← Kembali ke beranda

Hell Fest

Pembunuh berantai sungguhan menyusup ke taman hiburan horor: rangkuman lengkap alur cerita Hell Fest, dari enam pengunjung muda yang mengira sebuah pembunuhan hanyalah pertunjukan sampai mereka melawan di dalam labirin dan mendapati si pembunuh masih berkeliaran

Judul

Hell Fest

Tahun / Durasi

2018 · 89 menit

Genre

Horor / Misteri / Thriller

Sutradara

Gregory Plotkin

Penulis

Seth M. Sherwood, Blair Butler, Akela Cooper

Rating

Pemeran

Amy Forsyth (sebagai Natalie), Reign Edwards (sebagai Brooke), Bex Taylor-Klaus (sebagai Taylor), Christian James (sebagai Quinn), Matt Mercurio (sebagai Asher), Roby Attal (sebagai Gavin)

Hell Fest
Beberapa pengunjung berdiri di depan papan nama raksasa di pintu masuk taman hiburan horor Sosok bertudung dan bertopeng mengangkat pisau di belakang seorang perempuan yang tergeletak Seorang pria dan seorang perempuan saling mendekat di depan tirai merah bilik foto Seorang pria tergeletak di lantai yang disinari lampu hijau Seorang perempuan duduk sendirian di kursi wahana berwarna merah Dua pria berjalan di lorong yang dipenuhi hiasan tengkorak
Peringatan spoiler: Bagian berikut menceritakan alur lengkap, titik balik penting, dan endingnya. Kamu bisa langsung lompat ke bab yang ingin kamu ingat.

Hell Fest adalah film horor Amerika Serikat garapan sutradara Gregory Plotkin, dibintangi oleh Amy Forsyth, Reign Edwards, Bex Taylor-Klaus, Christian James, Matt Mercurio, dan Roby Attal. Film ini tayang di Amerika Serikat pada 28 September 2018 dengan durasi 89 menit, dan ceritanya hampir seluruhnya berlangsung di sebuah taman hiburan horor Halloween keliling.

Per artikel ini ditulis, film ini memiliki skor IMDb 5,5. Dari 66 ulasan yang tercatat di Rotten Tomatoes, 41% memberi penilaian positif, sementara skor penonton (Popcornmeter) berada di angka 42%; konsensus kritikusnya menyebut film ini mampu memberi beberapa momen menjerit bagi penonton horor yang tidak banyak menuntut, tetapi kurang berkesan dari sisi kreativitas maupun efek kejutnya. Ciri utama film ini adalah menyelipkan pembunuhan sungguhan ke dalam taman hiburan yang penuh aktor, mayat palsu, dan jebakan mekanis, sehingga para saksi berulang kali tidak bisa membedakan mana pertunjukan dan mana kejahatan.

Dari Kasus Lama ke Enam Pengunjung yang Masuk Taman

Film dibuka di salah satu perhentian taman hiburan horor keliling Hell Fest tiga tahun sebelumnya. Seorang perempuan terpisah dari temannya di dalam labirin, lalu seorang pria bertudung dan bertopeng mendekatinya, menikamnya, dan menggantung tubuhnya di antara properti dekorasi. Para pengunjung dan petugas mengira mayat itu hanya properti, dan baru beberapa hari kemudian mereka tahu bahwa di sana pernah terjadi pembunuhan sungguhan.

Tiga tahun kemudian, Natalie datang ke tempat tinggal sahabatnya, Brooke. Keduanya sudah cukup lama tidak bertemu karena tinggal berjauhan, dan Natalie juga kurang nyaman dengan Taylor, teman sekamar Brooke sekarang. Brooke sudah menyiapkan rencana ke Hell Fest untuk malam itu: dia bersama Quinn, pacarnya, lalu Taylor bersama Asher, pacarnya, sementara seorang teman lain, Gavin, berharap bisa memakai kesempatan itu untuk mendekati Natalie.

Beberapa pengunjung berdiri di depan papan nama raksasa di pintu masuk taman hiburan horor

Setelah keenam orang itu masuk ke taman hiburan, di sekeliling mereka ada petugas bertopeng, aktor yang mengejar-ngejar pengunjung, potongan anggota tubuh palsu, dan mayat tiruan. Si pembunuh sungguhan juga datang ke tempat itu, mengenakan sebuah topeng tua yang tidak terlihat mencolok di antara kostum-kostum taman, lalu mulai mengamati mereka dari tengah kerumunan.

Salah Mengira Pembunuh Asli sebagai Aktor

Natalie, Brooke, dan Taylor masuk ke sebuah rumah hantu bertema sekolah reformasi. Seorang pengunjung bernama Britney tiba-tiba berlari ke sana untuk bersembunyi sambil mengaku ada orang yang sedang memburunya. Pria bertopeng itu menyusul muncul, dan ketiga gadis mengira keduanya adalah aktor wahana. Natalie bahkan ikut masuk ke dalam logika pertunjukan dengan menunjukkan tempat Britney bersembunyi, sekaligus mendesak pria bertopeng itu untuk menuntaskan adegannya.

