Black Box
Penerbangan 298 Vero Airlines dikepung makhluk tak dikenal: rangkuman lengkap perjalanan para penumpang dari salah duga wabah penyakit menular, ke penemuan bahwa makhluk asing sedang mengambil alih manusia, sampai ending gelap saat sistem pendaratan otomatis menggagalkan usaha Jeremy menjatuhkan pesawat.
Judul
Black Box
Tahun / Durasi
2026 · 85 menit
Genre
Fiksi ilmiah / Thriller / Horor
Sutradara
Steven Quale
Penulis
Stephen Susco
Rating
Pemeran
Tom Brittney (sebagai Jeremy), Holly White (sebagai Emma), Betsy-Blue English (sebagai Rachel), Dane Whyte O'Hara (sebagai Brad), Kaja Chan (sebagai Chen), Asa Ali (sebagai Taylor), Boadicea Ricketts (sebagai Lauren), Ceallach Spellman (sebagai Asher), Georgina Leonidas (sebagai Yasmin), Molly Belle Wright (sebagai Chloe), Hanneke Talbot (sebagai Paula), Danny Mac (sebagai Darren), Weronika Rosati (sebagai Isabelle)
Black Box adalah film thriller fiksi ilmiah Amerika yang disutradarai oleh Steven Quale dan ditulis oleh Stephen Susco, dibintangi oleh Tom Brittney, Holly White, Betsy-Blue English, Dane Whyte O’Hara, Georgina Leonidas, dan Molly Belle Wright. Film ini tayang di Amerika Serikat pada 7 Juli 2026 dengan durasi 85 menit, dan ceritanya berlangsung di dalam Penerbangan 298 Vero Airlines yang terbang dari New Orleans menuju Seattle.
Per pembaruan artikel ini, film tersebut mendapat rating 5,1 di IMDb dari sekitar 3.000 suara. Film ini mula-mula mengemas pendarahan telinga dan hidung, sakit kepala, serta kematian seorang pria tua sebagai krisis penyakit menular di dalam kabin yang tertutup rapat, lalu perlahan mengungkap bahwa semua gejala itu berasal dari makhluk asing yang mampu mengganggu perangkat elektronik, memasuki tubuh hewan dan manusia, serta menirukan suara orang.
Penerbangan 298 dan Rekaman Jeremy
Di awal film, seorang penumpang bernama Jeremy Durham merekam sebuah kesaksian lewat ponselnya. Dia menyebutkan namanya sendiri dan nomor penerbangannya, lalu memperingatkan bahwa kalau pesawat ini mendarat dengan selamat, sesuatu yang ada di dalamnya ikut sampai ke darat. Cerita kemudian mundur ke waktu sebelum lepas landas untuk memperlihatkan bagaimana bencana ini bermula.

Penumpang lain di pesawat itu antara lain Paula yang bepergian bersama Chloe, putrinya; para pramugari Emma dan Lauren; Yasmin, seorang marsekal udara federal; Isabelle yang membawa hewan peliharaan; serta sekelompok penumpang muda yang berencana merekam video terjun payung, yaitu Rachel, Brad, Chen, dan Taylor. Jeremy naik sendirian dengan suasana hati yang murung; Chloe duduk di sebelahnya sambil menunggu toilet kosong, lalu mereka berdua mulai mengobrol soal buku komik.

Chloe bertanya apakah istri Jeremy juga ikut di pesawat, tetapi dia tidak menjawabnya secara langsung. Baru belakangan terungkap bahwa penerbangan sendirian ini berkaitan dengan pasangannya yang sudah meninggal.
Batuk, Kematian, dan Cahaya Aneh di Luar Jendela
Setelah pesawat mencapai ketinggian jelajah, seorang pria tua terus batuk, demam, dan menjadi panik sambil berulang kali mengatakan bahwa pesawat ini tidak aman. Saat dia berlari ke arah kokpit, Yasmin menghentikannya, lalu pria itu memuntahkan darah dan jatuh. Yasmin, yang mengaku belum resmi menjadi dokter, mencoba memberikan pertolongan pertama, tetapi pria tua itu sudah tidak bernapas. Awak kabin memindahkan jenazahnya sementara ke bagian belakang, sementara para penumpang mulai curiga bahwa dia mengidap penyakit menular.

Tak lama kemudian, anjing-anjing di ruang kargo menggonggong serentak, lalu mendadak terdiam. Dari jendela, Jeremy melihat gumpalan cahaya yang warnanya terus berubah di dalam awan; cahaya itu tidak seperti kilat, melainkan bergerak sendiri dan mendekati pesawat.

Jeremy menceritakan apa yang dia lihat kepada Emma, tetapi hal itu dianggap sebagai halusinasi akibat sakit kepala dan stres. Chloe kemudian mengatakan bahwa dia juga melihat cahaya-cahaya tersebut dan menggambarkannya seperti kembang api berwarna yang meledak dari jarak dekat. Keterangan dua orang yang saling terpisah ini untuk pertama kalinya menunjukkan bahwa fenomena di luar jendela bukan khayalan Jeremy.
Gejala Pendarahan dan Salah Duga Wabah
Chloe mulai merasakan sakit kepala, nyeri telinga, dan mengeluarkan darah. Yasmin menanyakan apakah dia dan Jeremy sudah merasa tidak enak badan sebelum naik pesawat. Jeremy bersikeras bahwa dia hanya melaporkan apa yang benar-benar dia lihat, dan Chloe sekali lagi membenarkan keberadaan gumpalan cahaya itu.

