadap pria yang telah meninggalkannya itu tetap rumit.

Kecelakaan di Paris

Saat Daisy sedang tampil di Paris, sebuah kecelakaan mobil yang tiba-tiba menghancurkan karier baletnya. Kakinya terluka parah, dan ia tak akan pernah bisa naik ke atas panggung lagi. Benjamin datang menjenguknya begitu mendengar kabar itu, tetapi saat itu Daisy sedang berada di titik tergelap hidupnya, dan harga diri serta rasa sakitnya tidak mengizinkannya menerima simpati dari siapa pun. Ia mengusir Benjamin dengan penuh amarah.

Di bagian ini, film menampilkan sebuah montase yang cerdik, memperlihatkan rangkaian kejadian kecil yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi — jika saja taksi berangkat satu menit lebih awal, jika saja wanita itu tidak lupa membawa mantelnya, jika saja lampu lalu lintas berubah dua detik lebih lambat… Takdir dianyam dari kebetulan-kebetulan yang tampaknya tidak berarti seperti ini.

Benjamin dan Daisy berjalan di tengah salju

Masa Keemasan Ketika Waktu Mereka Bertemu

Tahun 1962, Benjamin berusia empat puluh empat tahun, dan usia fisiknya telah pulih menjadi sekitar empat puluhan. Daisy juga sudah keluar dari bayang-bayang kecelakaan itu dan kembali ke New Orleans. Akhirnya, kedua orang ini bertemu di waktu yang tepat — untuk pertama kalinya, usia penampilan mereka begitu dekat.

Mereka jatuh cinta dan menjalani kehidupan yang sederhana namun bahagia di sebuah apartemen. Daisy menjadi guru tari, dan Benjamin menemaninya setiap hari. Inilah masa paling indah dalam hidup mereka — dua garis waktu yang berjalan berlawanan arah akhirnya bertemu. Tak lama kemudian, Daisy hamil, dan mereka menyambut kelahiran putri mereka, Caroline.

Namun, di balik kebahagiaan itu tersimpan kepahitan. Benjamin tahu betul bahwa dirinya akan terus menjadi lebih muda, dan suatu hari nanti ia akan berubah menjadi remaja, anak-anak, lalu bayi. Ia tidak bisa memberikan seorang ayah yang normal kepada putrinya — saat Caroline bersekolah, Benjamin mungkin akan tampak seperti teman sekelasnya; saat Caroline dewasa, Benjamin mungkin sudah berubah menjadi balita kecil yang perlu dirawat.

Pergi dengan Hati yang Terluka

Setelah perenungan yang menyakitkan, Benjamin mengambil keputusan tersulit dalam hidupnya: pergi. Ia menjual semua properti dan tabungannya, meninggalkan uangnya untuk Daisy dan putrinya, lalu diam-diam berangkat pergi. Ia meninggalkan sepucuk surat dan sebuah buku harian untuk Daisy, yang mencatat seluruh pengalaman hidupnya.

Benjamin kembali menjelajahi dunia, seperti yang ia lakukan saat masih muda dulu. Ia pergi ke India, ke Jepang, mengendarai sepeda motor melintasi banyak sekali kota. Sementara itu, tubuhnya terus berbalik tanpa ampun — ia semakin muda, hingga tampak seperti pemuda berusia dua puluhan.

Daisy kemudian menikah dengan seorang duda yang baik hati bernama Robert, memberikan Caroline sebuah keluarga yang utuh. Sesekali Benjamin kembali untuk memandang putrinya dari kejauhan, tetapi tak pernah mengganggu kehidupannya. Suatu kali, ia kembali ke New Orleans dan bertemu dengan Daisy serta Caroline kecil di sebuah taman. Daisy sudah menerima takdirnya, dan keduanya berbincang dengan tenang. Benjamin memandang putrinya dan tahu bahwa ia akan menjalani hidup yang baik.

Caroline, putri Daisy, membacakan buku harian untuk ibunya di samping ranjang rumah sakit

Kelupaan dan Kembali Pulang

Memasuki era delapan puluhan, tubuh Benjamin berubah menjadi remaja belasan tahun, lalu menjadi anak-anak. Yang lebih kejam lagi, seiring tubuhnya semakin muda, ingatannya pun perlahan menghilang. Ia mengalami sesuatu yang mirip dengan gejala demensia — seorang yang kehilangan ingatan namun terjebak dalam tubuh anak-anak.

Sekitar tahun 2002, seorang pekerja sosial menemukan seorang anak laki-laki kecil yang tampak terlantar di jalan — dialah Benjamin. Ia telah sepenuhnya kehilangan ingatannya dan tidak tahu lagi siapa dirinya. Setelah mendengar kabar itu, Daisy membawanya pulang dan merawatnya. Setiap hari ia menjalani hidup bersama “anak laki-laki kecil” yang tidak mengenalinya itu, menceritakan kisah-kisah untuknya, dan menemaninya sampai tertidur. Meski Benjamin sudah tidak ingat lagi siapa Daisy, sesekali tatapan matanya memancarkan semacam rasa kenal yang tak terjelaskan.

Musim semi tahun 2003, tubuh Benjamin telah berubah menjadi seorang bayi. Pada suatu pagi, Daisy yang sudah tua menggendong Benjamin yang kini seperti bayi. Ia membuka matanya, memandang Daisy untuk terakhir kalinya — di kedua matanya yang biru itu seolah terlintas secercah cahaya pengenalan — lalu perlahan menutup matanya, dan pergi dari dunia ini dalam pelukannya.

Ending

Kisah kembali ke kamar rumah sakit tahun 2005. Caroline menutup buku harian itu. Di luar jendela, Badai Katrina sudah semakin dekat dengan New Orleans. Daisy memandang keluar jendela dengan tenang dari ranjangnya, lalu ia pun menutup matanya.

Di akhir film, jam besar stasiun kereta yang berputar berlawanan arah itu tenggelam dalam banjir. Waktu tidak benar-benar bisa berjalan mundur, tetapi kisah Benjamin Button — sebuah dongeng tentang cinta, kehilangan, takdir, dan waktu — akan selamanya tersimpan di hati mereka yang pernah membaca buku harian ini.