Sosok bertudung dan bertopeng mengangkat pisau di belakang seorang perempuan yang tergeletak

Pria bertopeng itu menikam Britney sampai mati tepat di depan mata Natalie. Natalie merasa gerakan pisau yang turun dan reaksi Britney terlalu nyata, tetapi setelah keluar dari rumah hantu dia justru melihat petugas menyerang pengunjung dengan pisau palsu, dan orang-orang di sana pun menganggap jeritan sebagai bagian dari hiburan. Tidak ada mayat maupun petugas yang bisa membuktikan kecurigaannya, jadi untuk sementara dia terpaksa menyusul teman-temannya.

Namun pria bertopeng itu justru menyadari bahwa Natalie melihat keganjilan tersebut. Dia tidak lagi sekadar mencari pengunjung yang terpisah sendirian secara acak, melainkan mulai membuntuti keenam orang itu.

Pembunuhan Pertama di Balik Bilik Foto

Natalie dan Gavin masuk ke sebuah bilik foto untuk berfoto bersama, dan hubungan keduanya baru saja mulai berkembang, tetapi fotonya diambil oleh pria bertopeng di bagian keluar. Brooke mengejar dan menanyainya, namun orang itu tidak menjawab dan cepat menghilang di tengah kerumunan. Foto itu sendiri berubah dari kenang-kenangan kencan biasa menjadi benda yang dipakai si pembunuh untuk memastikan targetnya sekaligus menjadi piala hasil buruannya.

Seorang pria dan seorang perempuan saling mendekat di depan tirai merah bilik foto

Gavin kemudian ingin memenangkan sebuah boneka untuk Natalie. Dia tidak ikut menaiki wahana bersama teman-temannya, melainkan pergi sendirian ke area penyimpanan hadiah untuk mengambil boneka itu. Pria bertopeng menyerangnya di sana dengan palu kayu, dan pukulan terakhir mengenai kepalanya. Si pembunuh mengambil ponsel Gavin dan memakainya untuk membalas pesan dari Natalie, sehingga yang lain tetap mengira Gavin hanya sedang berpisah sebentar dari rombongan.

Seorang pria tergeletak di lantai yang disinari lampu hijau

Saat menunggu Gavin, Natalie hanya menerima balasan singkat dan tidak menyadari bahwa ponsel itu sudah berpindah ke tangan si pembunuh. Dia melanjutkan perjalanan bersama empat orang sisanya, dan dengan begitu si pembunuh mendapat lebih banyak waktu untuk mengikuti mereka di lorong-lorong taman yang berliku.

Kebingungan di Wahana dan Labirin

Natalie menaiki sebuah wahana gelap sendirian, sementara Brooke, Quinn, Taylor, dan Asher masing-masing berpasangan. Wahana itu berhenti di tengah jalan, lalu seseorang dengan topeng serupa mendekati Natalie; ketika keretanya kembali berjalan, dia melihat lebih banyak lagi petugas dengan kostum yang sama. Pihak taman memang sengaja memakai topeng berulang untuk menakut-nakuti, tetapi justru karena itu Natalie tidak bisa memastikan siapa sebenarnya yang sedang membuntutinya.

Seorang perempuan duduk sendirian di kursi wahana berwarna merah

Beberapa orang itu kemudian masuk ke labirin lain, dengan para lelaki memilih jalur yang lebih menyeramkan dan para gadis mengambil jalur yang relatif ringan. Quinn dan Asher terpisah di lorong yang remang-remang, lalu Asher yang tertinggal sendirian bertemu pria bertopeng dan dibunuh dengan benda tajam yang ditusukkan ke matanya.

Dua pria berjalan di lorong yang dipenuhi hiasan tengkorak

Yang lain masih belum tahu bahwa Gavin dan Asher sudah tewas. Lampu, jebakan mekanis, dan para aktor di dalam taman terus menciptakan salah tafsir baru: setiap topeng yang muncul tiba-tiba bisa saja hanya pertunjukan, dan setiap orang yang tergeletak bisa saja hanya bagian dari dekorasi.

Pengejaran di Toilet

Natalie pergi ke toilet sambil terus mengirim pesan kepada Gavin, dan pria bertopeng itu ikut masuk ke lorong. Dari kerusakan pada sepatu bot orang itu, Natalie mengenali bahwa dialah yang tadi mengambil foto dan terus membuntuti mereka. Si pembunuh menendang dan membenturkan pintu bilik, lalu Natalie merangkak lewat bawah sekat ke bilik sebelah dan berhasil keluar dari toilet sebelum orang itu menangkapnya.

Sosok bertudung dan bertopeng berdiri di lorong dengan pencahayaan hangat

Seorang perempuan menatap ke depan dengan tegang di bawah cahaya hangat

Natalie menemukan seorang petugas keamanan dan memintanya kembali memeriksa tempat itu bersama Brooke. Si pembunuh sudah tidak ada di lokasi, dan petugas keamanan menganggap keterangan Natalie sebagai reaksi pengunjung yang ketakutan oleh wahana. Brooke kemudian melihat foto Natalie dan Gavin terpampang di luar, sehingga dia yakin pria itu memang pernah mengambil foto tersebut dan mulai percaya bahwa Natalie benar-benar sedang dibuntuti.