Ketika memeriksa Chloe, Yasmin mendapati salah satu matanya sendiri juga mengalami pecah pembuluh darah. Lewat pengeras suara, Emma bertanya siapa lagi yang merasa tidak enak badan setelah lepas landas, dan sejumlah besar lampu panggilan di kabin menyala bersamaan. Kapten pun menyimpulkan kejadian ini sebagai wabah penyakit dan memutuskan mengalihkan pendaratan ke Bandara Dallas-Fort Worth.

Kesimpulan itu belakangan terbukti keliru: sakit kepala dan pendarahan para penumpang punya satu penyebab yang sama dari luar, dan pria tua tersebut juga tidak meninggal karena penyakit menular yang tidak dikenal. Namun sebelum kebenarannya terungkap, saling curiga antara yang “terinfeksi” dan yang “tidak terinfeksi” sudah membuat ketertiban di kabin runtuh dengan cepat.
Sistem Lumpuh dan Hilang dari Radar
Headphone para penumpang tiba-tiba mengeluarkan suara berfrekuensi tinggi, sementara gambar di ponsel dan perangkat kabin dipenuhi gangguan. Emma menghubungi kokpit, lalu pilot menanyakan kepada pemandu lalu lintas udara apakah ada uji coba militer di sepanjang jalur penerbangan. Petugas mula-mula menjawab ya, tetapi kemudian meralatnya dan mengatakan bahwa uji coba itu sudah dibatalkan.


Sistem cuaca raksasa yang semula berada di belakang pesawat pada layar radar tiba-tiba lenyap, lalu sesaat kemudian muncul tepat di atas pesawat. Penerbangan 298 keluar dari jalurnya, sistem kelistrikan, komunikasi, dan kendali terbang mati satu per satu, dan pemandu lalu lintas udara benar-benar kehilangan pesawat itu dari radar maupun radio. Pada saat yang sama, dua pesawat lain juga hilang kontak, yang menunjukkan bahwa keanehan ini tidak hanya menyasar Penerbangan 298.

Kapten berusaha melakukan penurunan darurat. Setelah guncangan hebat, pesawat mendadak menjadi sunyi dan di luar jendela hanya tersisa kegelapan yang tidak bisa ditembus pandangan. Para penumpang mengira pesawat sudah mendarat, padahal sebenarnya pesawat itu tidak mendarat dan juga tidak sedang terbang.
Pesawat yang Menggantung di Dalam Kegelapan
Kokpit tidak memberi jawaban, dan orang-orang di kabin mulai saling menyalahkan. Alat pacu jantung milik pria tua yang tadi meninggal ikut terganggu dan bergetar, sehingga jenazahnya kembali mengeluarkan darah. Dari situ Yasmin menyimpulkan bahwa yang disebut “penyakit” itu sebenarnya adalah efek suatu frekuensi kuat terhadap perangkat elektronik dan sinyal listrik di dalam tubuh manusia; sakit kepala serta pendarahan di mata dan selaput lendir semuanya bisa dijelaskan dengan cara itu.
Para penyintas menuliskan pesan permintaan tolong di atas kertas dan mengangkatnya ke dekat jendela, berharap ada pihak di luar yang bisa melihat pesawat ini dan tahu bahwa mereka tidak membawa penyakit menular.

Namun tidak lama kemudian terdengar langkah berat di atas badan pesawat, dan para penumpang mendongak mencari sumber suaranya. Sesuatu sedang bergerak di permukaan luar pesawat dan mencoba masuk lewat pintu kabin serta celah-celah struktur.

Makhluk di luar mulai menghantam pintu kabin. Semua orang menahan pintu itu dengan tali dan tenaga mereka, tetapi di tengah kekacauan Taylor justru membuka pintunya, sehingga makhluk bertentakel yang bisa bergerak sangat cepat itu menyerbu masuk ke kabin.
Makhluk Menembus Kabin dan Gas yang Membuat Pingsan
Makhluk asing itu menyerang para penumpang di lorong kabin, dan tentakelnya bisa menembus tubuh manusia. Paula lebih dulu memasangkan masker oksigen kepada Chloe, lalu dia sendiri kehilangan kesadaran di tengah kekacauan; Jeremy dan para penyintas lain mundur ke bagian ekor pesawat.

Untuk mengulur waktu, mereka melepaskan gas kabin yang membuat orang kehilangan kesadaran, lalu memakai masker. Jeremy membuka pintu-pintu toilet satu per satu supaya gas itu masuk ke semua ruang tertutup; ketika makhluk tersebut mengejar sampai dekat, air panas sempat melukainya dan memaksanya mundur untuk sementara.