Pada titik ini taman hiburan belum masuk ke status siaga penuh. Petunjuk yang paling penting bagi Natalie, yaitu sepatu bot yang rusak itu, tidak cukup untuk membuat petugas keamanan langsung menemukan tersangka di antara kerumunan dan sekian banyak topeng yang mirip.

Guillotine yang Berubah Menjadi Eksekusi Sungguhan

Taylor mengajukan diri untuk naik ke panggung dalam sebuah pertunjukan terbuka dan menjalani pemenggalan pura-pura sesuai susunan acara. Dari bawah panggung, Natalie mengenali bahwa orang yang memerankan algojo memakai sepatu bot rusak itu, lalu mencoba naik ke panggung tetapi ditahan petugas keamanan.

Perempuan berambut pendek memasukkan kepala dan kedua tangannya ke lubang bundar pada alat kayu

Saat bilah pertama turun, mekanismenya mengeluarkan kepala palsu sesuai prosedur normal, dan penonton mengira pertunjukan sudah selesai.

Aktor panggung bertopi tinggi mengangkat sebuah properti kepala manusia

Setelah tirai tertutup, pria bertopeng tidak melepaskan Taylor, malah mengikatnya lebih kencang dan mengatur ulang guillotine untuk membuat bilahnya benar-benar jatuh ke tubuhnya. Bilah itu lebih dulu melukai tengkuknya, tetapi tidak sampai memenggalnya. Taylor memanfaatkan saat si pembunuh sibuk mengurus mekanisme untuk melepaskan diri dari ikatan, lalu kabur ke area pengunjung dengan luka di tubuhnya.

Pria bertopeng mengejar Taylor di depan banyak orang, melukai wajahnya lebih dulu, lalu menikam perutnya. Para pengunjung awalnya tetap mengira itu bagian dari pertunjukan, sampai Quinn berlari menolong dan ditikam si pembunuh dengan luka yang mematikan, barulah orang-orang di sekitar memastikan bahwa senjata dan lukanya sungguhan. Taylor terluka berat dan setelah itu tidak muncul lagi di layar, tetapi pada akhirnya dia selamat; sementara Quinn tewas. Taman hiburan langsung dilanda kepanikan, dan kerumunan mulai berlarian menyelamatkan diri.

Ending

Natalie dan Brooke lari ke labirin lain, dan pria bertopeng mengejar tepat di belakang mereka. Keduanya terpisah oleh jebakan dan lorong, lalu si pembunuh melukai kaki Brooke dengan kapak. Natalie menemukan bahwa garis cahaya hijau di lantai bisa memicu mekanisme wahana, jadi dia memakai dekorasi dan suara untuk mengacaukan pengejarnya, lalu berusaha bergabung kembali dengan Brooke.

Seorang perempuan memegang benda tajam di dalam labirin berlampu hijau

Keduanya bersembunyi di sebuah ruangan yang penuh topeng putih dan manekin. Si pembunuh menyelinap di antara manekin yang diam untuk mendekati Brooke, sementara Natalie bersembunyi di sisi lain sambil menunggu kesempatan. Tepat ketika si pembunuh bersiap menyerang Brooke, Natalie muncul dari belakang dan menikam perutnya dengan benda tajam yang dia pungut. Keduanya tidak tinggal untuk memastikan keadaan orang itu, melainkan langsung kabur lewat jalan keluar.

Dua perempuan berdiri di depan sederet manekin bertopeng putih

Polisi masuk ke taman hiburan dan menemukan Natalie serta Brooke, tetapi tim pencari tidak berhasil menangkap si pembunuh di dalam labirin. Film kemudian memperlihatkan pria bertopeng itu sudah mengendarai mobil pulang ke rumahnya di pinggiran kota. Dia menaruh topeng yang dia pakai malam itu, berikut foto Natalie dan Gavin yang dia ambil dari bilik foto, ke dalam sebuah lemari berisi koleksi banyak topeng dan barang rampasan lain. Benda-benda itu menunjukkan bahwa kasus lama di pembukaan film dan pembunuhan malam itu bukanlah aksi pertamanya.

Sosok bertudung membelakangi kamera sambil memeriksa lemari yang penuh topeng

Di dalam rumah itu ada juga seorang gadis kecil yang memanggilnya ayah. Setelah gadis itu bangun, si pembunuh memberinya boneka yang dia bawa pulang dari taman hiburan, lalu film berakhir. Nama asli, motif, maupun langkah berikutnya dari si pembunuh sama sekali tidak diungkap; Natalie dan Brooke memang berhasil keluar dari labirin, tetapi mereka hanya memastikan bahwa orang itu sudah lolos dari kepungan polisi.