Setelah gas itu terbuang lewat sistem ventilasi, para penyintas menyadari bahwa ancamannya belum berakhir. Makhluk tersebut tidak hanya membunuh, tetapi juga bisa masuk ke dalam tubuh korbannya, mengendalikan tubuh itu, dan memakai suara orang yang dikenal untuk memancing orang lain mendekat. Orang-orang yang tertinggal di kabin maupun hewan-hewan di ruang kargo bisa saja sudah bukan makhluk yang sama seperti sebelumnya.

Mereka memanfaatkan jalur pengangkut bagasi untuk kabur ke ruang kargo, lalu menahan pengejaran untuk sementara dengan kontainer dan kunci pintu. Setelah membuka pintu kargo dan mengamati ke luar, mereka akhirnya memastikan bahwa pesawat belum mendarat, melainkan menggantung diam di udara.
Kebenaran di Ruang Kargo dan Rencana Terjun Payung
Anjing-anjing di ruang kargo sudah diambil alih, dan tubuh manusia pun sama-sama bisa menjadi wadah bagi makhluk asing itu. Sambil mencari peralatan yang bisa dipakai di dalam gelap, para penyintas menemukan sebuah peti mati; Jeremy mengakui bahwa di dalamnya ada pasangannya yang tewas karena kecelakaan saat mereka berkemah bersama. Setelah terjatuh dan melukai arteri femoralisnya, perempuan itu memintanya untuk tetap tinggal, tetapi Jeremy pergi mencari pertolongan, dan ketika dia kembali perempuan itu sudah meninggal sendirian. Setelah menceritakan kejadian tersebut, Jeremy kembali menawarkan diri untuk tinggal ketika jumlah parasut ternyata tidak cukup.

Mereka kemudian menemukan parasut, tetapi jumlahnya kurang. Jeremy memutuskan untuk tinggal dan membiarkan yang lain membawa Chloe pergi; semua orang membuka kunci ponsel masing-masing dan merapikan bukti yang sempat terekam, lalu bersiap membawa sebuah kotak ikut turun ke darat supaya siapa pun yang menemukannya tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Penerbangan 298.

Namun dari arah atas, Chloe mendengar Paula menyanyikan lagu milik mereka berdua sebagai ibu dan anak. Suara itu mengaku sudah sadar dan mengatakan bahwa asal Chloe membuka pintu, keluarga mereka bisa berkumpul lagi; setelah nadanya perlahan berubah janggal, suara tersebut menambahkan bahwa dirinya sedang “berbagi” tubuh. Chloe tetap terbujuk oleh suara ibunya dan membuka pintu, lalu makhluk yang sudah mengambil alih Paula langsung menyerbu masuk. Yasmin menghadangnya sambil mendesak yang lain agar segera terjun dengan membawa kotak itu.
Setelah tinggal di pesawat, Jeremy kembali melihat sesosok wujud yang rupanya persis seperti pasangannya yang sudah meninggal. Sosok itu mengakui bahwa kaumnya terus berdatangan ke Bumi, mampu masuk ke tubuh manusia dan menirukan suara yang dikenal tanpa menimbulkan kecurigaan; ketika manusia akhirnya sadar, mereka sudah merebut seluruh dunia “satu tubuh demi satu tubuh”.
Ending
Awak pesawat kembali menghubungi pemandu lalu lintas udara dan menyatakan bahwa masalah kesehatan tadi sudah hilang, bahwa semua yang terjadi sebelumnya hanyalah turbulensi dan kerusakan mekanis, lalu meminta izin mendarat darurat di New Orleans. Jeremy kembali ke kabin dan menemukan Emma, tetapi pada titik ini tidak ada lagi cara memastikan identitas asli siapa pun. Dia menerobos masuk ke kokpit sambil membawa senjata, dan pemandu lalu lintas udara pun langsung menerima kode 7500 yang menandakan pembajakan.
Jeremy berusaha menekan hidung pesawat agar pesawat jatuh. Namun sistem pendaratan otomatis di kokpit tiba-tiba mengambil alih kendali; pilot sudah lebih dulu menyetel prosedur pendaratan, sehingga Jeremy tidak bisa lagi mengubah arah pesawat.
Penerbangan 298 akhirnya mendarat dengan mulus. Ketika pasukan khusus naik ke pesawat, yang mereka lihat hanyalah Jeremy yang menerobos kokpit dengan senjata, sehingga dia dianggap pembajak lalu dibanting dan dilumpuhkan. Dia berulang kali mengatakan bahwa ada sesuatu di pesawat yang bukan manusia, tetapi tidak ada yang mempercayainya.

Film ini ditutup dengan pernyataan dari makhluk asing tersebut: manusia tidak akan tahu kapan mereka datang, sampai infiltrasinya tidak bisa lagi dibalikkan. Film tidak menjelaskan apakah para penerjun payung dan bukti yang mereka bawa akhirnya ditemukan, dan juga tidak memperlihatkan siapa saja yang masih menjadi dirinya sendiri setelah pesawat mendarat. Yang pasti, Jeremy gagal mencegah penerbangan itu mendarat; karena itu endingnya membiarkan terbuka kemungkinan bahwa makhluk asing ikut turun ke darat bersama penerbangan tersebut.